
...🥀🥀🥀...
Claire bolak-balik mengecek kalender khusunya di kamar, meneliti tanggal yang seharusnya memang sudah terlewati bila ia datang bulan. Akhirnya setelah sesiangan berpikir, ia memilih membeli sebuah alat melalui aplikasi online. Malas untuk keluar rumah.
Sebab semenjak menjadi nyonya Sada, ia memang lebih banyak dirumah mengurus Neo dan suaminya itu. Ia hanya sesekali saja untuk mengecek progres usahanya.
Dengan tak sabar ia mengunci pintu kamar mandi, membaca petunjuk pemakaian yang tertera seteliti mungkin, sebab saat hamil Neo dulu, ia tak melakukannya sendiri.
Usai menampung urine miliknya kedalam wadah khusus yang ada dengan tangan bergetar, ia mulai melakukan step by step dan mengikuti seluruh arahan di kemasan dengan hati-hati.
Claire menarik napas, menghembuskan perlahan.
Sedetik
Dua detik
Tiga detik
...
Dan hasilnya adalah,
unbelievable.
...----------------...
Melodi barusaja tiba di kantornya saat sebuah mobil mulai melaju meninggalkan lobi perusahaan. Entah mobil siapa. Ia tak kenal mobil itu.
Namun sejurus kemudian, ada seorang gadis muda dengan tinggi yang nyaris sama dengan dirinya terlihat berlari dari arah timur, lalu memanggil-manggil dirinya.
" Kakak!" teriak sing gadis yang membuat Bebe karyawan turut menoleh.
Ia semula diam. Tak menyadari bila yang di panggil adalah dirinya. Tapi teriakan berikutnya membuatnya lumayan terusik.
"Kakak!"
Ia menoleh pada panggilan kedua. Dan sosok asing itu semakin gencar berlari menuju ke arahnya. Sepertinya memang dirinya yang di panggil.
" Kakak tunggu kak!"
Ia lantas menghentikan langkahnya. Menunggu gadis itu dengan kening mengerut. Apakah dia kenal? Sepertinya tidak.
__ADS_1
Seorang gadis yang menyandang ransel ala backpacker terlihat berteriak memintanya berhenti. Gadis itu terlihat ngos-ngosan dan sepertinya sudah menunggunya sejak pagi.
" Kakak yang namanya Melodi Kan?" tanya si gadis dengan napas yang masih terengah-engah.
Melodi membeku, siapa memangnya gadis itu. Kenapa bisa mengenalnya?
"Kamu siapa?" tanya Melodi sembari memindai tampilan si gadis yang tampak asing buatnya.
" Aku Zara kak. Bisa kita bicara sebentar?"
-
-
Keduanya akhirnya duduk saling berhadapan di kantin kantor yang berada di lantai dasar. Melodi bahkan geleng-geleng dibuatnya. Meyakini jika pasti Zayn yang mengutus gadis di hadapannya itu.
" Jadi kau kemari karena diminta laki-laki itu?" tuding Melodi kesal.
Zara kontan menggeleng menyangkal tuduhan yang jelas tak benar itu.
" Aku bahkan kemari tidak berpamitan dengan kak Zayn!" terangnya. Membuat kedua netra bermanik coklat itu membelalak.
" Kak, aku kemari karena ingin minta tolong ke kakak. Kak Zayn benar-benar tidak sengaja melakukan semua itu. Dia..."
" Mendingan kamu pergi. Aku udah enggak ada urusan sama dia!" ketus Melodi yang masih belum percaya jika Zara datang atas inisiatifnya sendiri.
Melodi berniat pergi sebab ia benar-benar tak ingin berurusan dengan pria itu. Apalagi, ancaman yang masih terngiang-ngiang benar-benar membuatnya tak memiliki pilihan. Meski sebenarnya, hatinya benar-benar sakit mendengar semua ini.
" Kak Zayn mencintai kakak!"
Deg!
Melodi sontak menghentikan langkahnya manakala Zara berteriak dari belakang punggungnya. Gadis itu berjalan menyusul dirinya yang kini berdiri mematung.
" Percayalah kak, kami sedang di rundung masalah. Beri kak Zayn waktu untuk menyelesaikannya. Tuan Tanaphan benar-benar sedang mengancam kami!"
Tanaphan?
Mengancam?
Melodi kian tercenung dengan sederet pernyataan yang semakin memusingkan. Bukankah Tanaphan adalah ayah dari gadis kurang ajar itu? Tapi kenapa Zara mengatakan jika Tanaphan juga mengancam?
__ADS_1
" Apa yang sebenarnya terjadi?"
Zara yang matanya berkaca-kaca akhirnya memberanikan diri untuk menceritakan yang sebenarnya terjadi. Mulai dari asal muasal perusahaan yang memang di sokong sepenuhnya oleh Tanaphan sebab sang ayah dan laki-laki itu memiliki perjanjiannya khusus.
" Jadi kalian terancam kehilangan perusahaan?"
Zara mengangguk.
" Itulah yang kami sesalkan Kak. Kak Zayn benar-benar tak memiliki pilihan. Tujuanku kemari karena ingin membuat kakak tahu, dan tidak membenci kak Zayn."
" Dan Mama..."
Melodi tiba-tiba merasakan sesak dalam dadanya. Jadi pria itu selama ini menyimpan beban yang begitu berat? Ia reflek mengusap punggung Zara yang kini bergetar karena tangis.
" Apa rencanamu selanjutnya Ra. Apa yang bisa kakak bantu?"
Zara menengadah lalu tersenyum haru saat Melodi terlihat menatapnya dengan tatapan trenyuh.
" Kita..."
-
-
Zayn mengumpat berkali-kali saat nomor sang adik tak bisa di hubungi. Kemana anak itu, sejak kemarin lusa ia tak melihat batang hidungnya. Padahal hari ini ia sangat membutuhkan bantuannya.
"Bagiamana Zayn?"
Ia langsung mengubah air mukanya begitu sang Mama keluar kamar.
" Aku belum bisa menemukannya Ma!"
Mama Zayn langsung terduduk lemas. Membuat Zayn sangat khawatir.
" Perusahaan kita terancam collapse. Zara pergi entah kemana. Apa lagi yang tersisa Zayn? Biarkan Mama menyusul Papamu!"
" Mama, jangan bicara seperti itu. Zayn akan melakukan apapun untuk keluarga kita!" ucap Zayn yang sebenarnya tengah bingung.
Mama Zayn menggeleng, " Kau tidak harus selalu berkorban nak. Karena Papamu kau harus berkorban seperti ini!"
" Mama tak akan lagi memaksa kamu untuk menikahi Olivia. Mama serahkan semua sama kamu. Walau itu artinya, kita akan runtuh bersama-sama!"
__ADS_1