
...🥀🥀🥀...
Jelang petang, Melodi baru tersadar. Gadis itu terlihat mengerjap beberapa kali sembari meringis menahan nyeri yang luar biasa di bagian perutnya.
Ia tak ingat dengan pasti dengan apa yang terjadi selanjutnya begitu dia tadi merasakan sakit akibat sebuah benda tajam yang menusuk perutnya. Yang dia ingat hanya sesosok laki-laki yang nampak khawatir dan setelah itu ia kehilangan kesadaran.
Melodi sedang mencari-cari air minum, saat Mama Bella dan Mama Jessika yang sudah kembali terlihat langsung menuju ke ranjang sang anak.
" Melodi, kau sudah sadar nak?" tanya Mama Bella dengan air mata yang tak lagi dapat ia tahan. Rasa rindu, rasa takut kehilangan, rasa kasihan. Semua bertangkup menjadi satu.
Melodi seketika menjadi tercekat. Lidahnya kelu da dapat berucap. Gadis yang kini merasakan sakit di sekujur tubuhnya itu hanya bisa menangis karena merasakan haru, sedih, sekaligus merasakan perih dan panas yang luar biasa dalam perutnya.
" Mama, Bude!" ucapnya dengan suara bergetar. Terlalu tak percaya dengan apa yang kini terjadi menimpanya.
Mama Jessika yang turut menitikkan air matanya demi melihat kondisi keponakan yang begitu memprihatinkan tampak mengusap lembut pipi Melodi penuh kasih.
" Biar Bude panggilkan dokter!" ucap Mama Jessika yang menekan tombol indikator call doctor pada dinding.
" Maafkan Melodi Ma, Bude!" kata Melodi yang masih berusaha membuka suara meski begitu lirih dan bersuara suara serak.
Mama Bella mengangguk sembari mengusap surai hitam yang tergerai diatas bantal itu dengan dada sesak dan semakin terasa ngilu. Sekian lama tak bertemu, dan ketika bertemu malah dengan keadaan seperti itu.
Apalagi, ia teringat akan cerita Sadawira yang tadi mengatakan alasan Melodi tak mengabari untuk datang adalah karena ingin memberikannya kejutan. Dan benar saja, mereka benar-benar dibuat terkejut dengan begitu hebatnya.
" Kau berhasil nak!" kata Mama Bella yang masih menangis.
Membuat Melodi langsung tertegun karena bingung. " Berhasil?"
Mama Bella mengangguk, " Kamu ingin membuat kejutan untuk kami kan? Ini dari tadi kami sudah benar-benar terkejut. Bahkan sangat!" terang Mama Bella dengan tawa di sela tangis. Sengaja ingin menghibur sang anak.
Melodi langsung tersenyum dan ingin tertawa sebenarnya demi mendengar sang Mama yang malah nekat berkelakar di sela tangis. Tapi ia musti menahan sebab perutnya masih nyeri. Terlihat sangat konyol.
Entah sampai berapa lama dia akan menjalani sakit yang sedemikian rupa. Tapi yang jelas, ia bersyukur sebab masih diberikan kesempatan untuk hidup.
Dokter yang tadi di panggil kini sudah masuk dan tampak sigap mengecek perkembangan Melodi yang barusaja siuman. Dokter mengatakan jika Melodi telah selesai melewati masa kritisnya dan masih harus di rawat inap guna memulihkan kondisi kesehatannya.
__ADS_1
Tentu saja keduanya tak keberatan. Apalagi, Mama Bella kan juga merupakan seorang dokter dulunya.
Sepeninggal dokter laki-laki tadi , Melodi yang kini diberikan minum oleh Mama Bella terkejut saat pintu tiba-tiba terbuka. Menampilkan Papa David dan Papa Leo yang tersenyum mendapati dirinya telah siuman.
" Papa, Pakde!" kedua pria itu datang lalu mengusap wajah Melodi penuh rasa syukur. Di belakang sana, terlihat ada Neo, Claire serta Sada yang rupanya sengaja datang untuk melihat kondisi sang adik.
" Aunty Mel!" sapa Neo terlihat begitu cemas.
Kini gadis itu merasa begitu bahagia sebab semua keluarganya telah datang dan berkumpul.
Mereka semua mengerumuni Melodi yang terlihat tersenyum meski wajahnya masih sangat pucat.
Tapi dari semua yang ada, mata Melodi masih mencari-cari sosok laki-laki yang saat dia setengah sadar tadi terdengar begitu panik. Tapi, dimana orang itu? Apa dia sudah pulang?
Namun suara berikutnya membuat Melodi benar-benar tak menyangka. Membuat ia langsung malu sebab mirip dengan orang yang tertangkap basah.
" Zayn sedang keluar sebentar. Ada urusan. Nanti dia akan kembali!" kata Papa Leo yang mengerti bila Melodi sedang mencari-cari seseorang.
" Hah, bagaimana bisa Papa kenal Zayn? Aku kan belum pernah cerita!" batin Melodi yang benar-benar malu.
Dan reaksi senyam-senyum dari wajah Sada membuat sang adik ipar curiga. Apakah dia pelakunya?
Melodi makin menunduk malu. Harus bagiamana dia sekarang? Ini pertama kalinya bagi Melodi merasa malu kepada kedua orangtuanya karena menyangkut kawan jenis.
-
-
Sementara itu, Zayn tak berada di rumah sakit karena rupanya tengah ikut bersama Edwin menemui Olivia yang masih belum bisa keluar dari ruang isolasi. Mereka berdua menatap seraut pucat yang masih memejamkan mata itu melalui dinding kaca transparan yang lebar.
" Apa aku bisa bertemu dengannya?" tanya Zayn tanpa menatap Edwin. Keduanya sama-sama memfokuskan pandangan kepada Olivia. Antara kasihan juga kesal.
" Sebaiknya tunggu sampai dia benar-benar normal. Rekanku sendiri nanti yang akan menangani!"
Zayn tercenung. Ia tak membenci Olivia. Bagiamanapun juga, mereka telah kenal sejak kecil. Tapi ia hanya ingin memperjelas bahwa meskipun Olivia melakukan apapun, hatinya telah tertambat pada satu nama. Melodi.
__ADS_1
" Dia hanya gadis yang sebenarnya kesepian!" kata Edwin masih tak melepaskan pandangan.
Zayn terdiam. Meneguk ludah sebab tanpa diberitahu pun, ia juga sudah tahu rekam jejak kehidupan Olivia.
" Mungkin jika orang kesepian dan orang kesepian lainnya bersatu, akan menjadi sebuah keriuhan jika terus bersama!" balas Zayn yang membuat keduanya langsung saling menatap dengan senyum samar.
" Bersama?" ulang Edwin tersenyum tak percaya. Terlihat ironis.
Zayn mengangguk, " Sama seperti penakut. Jika penakut bersama penakut lainnya, maka keduanya akan menghasilkan keberanian!"
...----------------...
Malam harinya usai menelpon sang Mama dan mengatakan jika akan pulang terlambat, Zayn terlihat kembali ke rumah sakit. Ia sudah mengganti bajunya yang sengaja ia beli sebab tak mungkin akan menemui Melodi dengan pakaian kotor.
Dan tanpa di nyana, ia malah bertemu dengan Sada yang terlihat menggendong Neo yang sudah tertidur, dan sebelah tangannya lagi menggandeng Claire yang di jam semalam itu masih mengenakan masker karena mual.
" Nah ini dia nih!" cetus Sada yang kerepotan kala menggerakkan kepalanya sebab bahunya menjadi bantal sang anak yang tertidur.
" Kenapa?" tanya Zayn yang masih meneruskan langkahnya dengan wajah bodoh sebab tak mengerti.
" Di cariin tuh!" kata Sada langsung dengan terkekeh.
" Kami mau pulang dulu Zyan. Gak kuat aku. Tuh si bocil juga udah tepar. Pakde sama Bude habis ini juga pulang, gak tau nanti Papa sama Mama. Kamu masuk aja kalau mau lihat keadaan Melodi!"
" Hah, kenapa malah pada balik?"
" Udah ya. Baik-baik sama calon mertua. Good luck buddy!" seru Sadawira terkekeh-kekeh yang membuat Zayn makin geleng-geleng kepala.
Sepeninggal pria kurang ajar tadi, Zayn langsung tercenung. Kenapa dia tiba-tiba grogi begini. Ah sial, kenapa juga ia malah kemari seorang diri. Harusnya ia mengabari Andrew atau siapa lah buat mendampingi. Atau dia kembali saja dulu?
Namun tiba-tiba,
CEKLEK!
Oh tidak.
__ADS_1
Ia langsung melongo saat Mama Bella membuka pintu kamar dan menatapnya dengan tatapan terlolong. Terlihat sama-sama terkejut.
" Nak, kenapa malah berdiri di situ?"