My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 123. Keegoisan anak semata wayang


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Siang ini Andrew menemui Zayn untuk urusan renovasi kantor barunya. Tapi aura kesumpekan dari wajah Zayn, benar-benar membuat Andrew tak bisa untuk tak bertanya.


" Kau kenapa, biasanya setiap ada kerjasama baru kau terlihat happy, ini malah sebaliknya?"


Zayn membuka satu persatu buku besar yang memperlihatkan beberapa model desain terbaru dari sahabatnya.


" Aku tidak apa-apa. Mungkin, cuma perlu jatah libur!" menjawab sekenanya sambil mengamati sebuah desain yang memikat hati.


" Dasar aneh. Kau ini pemimpin, kenapa malah bingung jatah libur?" cibir Andrew tanpa tedeng aling-aling.


Tapi yang dicibir malah semakin konsen dengan lembar demi lembar buku eksklusif di tangannya.


" Bagaimana kau dengan anak buah Istrinya Sada?" tanya Zayn yang akhirnya membelokkan materi obrolan. Tak ingin berlama-lama berkutat pada bahasan yang malah membuatnya teringat pada seseorang.


" Sangat, baik. Di tipikal penyabar dan penyayang. Ternyata benar kata si Sada, berpacaran dengan orang yang sederhana itu tak hanya mendatangkan ketenangan batin, tapi...juga ramah di kantong!" Andrew tergelak, sementara Zayn mengumpat demi keterusterangan si sahabat.


" Lalu kau sendiri bagaimana? Kalau ku lihat-lihat, kau sepertinya sering berurusan dengan adik iparnya Sada?" tebak Andrew langsung.


Namun Zayn malah tersenyum kecut saat sahabatnya membahas hal itu. Ia bahkan sudah jarang berkomunikasi selama satu bulan ini pasca insiden bulan lalu itu. Benar-benar ironi.


" Aku sangat sibuk. Tak sempat memikirkan hal-hal seperti itu!" bohongnya sembari menunjukkan sebuah desain apik yang kini menjadi pilihannya.


" Benarkah. Ku dengar dari para tetua, tuan Phan sering membicarakanmu!" jawab Andrew lalu meraih foto desain itu untuk sejurus kemudian menandainya dengan sebuah bolpoin.


Zayn akhirnya menyerah. Ia menghela napas sembari memejamkan matanya dengan posisi kepala yang ia sandarkan ke sandaran kursi singgasananya. Kesemrawutan ini benar-benar ingin ia bagi.

__ADS_1


" Jika sudah seperti ini, aku merasa mungkin jauh lebih baik jika menjadi seperti anak buah Sada yang bebas mencari pasangan!"


Andrew sedikit terhenyak. Benar akan dugaannya, sahabatnya itu pasti sedang dilanda ketidaktenangan batin.


" Belum terlambat buddy! Tapi tunggu dulu, apa ini benar seperti dugaanku?" tebak Andrew yang kini menatap serius sahabatnya.


Zayn membuka matanya kembali. Entahlah, ia tak tahu harus menjelaskan dari mana kesusahannya kali ini.


" Kau tahu, aku ini bukanlah tipikal orang yang suka menyakiti siapapun. Tapi aku juga bukan orang yang suka dengan sikap diktator!"


Andrew paham. Ini jelas menyangkut soal orangtua serta pilihanmu.


" Mungkinkah kau memang perlu sedikit keberanian kawan. Aku dulu pernah diberikan saran oleh Sada seperti itu waktu aku masih di peralat Gina. Kurasa hal ini berlaku juga untukmu!"


Zayn terdiam. Relevan kah?


" Kau tahu, seseorang yang berani mencoba, mereka masih memiliki dua kemungkinan. Gagal dan berhasil. Tapi jika kau tak mencobanya, maka kau hanya akan mendapatkan satu hasil saja, yakni gagal."


Zayn langsungan tersenyum getir saat mendengar kalimat yang tadi sempat di ucapkan oleh sahabatnya itu. Keberanian mengungkapkan.


" Kau benar Ndrew. Aku bahkan tak berani mengatakan perasaanku yang sebenarnya padanya!"


-


-


Kerjasama tetap terjalin meski hati dua pimpinan perusahaan manufaktur lintas negara itu sedang tak jelas. Banyak sekali produk - produk makanan dan minuman yang di produksi oleh perusahaan Darmawan laku keras di sana.

__ADS_1


Mungkin itulah definisi dari profesionalme. Tak mencampuradukkan masalah pribadi, kepada urusan pekerjaan.


Dan selama itu pula, Olivia yang selalu saja menaruh curiga pada Zayn soal Melodi tak berhenti mencari tahu informasi tentang siapa gadis bernama Melodi Darmawan itu.


" Jadi perempuan itu seorang direktur?" tanyanya sinis kepada seseorang yang ia tugasi untuk mematai- matai.


" Benar nona!"


Olivia meremas secarik kertas yang berisikan informasi mengenai Melodi. Gadis tomboy yang rupanya bukan orang sembarangan itu, kini nampak jelas menjadi ancaman.


" Aku tidak boleh membiarkan mereka sering-sering bertemu!"


Gadis itu lantas bergegas menemui orang tuannya. Tuan Tanaphan. Ia yakin jika Papannya pasti akan mau menuruti semua keinginannya.


" Pokonya aku minta Papa desak keluarga Om Darius buat membicarakan aku dan Zayn Pa!" serunya dengan wajah yang sudah kesal.


Bayangan sederetan probabilitas pertemuan antara Zayn dan Melodi yang sempat di Kairo oleh mata-matanya tadi membuat gadis itu kebakaran jenggot.


" Vi, Papa sudah berulang kali menyinggung soal ini dengan keluarga Darius. Tapi papa juga gak bisa maksa. Zayn orang berpendidikan dan memiliki prinsip. Kamu harus perbaiki kualitas diri kamu juga!" terang tuan Phan yang mulai bingung dengan kekeraskepalaan sang anak.


" Aku gak mau tahu Pa, aku harus menikah dengan Zayn. Jika tidak, aku lebih baik tidak usah hidup Pa"


" Oliv!" hardik sang Papa yang tentu saja tak suka mendengar kalimat mengerikan itu.


" Kalau begitu turuti apa mau Oliv Pa. Kalau perlu, tarik semua saham biar mereka tahu jika tanpa kita mereka tak bisa berbuat apa-apa!"


Detik itu juga, tuan Phan benar-benar bingung dengan semua yang terjadi. Menarik semua saham itu mustahil sebab hubungan persahabatan antara dirinya dan Darius sangatlah baik, tapi putri semata wayangnya itu juga merupakan orang yang paling di sayang.

__ADS_1


__ADS_2