
...🥀🥀🥀...
" Claire!"
" Sudah hentikan Leo. Biar saja mereka menunggu satu tahun!" tukas Papa David yang tak setuju dengan perdebatan yang bukan pada tempatnya itu.
" Tapi Bang?" sangkal Papa Leo dengan muram.
" Jenazah Papa masih bersemayam di rumah ini. Jangan sampai diantara kita ada yang mengangkat suara melebihi suara tangis duka keluarga!"
Papa Leo yang di hadik oleh Papa David langsung terdiam. Sungguh, ia tak bermaksud egois. Tapi ketakutan yang kian menjadi semakin membuat Papa Leo tak tenang.
Satu tahun itu bukanlah waktu yang singkat, banyak hal akan terjadi. Godaan, ujian, bahkan ketakutan akan kemunculan Sadawira juga semakin membaik mereka resah.
" Baiklah kalau itu maumu. Tapi kau harus berjanji satu hal kepada Papa!"
Claire mendongak. Menatap wajah papanya yang amat serius.
" Kau hanya akan menikah dengan Edwin, titik!"
...----------------...
Pagi menjelang, Edwin tiba pada jam jelang dini hari. Pesawatnya delay karena cuaca buruk di tempat transit. Namun meski terlambat dan belum sejenak pun merebahkan tubuhnya, tapi ia lega karena pagi ini ia bisa bersama-sama menemani Claire untuk mengiring Opa menuju ke tempat peristirahatan terakhir.
Oma Sofi dari kota S juga sudah datang dan duduk bersama Neo. Beliau datang dini hari tadi melalui jalur darat. Membuat Mama Bella merasa tenang karena ada Oma Sofi ada di sisinya. Definisi dari kasih Ibu sepanjang masa.
Satu hal yang tak mereka tahu, bahwa diantara ratusan pelayat yang kini memenuhi pemakaman yang sudah tertutup tenda besar itu terdapat Sadawira yang berdiri diantara manusia disana. Menatap dan tekun mengamati Claire yang sejatinya membuat hatinya nelangsa.
Semua terasa normal, namun detik berikutnya menjadi sangat tak menyenangkan manakala Sadawira melihat Edwin yang tiba-tiba muncul diantara keluarga Claire. Bahkan pria itu terlihat memegangi bahu Claire di tepi kubur dengan sangat dekatnya.
" Brengsek!" maki Sada yang tiba-tiba terbakar api kecemburuan.
" Sada, apa yang kau lakukan? Tahan dirimu!" Zayn memperingati sahabatnya yang hendak melangkah maju. Tak ingin sampai situasi duka ini berakhir ricuh hanya karena kebodohan. " Jaga logikamu!"
Sada mendecak dengan rahangnya yang kian mengeras. Merasa sangat tak tentang akibat kecemburuan yang semakin meningkat.
__ADS_1
Ia juga melihat Neo yang di pangku oleh seorang wanita tua. Ingin sekali rasanya ia menggendong anaknya yang jelas tidak terurus dalam beberapa jam terakhir itu.
Tapi yang membuatnya lega adalah, Neo yang tampak kerasan kala berada di pangkuan wanita berambut putih yang cantik itu. Wanita itu belum pernah ia lihat sebelumnya, namun sedari tadi terlihat sangat akrab dengan Mama Bella.
" Apa mungkin neneknya Claire?"
Sada terus memandang Claire tak lekang dari jauh. Ia juga memperhatikan tangan kurang ajar Edwin yang sedari tadi mengusap bahunya dengan wajah keruh. Ingin rasanya Sada mematahkan tangan sialan itu detik itu juga.
Tapi peringatan Zayn jelas tak bisa ia abaikan.
Papa David, Papa Leo dan Deo terlihat masuk kedalam liang lahat. Siap menerima sebujur kaku yang akan mereka kebumikan. Sementara Demas, Erik, dan Om Tomy terlihat mengangkat dari keranda.
Melodi tak hentinya mengusap matanya manakala jenazah Opa mulai di masukkan kedalam liang lahat. Pemakaman Opa berada di dekat nenek Mama Jessika. Hal itu sesuai dengan permintaan almarhum semasa hidupnya.
Kini semua orang tertunduk dengan tangan menengadah. Turut mengamini doa yang di bacakan oleh tokoh agama, tatkala tanah itu sudah berbentuk gundukan.
" Selamat jalan Opa. Semoga perjalananmu menuju keabadian terang dan tenang!"
Namun saat Zayn memperhatikan secara saksama siapa-siapa yang berdiri di sekitar Claire, matanya membulat kala menangkap sosok wanita galak yang kemarin ia temui di mall.
Ya, tak salah lagi. Gadis itu merupakan perempuan galak yang menjadi rivalnya di mall kemarin. Tapi kenapa bisa ada disini?
Sada menoleh, mengikuti arah pandang Zayn yang terlolong saat melihat Melodi. Rupanya Zayn baru menyadari keberadaan gadis yang kini lebih bisa berdandan itu.
" Dia adik kandung Claire!" kata Sada tanpa menoleh. Membuat Zayn kian melebarkan matanya.
" Apa? Kenapa kau kemarin diam saja?" menyalahkan Sada yang malah menutup mulut.
" Kau tidak bertanya, jadi aku diam!"
" CK!" Zayn mendengus. Bisa-bisanya Sada bersikap seperti itu kepadanya. Pantas saja gadis itu terperanjat saat dia menyebut nama Neo.
" Tapi kenapa tidak mirip?" gumam Zayn yang masih menatap Melodi tak habis-habisnya.
Sada melirik Zayn yang terus saja memperhatikan Melodi. " Awas nanti suka!"
__ADS_1
Zayn langsung mendecak. Tuduhan macam apa itu?
" Tidak akan! Wanita seleraku ya wanita lembut! Bukan Ibu beruang seperti dia!"
Namun Sada hanya mencibir. Membuatnya teringat saat pertama kali bertemu dengan Claire dan mereka juga sempat berdebat perihal gelang.
-
-
Prosesi pemakaman itu telah usai tepat pukul 10 pagi waktu setempat. Mama Jessika yang menggendong cucu keduanya dari Demas segera kembali sebab Eva dirumah bersama Ibunya sendirian. Takut kalau-kalau ada tamu lain yang berdatangan.
Arimbi sudah membawa serta anaknya untuk pulang kembali kerumah duka bersama Deo. Meninggalkan Claire, Melodi dan juga Edwin yang sepertinya masih ingin berlama-lama di pusara basah itu.
Dan benar saja, Keluarga Aryasatya ternyata sudah datang bersama rombongan dari kota J. Membuat Mama Jessika terharu sebab mereka mau datang jauh-jauh dari sana untuk mengucapkan belasungkawa secara langsung ke kediaman mereka.
"Kami sangat merasa kehilangan dan turut berdukacita sedalam-dalamnya. Maaf karena kami terlambat!" ucap Nyonya Andhira dengan wajah murung. Turut merasakan kehilangan yang sangat mendalam.
" Saya sangat berterimakasih karena anda semua sudah berkenan hadir. Silahkan masuk, moggo kita ngobrol di dalam. " balas Mama Jessika kepada Nyonya Andhira serta Nyonya Rania yang datang bersama menantunya, Nyonya Galuh juga Nyonya Lintang.
Tak berselang lama, Kendra Arion bersama sang istri Nyonya Kinar yang sedang hamil juga terlihat datang. Membuat semua orang sibuk menyambut tamu-tamu penting yang kian siang kian bertambah banyak.
Papa David, Papa Leo akhirnya sibuk menemui tamu. Membuat mereka tak bisa memonitor anak-anak serta cucu mereka. Alhasil, Ibu Eva dan Oma Sofi lah yang membantu Arimbi juga Eva mengurus anak-anak termasuk Neo.
Demas entah kemana. Ia terakhir terlihat bersama Om Tomy yang kini mengurus soal tamu dari keluarga Mama Jessika. Erik dimintai tolong untuk mengkoordinir beberapa orang yang tadi membantu prosesi pemakaman.
Sementara Deo, ia menuju ke belakang untuk membersihkan dirinya. Dan saat Deo yang baru selesai mencuci tangan dan kakinya di belakang hendak kembali kedepan, tiba-tiba terkejut demi melihat Sadawira yang kini berdiri di hadapannya dengan wajah datar.
" Kau!"
" Apa kabar, Deo Darmawan?"
.
.
__ADS_1
.