
...🥀🥀🥀...
Neo sedang asyik main robot yang dibelikan oleh Sadawira ketika Claire kini mendapatkan telepon dari Bude Jessika mengenai kondisi sang Opa.
" Kami semua sudah berserah. Papa dari tadi keukeuh minta kamu segera kesini bersama dokter itu, juga Neo!"
Menjadikan Claire saat ini benar-benar berada dalam tekanan. Bingung mana yang harus ia ikuti. Suara hati, atau logikanya yang kini lebih condong terhadap orang tua.
Ia hanya bisa mengatakan iya dengan leher yang terasa tercekat sebab apa yang ia dengar benar menyesakkan dadanya.
" Ibu, kalau mainannya aku ba...."
" Neo, Ibu mau bicara. Taruh dulu mainannya!" tukasnya gelisah kepada putranya manakala ia barusaja menyudahi telepon.
Neo yang melihat wajah serius Ibunya menjadi takut. Diletakkannya mainan berharga mahal itu, lalu kini ia menatap wajah Claire dengan lekat-lekat.
" Ada apa Bu, apa semua baik-baik saja?"
Claire menghembuskan napas cepat.
" Dengar Neo, Opa buyut sedang sakit keras. Kita harus kesana. Kali ini, Neo tidak boleh menolak!" kata Ibu dengan nada bicara yang paling serius. Membuatnya tak berani menyela.
" Ibu akan izinkan kau untuk tak sekolah!"
Neo tergugu. Kenapa wajah Ibu terlihat sangat sedih? Apa sesuatu telah terjadi?
Sepeninggal sang Ibu, ia menatap nanar mainan dari Paman Sada, entah kenapa ia ingin membagi kesedihan di mata ibunya kepada paman tampan itu.
" Kenapa aku tidak meminta nomor telepon paman?"
...----------------...
Indonesia
Kediaman keluarga Darmawan
David sudah mengendus kabar soal Claire yang bertemu sadawira. Fakta itu barusaja di kemukakan oleh putra sulungnya, Deo beberapa waktu lalu.
Bertepatan dengan itu pula, kondisi Opa Edi tiba-tiba kembali drop. Menurut penuturan Bella, faktor usia dan pikiran yang tak pernah rileks berkontribusi membuat tekanan darah Opa Edi terus naik. Dan jika itu terus terjadi, mereka khawatir bila terjadi komplikasi pada jantung.
" Bagaimana?" tanya Papa David kepada istrinya yang barusaja menghubunginya Claire.
" Besok mereka akan terbang kesini!" jawab Mama Jessika murung.
" Apa dengan laki-laki itu?"
Papa David langsung to do point sebab sedari kemarin Opa Edi terus menanyakan kabar Claire.
Mama Jessika mengangguk, membuat suaminya menghela napas. Ia tidak tahu bagaimana perasaan Claire saat ini, tapi menurut kepada Opanya, ia rasa itu merupakan hal yang tepat.
" Bagaimana dengan Leo? Apa Mas tidak akan memberitahunya?"
" Jangan sekarang. Aku sudah meminta seseorang untuk mencari tahu siapa Sadawira di Atana. Info yang baru aku dapat, dia sudah memiliki perusahaan besar disana!"
__ADS_1
Mama Jessika menatap suaminya lebih serius.
" Sebagai orang tua, sebetulnya aku lebih setuju jika Neo tahu siapa ayah kandungnya!" kata Papa David menggeleng sumbang.
" Tapi kasus mereka ini beda sayang. Neo masih terlalu kecil untuk mengetahuinya hal serumit ini!" menatap lurus ke arah istirnya yang kini juga resah.
" Dan menjadikan dokter itu sebagai suami Claire apa bukan malah menambah kerumitan?" tanya Mama Jessika jujur. Ia hanya takut kalau-kalau ini tak akan berhasil.
" Tidak!"
" Bukankah kita egois? Wira berhak tahu soal Neo. Lagipula, bukankah Claire mencintai Wira Mas?"
Maka Papa David seketika menggeleng tak percaya," Apa kita harus bertengkar hanya gara-gara hal ini?"
Membuat situasi menjadi sedikit panas.
" Maaf!" balas Mama Jessika yang kini memeluk tubuh wangi suami sebagai bentuk permohonan maaf.
" Aku juga minta maaf. Aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana sayang!"
Ya, mereka malah turut menjadi stres karena masalah ini. Larangan Edi Darmawan soal memberitahu Sadawira perihal Neo jelas menjadi hal yang kini bergejolak dalam nurani mereka. Apalagi, Leo juga setengah mati membenci laki-laki itu.
" Mas tahu sendiri, cinta itu tak akan pernah bisa di paksa. Aku hanya takut...."
" Sudahlah sayang. Aku tahu yang kau cemaskan. Tapi...aku bisa apa. Leo pasti juga tidak menyetujui soal Wira. Selain itu, Wira memang membuat jurang yang terlalu dalam pada keluarga kita. Kau tahu, papa dari dulu tidak bisa mentolerir musuh keluarga!"
Membuat keduanya hanyut dalam keresahan yang tiada bertepi.
Ya, mereka baru kembali dari kota S malam ini dan langsung meminta kakaknya David serta Jessika untuk beristirahat dan membiarkan mereka untuk ganti berjaga.
" Dimana Claire, apa dia sudah datang? Apa cicitku yang satu itu juga sudah datang?" racun Opa Edi yang terus menanyakan keberadaan Claire.
Bella tak henti menghapus air mata saat papa mertuanya yang seperti kehilangan kesadarannya itu terus saja menanyakan Claire juga Neo.
" Besok pagi anak-anak akan datang. Papa sekarang tidur dulu ya. Udah malam!"
Opa Edi mengangguk pelan. Hati Bella sesak, kondisi pria itu semakin lemah dan cenderung kembali seperti anak kecil. Tubuh yang kurus sebab termakan usia itu, menjadi saksi bila pria itu telah menunaikan tugasnya di dunia ini sudah sangat lama.
" Kamu istirahat, biar aku yang jaga papa!" seru Leo lembut membelai rambut istrinya.
" Aku mau disini aja mas, nemani Papa!" balasnya dengan mata sembab.
Leo menghela napas berat. Ia tahu selama ini Bella memang dekat dengan papanya, membuatnya tak tega untuk meninggalkan.
" Aku akan berbicara dengan Bang David dulu!"
Mama Bella mengangguk.
Diluar.
" Jangan memaksakan diri jika lelah. Aku tidak apa-apa jika harus berjaga terus!" sahut Papa David manakala melihat adiknya keluar kamar.
" Bella yang tidak mau!" jawab Leo sembari melempar punggawanya ke sandaran sofa.
__ADS_1
" Papa sangat beruntung. Karena memiliki menantu- menantu yang sangat sayang melebihi anaknya sendiri. Well, inilah keuntungan memiliki anak perempuan!" seru Papa David tersenyum demi merasai Mama Jessika dan Mama Bella.
Papa Leo tersenyum kecut, " Semua ada plus ada minusnya. Kedua anakku perempuan. Tapi...kau tahu sendiri!" katanya yang masih tersenyum kecut sebab hingga saat ini ia masih belum bisa tenang karena keduanya belum juga memiliki pasangan yang tepat.
" Setiap orang pasti punya titik sulitnya sendiri Leo. Kalau kau ingat bagiamana kurang ajarnya Deo kepada Arimbi dulu, kau pasti akan lebih bersyukur memiliki anak perempuan!"
" Selain itu, jangan lupakan masa muda kita dulu. Mungkin saja...apa yang tejadi saat ini adalah bagian penebusan dosa kita!"
Leo tertegun, jelas itu benar adanya.
" Papa...."
" I know. Papa hanya ingin berusaha menyelesaikan hidupnya dengan benar!" sahut Leo yang paham kemana arah pembicaraan kakaknya.
" Dan sumber masalah terbesar masih dari aku!" timpal Leo yang kini menoleh dengan tatapan kosong cenderung putus asa.
" Sedari dulu aku!" serunya dengan sepasang mata yang mulai berkaca-kaca.
" Don't say that! Kalaupun Mama saat ini masih hidup, dia pasti juga akan melakukan hal yang sama. Dan kau tahu kenapa papa lebih condong ke kamu, karena Melodi memiliki wajah yang paling mirip dengan Mama!"
" Dan soal Claire. " Papa David kini menatap adiknya lebih serius, " Siapa yang tidak kasihan dengan kondisi yang seperti itu Leo. Hamil tanpa suami. Dan Sialnya, ayah dari bayi itu adalah musuh keluarga kita!"
Mata Leo semakin mengembun. Rasanya, dadanya kini sesak sekali. Sudah sangat lama dia tak bicara seserius ini kepada Kakaknya. Dan sekalinya berbicara, entah mengapa membuatnya semakin merasa sedih.
Namun saat keduanya masih larut dalam obrolan, pintu yang semula tertutup itu kini terbuka secara kasar. Membuat keduanya terperanjat.
BRAK!
" Bella, kenapa kamu?"
" Mas, cepat siapin mobil, Papa tiba-tiba sesak napas!"
" Apa?"
.
.
.
.
.
.
.
Hay buebo tersayang. Lagi pada sibuk apa ini? Pasti lagi sibuk prepare buat masakan buat hari raya ya. Selamat bersibuk- sibuk ria nggeh 🤗🤗😘😘
Oh ya, makasih banget lho di sela sibuknya jelang hari raya masih pada sempat baca kisah Wira.
Sehat-sehat semua readersku dimanapun kalian berada 😘🤗🤗🤗
__ADS_1