
...🥀🥀🥀...
Dalam ballroom yang bertabur banyak sekali meja bundar mewah itu, Mama Jessika, Mama Eka dan Mama Arin duduk dalam satu kelompok. Sementara Papa David tak bisa bergabung, karena harus menemani Papa Leo menjadi penyaksi.
Kehebohan demi kehebohan beberapa kelompok lintas usia membuat suasana begitu riuh. Seperti saat ini misalnya. Sembari menunggu kedua mempelai memasuki ballroom, ada saja hal yang di bahas.
" Adiknya Erik jadi datang?" tanya Mama Arin yang sudah lama tak mendengar bungsu dari pasangan Papa Tomy dan Mama Eka.
" Jadi dong, udah ada di kamar dia. Lagi ganti baju!" balas Mama Eka senang.
" Wah, pasti tambah ganteng dia. Lama banget gak ketemu. Belum mau nikah?" tanya Mama Jessika tak sabar.
" Belum punya pacar. Gak tahu dia itu, apa yang mau di tunggu. Karir juga udah jelas, baru naik jabatan juga, gak tau kenapa anak-anak sekarang kok susah banget buat mikir masa depan!" balas Mama Eka yang sebenarnya sudah berkali-kali mengingatkan anak bungsunya.
" Mungkin masih ingin berkarir tanpa kepikiran yang lain-lain!" timpal Mama Jessika memaklumi.
Mama Eka mengangguk. " Tahun depan mungkin ikut mimpin pasukan gabungan PBB ke daerah konflik!"
" Hah, kesana?"
Namun obrolan seru mereka terpaksa harus terhenti manakala Dian yang baru selesai mengantar Melodi bersiap , datang menghampiri meja tiga nenek-nenek gaul itu.
" Tante!" sapa Dian yang terkejut begitu melihat Tante Eka.
" Ya ampun, ini Dian ya? Kamu apa kabar!" pekik Mama Eka yang terlihat langsung heboh dan belingsatan.
Papa Tomy yang melihat istrinya langsung heboh saat bertemu dengan Dian kini hanya bisa menghela nafas pasrah. Membuat Papa Rendra yang ada di samping istrinya, Arin terkekeh-kekeh.
" Masih sama aja kayak dulu. Nggak pernah berubah!" bisik papa Rendra kepada papa Tomy.
" Udah paten. Mendarah daging!" balas papa Tomy yang sudah sangat kenyang dengan kehebohan mama Eka.
Namun tak berselang lama, Wisnu yang sudah selesai berganti baju terlihat menyusul sang Mama dengan diantar Erik.
" Lah Ka, itu si Wisnu! Ya ampun, ganteng banget dia sekarang!" tunjuk Mama Jessika ke arah jarum jam satu siang. Membuat kesemuanya menoleh.
__ADS_1
Dian yang melihat pria tampan dengan postur tinggi tegap, dan badan kekar matanya langsung berubah warna.
" Wow, siapa lagi itu? Duhh, aku mendadak jadi sagapung!" kata Dian yang langsung melting.
" Apaan sagapung?" tanya Mama Eka yang malah tertarik dengan kosakata aneh dari mulut Dian.
" San*ge gak tertampung, hahahaha!" kata Dian tanpa tedeng aling-aling yang berhasil membuat kesemua orang tertawa.
Bahkan Papa Rendra yang merupakan suami dari Arin sampai terbatuk-batuk demi mendengar istilah absurd yang barusaja di ucapkan oleh Dian.
Dasar protozoa!
-
-
MC mulai mengambil alih suasana ketika koordinator crew EO telah menyampaikan jika kedua mempelai telah siap dan sudah berada di titiknya masing-masing.
Zara yang barusaja turun guna mengambilnya ponsel terlihat menyusul keluarganya dari Atana untuk duduk di meja kebesaran mereka. Terlihatlah menunjukkan wajah yang sedikit kesal. Entah apa yang barusaja terjadi.
" Kenapa monyong begitu?" tanya Mama Zayn.
Jilatan kamera tak hentinya memenuhi ruangan, kala kedua mempelai yang kini berjalan dari arah berlawanan menuju meja pengikraran itu menjadi pusat perhatian.
Zayn yang bisa melihat wajah cantik Melodi dari jarak jauh, merasa dadanya menjadi bergetar. Ia bagai mabuk kepayang manakala melihat penampilan calon istrinya menjadi begitu luar biasa.
Gaun dengan payet full cristal yang membalut tubuh ramping yang selama ini tersembunyi di balik pakaian yang selalu longgar itu, kini berhasil membuat sisi jantannya bangkit.
Juga Melodi yang melihat Zyan telah mencukur bulu-bulu halusnya di sepanjang rahang dan pipi, kini terlihat sangat berbeda. Zayn ganteng.
Dan kerinduan yang semakin membuncah, benar-benar membuat keduanya ingin menerkam satu sama lain.
Wait, tahan dulu ya!
MC mempersilahkan keduanya untuk duduk, lalu riuhlah kembali ruangan itu dengan tepuk tangan yang begitu meriah.
__ADS_1
" Kepada seluruh tamu undangan, mohon untuk mendengarkan secara khidmat dan saksama, prosesi ijab kabul...."
Zayn bolak balik menghela napas ketika MC masih berintermezo. Sederet kalimat yang seminggu ini ia hapalkan harus bisa ia ucapkan dalam sekali tarikan napas.
Melodi yang juga sudah duduk bersanding di dekat calon suaminya, benar-benar gugup dan grogi. Ia bahkan berkali-kali menarik napas guna menetralisir kegugupan.
Papa Leo tersenyum menatap manakala melihat anak bungsunya, kini duduk bersanding di hadapan. Masih belum hilang dari ingatan manakala ia menungguinya Mama Bella melahirkan Melodi.
Dan sebagai seorang Papa yang tak menyangka bisa mengantarkan langkah putrinya hingga ke titik ini, ia merasa sangat terharu sekali.
" Bagaimana sudah lengkap?" tanya petugas berjas hitam yang membuat lamunan Papa Leo menguap ke udara.
" Sudah pak!" jawab Papa David yang menjamin segala sesuatunya telah siap.
" Kita mulai ya?"
Suasana mendadak hening manakala kendali ruangan itu di pegang sepenuhnya oleh petugas. Mulut-mulut yang semula heboh kini terkatup dengan rapatnya secara rata dan tertib. Bersiap menjadi saksi pengucapan tanda bukti pernikahan Zyan juga Claire.
" Saudara Zayn ...."
Pria itu meneguk ludahnya gugup manakala tangannya di jabat erat oleh petugas berjas hitam, yang tatapannya mengundang segenap rasa penuh ketidaktenangan.
Melodi yang hatinya tak berhenti berdetak kencang, sampai-sampai mencengkeram sendirian gaunnya dengan rasa ketar-ketir. Takut kalau-kalau Zayn salah mengucapkan kata-kata sakral itu.
Hingga sejurus kemudian, tangan yang di hentakkan dengan sempurna membuat Zayn kontan mengucapkan sederet kalimat sakral dengan cepat dan lancar.
Membuat degup jantung semua orang bagai tertahan.
" Bagaimana saksi?"
" Sah!!!!"
Zayn langsung menghembuskan napas panjang penuh kelegaan. Mata serta hidungnya tiba-tiba memanas dengan sendirinya. Papa Leo menangis, Mama Zayn pun sama. Melodi membasuh wajahnya penuh syukur. Mama Bella terlihat di usap punggungnya oleh Mama Jessika yang selalu setia memberi kekuatan.
Mereka telah sah. Mereka telah resmi menjadi sepasang suami isteri.
__ADS_1
" Selamat Zayn. Aku turut bahagia melihatmu bahagia!" seru Olivia dalam hati yang rupanya hari itu datang bersama Edwin yang terlihat begitu tampan.
Merasa jika perjalanan takdir akan menjadi lebih indah, jika kita mau menerima ketetapannya.