
...🥀🥀🥀...
Melodi pun sengaja ingin meninggalkan dua orang tak tahu malu itu dengan rasa dada yang melesak tak beres. Kenapa juga harus merasa kesal lagi sih? Apa maumu Mel? Mungkinkah kini dia menyadari bahwasanya ia memang telah menyukai Zayn?
Para manager yang menangkap kilatan sarat kekesalan dari wajah bos perempuannya itu hanya bisa diam sambil saling senggol. Berbisik lirih merasai seraut wajah yang kian bersungut-sungut.
Kasak-kusuk yang mempergunjingkan kenapa sang CEO terlihat keruh juga santer terdengar di deretan kursi paling belakang, meski telinga Melodi tak sempat menangkap hal itu karena keburu mengetik pesan kepada seseorang.
📱 Melodi: " Nanti kau boleh jemput aku di kantor"
Melodi benar-benar lupa bahwasannya ada hal yang musti dijaga saat kita tengah emosi, yakni perkataan. Dan semua kekesalan tanpa alasan yang jelas itu membuatnya bersikap impulsif dan kurang perhitungan.
Ya, dia meminta Arsakha menjemput sebab tak ingin terlihat seperti orang bodoh yang hanya bisa melihat kemesraan orang lain.
📱 Arsakha : " Dengan senang hati nyonya."
Ia bahkan langsung melengos saat Zayn kini masuk dan membuat pergunjingan itu senyap dalam sekejap. Zayn merasa, apa yang semalam telah memudar, kini terasa ada kembali. Sorot mata yang mempertontonkan kekesalan.
" Kita langsung mulai?" tanya Zayn kepada Melodi.
" Kita memang sedang menunggu anda!" menjawab dengan aura tak ramah.
Membuat sederet dugaan tentang kemarahan kian terang benderang.
" Maaf tapi masih ada waktu sepuluh menit dari jadwal. Itu artinya saya tidak terlambat kan?" sela Zayn yang menduga jika Melodi kesal karena dia terlambat.
Dan sahutan dari para petinggi itu semakin membuat anak buah yang duduk mengikuti presentasi terakhir itu kini saling terlolong.
Ada apa dengan bosnya? Kenapa terkesan sindir menyindir begitu.
" Sebaiknya kita mulai saja. Aku rasa setelah ini kita masih akan memiliki kesibukan lain!" Melodi menekan kata memiliki kesibukan lain dengan tatapan tajam setajam silet.
Sring!
Kini Zayn benar-benar yakin, jika pemicu kekesalan gadis itu adalah dirinya yang tadi di datangi oleh Olivia. Ya, jelas dan telak. Dan terbantahkan lagi.
" Baiklah mari kita mulai lebih awal!" jawab Zayn mengalah.
Jika biasanya Melodi sangat antusias dengan Zayn, kini ia benar-benar terus saja melempar pandangannya ke arah lain. Membuat Zayn tak fokus. Semacam gelisah dan resah.
Dan waktu yang terasa sangat menyebalkan itu berakhir juga tepat di menit 27 lepas dari jam 11. Menandakan bila setelah ini Zayn dan Melodi akan bergantian membubuhkan tanda tangan guna memutakhirkan kerjasama baru mereka.
Bahkan di sesi pengambilan foto, Melodi terlihat sangat terpaksa. Cenderung tidak menikmati. Benarkah jika ini yang dinamakan cemburu? Hey, tapi kenapa?
" Kenapa kau diam saja?" tanya Zayn yang tak tahan dengan kebisuan Melodi saat keduanya sama-sama berjalan menuju lift.
" Memangnya aku harus apa?" jawab si gadis sembari menekan tombol lift.
" Mel, kita ini bukanlah orang asing!" tukasnya yang mulai kehabisan stok kata-kata sarat kesabaran.
" Oh ya?"
" Kamu ini kenapa sih?"
Tring!
Pintu lift terbuka.
" Hay, Mel!"
Zayn turut menoleh saat suara pria tiba-tiba terdengar mampir ke telinganya dari jarak yang lumayan jauh.
Kini mata Zayn nampak kecewa.
" Jadi ini alasannya kamu mau pergi?" tanyanya saat sosok pria yang cukup familiar di ujung sana mulai berjalan mendekat.
" Bukankah kamu juga sibuk dengan seseorang? Maaf aku harus pergi. Seperti yang sudah-sudah, kita akan memulai distribusinya Minggu depan. Selamat siang!"
Zayn tercenung saat Melodi melangkah pergi meninggalkannya menyongsong laki-laki yang kini menatapnya penuh kemenangan.
" Sepertinya keputusanku datang lebih awal memang tepat!" seru orang itu manakala menyambut Melodi yang terdengar sangat tak enak di telinga Zayn.
Namun belum juga ia memungkasi tatapan getirnya itu, sebuah suara membuatnya menoleh.
" Zayn!"
Membuat Melodi yang mendengar teriakan itu dari depan turut menoleh ke belakang.
__ADS_1
" Olivia? Jadi dia masih di sini?" batin Melodi yang terkejut.
Melodi sempat menatap ke netra yang terlihat ingin menjelaskan sesuatu dari jarak jauh itu. Tapi sejurus kemudian, ia memilih pergi sebab melihat Zayn yang kembali di peluk oleh wanita itu benar-benar membuatnya risih.
" Aku sengaja nungguin kamu. Kamu udah selesai kan? Ayo kita pergi makan siang. Papa udah kirim orang buat escort kita!" kata Olivia yang telah menggamit lengan kekar Zayn.
Zayn seketika menghela napas. Kenapa jadi seperti ini sih?
-
-
" Aku senang banget bisa jalan sama kamu. Emmm kita makan di mana?" tanya Sakha begitu mereka telah berada di dalam mobil.
Tapi yang di tanyai terlihat murung dengan pikiran yang masih tertinggal di lantai depan lift tadi.
" Terserah kamu aja. Kamu yang pilih" jawabnya dengan senyum palsu.
Sakha bisa menangkap raut wajah berbeda dari saat mereka ada di kantor tadi meski ia tak mau menanyakan hal itu. Begitu juga dengan Olivia. Ia merasa Zayn benar-benar pasif bahkan hingga mereka sudah berada di tempat tujuan.
" Kamu ini kenapa sih? Diem terus!" sungut Olivia yang merasa suasananya tak seperti yang ia harapkan.
" Maaf Vi. Mungkin karena aku capek!" bohong Zayn yang sebenarnya masih memikirkan Melodi akan kemana? Dan mau apa?
" Tapi lancar kan tadi presentasinya?"
" Lancar!" menjawab dengan senyum yang di paksakan.
" Papa bisa tambah saham ke perusahaan keluarga kamu kalau kita..."
" Vi!" sergah Zayn pelan.
Olivia langsung paham begitu kalimatnya di potong. Gadis itu seketika muram demi melihat wajah Zayn yang terlihat kurang suka.
" Kenapa Zayn? Bukankah kamu dari dulu ingin membuat perusahaanmu berkembang? Ingat Zayn, saat kau dulu belum memiliki investor yang mau bantu perusahaanmu, papa lah yang yang melakukan itu semua!"
" Dan malah membuatku kini terjebak dalam situasi ini?"
" Atau jangan-jangan, kau suka dengan gadis tadi?"
" Vi!" sergahnya kembali karena gadis itu sudah mulai ngelantur kemana-mana.
" Kau ini bicara apa Vi. Dia ini partner kerja perusahaanku sekarang. Dia memiliki perusahaan manufaktur terbesar di kota ini, produknya juga selalu mendapat tempat di masyarakat. Wajar dong kalau aku belakangan ini berkomunikasi intens dengan dia?"
Olivia semakin kesal sebab Zayn selalu membahas wanita itu. Lebih kesal lagi, Zayn bahkan membeberkan posisi krusial wanita itu yang kini membuat rasa tak sukanya bertambah.
-
-
Matahari mulai tenggelam, semburat jingga yang semula menyorot indah kini telah tertelan pekatnya nila surup. Dan buruknya lagi, bahkan hingga jam telah menunjukkan pukul delapan malam lebih, Melodi tak kunjung pulang.
" Mbak? Apa Melodi ada telpon mbak Yuyun?" tanya Zayn yang tak tahan sebab sedari tadi Melodi tak menjawabnya panggilan darinya.
" Gak ada Mas. Bukannya tadi pergi sama Mas Zayn?"
Ah sial, kenapa dia menjadi sekhawatir ini?
Tapi saat ia hendak keluar menuju garasi, dua manusia yang menjadi sumber pemikirannya saat ini, yakni Melodi dan Arsakha terlihat berjalan beriringan dari arah depan. Membuat sekonyong-konyong Zayn tertegun.
Tapi jangankan menyapa, Melodi yang melihat Zyan membawa kunci mobil terlihat langsung mengabaikannya.
" Terimakasih banyak untuk hari ini Kha. Aku masuk dulu!"
Arsakha tersenyum mengangguk saat Melodi berpamitan kepadanya. Melodi pergi melewati Zayn yang diam dengan dada terkejut. Sepeninggal gadis itu, Arsakha maju dengan wajah songong. Menatap sombong seraut datar yang isi dadanya hampir meledak karena rasa kaget.
" Kenapa kau bisa ada di sini? Bukankah kau..."
" Bukan urusanmu!" sahut Zayn cepat memotong pertanyaan yang belum rampung itu.
Sakha tertawa sumbang," Wow santai saja bung. Jangan merasa tersaingi karena jelas kau bukan rival yang sebanding!" hinanya kepada Zayn yang masih saja bisa bersikap tenang.
Zayn tak menjawab. Ia diam menatap balik mata Arsakha yang menatapnya tajam.
" Jangan ganggu dia!" seru Zayn dengan intonasi suara datar yang cenderung ogah-ogahan.
Membuat pria di depannya seketika meradang dan merangsek kerah baju Zayn dengan kasar. " Siapa memangnya kau melarangku? Yang bersangkutan saja tidak melarang. Kami baru saja bersenang-senang sialan. Dasar pecundang!"
__ADS_1
Zayn diam dan tak terpancar apapun. Ia tetap bisa tenang namun sorot matanya begitu menusuk. Menguarkan aroma permusuhan yang kini semakin jelas nyata.
" Hanya pecundang yang sebenarnya yang mengatakan orang lain sebagai pecundang!" tukas Zayn mencengkeram erat tangan Sakha lalu melemparkan tangan kurang ajar itu dengan kasar.
Pria itu sejurus kemudian menatap tajam mata Sakha lalu masuk ke dalam dan menutup pintu dengan dada bergemuruh.
Di dalam rumah.
" Kau dari mana saja pergi hingga malam begini?" tanya Zayn yang tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
Melodi yang sibuk menuang air di dapur sudah memprediksi hal ini. Tapi kekesalan, kemarahan, kecemburuan, tampaknya menutupi semua logika yang ada.
Dan suasana panas yang begitu kentara membuat para ART di sana memilih pergi ke dapur kotor untuk pura-pura sibuk. Tak ingin sampai terjerumus dalam permasalahan majikannya.
" Kau sendiri pergi kemana aku tidak kepo. Kenapa kau sibuk menginterogasiku?"
" Jangan memutar balikkan pertanyaan!" teriak Zayn agak kesal dan membuat Melodi terkejut bukan main.
Gadis itu meminum segelas air hingga napasnya terengah-engah. Ia sejurus kemudian berjalan mendekat ke muka Zyan dengan wajah menantang.
" Kenapa?" serunya dengan wajah kecewa
" Mel, kau ini perempuan. Kau pergi dengan pria asing hingga selarut ini, apa kau tidak memikirkan dirimu?"
" Siapa yang kau bilang pria asing? Aku kenal dengan Arsakha!"
Lihatlah bahkan Melodi sudah sangat hapal dengan nama laki-laki tadi. Membuat keduanya saling melempar tatapan dengan emosi yang sama-sama menggelegak dalam hati mereka.
" Jika besok kau ingin pergi ke airport pak Har siap mengantarmu!" serunya sembari melenggang pergi.
" Mel!" panggil Zayn kepada Melodi yang sudah mulai menaiki tangga.
" Jangan buang waktumu untuk melakukan hal yang tak penting Zayn!"
" Mel tunggu dulu aku belum selesai berbicara!" teriaknya mengejar si gadis dan membuat keduanya menjadi sumber ketakutan tiga ART di belakang sana.
Namun yang di teriaki terus saja masuk ke dalam kamarnya dan membuat pria itu menyusul ke dalam.
" Kamu gak kenal siapa sebenarnya pria tadi!"
" Oh ya memangnya kamu kenal?" tanya Melodi balik dengan muka kesal.
" Mel, kamu marah sama aku karena Olivia datang tadi? Oke aku bisa jelaskan!"
" Gak penting!" sengitnya melempar tas dengan sembarangan. Melucuti pernak-pernik hiasan dengan kasar.
" Mel!"
" Aku gak mau tahu kamu mau pergi sama siapa aja Zayn termasuk dengan cewek centil tadi. Aku gak peduli!"
" Kamu cemburu?"
Deg
Membuat dia kini menatap kembali pria menyebalkan itu.
Melodi tertawa sumbang, " Kenapa aku harus cemburu? Percaya diri sekali kau!"
" Lalu apa? Jelaskan kenapa kau tiba-tiba marah seperti ini Mel!"
" Aku lelah Zayn, aku ingin istirahat!"
" Mel?"
" Apa aku tuli? Aku lelah!"
Namun Zayn malah menarik bahu gadis yang hendak ngeloyor pergi ke kamar mandi itu dan langsung mengecup bibirnya karena gemas
Cup
Melodi yang tak memprediksi hal itu akan terjadi, sampai tak sempat mengelak apalagi menolak ciuman yang tiba-tiba di lakukan oleh Zayn. Oh my...
Ia bahkan nyaris saja hanyut dalam sentuhan hangat itu, namun logikanya tiba-tiba memperingati dan membuatnya tersadar.
Plak!
Zayn terdiam dengan rasa pipi yang panas usia Melodi menamparnya dan kini menatapnya kesal.
__ADS_1
" Aku tak suka kau pergi dengan pria tadi Mel!"