
...🥀🥀🥀...
Malam hari usai Edwin dan Claire makan bersama di rumah barunya, pria itu berpamitan sebab besok pagi-pagi sekali akan ada jadwal di rumah sakit.
"Kalau ada perlu jangan sungkan menghubungi aku!" kata Edwin yang kini menyuapkan suapan terakhirnya usai membantu Claire berbenah seharian ini .
" Makasih ya Win, kamu...selalu bantu aku!" jawab Claire penuh kesungguhan.
" Sama-sama. Kamu jaga diri baik-baik ya. Jaga Neo juga!"
" Pasti!"
Oh andai saja Claire mengatakan Ya saat Edwin menyatakan perasaannya dulu. Mungkin semua akan berubah menjadi lebih indah.
" Sory Win. Tapi aku...aku lebih nyaman dengan hidupku yang seperti ini. Berdua bersama Neo!"
Membuat Edwin menyadari jika Claire merupakan tipikal orang yang susah move on.
Tapi Edwin yang perduli dengan Claire terus saja mengikuti kata hatinya, yang enggan menjauh dari wanita itu meski mereka just friend. Edwin mau berusaha lebih keras lagi untuk mendapatkan hati Claire.
Tanpa mereka sadari, Neo rupanya mengintip interaksi keduanya dari balik dinding. Bocah itu sebenarnya sudah mengantuk dan tak bisa tidur kalau tidak di usap punggungnya oleh Ibu.
" Ibu...." rengek Neo sembari mengucek matanya dengan wajah yang semakin cemberut karena sedari tadi ibunya tak selesai-selesai saat berbicara dengan Om Edwin.
Edwin tersenyum saat mengetahui Neo berada di sana.
" Maaf Bu, den Neo tidak mau saya temani, maunya sama Ibu." terang Juwi tak enak hati.
Edwin bangkit dari duduknya lalu menghampiri bocah itu. " Om pergi dulu ya? Jaga Ibu disini!"
Neo mengangguk tapi rautnya menunjukkan kekesalan sebab pria itu memangkas jatah tidurnya.
Kini Edwin bangkit kembali lalu menatap Claire yang juga sudah berdiri hendak menyongsong anaknya.
" Aku pergi ya!" tukas Edwin yang sebenarnya masih ingin berlama-lama bersama Claire.
Claire mengangguk, " Kabari kalau sudah sampai!"
Pria itu tersenyum.
Neo benar-benar kesal karena drama itu tak jua usai. Apa Ibu menyukai Om Edwin? Ia bahkan sudah ngantuk sedari tadi.
" Mbak Juwi sudah buatin susu?" tanya Claire usai ia mengantar Edwin ke pintu depan.
Neo mengangguk masih dengan wajah kesal.
" Neo marah sama Ibu?" bertanya sembari mengusap lembut sulur hitam anaknya.
" Ibu terus ngobrol sama Om padahal Neo sudah ngantuk!" kata Neo yang matanya sudah memanas hendak menangis.
Membuat Claire menghela napas, " Om udah batu kita beresin rumah, pasang ini itu. Kita harus sopan sama tamu Nak!" ucapnya lembut mencoba memberi pengertian.
Tapi wajah Neo tiba-tiba semakin memanas.
" Hahaha tidak punya ayah, hey Neo tidak punya Ayah...!"
Perkataan Brandon beberapa waktu lalu sepertinya masih belum hilang dari otaknya. Membuat bocah itu kembali menangis.
" Lho kenapa anak Ibu menangis?" tanya Claire muram sambil merengkuh tubuh kecil Neo kedalam pelukannya.
" Ibu, aku ingin menunjukkan pada teman-teman kalau aku punya Ayah!" Neo menangis, membuat Claire seketika menelan ludah lalu mengusap punggung anaknya yang bergetar itu.
Bahkan Juwi yang masih berada di sana ikut merasakan dada yang sesak.
" Aku mau kasih lihat ke Brandon kalau aku juga punya Ayah, bukan cuman dia!" menangis menggebu-gebu.
" Sayang, besok kan masuk ke sekolah baru. Teman-temannya juga baru. Sekolahnya juga banyak mainannya!"
__ADS_1
Namun wajah murung Neo masih bertahan hingga Claire kini berada di ruang kepala sekolah.
Ya, pagi ini Claire sendiri yang mengantarkan anaknya dan meminta Juwi untuk membereskan rumah.
" Jadi mohon untuk mengerti ya Bu, Anak saya ini aktif dan mudah sensitif jika menyangkut...( menjelaskan jika di merupakan orang tua tunggal)." terang Claire yang mau tidak mau harus jujur dari awal agar segala sesuatunya lebih mudah.
Guru itu mengerti. Mungkin Claire adalah janda yang di tinggal mati oleh mantan suaminya, sehingga kesedihan itu membekas di hati Neo.
" Kami paham, akan kami kondisikan Bu!"
Maka keduanya saling melempar senyum.
Meski sekolahan itu campur dengan beberapa murid yang berasal dari malang menengah kebawah, tapi Claire merasa jika sekolah ini lebih aman.
" Halo boy, Bu guru boleh tahu siapa nggak namanya?" tanya Bu guru yang kini mengajak Neo berinteraksi.
Membuat bocah itu mendingan.
" Neo!"
Guru wanita berkacamata itu tersenyum ramah kepada Neo, " Welcome to school again Neo. Sekarang...ikut Bu guru ya, kita kenalan sama teman-teman. Nanti kita susun mainan banyak bersama-sama ya..."
Claire menatap tubuh mungil Neo yang kini di gandeng tangannya oleh guru tadi. Claire mengembuskan napas panjang sebab ia benar-benar pusing jika Neo menanyakan soal ayahnya.
Ponselnya bergetar manakala ia hendak menuju parkiran mobilnya.
📞 Mama calling....
" Mama, ada apa?" bergumam sendiri.
" Iya ma?"
" Clay, kamu pindah ke Atana?"
Membuat perempuan itu buru-buru menjauhkan ponselnya akibat suara mama yang begitu memekakkan telinga.
" Kok mama bisa tahu?" malah membatin sebab ia baru akan mengatakan kepada mamanya soal kepindahannya hari ini.
" Iya Ma!"
" Aku barusan telpon Juwi dan bilang kalau kau ngantar Neo daftar sekolah!" terang Mama yang membuat Claire akhirnya tahu siapa tersangka tunggal itu.
" Kenapa pindah?"
" Neo di buli teman-temannya soal Ayah!" jawabnya usai menelan ludah.
Kesunyian mendadak tercipta. Yang di ujung telepon juga terdengar menghela napas.
" Kenapa kamu memilih ke sana. Disana itu agak sepi, kenapa gak milih di Tanapan atau kota lain yang lebih dekat sama airport!"cecar Mama yang sepertinya tak habis pikir dengan pilihan Claire.
" Bisnis Claire disini maju ma, belum ada pesaing!"
Yang di ujung terdengar kembali menghela napas.
" Mama cuman mau ngabarin kalau kakek kamu udah sehat. Tapi mama sama papa kamu belum bisa kesitu soalnya bude Jessika lagi repot, istrinya Demas baru saja melahirkan anak ketiga!"
Membuat Claire seketika tercenung sebab para sepupunya sudah hidup bahagia sementara dia masih begini-begini aja.
" Melody gak pingin kesini?" tanyanya yang merindukan sang adik yang jarang online.
" Dia lagi di minta Papamu buat belajar bisnis. Kalau semua gak mau nerusin, gimana nasib perusahaan nanti. Kamu juga gak bisa di harapkan!"
Sebenarnya ucapan Mama itu benar adanya. Dan dia tak perlu marah soal kebenaran itu. Tapi yang membuatnya sedih adalah kenapa ia selalu merasa semua kerja kerasnya tak terlihat hanya karena tak mau meneruskan perusahaannya. Apa karena nila setitik rusak susu sebelanga? alias karena kehamilannya yang diluar pernikahan?
-
-
__ADS_1
Sadawira yang kebetulan melintas di depan sekolah itu meminta Dollar menghentikan mobilnya.
" Ada apa tuan?"
" Kita kasih itu ke anak-anak saja!" tunjuk Sadawira kepada setumpuk makanan yang barusaja dikirim oleh seorang wanita kepadanya. Wanita yang berambisi ingin mendekati Sadawira karena kesuksesannya.
" Gak jadi di bagi ke karyawan?" tawar Dollar lagi yang teringat dengan Henry juga Janu.
" Do!" tukas Sadawira sembari menatap tajam Dollar sebab tak suka di bantah.
" Siap salah Pak!"
Maka Dollar buru-buru turun dan membawa satu kantung besar kue coklat yang sebenarnya menggiurkan itu dengan sigap.
Bu guru yang melihat Sadawira datang bersama pria lain langsung tergopoh-gopoh menyambung.
" Pak Sada astaga, mari... mari masuk, kenapa tidak mengabari dulu jika mau datang, kami bisa buat persiapan." sapa Bu guru itu terlihat sungkan.
" Tidak perlu repot-repot Bu, tadi saya kebetulan lewat. Ini tolong di bagi ke anak-anak sama dewan guru yang ada disini!"
Menyerahkan dua kantong besar kue coklat yang memang terlihat menggiurkan.
" Astaga, terimakasih banyak Pak. Kebetulan ini anak-anak sedang istirahat, mereka pasti senang!"
Membuat Sadawira langsung mengedarkan pandangannya ke sekeliling dimana anak-anak tampak ceria bermain dan terdengar gelak tawa yang membuat hatinya damai.
" Mohon maaf saya harus pergi, karena ada yang masih harus saya selesaikan. Lain kali kita bisa ngobrol lagi!"
" Baik kalau begitu Pak, sekali lagi terimakasih banyak karena sudah perhatian ke anak-anak Pak Sada!"
Sadawira mengangguk sambil tersenyum. Padahal itu hanya perbuatan yang menurutnya sepele dan kecil, tapi ternyata mendatangkan reaksi kebahagiaan yang luar biasa bagi orang lain.
Sadawira yang telah meninggalkan ruang guru, kini menoleh namun tak mendapati Dollar di belakangnya.
Kemana anak itu?
Rupanya playboy kelas kakap itu sedang berbincang manja berdua dengan guru muda yang ia taksir, dan tengah sibuk mengeluarkan jurus membualnya.
Membuat Sadawira geleng-geleng kepala. Bisa-bisanya memanfaatkan kesempatan seperti ini.
Namun saat hendak menyusul anak buahnya yang bandel itu, mata Sadawira tak sengaja menangkap sosok bocah laki-laki yang muram sambil terpekur menatap bebatuan di depannya.
Membuatnya tertarik untuk menyapa.
" Halo, kenapa tidak main sama teman-teman?" sapa Sadawira yang kini berjongkok demi menyamakan tinggi anak itu.
Membuatnya anak kecil dengan rambut wet look itu mendongak.
DEG!
Dan sewaktu bocah yang matanya telah basah itu menoleh, Sadawira seketika terkejut demi melihat wajah bocah yang tiba-tiba membuat hatinya berdenyut tanpa sebab.
What happen with me?
Tapi bocah itu langsung menunduk kembali sebab Sadawira malah terlihat melongo dan tak mengucapkan apapun lagi.
" Sayang, kenapa disini? Ayo masuk, kita lagi bagi-bagi kue di dalam, kue coklat!"
Suara guru yang tiba-tiba datang membuatnya tersentak sedari lamunan.
" Kue coklat?" ulang Neo yang seketika tertarik dan membuat mata yang semula redup, kini tiba-tiba cerah dan berseri-seri manakala mendengar kata coklat yang mana itu adalah kegemarannya.
" Benar sayang, ayo cepat kesana dan minta sama Bu Grace ya!" tutur guru itu dengan lemah lembut dan berhasil membuat Neo seketika melesat menuju kelas.
" Ye!!! Cokelat!"
Sadawira masih terlolong saat anak itu melesat pergi melewati dirinya yang kini mulai bangkit berdiri dengan segumpal rasa aneh.
__ADS_1
" Itu anak baru Pak. Biasa. Butuh penyesuaian!" terang guru sejenak lalu pergi menyusul anak-anak yang kini bergembira sebab mendapatkan jatah kue lezat. Meninggalkan Sadawira yang kini mematung dengan rasa aneh yang belum pernah dia rasa.
" Anak itu? Kenapa aku merasa aneh saat melihatnya?"