
...🥀🥀🥀...
Claire resah saat nomor adiknya tak bisa di hubungi. Kesedihan yang mendalam seolah menghipnotis siapa saja dan membuat mereka tak fokus.
Bahkan Claire tak menyadari kapan adiknya itu pergi. Apakah semua orang yang berduka memang seperti ini? Kehilangan fokus dan konsentrasinya dalam waktu yang lama.
" Apa jangan-jangan sudah pulang kerumah?" tebak Edwin dengan praduganya yang paling masuk akal.
Claire menatap Edwin. Mungkin saja, sebab saat mereka tadi berada di sana, suasana di pemakaman itu masih sangat ramai. Bisa saja Melodi pergi namun sengaja tak pamit.
Mereka akhirnya bergegas pulang guna memastikan keberadaan Melodi.
Tapi yang di khawatirkan sayangnya malah sibuk berdebat dengan Zayn yang kini kesulitan dalam membekap mulut Melodi yang gencar meronta-ronta.
Dan di luar dugaan, Melodi yang kesulitan melepaskan diri kini terlihat menggigit tangan Zayn hingga membuat tangan laki-laki itu koyak.
" Hihhh!"
" Argggh!" Zayn berteriak karena benar-benar kesakitan. Membuat Melodi buru-buru melepaskan gigitannya.
" Dasar wanita gila!" maki Zayn sembari mengibaskan tangannya yang perih dan panas.
" Kau yang gila. Kenapa tiba-tiba aku berada di sini. Dan kau...!" menunjuk ke wajah Zayn yang masih terlihat kesakitan.
" Kau pas...."
" Aaaaaaa!"
Saat asik mencecar tuduhan, kesialan lain tampaknya kini menyatroni diri Melodi dengan lebih hamsyomg. Mungkin inilah yang dibilang kualat.
GRUBAK!
Kedua pasang bola mata milik dua manusia itu kini sama-sama mendelik demi melihat mereka yang kini bertumpukan satu sama lain. Dan sialnya, dengan bibir yang tak sengaja bersentuhan.
" Kurang ajar!"
DUG
" Aduh!"
Melodi yang kaget karena bibir mereka bersentuhan satu sama lain, langsung menendang biji pejantan itu dengan dengkulnya.
__ADS_1
Zayn yang di tendang biji kehidupannya oleh Melodi seketika mengerang. Bukan tanpa alasan Melodi melakukan hal itu, gadis itu sekonyong-konyong terperanjat sebab selama ini bibirnya masih suci.
" Benar-benar wanita pembawa sial! Argh!"
-
-
Deo yang masih pucat kini terkejut saat adiknya tiba-tiba muncul dari arah depan.
" Kenapa wajahmu pucat begitu. Kayak habis lihat setan aja!" cibir Demas yang terheran-heran dengan tampilan rona wajah kakaknya.
Deo langsung menarik Demas masuk ke sebuah ruangan lalu menguncinya. Membuat Demas mengerutkan kening.
" Ada apa ini? Kenapa kau mengunci pintu?" tanya Demas tak habis pikir.
Deo menatap adiknya risau dan wajahnya sangat tegang.
" Sada ada di rumah ini. Dia datang menemuiku tadi!"
" Apa?"
Demas ganti terkejut. Apa kakaknya sedang ngaco?
DUAR!
Kini wajah Demas yang ganti pucat. Jika begini, jelas akan terjadi hal yang tak mereka inginkan. Ia tahu seperti apa Papa Leo jika marah. Apalagi, pria itu memiliki dendam kesumat terhadap Sada yang telah menghamili Claire.
" Aku curiga jika Claire sebenarnya tahu soal ini!" seru Deo kepada adiknya yang kini juga berpikiran sama." Aku takut kalau dia mengambil paksa Neo dan menuntut balas!"
" Tidak akan aku biarkan!"
Namun yang di bicarakan rupanya telah menyelinap diantara banyaknya tamu yang hilir mudik masuk kedalam rumah besar itu, usai membuat wajah Deo pucat.
Banyaknya manusia yang datang dan pergi membuat keluarga Darmawan tak menaruh curiga pada siapapun. Tamu dari berbagai kota, pelayat lokal, petugas catering tumpah ruah menjadi satu dan membuat rumah besar itu padat dengan manusia.
Hingga, Claire yang lelah karena mencari Melodi yang tak kunjung ketemu kini memilih masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat sejenak. Mungkin Melodi sedang beristirahat. Entahlah, energinya kini habis sebab sejak semalam ia tak bisa memejamkan matanya.
Ia kini sangat pusing karena terlalu lama menangis.
Edwin memilih menemui Papa Leo dan membantu sebisanya. Bahkan, pria itu kini dikenalkan sebagai calon menantu kepada kolega yang kebetulan datang melayat.
__ADS_1
Namun saat ia hendak merebahkan tubuhnya ke atas ranjang, ia terkejut saat sebuah tangan kekar tiba-tiba memeluknya dari belakang.
" Claire!"
DEG!
Dan sebuah suara yang cukup familiar di telinganya itu berhasil membuatnya terperanjat.
" Wira, apa yang kau lakukan disini?" pekik Claire yang terkejut bukan main.
Claire langsung berjingkat menjauh saat ia tahu bila pria yang barusaja memeluknya itu adalah Sadawira. Sungguh pria yang benar-benar nekat dan tak tahu resiko.
" Ssstt, jangan berteriak. Aku tidak akan menyakitimu, percayalah!" seru Sadawira yang tak ingin membuat Claire salah paham.
Ia nekat kesana dan meninggalkan Zayn yang kini entah kemana sebab hatinya mendesak untuk bertemu. Ia kalah dengan hati kecilnya.
Claire yang benar-benar ketakutan kini menatap ragu-ragu Sadawira yang berusaha meyakinkan dirinya.
" Aku turut berduka atas kepergian kakekmu!"
" Aku sangat mencemaskan mu Claire!"
Claire yang benar-benar lelah akan hidupnya yang penuh tekanan akhirnya duduk seraya menangis. Ia berdiam sebab tak memiliki daya lagi untuk sekedar melawan. Ia lelah lahir batin.
Dalam hati ia masih memiliki rasa terhadap Sadawira, tapi tentu saja sebagai wujud baktinya juga rasa bersalahnya, ia tak bisa melawan keluarganya yang bermusuhan dengan Sadawira.
Sada terlihat memeluk Claire dan kali ini tak di tolak oleh wanita yang energinya sudah lemah itu.
" Menangislah Claire. Menangislah sampai kau lega!" seru Sadawira yang bisa merasakan tubuh Claire yang bergetar karena tangis.
Claire diam dan tak memberontak saat Sadawira memeluknya erat. Untuk sejenak, mereka berdua sama-sama menangis. Melebur segala ketidakberdayaan yang sama-sama mereka hadapi.
Menghirup aroma tubuh satu sama lain yang rupanya bisa memberikan efek ketenangan bagi keduanya.
" Kau bisa dibunuh Papa jika merasa tahu kau ada disini Wir!" lirih Claire dengan posisi wajahnya yang masih berada diatas pindah kokoh Wira.
" Aku tidak takut. Bahkan sekalipun aku mati aku tidak takut, asal kau mau memaafkan aku!"
Claire tersedu-sedu saat Sada melonggarkan pelukannya lalu mendekatkan wajahnya. Kening mereka kini beradu meski berbaur pada tangis yang kian menjadi.
" Terimakasih karena kau tidak menolakku saat ini Claire!"
__ADS_1
Claire diam saat pipinya di raba oleh pria dengan wangi tubuh yang tak berubah itu. Posisi mereka sangat dekat dan begitu intim.
" Aku tahu kau masih mencintaiku Claire. Aku bisa merasakan itu!"