My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 62. Kembali


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Keesokan paginya Mama Bella terlihat berat saat melepas anak dan cucunya yang akan kembali ke negara asalnya. Tapi bagiamanapun keadaan, kehidupan terus berlanjut. Tak peduli apa yang terjadi.


Claire harus tetap kembali menjalankan bisnisnya yang mengguritanya di Atana, dan Neo juga harus meneruskan sekolahnya.


Niat ke Indonesia untuk menjenguk sang Opa yang di rawat di rumah sakit, malah berganti menjadi hal tak mengenakkan sebab sang pendiri Darmawan group telah memulai perjalanan baru di alam baka.


Dengan berat hati, Claire juga harus pergi sebab ia memiliki tanggung jawab di Atana, meski rasa ingin berkumpul di tempat itu masih ingin ia lakukan.


" Ingat pesan Papamu. Baik-baik kamu di sana ya?" kata Mama Bella memeluk tubuh anak sulungnya itu.


Hah, benar-benar membuat dadanya sesak.


Mungkin beginilah definisi kasih orang tua sepanjang masa. Tak peduli seberapapun usianya, ia masih tetap kecil di mata orangtuanya.


Neo menatap Oma dan Ibunya murung. Kenapa setiap hari banyak orang yang menangis?


" Neo!" seru Mama Bella yang kini beralih kepada cucu kesayangannya itu.


" Ya Oma!" menjawab dengan kejernihan mata yang membuat wanita itu tersenyum manis.


" Neo, nurut apa kata Ibu ya. Nanti kalau sudah tidak sibuk, Oma sama Opa akan main kesana!"


Neo yang di peluk lalu di cium oleh Oma dan Opanya merasa ingin menangis. Kenapa setiap di peluk orang rasanya semenyenangkan ini?


Melodi juga akan ke Atana tapi ia harus kembalikan ke kota S dulu untuk mengurus beberapa urusan yang terbengkalai. Sepertinya, semakin dewasa Melodi semakin mengerti apa itu tanggung jawab.


Lambaian tangan menjadi penanda perpisahan yang sering kali terjadi, namun masih selalu saja menyesakkan dada yang menjalani.


" Seberapapun anak. Kita akan tetap berdua mas!" ucap Mama Bella menatap mobil putih yang kini semakin menjauh dari pandangan keduanya. Membuat hati Papa Leo mengharu biru.


Begitulah siklus kehidupan. Tugas mereka hanya menghantarkan, dan berpasrah pada nasib juga takdir.


-


-


Matahari tepat berada di atas kepala saat mereka tiba di Atana. Jalan by pass tadi lumayan macet. Sepertinya sedang ada rombongan atlet yang mewakili negara tersebut yang akan bertanding di perhelatan sea games.


" Ibu, kenapa mobilnya tidak bergerak-gerak?" tanya Neo sembari menjulurkan kepalanya.


Claire yang terlihat sibuk berbalas pesan dengan assistenya kini menoleh mengindetifikasi keadaan yang di keluhkan anaknya.

__ADS_1


" Ada rombongan atlet!" tukasnya sekilas yang kini kembali mengalihkan atensinya ke arah ponsel.


" Atlet?" tanya Neo tak mengerti.


Claire menoleh lalu mengangguk, " Atlet adalah orang-orang yang jago atau mahir di salah satu olahraga. Olahraga apa saja. Sepak bola, bola voli, bulu tangkis, renang dan lain-lain!"


Membuat Neo menyimak dengan saksama.


" Apa Atlet itu pekerjaan?"


Claire terdiam dengan alis yang terangkat sebelah. Nampak seperti berpikir. "Mmmmm, bisa jadi!"


Neo kemudian terdiam sambil terus menatap bus besar yang bodynya tercetak banyak sekali pria macho yang berpakaian olahraga dan nampak keren.


" Atlet!" batin Neo dengan tatapan tak lepas.


Di lain tempat, Juwita yang tahu jika majikannya siang ini akan tiba, terlihat menyiapkan menu makan siang dengan cepat. Dan benar saja, saat ia sedang menata piring dan sendok, bel pintu rumah ada yang menekan.


TING TONG!


" Sebentar!" teriak Juwi dengan senang karena yakin jika itu pasti adalah Claire.


CEKLEK!


" Ya ampun Bu!" Juwi langsung memekik dan kontan memeluk Claire dengan mata berkaca-kaca.


" Apa kabar?" tanya Claire yang tahu jik asisten rumah tangganya itu sedang menangis.


" Saya turut berdukacita Bu. Gimana keadaan keluarga disana?"


Claire menghela napas sembari melepaskan pelukannya. " Ya, yang namanya kehilangan pasti sulit dilalui. Tapi Tuhan pasti lebih mengerti!"


Juwi tampak mengusap punggung Claire yang lebih tinggi darinya dengan penuh kasih. Turut memberikan kekuatan.


" Semoga semua keluarga menadapat kekuatan dan kesabaran!"


Claire mengangguk menatap wajah Juwi yang tulus saat berkata.


" Oh iya Bu, Den Neo mana?" tanya Juwi yang baru ingat bocah gesit itu.


Claire lagi-lagi tersenyum." Ketiduran di mobil, ini aku masih bawa barang dulu!"


" Ya ampun, biar saja aja yang ambil kalau gitu. Ibu istirahat saja!"

__ADS_1


Claire mengangguk. Ia memang sangat lelah. Apalagi assiten di kantornya sudah mengabari jika ada masalah di pekerjaannya yang membuat dirinya mumet.


-


-


Malam harinya Sada yang melihat Diva nampak tak seperti biasanya terlihat ingin tahu. Malam ini mereka akan melakukan penerbangan untuk kembali ke timur.


" Apa ada masalah?" tanya Sada dengan nada wajar.


Namun yang di tanya justru tampak kesal dan melengos. Membuat Dollar yang ada diantara mereka terlihat bingung harus berbuat apa.


Diva masih diam dan memilih membaca majalah yang berada di dalam lounge bandara internasional itu. Kesal karana impiannya menikmatinya tubuh kekar Sadawira gagal total karena ada Dollar diantara mereka.


" Do!"


Dollar yang pura-pura sibuk kini menoleh.


" Ada apa Pak?"


" Kamu handle deh. Ngeri juga kalau marah!" kata Sada terkekeh.


" CK, bapak ini. Belum juga menghadapi kemarahan Ibunya Neo!"


" Jadi kamu berharap dia marah sama saya?"


" Ya bukan begitu Pak. Anggap saja latihan!" seru Dollar mengerakkan dua alisnya naik turun. Membuat Sada mencebik.


" Udahlah saya pusing. Kamu aja sana. Kamu kan jago gombal!"


Kini Dollar yang ganti mendengus. Kenapa predikatnya jago gombal sih?


" Emmmm, Bu Diva mau sesuatu?" kata Dollar yang bingung dalam memilih kosakat.


Diva langsung menoleh menatap Dollar yang enggak banget itu sekilas, lalu kembali mencelos. Membuat Dollar meneguk ludahnya grogi.


Sialan betul!


Ia kembali menoleh ke arah Sadawira yang sibuk berbalas pesan. " Pak, saya mundur. Sepertinya, beliau kesal sama saya!"


" Kalau begitu, buat dia biar tidak kesal lag bagaimanapun caranya. Tanpa dia, perjanjian kita gak akan se sukses ini. Ayo sana, sama gak mau tau!"


Maka Dollar langsung pucat detik itu juga demi mendengar kata saya tidak mau tahu.

__ADS_1


__ADS_2