
...🥀🥀🥀...
Tapi rupanya Melodi tak memberitahu keluarganya jika ia sudah datang dan mengendarai mobil sendiri dari kota S.
Kesibukan mengenai pekerjaan kantor yang benar-benar nyata, akhirnya membuatnya kini tahu jika waktu yang dulu sering dia gunakan untuk berleha-leha sangatlah berharga.
Melodi membelokkan mobilnya ke mall milik Demas sebab ia belum sempat membelikan sesuatu untuk keponakannya, Neo.
Biarlah sudah, yang penting ia datang tidak dengan tangan hampa. Apalagi, ia tahu jika Neo adalah anak yang cerewet.
" CK, semoga dia tidak marah sama kau. Duh, maafkan aunty ya Neo!" bergumam sendiri saat melepaskan sabuk pengaman karena merasa lalai dengan hadiah yang seharusnya sudah ia persiapkan.
Usai bertolak dari gerbang tol kota S, ia memang tak sempat mampir kemana-mana lagi karena takut tidak keburu. Ia sudah sangat merindukan Neo, membuatnya memutuskan untuk membeli buah tangan di kota B saja.
Namun kesialan lain malah muncul saat Melodi hendak mengambil satu box coklat paling lezat, yang kebetulan tinggal tinggal satu box itu.
" Maaf, ini punya saya!" seru seorang pria rupawan yang secara bersamaan menyentuh kotak coklat itu bersamanya.
Membuat Melodi terperanjat karena tak menyangka jika pria bercambang yang wajahnya khas timur tengah itu bisa berbicara bahasa Indonesia.
" Sory, tapi saya yang lebih dulu!" sergah Melodi yang merasa pria itu telah menyalahi aturan.
" Maaf, tapi saya yang menyentuhnya lebih dulu!" seru pria itu mulai mengerutkan dua alisnya.
" Anda jangan macam-macam, jelas-jelas saya yang menyentuhnya lebih dulu!" seru Melodi kali ini dengan wajah yang semakin tak ramah.
Pria itu langsung menghela napas. Kenapa kaum betina seringkali keras kepala. Padahal dia yang lebih dulu menarik benda kotak itu.
" Tidak bisa nona, saya harus membeli benda ini!" balas pria itu yang terus saja mengejar coklat yang hendak ia beli, demi sebuah perintah dari seorang pria yang sedang berjuang di bawah sana.
Ya, usai memastikan Sada, Claire dan Neo sibuk makan dalam atmosfir yang sebenarnya terbilang lumayan aneh, ia malah diberikan mandat mengesalkan oleh Sada melalui sebuah pesan.
" Belikan aku ini ( mengirimkan Zayn sebuah foto coklat bermerek mahal)!"
" Harus dapat, aku yakin Claire pasti akan mengajak pulang Neo setelah ini. Itu coklat kesukaan Neo!"
Benar-benar sial.
Zayn harus mendapatkan benda itu, atau ia bisa mendapat persolan nantinya. Menyertai perjuangan Sadawira rupanya tak segampang saat ia mengerjakan pekerjaannya di Atana.
" Enak saja. Saya yang ambil ini dulu! Tahu diri dong? " eyel Melodi yang tentu harus mendapatkan barang itu untuk keponakannya. Bahkan meski harus bersabar sekalipun.
Membuat petugas yang ada di sana kini mendatangi dua manusia yang terlibat situasi menegangkan karena mulai menarik atensi pengunjung lainnya.
" Maaf Bapak, Ibu. Ada apa ya ini?" sapa pegawai berkaos hijau itu dengan ramah.
" Saya mau coklat ini!"
" Saya mau coklat ini!"
Teriak mereka dengan kompak.
Petugas itu sampai bingung karena dua manusia di depannya rupanya menginginkan barang yang sama.
" Emmm, maaf Pak, Bu, apa berkenan dengan merk yang lain?" tawar pegawai itu kembali mencoba berdiplomasi.
Namun jawaban yang kembali terdengar semakin membuat pegawai itu kesulitan menelan ludah.
__ADS_1
" Tidak!"
" Tidak!"
Dan jawaban yang malah terdengar seperti bunyi nyanyian koor itu sukses membuat pegawai dengan nama dada Sumiati itu gemetaran.
" Kenapa orang kaya selalu saja aneh sih?" batin Sumiati ketar-ketir.
" Maaf sebelumnya, coklat ini memang sisa satu box saja karena belum datang. Kalau Bapak Ibu mau, kami ada stok merk lain dengan kualitas yang hampir sama!"
" Tidak bisa! Aku yang menyentuh pertama kali, jadi dia dong yang harusnya ngalah!" Melodi bersikukuh harus mendapatkannya coklat sultan itu. Membuat Zayn benar-benar kesal.
" Kalau begitu bagi dua saja, anda ini sudah datang terlambat tapi tidak mau mengalah!"
" Enak aja. Anda itu yang main nyerobot!"
Keduanya malah adu mulut dan membuat Sumiati bingung bukan main.
" Dimana-mana, laki-laki itu mengalah, ini malah ngeyel!" cibir Melodi mengeluarkan jurus ngomelnya.
Membuat Zayn kini terdiam.
" Sialan nih wanita. Kalau bukan karena perintah Sada, mustahil juga aku disini!"
Saat keduanya masih melempar tatapan sengit di hadapan Sumiati, ponsel Zayn tiba-tiba bergetar saat mereka masih belum menemukan titik terang perdebatan sengit itu.
" Halo?"
" Gimana?"
" Barang yang kau minta tidak ada!"
" Ada orang menyebalkan yang tidak mau mengalah!" seru Zayn sembari melirik Melodi yang kini siap untuk menyemprotnya.
" Apa kau bilang?"
Zayn mendengus saat Melodi turut menyambar omongan mereka. Benar-benar kesialan yang luar biasa.
" Seharusnya kau kesana lebih cepat!"
Zayn ingin sekali menenggelamkan dirinya ke dasar bumi detik itu juga. Di depan wajahnya ada satu wanita keras kepalanya yang membuatnya pusing, dan di satu sisi ia harus berhadapan dengan pria bucin yang ogah mau tahu kesulitannya.
Brengsek sekali dua orang ini!
" Berikan saja Neo coklat yang lain sudah!"
Melodi langsung menoleh saat pria itu menyebut nama seseorang yang persis dengan nama keponakannya.
Neo?
" Maaf, anda bilang apa tadi?"
Zayn mendecak saat Melodi malah ikut mengurusinya.
" Apa?" sungut Zayn kesal sesaat setelah memasukkan kembali ponselnya.
" Neo!" seru Melodi yang ingin tahu siapa Neo.
__ADS_1
" Anak saya namanya Neo. Menangis menggebu-gebu minta coklat ini dan anda malah tak mau memberikannya!"
Melodi langsung memutar bola matanya malas saat mendengar bibir ketus itu menjawab pertanyaannya.
"Ternyata anak pria menyebalkan itu namanya sama dengan keponakanku. Kenapa bisa kebetulan begini?"
" Kalau begitu, bagi dua saja!"
" Tidak usah, ambil saja. Sungguh hari yang sial bertemu dengan anaknya judas sepertimu!"
Zayn sudah kepalang kesal dengan Melodi yang sangat keras kepala dan tak mau mengalah. Membuat ia tak berselera untuk membeli apapun.
Ia bukanlah jenis manusia seperti Andrew yang gemar menawan dan pandai bersilat lidah. Ia paling tidak bisa jika berurusan dengan wanita unik seperti ini.
" Yee, udah di tawarin juga. Kalau gak.mau ya udah. Dasar orang aneh. Untung bukan orang sini!"
Zayn memilih pergi daripada harus meladeni wanita galak itu. Ia benar-benar bisa stres jika terus-menerus berdebat seperti saat ini.
-
-
" Neo setelah ini mau kemana?" tanya Sada yang puas sebab malam ini setidaknya ia bisa menemui dia manusia yang ia sayangi itu secara bersamaan.
Pantas saja sejak pertama kali bertemu dengan Neo, rasa aneh itu selalu muncul. Tuhan benar-benar tak kekurangan cara untuk mempertimbangkan Sadawira dengan darah dagingnya.
" Aku..."
Namun kalimat Neo tiba-tiba terpotong saat Claire menyela dengan mendadak.
" Kita pulang saja. Oma barusan telepon kalau Opa buyut kambuh!"
Sadawira terlihat menatap cemas ke arah Claire.
Kambuh?
" Baiklah kalau begitu. Tapi, tunggu sebentar ya Neo. Paman ke toilet sebentar!"
Neo mengangguk. Bocah itu tak menaruh curiga sama sekali. Ia malah senang karena tak sengaja bertemu dengan paman tampan, yang membuat situasi dalam hatinya kini berbeda.
Claire yang di tinggal Sadawira malah menjadi resah. Mau apalagi pria itu? Begitu pikir Claire curiga.
Namun yang di curigai ternyata malah tergelak demi melihat wajah bersungut-sungut Zayn yang membawa sebuah paper bag di samping resto itu.
Ya, Sada pamit ke belakang karena ingin mengambil coklat untuk Neo.
" Sepertinya, rivalmu kali ini lumayan berat!" sindir Sadawira manakala melihat wajah keruh Zayn yang masih tampak kesal.
" Banget. Sepertinya semua wanita memang menyebalkan!"
Sada semakin tergelak. Apakah orang yang terlibat adu mulut dengan Zayn merupakan kaum ibu-ibu yang tak mau kalah?
" Nah tuh dia dia tuh orangnya. Benar-benar kurang ajar. Coklat yang kau minta ada di tasnya itu. Sory, aku dapatnya yang lain!"
Sada reflek menoleh saat Zayn menunjuk ke arah seorang wanita berambut pendek yang kini berjalan . Pria itu menunjuk ke arah Melodi dengan wajah kesal menggunakan dagunya.
DEG
__ADS_1
" Itu kan?"
Sadawira mendadak tertegun. Jadi Zayn berdebat dengan adik Claire? Oh my....