My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 100. Mari kita saling memaafkan


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Claire pagi ini sudah terlihat lebih segar. Ia sudah mandi dan berdandan sebab tahu jika Sada akan datang pagi ini. Sengaja tak ingin terlihat kusut saat pria itu datang. Entahlah, dia seperti sedang dilanda kasmaran.


Anaknya juga sudah di perbolehkan pulang pagi ini. Namun sesuai kesepakatan keluarga, Papa Leo besok akan akan di bawa pindah ke rumah sakit lain untuk penyembuhan.


Ya, Papa David meminta Claire untuk fokus menyembuhkan putranya dan meminta dirinya untuk memasrahkan soal Papa Leo kepadanya.


Ia sedang memberikan sentuhan terakhir dalam mendandani anaknya, manakala handle pintu itu tiba-tiba terbuka. Menampilkan Sadawira yang terlihat begitu segar dengan kemeja flanel berwarna cerah yang tergulung sesiku. Membuat Claire seketika terpana.


Bulu-bulu halus di wajahnya juga sudah tak ada. Pria itu terlihat wangi dan tampan, persis seperti saat pertama kali mereka bertemu.


" Ayah!" sapa Neo yang melihat Sadawira telah datang dengan suara bersemangat.


Pria itu membalas senyuman Neo, walau setiap Sada di panggil seperti itu oleh anaknya, rasa nyeri tiba-tiba menelusup kedalaman relung hatinya sebab kenyataannya mereka masih harus terpisah.


" Sudah ganteng dan wangi anak Ayah ternyata. Sudah makan?"


Neo menggeleng, " Aku maunya di suapi Ayah!"


" Oke. Tapi harus habis banyak ya. Kita kan mau pulang setelah ini!"


" Beli mainan dulu tapi ya Yah?"


" Beres!"


Claire yang kini memilih membereskan beberapa pakaian Neo merasa sangat bahagia. Ia menatap dua laki-laki beda usia itu dengan luapan kebahagiaan. Neo yang wajahnya memang plek ketiplek dengan Sada benar-benar menegaskan jika Claire tak lagi bisa menyembunyikan semuanya.


Claire tersadar dari lamunannya saat pintu kembali terbuka dan ternyata itu adalah dokter dan perawat yang akan melepas selang infus Neo.


" Selamat pagi Neo. Wah lagi makan ya? Bagiamana kabarnya Neo?"


" Selamat Pagi dokter, aku sudah sehat, mulutnya sudah gak pahit lagi hihihihi!"


Dokter pria itu tersenyum senang mendengar jawaban Neo. Semenjak Sada hadir, Neo benar-benar seperti mendapat booster kebahagiaan yang lebih. Rasa-rasanya, semua terasa seperti mimpi.


" Siap pulang ya? Kita lepas dulu selang infusnya!"


" Baik dokter. Oh iya dokter, dokter sudah tahu, belum, kenalkan pria tampan ini adalah Ayahku hihihi!"


Maka wajah yang di kenalkan seketika memerah. Dia memang ayahnya, tapi masih belum menjadi suami Ibunya. Astaga, kenyataan konyol macam apa ini?


"Benarkah? Wah, pantas saja Neo ganteng. Ayahnya saja ganteng begitu. Mirip lagi!" celoteh sang dokter semakin membuat Neo jumawa. Biarlah dia sombong sekarang, dia ingin memamerkan ayahnya ke seluruh dunia.


" Tuh kan Ayah, dokter juga bilang kalau Ayah ganteng. Ganteng itu tampan kan dokter?"


Kesemua orang disana tak dapat menahan sukacita yang kini memenuhi atmosfer kamar Neo. Mereka tergelak bersama demi merasai Neo yang benar-benar lucu. Hanya obrolan sederhana memang, namun berhasil membangkitkan keriaan yang sebelumnya tiada pernah tercipta.

__ADS_1


Dan tak berselang lama, Papa David dan Mama Jessika terlihat datang masuk ke dalam ruangan dengan keadaan yang sudah segar.


" Loh Wira, sudah datang kamu rupanya?" sapa Papa David yang terlihat lebih mengakrabkan diri.


Sadawira mengangguk canggung. Masih begitu sungkan dengan Pakde dari Claire itu.


"Sudah Om. Saya sengaja kesini dulu tadi!"


Papa David mengangguk, ia tak terganggu dengan wajah sungkan Sada. Ia memaklumi hal itu.


" Sudah beres apa belum? Kalian berdua cepat pamit ke ruangan Papa. Papa kalian akan Pakde bawa ke Hangxiang pagi ini!


"Loh, bukannya masih besok lusa berangkatnya?" sahut Claire agak terkejut. Pasalnya setahu dia Papanya akan di bawa untuk berobat besok lusa.


Dokter yang telah selesai mengecek dan memastikan kondisi Neo benar-benar telah membaik, setelah jarum infus itu tercabut, kini pamit undur diri. Membuat percakapan terjeda sementara.


" Lebih cepat lebih baik!" balas Mama Jessika sepeninggal sang dokter.


Ya, mereka rupanya sudah berunding untuk melakukan pengobatan ke luar negara agar adik iparnya itu bisa segera sembuh.


"Bella sudah setuju soal kalian berdua. Kalian fokus saja untuk mengurusi niat kalian. Kasihan Neo!" seru Papa David serius.


Neo yang tak mengerti para orang tua itu tengah membahas apa memilih untuk bermain ponsel. Tenggelam dalam game Onet yang kerap memusingkan.


" Tapi, bagaimana dengan Papa?" sergah Claire resah.


Dan ucapan itu berhasil membawa langkah keduanya untuk masuk ke ruangan sang Papa. Mama Bella yang sudah tak duduk di atas kursi roda terlihat murung manakala melihat Claire juga Sada masuk.


" Mama akan membangunkan Melodi. Semalam Mama tidak tahu dia pulang jam berapa. Dia tidur di ruangan sebelah. Kalian lanjut saja!" ucap Mama Bella terlihat pasrah.


Ucapan Papa David dan Mama Jessika yang akhirnya berhasil menyadarkan dirinya soal ketentuan dan kemutlakan sebuah takdir, kini membuatnya sadar.


Namun sialnya, alih-alih biasa saja kala bertemu dengan Wira, Ibu dari Claire itu malah terlihat tak siap jika harus menatap wajah Sadawira secara langsung.


Antara malu, kasihan dan juga merasa bersalah. Entahlah. Ia kini menjadi begitu tak percaya diri.


Sepeninggal sang Mama, Claire mendekatkan diri ke arah Papanya yang kini menatap wajahnya sayu. Pria itu seperti ingin berbicara namun tak bisa mengucapkan apapun. Hanya bisa mengedipkan mata.


" Pa!" Claire mengusap wajah Papanya yang tampak gelisah. Sejurus kemudian ia menciumi kening Papanya dengan dada sesak. Prihatin dengan keadaan yang kini berubah seratus delapan puluh derajat.


Papa Leo terlihat mengangguk lalu menangis. Claire tidak tahu itu reaksi apa. Tapi dari yang ia lihat, Papanya seolah-olah ingin mengatakan sesuatu.


Sadawira belum berani mendekat. Ia takut jika Papa Leo akan histeris jika melihatnya. Ia memilih diam di jarak yang dia rasa aman.


" Papa harus sembuh. Claire minta maaf karena sudah bikin Papa seperti ini!" Claire menangis. Meratapi semua yang telah terjadi.


Papa Leo menggeleng seolah-olah meminta Claire untuk tak mengatakan hal itu. Tapi Claire bersikeras untuk melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


" Hari ini Neo sudah boleh Pulang. Wira yang akan mengantar kami!"


Papa Leo mengarahkan pandangnya secara perlahan ke arah Sadawira. Sorot matanya tak sedingin dan setegang beberapa waktu yang lalu.


" Claire juga mau bilang sama Papa. Semoga Papa nggak marah!"


Air matanya Papa Leo semakin deras mengalir. Sungguh suasana yang benar-benar membuat dadanya sesak karena terhimpit kenyataan.


" Claire mencintai Wira Pa. Begitu juga Wira. Neo juga sudah tahu kalau dia adalah Ayahnya!" lanjut Claire menghela isakan yang terdengar pilu.


" Kami ingin menikah!"


Papa Leo memejamkan matanya seraya mengangguk pelan.


" Akh ...Akh..."


Claire menoleh saat sang Papa berusaha berbicara namun yang keluar hanya suara ang eng ang eng.


" Papa mau bicara sama Wira?" tanya Claire menyusut cepat air matanya yang menganak sungai.


Papa mengangguk. Membuat Sadawira gemetar meneguk ludah. Apakah ini baik? Tidak bahaya kah?


" Claire aku..."


" Tidak apa, majulah. Papa ingin berbicara denganmu!" seru Claire yang berusaha mematahkan keraguan Sada yang cukup kentara.


Jakun Sada naik turun. Ia jelas grogi. Pria yang selama ini paling antipati terhadap dirinya kini memanggilnya. Sada tak tahu harus berkata apa. Tapi tangisan yang tiba-tiba keluar melesak-lesak dari mata Papa Leo, membuat hatinya bergetar.


Sada seperti adu nyali.


" Kemarin yang kasih donor darah Papa adalah Zayn, temannya Wira. Dia juga yang sekarang jadi rekan bisnis Melodi. Wira yang meminta Zayn datang karena dia belum bisa mendonorkan darahnya usai di donorkan ke Neo! Mereka lah yang menyelamatkan Papa!"


Tubuh kaku yang tak bisa di gerakkan itu kini bergetar. Dan entah karena dorongan apa, tangan yang semula begitu sulit digerakkan itu kini dengan susah payah berhasil mengusap puncak kepala Sada.


" Aakh Aakh!"


Claire menangis terisak demi melihat sang Papa mengusap rambut Sadawira dengan air mata yang tak tertahan.


" Mari kita memaafkan satu sama lain Om. Izinkan saya menikahi Claire dan menjadi Ayah Neo!"


Papa Leo yang menangis dengan tubuh kakunya terlihat sangat terharu. Mama Bella yang mengintip dari celah pintu tak bisa lagi menahan keleagaan yang kini menguar dari rongga hatinya. Ia menangis dalam diam. Merasakan aroma kelegaan yang kini membuatnya semakin ringan.


Pada akhirnya, ia kini menyadari bila manusia tak akan sadar, sebelah di peringatkan langsung oleh sang kuasa.


Di detik itu juga, Papa David dan Mama Jessika yang rupanya turut mengintip dari kaca jendela juga menitikan air mata penuh keharuan.


" Aku bahagia Mas, Leo akhirnya mau memaafkan Wira!" kata Mama Jessika dengan suara serak.

__ADS_1


" Papa juga Ma. Kita harus mengabarkannya ini pada anak-anak!"


__ADS_2