
...🥀🥀🥀...
Di dalam ruangan; Deo, Arimbi, Demas, Claire serta Melodi yang merupakan cucu dari Edi Darmawan terlihat berkumpul dengan situasi yang cukup mengharukan.
Usai berbicara dengan dua anak dan dua menantunya, kini Opa Edi Darmawan memanggilnya para cucunya secara bersamaan.
Eva tak bisa datang sebab masih dalam tahap pemulihan kondisi pasca melahirkan. Selain itu, anak bungsu Demas masih rentan untuk di bawa-bawa pergi.
Hati Claire sesak manakala melihat opa Edi yang sudah sangat tua, kini terbaring lemah di atas ranjang dengan rambut yang sudah memutih. Menegaskan jika pria itu telah banyak memakan asam garam kehidupan.
Pria yang usianya diyakini mencapai usia sembilan puluh tahunan bahkan lebih itu terlihat kurus dan renta. Pria yang menjadi asal muasal mereka berada saat ini.
Di tatapnya satu persatu wajah cucunya dengan lekat. Seolah ingin menyimpan baik-baik tentang kejadian hari ini.
" Kalian adalah kebanggaan keluarga Darmawan!" ucap Opa Edi dengan suara serak khas orang tua yang uzur, sembari menunjukkan dua mata yang berkaca-kaca.
" Dari dua menjadi empat!" Lirihnya Opa Edi kembali, mengingat jika dirinya dulu menikah lalu memiliki dua anak laki-laki yaitu David dan Leo.
" Dari empat menjadi delapan!" imbuhnya lagi kini menatap keempat cucunya juga cucu menantunya secara bergantian.
Membuat hati kelima orang itu mendadak diliputi oleh kesesakan.
" Opa cuma mau titip pesan sama kalian. Tolong rukun-rukun lah dengan saudara, sayangi orang tua kalian, jangan berlaku kasar terhadap anak!"
Mata Deo dan Demas kini turut memanas. Ia ingat betul bagaimana Opanya selalu mendukung dirinya dari masa ke masa.
" Jaga nama baik keluarga Darmawan!"
Melodi yang biasanya tegar, kini terlihat paling sering mengusap wajahnya yang tak mau berhenti mengeluarkan sumber air.
" Deo!" panggil Opa Edi menatap cucu tertuanya.
" Saya Opa!" jawab Deo sambil mengusap sudut matanya.
" Jaga istri dan anak kamu dengan sepenuh hati. Buat mereka selalu bahagia semampu dan sebisa kamu!"
" Jadilah Bos yang di segani, bukan di takuti. Tetap bantu mereka yang berada dalam kesusahan!"
__ADS_1
Deo mengangguk tanpa bisa mengucapkan sepatah kata lagi. Lidahnya bagai terikat oleh sesuatu yang berat.
" Demas!" panggilnya kini menoleh kepada cucu bungsunya dari keturunan David.
" Saya Opa!" jawab Demas yang bolak-balik menghela nafasnya.
" Anak kamu lebih banyak dari Deo. Itu artinya kamu memiliki tanggung jawab yang lebih!"
" Yang sabar sama orang tua, sama mertua yang kini juga menjadi tanggung jawab kamu!"
Demas mengangguk dengan air mata yang mulai berjejalan.
" Kalau ngrekrut karyawan baru, usahakan yang orang pribumi. Kasihan mereka, siapa tahu dari mereka ada yang jadi tulang punggung keluarga!"
Demas mengangguk sambil berkali-kali membasuh wajahnya karena tak tahan dengan situasi seperti ini.
" Kalian berdua laki-laki, harus bisa bersikap sebagaimana laki-laki. Lindungilah keluarga dan nama baik keluarga kita!"
Deo dan Demas mengangguk sigap. Siap menjalankan segala apa yang kini tengah di wasiatkan kepada mereka.
" Ya Opa?" menjawab dengan suara bergetar sebab sudah menangis sedari tadi.
" Kamu cucuku yang paling kecil!"
"Baik-baik kamu belajar sama Papa kamu. Jika ada orang yang punya niat baik sama kamu terima saja. Kamu ini perempuan, sudah seharusnya merubah sikap yang sewajarnya!"
Maka gadis itu semakin membenamkan kepalanya ke sisi Opa yang kini berbaring.
" Opa gak bisa lagi ada di sisi kamu. Dengar apa kata Papa, Mama dan kakak-kakak kamu ini!"
Membuat Melodi tak lagi dapat menahan air matanya yang mengalir semakin deras.
"Dengar betul-betul apa yang di ucapkan oleh papamu saat kamu belajar. Dulu Opa membangun semua ini dari Nol. Kamu harus bisa membuat perusahaan kita makin melambung dari generasi ke generasi!"
" Arimbi!"
" Nggeh Opa?" jawab Arimbi yang kini memajukan tubuhnya mendekat kepada pria tua itu.
__ADS_1
" Kamu cucu menantu tertua di keluarga kita. Saya titip sama kamu untuk membantu tugas mama kamu yang semakin hari semakin tua nantinya. Terimakasih sudah merawat cucu dan cicit saya dengan baik. Tetap jadi ibu yang sabar dan istri yang baik ya nak!"
Arimbi mengangguk dengan air mata yang berjatuhan. Sungguh semuanya ini membuatnya tak berdaya.
"Claire!" panggil Opa kepada satu-satunya orang yang belum ia beri nasihat serta hikmat itu.
Dan tidak tahu kenapa, Claire saat namanya di sebut dadanya tiba-tiba sesak. Lidahnya kelu dan membuatnya tercekat tanpa bisa menjawab sepatah kata pun. Hanya air mata yang sanggup ia suguhkan.
" Diantara cucu-cucuku, kamu yang sampai sekarang masih jadi pusat pikiran opa!"
Deg!
Membuat air mata Claire semakin tak dapat di bendung. Jebol sudah pertahanannya demi mendengar suara kakek yang nampak pilu. Apalagi, ia ingat rekam jejaknya selama enam tahun terkahir ini. Hari-hari yang ia lewati sering bersama dengan Opanya sebelum kesehatan pria tua itu menurun.
" Sebenarnya Opa berharap kamu mau menerima dokter muda itu!" berkata dengan maksud membicarakan Edwin.
Membuat kesemuanya terkejut sebab nasihat yang diberikan sangat berbeda dari yang lainnya.
" Tujuan Opa kesini manggil kamu adalah Opa ingin melihat kamu bahagia sebelum Opa meninggal!"
" Opa! Jangan mengatakan hal itu, Opa harus sehat!" sergah Claire yang tentu tak setuju dengan ucapan Opanya.
" Deo sudah bahagia bersama Arimbi, pun juga Demas. Opa tak lagi meragukan hal itu!"
Ia terus menangis lalu menggeleng tak setuju, " Masih ada Melodi juga Opa!"
Opa balik menggeleng lemah.
" Melodi dan kamu berbeda. Dia masih menjadi tanggung jawab papamu. Sementara kamu, kamu sudah memiliki Neo. Sudah selayaknya kamu harus ada yang menemani Claire!"
Kini Arimbi mengusap punggung Claire yang semakin gemetaran karena jelas batinnya tengah terguncang, pun dengan Melodi yang turut merasakan kesesakan dalam hatinya.
" Opa ingin kamu menikah dan melupakan masalalu kamu yang buruk!"
Dan sungguh permintaan itu teramat sangat berat untuk dilakukan, mengingat jika hati Claire bahkan tak terbuka untuk siapapun saat ini.
" Menikahlah dengan dokter itu Nak, Opa ingin pergi dengan tenang!"
__ADS_1