My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 155. Asa orang tua


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Olivia menatap undangan bertuliskan nama Melodi dan Pria yang sempat ia gilai dulu dengan wajah nyaris tanpa ekspresi. Datar, sunyi dan kosong. Selesai sudah.Sebenarnya masih menyisakan sedikit luka, hanya saja sudah tak sesakit dulu. Alias ia bisa meredam semuanya.


Tanaphan yang sedikit khawatir terhadap kondisi putrinya kini menghubungi Edwin yang bertepatan dengan jadwal liburnya. Pria itu dengan senang hati datang. Lagipula, ia juga tidak tahu kenapa ada dorongan aneh yang memaksa dirinya untuk membantu.


" Aku takut jika semua ini akan berdampak pada kesehatan Olivia. Aku tidak tahu jika paket itu adalah..."


" Sebuah undangan?" terka Edwin yang tepat sasaran.


Tanaphan mengangguk sembari mempertontonkan raut gelisah. Ia tak memikirkan apapun saat ini selain putrinya.


" Apa dia masih menunjukkan reaksi lain? Marah misalnya?"


Tanaphan menggeleng. " Anehnya jika tak bersamamu, dia cenderung diam Win. Apa itu normal?" tanya Tanaphan ragu-ragu.


" Anda tidak perlu mencemaskannya tuan. Itu juga merupakan salah satu proses. Dalam keheningan, ia bisa berpikir, mengoreksi yang benar dan yang salah. Biarkan saja dia melewati proses!"


Tanaphan sebenarnya ingin menanyakan satu hal penting kepada Edwin. Namun urung karena dari arah depan datang assiten rumah tangga Tanaphan.


" Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya ang ART yang mengenakan seragam hitam berenda putih.


Ya, Tanaphan tadi memang memanggil salah satu dari mereka. Ia ingin para maid itu mempersiapkan hidangan untuk mereka makan siang bersama dirumah, dan meminta Edwin untuk tidak pulang dulu.


Sepeninggal Edwin, pria itu gagal kembali untuk menanyai. Padahal, besar harapannya pada Edwin untuk bisa menjadi penyembuh bagi anaknya.


-


-


Di satu tempat, seorang nenek yang masih terlihat cantik dengan gaya bicara yang masih renyah mengomel sebab Mama Jessika menelponnya.


Ya, Mama Eka yang baru tahu kalau Melodi akan melangsungkan pernikahan beberapa pekan lagi kini menggerutu tanpa henti sambil mengganti diapers cucunya yang penuh dengan +@!.


" Mama ini kenapa sih? Ngomel saja dari tadi, cucunya sampai nangis begitu!" kata Papa Tomy yang terusik dengan suara istrinya yang mirip sekumpulan lebah dalam sarang.


" Papa tahu nggak, Bella adik iparnya Jes, mau mantu besar Pa!" kata Mama Bella dengan wajah cemberut.


" Ya terus kenapa?" tanya sang suami heran.


" Kok terus kenapa. Ya kesel lah. Ini udah tanggal berapa. Kenapa mendadak sekali ngasih taunya. Belum ini belum itu, belum semua!" omel Mama Eka menggerutu.

__ADS_1


Mama Eka yang terus saja nyerocos, membuat Erik yang ada di belakang tak tahan untuk datang melihat, ada kehebohan apa sebenernya yang membuat sekumpulan tawon itu kembali berbunyi.


" Astaga Ma, ada apa lagi sih? Itu Akira sampai nangis begitu?" Erik memberengut kesal manakala melihat anaknya menangis begitu keras. Padahal, Wiwit di belakang sedang menenangkan anak pertamanya yang gatal-gatal terkena ulat bulu.


" Mama kamu lagi kumat Rik! Udah ah, mending Papa mau bantu istri kamu."


" Ada apaan sih Pa?" sergah Erik yang ingin tahu.


Membuat Papa Tomy akhirnya angkat bicara." Adiknya Claire mau nikah!"


" La terus?" tanya Erik makin mengerutkan keningnya.


" Tanya aja sendiri tuh!"


" Ada apaan sih Ma?" tanya Erik yang mengganti arah pandang kepada Mamanya.


" Suruh aja jelasin Papamu. Mama males. Wit..."


Lah dalah!


Erik benar-benar melongo saat Mama Eka malah ngeloyor sambil membawa anak kedua Erik yang masih berusia satu tahun.


" Ada apalagi sih Pa? Setiap pas datang kesini, ada aja kehebohan. Wiwit tuh lagi hamil muda. Malah gak enak sendiri nantinya!" keluh Erik yang benar-benar stres menghadapi Mamanya.


" Memangnya kapan sih?" kesal Erik yang semakin frustasi.


Papa Tomy hanya mengendikkan bahunya. Membuat Erik berinisiatif untuk melihat undangan berbentuk cantik dengan souvenir cantik di dalamnya.


" Hah, ini kan masih tiga Minggu lagi? Dimana salahnya?" pekik Erik heran dan tak habis pikir.


" Salahnya karena tuan Leo gak ngabarin dari setahun yang lalu. Dahlan, kayak gak tahu Mama kamu aja!"


" Apa? What the..."


Erik menghembuskan napas seraya memutar bola mata semalas- malasnya. Ia sangat bahagia mendengar kabar itu, tapi kekonyolan sang Mamanya selalu mengundang Erik untuk mengelus dada.


" Ma, inikan masih tiga Minggu lagi acarnya ma, salahnya dimana?" keluh Erik yang kini mendatangi Mamanya yang ganti mengambil alih anak pertama Erik setelah Akira di ambil oleh Papa Tomy.


Membuat Wiwit yang sedang mual-mual di kehamilan ketiganya ini jadi ampun- ampunan untuk nimbrung, meski sebenarnya ia begitu ingin tertawa demi melihat dua laki-laki yang di buat pusing oleh mama mertuanya.


" Udahlah Rik. Jangan di jawab. Sebab makin di jawab makin kita yang salah nanti. Papa cari aman, kamu juga cari aman!"

__ADS_1


" What?"


...----------------...


Persiapan demi persiapan sudah Papa Leo lakukan. Mulai dari kamar-kamar hotel yang akan digunakan oleh tamu untuk menginap, berikut ballroom untuk acara pernikahan nanti, event organizer, penyanyi ibukota yang bakal menghibur tamu undangan, dan lain sebagainya. Semua sudah mereka persiapkan sedemikian rupa dan sedetail mungkin.


Rasa-rasanya, ia menjadi tak enak sendiri sebab saat menikahkan Claire, acaranya tak sebesar ini. Tapi itulah kehidupan. Orangtua selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Namun tak jarang, keadaan yang berkawan dengan kenyataan, acapkali mengacaukan segalanya.


Malam ini Papa Leo ada dirumahnya sendiri yang beberapa bulan terakhir ini di tinggali Melodi seorang diri. Bersama para assiten rumah tangga tentunya.


Ia menatap bingkai foto besar berisikan foto Mama dan Papanya yang tampak jadul. Foto dimana kedua orangtuanya itu masih sangat muda. Opa Edi lebih mirip dengan Papa David, dan mending ibunya wajahnya sangat mirip dengan dirinya.


Bahkan foto saat dirinya dan bang David yang masih kecil masih tampak jelas. Menunjukkan betapa dirinya kini sudah tak lagi semuda dulu lantaran termakan usia.


Dirabanya wajah kedua orangtua yang kini hanya bisa ia temui lewat mimpi itu dengan hati rindu. Ternyata menjadi orang tua itu tidaklah gampang. Mama Bella yang melihat sang suami menatap nanar bingkai foto besar kedua mertuanya terlihat datang mendekat.


" Pa?" sapa wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang lebih dari setengah abad itu.


Papa Leo tak menoleh. Ia makin larut dalam haru yang semakin membiru. Membiarkan istrinya turut bergabung.


" Dari dua menjadi empat. Dan dari empat menjadi sembilan. Dan dari sembilan akan menjadi belasan. Dan jumlahnya akan terus bertambah!" kata Papa Leo tersenyum penuh keharuan.


Mama Bella yang mendengar hal itu reflek mengusap punggung suaminya. Ia kini paham kemana arah pembicaraan sang suami.


" Anak-anak telah dewasa dan bakal meninggalkan kita!" kata papa Leo menatap dalam kedua netra jernih sang istri.


" Kadang bertanya, apakah aku sudah adil kepada mereka?" imbuhnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Mama Bella meneguk ludah. Suasana yang tercipta mendadak sendu.


" Papa adalah suami, opa dan ayah yang baik." balas mama Bella. " Jangan ragukan itu Pa!"


Tetapi papa Leo menggeleng getir. " Untuk itulah aku tidak ingin menorehkan kesalahan yang sama pada Sadawira dan Claire seperti dulu!"


" Papa sudah melakukan hal yang benar. Melodi akan bahagia!" ucap Mama Bella dengan dada yang di jubeli rasa haru.


Papa Leo mengangguk. Ia lantas memeluk istrinya yang sudah tak muda lagi itu. Teringat akan perjalanan mereka dahulu yang penuh cobaan dan perjuangan. Apa yang ada di depan mata bukan tak mungkin juga bakal menemui aral serta onak berduri.


Semoga anak-anaknya diberikan kekuatan untuk melalui, semoga di berikan kebijaksanaan untuk menghadapi.


Ia hanya terus berharap, sembari menghaturkan doa-doa untuk keturunannya kelak. Semoga nama Darmawan yang di sematkan di tiap-tiap keturunannya, bisa membawa efek yang sesuai. Yang berguna bagi sesama.

__ADS_1


Tanpa mereka ketahui, Melodi yang urung turun karena melihatnya kedua orangtuanya saling memeluk bahkan mendengar semua pembicaraan, menjadi menitikkan air matanya. Ia sangat terharu. Berharap jika dirinya dan Zayn nanti bisa bersama sampai usia lanjut, seperti Papa dan Mamanya.


__ADS_2