
...🥀🥀🥀...
Satu Minggu berlalu. Melodi masih tinggal di rumah Sada karena kakak iparnya itu merasa dialah yang kini bertanggungjawab kepada semua anggota keluarga Claire.
Gadis itu masih memiliki jadwal kontrol beberapa kali guna memastikan luka jahitannya mengering dengan sempurna tanpa khawatir akan ancaman infeksi.
Mama Bella dan Papa Leo yang juga tinggal sementara di kediaman Sada, sebenarnya memiliki keinginan untuk membawa Melodi pulang ke Indonesia dulu. Maklum, sejak sakit ia belum pernah menengok rumahnya.
Tapi Claire melarang mereka pulang sebab entah kenapa ia sangat ingin di tunggui di masa kehamilannya saat ini. Semacam manja. Belum beralihnya fase trimester pertama membuat Claire sering teler. Dan mendapatkan perhatian dari kedua orangtuanya, tentulah akan menjadi booster tersendiri.
Jika awal-awal kehamilan keduanya beberapa waktu yang lalu Claire sangat doyan makan, namun setelah waktu berjalan beberapa hari terakhir ini wanita itu benar-benar merasakan sebaliknya. Nafsu makannya turun tajam, dan selalu mual jika mencium bau sesuatu.
Ia bahkan selalu mabok jika harus mengurusi Neo yang minta eek. Alhasil, jika Sada sudah pulang, Sada lah yang menjadi spesialis cebok mencebok anaknya.
Dan semenjak pulang dari rumah sakit, Zayn belum pernah bertemu karena ia harus mengurusi beberapa birokrasi kepengurusan perusahaan yang telah dipindahtangankan kembali kepadanya.
Juga, usai pertemuannya dengan Olivia beberapa waktu yang lalu, ia merasa beban berat yang selama ini ia bawa kemana-mana telah menggelinding bebas dan membuat semuanya terasa ringan.
Ia kini tak perlu khawatir lagi akan status perusahannya. Ia juga tak perlu lagi bingung memikirkan soal Olivia yang kerap mendiktator dirinya.
Di depan makam mendiang Papanya yang masih menggunduk, ia tersenyum getir. Merasa begitu menyesali keadaan yang ada. Andai waktu dapat diputar kembali, ia ingin memperbaiki beberapa bagian yang rusak. Seperti hubungan Papa dan anak yang nyaris tanpa kehangatan.
Menjadi anak laki-laki di keluarganya rupanya tak serta merta bisa leluasa memilih apapun. Ia justru di paksa untuk menuruti semua kehendak sang Papa yang tak jarang malah menimbulkan satu pertengkaran yang menyayat hati sang Mama.
Zara berulang kali mengusap punggung bidang sang kakak yang duduk menghadap pusara. Turut merasa sesak lantaran terhimpit satu kenyataan, bahwasanya mereka tak akan mampu lagi membagi semua kebahagiaan ini dengan mendiang Papa secara nyata.
" Anak macam apa aku ini? Bahkan kesukaan Papa aku pun tidak tahu!" kata Zayn tersenyum kecut demi merasai apa yang telah terjadi.
Zara tak bereaksi. Ia masih datar dan menatap maesan bertuliskan nama Papanya dengan hati yang rindu.
Tapi sejurus kemudian,
"Ya, mungkin Tuhan membuat kita seperti ini karena ingin kita bisa lebih lagi menghargai orang-orang terkasih kita di masa mendatang." kata Zara dengan tatapan penuh harap. " Menjadi mengerti bila waktu yang ada saat ini, sebenarnya sangatlah berharga!"
Zayn menatap adiknya yang terlihat sedih. Zara lantas memeluk pinggang kakaknya dari samping sembari menyenderkan kepalanya dengan isi dada yang campur aduk. Sedih, senang, bahagia, rindu, menyesal. Semua berjubel menjadi satu memenuhi ruang-ruang di sanubarinya.
" Papa pasti sekarang tahu. Bila kakak juga memang sayang sama Papa!" kata Zara yang tahu jika dia masih di tatap oleh sang kakak.
Zayn mengusap lembut lengan adiknya. Ia sangat menyayangi Zara. Laki-laki itu lantas turut menyenderkan kepalanya. Meresapi sejenak saja ketenangan yang kini ia rasakan dengan hati lega. Berharap masa depan yang akan ia jalani nanti jauh lebih indah.
-
__ADS_1
-
Siang harinya, Zayn terlihat bersiap datang ke rumah Sada untuk mengantar Melodi kontrol. Pria itu terlihat sangat tampan usai merapikan beberapa rambutnya yang telah memanjang.
Penampilan itu penting kawan!
Mama Bella yang tahu jika Zayn datang terlihat menemui dengan senang. Apalagi, ia dan Papa Leo memang sudah notice kepada Zayn.
" Sebenarnya kalau kamu masih sibuk, tidak apa-apa lho Zayn. Kami bisa mengantarkan Melodi sendiri!" kata Mama Bella yang kasihan kepada Zayn sebab pria itu sedang sibuk-sibuknya membenahi perusahaan.
" Tidak apa-apa Tante. Saya udah janji. Saya juga ingin tahu perkembangan kesehatannya!" jawab Zayn bersungguh-sungguh.
Dari arah dalam, terlihat Papa Leo menuntun Melodi yang jalannya masih begitu pelan. Pandangan mereka bertemu. Setelah sekian lama tak bertemu, keduanya akhirnya bisa bersua.
Zayn terlihat malu-malu, sementara Melodi terlihat senyam-senyum. Jelas menegaskan jika keduanya sama-sama di landa rindu.
Mereka akhirnya pergi tepat waktu. Dokter telah membuat janji untuk memeriksa tepat pukul dua siang nanti. Zayn terlihat melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang cenderung pelan. Seolah tak ingin cepat-cepat berlalu.
Namun saat hendak membuka mulutnya, ponsel Melodi terlihat bergetar. Maka niat untuk menyapa pun seketika urung. Lenyap di telan raungan Britney Spears pada ponsel Melodi.
" Halo! Hay, apa kabar?"
Zayn melirik sekilas manakala Melodi tampak antusias manakala menjawab telepon.
" Siapa?"
Zayn makin menjengit. Siapa yang disebut sayang itu?
" Iya, yang kapan hari itu. Udah mendingan kok."
Zayn kini memilih menambah kecepatannya yang membuat Melodi menoleh.
" Iya, aku juga kangen banget sama kamu. Gimana kerjaan?"
Zayn terlihat sangat kesal. Percakapan itu benar-benar terjadi sangat lama dan membuatnya seperti kambing congek.
" Jas yang aku kirim pas nggak? Kamu pasti ganteng banget!"
" What? Ganteng? Sebenarnya siapa yang dia telpon?" batin Zayn yang mulai kesal. Bahkan wajah laki-laki itu mulai mengeruh.
" Hah serius? Kapan? Aku juga udah kangen banget sama. Beneran ya, see you!"
__ADS_1
Zayn menjadi curiga. Tentang jas dan beberapa perlengkapan pria makin membuat dugaannya membesar. Apakah Melodi mempermainkannya?
" Siapa?" sinis Zayn terdengar kesal.
" Teman dekat!" jawab Melodi tanpa menoleh. Terlihat sibuk membalas pesan yang entah dari siapa.
Zayn langsung diam. Benar-benar menyebalkan.
" Dia mu datang!" kata Melodi tiba-tiba yang terdengar seperti memberi tahu. Padahal Zayn tidak bertanya.
Tapi keingitahuan membuat Zayn membuka mulutnya lagi. Penasaran dengan siapa sosok laki-laki itu.
" Sering ketemu?" tanya Zayn mendengkus kesal.
" Kadang-kadang. Dia di luar negeri terus!" menjawab masih dengan gestur sibuk membalas pesan.
Zayn mendadak menjadi cemburu. Siapa pria itu? Kenapa terlihat spesial sekali?
" Teman atau..."
" Teman dekat lah!" jawab Melodi masih sibuk membalas pesan.
Zayn tiba-tiba makin merasa suntuk demi mendengar suara Melodi yang begitu sumringah. Bahkan, ketika di rumah sakit, Zayn tak seperti biasanya. Pria itu menjadi lebih diam usai mendengar Melodi tadi berbicara dengan asyiknya. Seolah tak memperdulikan dia.
" Kenapa sih diam terus?" tanya Melodi yang mulai menyadari kebisuan yang tak biasa.
" Ga apa-apa!" menjawab malas-malasan.
Namun belum juga Melodi mengejar Zayn yang terlihat cemburu, suara dari depan makin membuat Zayn terkejut bukan main.
" Darling!" teriak seseorang yang langsung berlari ke arah Melodi.
Melodi yang namanya di panggil dan melihat orang tersebut, nampak langsung senang dan membuka kedua tangannya menyambut.
Zayn yang seketika menoleh tepat dimana seorang pria berpenampilan necis yang terlihat tampan langsung berlari dan memeluk melodi dengan erat itu, benar-benar terlihat sangat cemburu.
Dan sialnya, Melodi malah membalas pelukan itu dengan tanpa ragu. Terlihat begitu menikmati. Seolah melepas rasa rindu satu sama lain.
" A kamu benar-benar datang!" seru Melodi saat ia memeluk erat si pria.
Zayn mirip seperti tugu jalanan kala melihat Melodi dan Pria berambut biru itu saling berpelukan dengan eratnya.
__ADS_1
" Siapa dia?"