My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 136. Di Kegelisahan hati


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Melodi terpaksa memberitahu Zayn sebab dia takut bila orangtuanya kepikiran. Ia rupanya terlalu tak tega. Seperti teori yang selama ini santer beredar, bahwa perempuan pasti lebih mengedepankan perasaannya ketimbang laki-laki yang lebih unggul didalam logika.


Padahal, jauh dalam hati telah berjanji sepenuhnya untuk tidak menghubungi pria itu. Tapi keterusterangan Zara soal siapa Tanaphan tiba-tiba membuat hatinya tergugah. Terlalih. Bahkan membuat matanya tercelik.


Apalagi, perasaan aneh yang cukup menguasai dirinya beberapa bulan ini tak bisa ia nafikkan begitu saja. Benarkah bila Melodi sebenarnya perduli? Ah tidak, mungkin hanya sekedar simpati belaka. Atau, karena hal lain? Entahlah, ia seperti terseret pada hukum alam. Semakin ia ingin menghindari sesuatu, maka malah semakin sering pula ia di pertemukan dengan hal itu.


Dan sebuah pesan yang masuk, kini menjadi satu titik balik luruhnya sikap dingin yang beberapa waktu ini terbentuk kokoh.


📱 Zayn :" Apa dia baik-baik saja?"


Kekerasan hati perlahan runtuh manakala ia menangkap nada kekhawatiran dari pesan Zayn. Membuat jari jemarinya reflek menjawab.


📱 Melodi : " Dia sedang tidur setelah menghabiskan tiga burger!"


Namun tanpa di nyana, aksi balas pesan itu dalam waktu singkat berubah menjadi sebuah panggilan. Semula Melodi menjadi ragu untuk mengangkat. Tapi rasa kasihan yang cukup mendominasi tiba-tiba mensugesti untuk menjawab.


" Halo?" ucap laki-laki di ujung telepon.


Melodi masih diam. Ia tak percaya jika akhirnya berkomunikasi dengan wajar lagi bersama pria menyebalkan, sekaligus menyenangkan itu.


" Ya?" ucapnya kaku.


Ia bisa mendengar suara Zayn yang menghaturkan tawa lirih, namun terdengar penuh kelegaan.


" Kau pasti sangat repot karenanya!" kata pria itu disertai tawa kecil. Membuatnya langsung menoleh pada sosok gadis yang tidur dengan mulut setengah mangap.

__ADS_1


" Dia benar-benar lebih menyebalkan darimu!" tukas Melodi berterus-terang.


Alih-alih marah karena sang adik si sebutkan dengan predikat tak bagus, Zayn malah terkekeh-kekeh mendengar hal itu. Membuat lengkungan tipis di bibir si gadis terbit tanpa di sadari.


Dan satu detik kemudian, sambungan telepon itu tiba-tiba menjadi hening. Sunyi. Senyap. Melodi yang tak tahu harus membahas apa, dan Zayn yang terlampau senang karena ia tak menyangka jika sang adik benar-benar membuktikan eksistensinya dalam menjadi sekutu.


Hingga beberapa saat kemudian,


" Zara!"


" Zara!"


Melodi meringis sebab saat hendak berucap ia malah berbarengan dengan Zayn. Dan sialnya, kata yang di ucapkan pun sama. Sepertinya mereka memang sehati dan sepikir. Tapi belum sepenanggungan.


" Kau dulu!" seru laki-laki di ujung telepon.


Melodi kembali menggigit bibir bawahnya. Kenapa rasanya begini sekali sih? Kenapa dia sesenang ini hanya karena di telpon Zayn? Oh ya ampun, everybody help me now!


Melodi menunggu Zayn membuka suaranya. Namun hingga di detik ke sepuluh, pria itu tak jua membuka mulutnya. Membuat Melodi resah.


" Halo!"


" Jadi kau sudah tahu?" tanya Zayn terdengar seperti malu.


" Maksudnya?" ia bahkan harus sampai mengkonfirmasi pertanyaan Zayn. Sebab ia tak ingin terkena blunder.


" Beginilah aku saat ini. Tak memiliki apa-apa. Aku...hanya mau berterimakasih karena sudah mau menampung adikku!" kata Zayn dengan nada pilu. Mengundang rasa sesak di dada yang terasa begitu nyeri.

__ADS_1


Melodi tertunduk dalam-dalam. Gelisah mendadak menyerang kalbu. Kenapa nada suara yang terlontar malah membuat suasana seketika sedih?


" Aku akan menjemputnya besok!" lanjut Zyan kala Melodi terdiam.


" Sebenarnya, aku memang akan ke Atana. Aku...bisa membawanya sekalian!" balas Melodi dengan suara ragu-ragu.


Suasana kembali hening. Melodi bingung harus mencari kosakata apa. Ia cemas karena rupanya Zayn benar-benar sedang jatuh ke titik paling bawah dalam hidupnya. Dan tidak tahu kenapa, semua itu benar- benar membuat hatinya sakit.


Pria itu baru saja kehilangan sang Papa, kehilangan harta. Bahkan kehilangan segalanya.


" Mel?" panggil Zayn sedetik kemudian.


" Ya?"


" Aku tidak akan mengganggumu setelah ini. Baik adikku maupun aku sendiri. Aku... benar-benar minta maaf jika membuatmu repot."


Melodi mendadak terpaku. Ia benar-benar tak tahu harus menjawab apa. Semacam tak rela, tapi tak bisa melawan.


" Istirahatlah, ini sudah malam. Seandainya kau tidak jadi ke Atana, tolong kabari secepatnya!"


Dan tidak tahu kenapa, usai telepon itu terputus dengan wajar, perasaan gundah dan batin yang tak tenang tiba-tiba menguasai diri Melodi.


Ia menatap Zara yang memejamkan mata dengan napas teratur. Teringat akan permintaan gadis itu beberapa saat yang lalu.


" Apa rencanamu?"


" Jika kakak tidak keberatan, mungkin kakak mau berinvestasi di perusahaan kami. Aku janji akan bekerja keras kak. Aku bisa menunda kuliahku dulu. Aku...ingin membantu kak Zayn. Jangan putus kerjasama ini kak. Aku minta tolong ke kakak karena perusahaan kakak memiliki kesamaan dengan milik kak Zayn. Aku...ingin membuat kami terbebas dari Tanaphan!"

__ADS_1


Detik itu juga, ponsel yang masih berada dalam genggamannya ia nyalakan kembali untuk menelpon seseorang.


" Halo, bisa bicara sebentar!"


__ADS_2