
...🥀🥀🥀...
Isi dada pria itu bergejolak. Keyakinannya yang nyaris lenyap, kini kembali tersemai. Sada mengangguk dengan beban yang seolah ambrol di terpa angin. Hilang entah kemana. Membuat seluruh tubuh terasa ringan. Ia bahagia.
Ia menyeka wajahnya menghaturkan beribu syukur kepada Tuhan atas apa yang telah ia capai. Tiada kebahagiaan lain selain ia dan Claire yang kini mendapat lampu hijau.
TOK TOK TOK
Ketukan pintu mengalihkan atensi.
" Opa!"
Neo rupanya yang masuk. Membuat kesemuanya buru-buru menghapus air mata yang tak mau berhenti mengalir karena takut terpergok Neo. Namun terlambat, bocah yang memiliki intelegensi tinggi itu telah memergoki kedua orangtuanya yang sibuk membasuh wajah.
" Loh, kenapa Ayah sama Ibu menangis? Opa juga?"
Leo Darmawan yang airmatanya sedang di bersihkan oleh Claire nampak tersenyum kepada cucunya. Meski mulutnya kaku dan tak bisa di mengulurkan suara, tapi gerik kecil wajahnya masih bisa mewakili.
Namun Neo tak ingin berlama-lama mengomentari Ayah dan Ibunya yang belakangan ini gemr menangis. Bocah itu tampak menjalankan perintah Opa Dav dan Oma Jess dengan cepat.
" Opa cepat sehat ya? Neo doakan Opa bisa jalan lagi. Tapi jangan marah-marah lagi ya, hihihi. Oh iya Opa, apa Opa mengizinkan Ayah dan Ibu menikah? Kata Ayah, Ayah harus menikah dulu sama Ibu biar bisa bobo sama Neo dirumah. Neo seneng deh, yang jadi Ayah Neo ternyata Paman tampan,bukan om Edwin hihihi!"
Dada Papa Leo kembali di selimuti rasa haru. Jika bisa, ingin sekali dia memeluk dan mencium cucunya. Tapi ia kini sadar, segala rasa yang diberikan Tuhan saat ini tak lain adalah cara untuk mencelikkan mata hatinya yang buta.
Claire dan Sada saling menatap. Anaknya benar-benar luar biasa. Darimana Neo bisa membuat rangkaian kata sedemikian rupa?
__ADS_1
" Dia benar-benar anakku!" bisik Sada berkelakar. Penuh kebanggaan cenderung jumawa.
" Plek ketiplek!" sahut Claire mengangguk setuju.
Keduanya langsung tergelak kecil. Kini mereka tinggal menyusun langkah untuk menikah. Melegalkan yang ada. Menyatukan yang tercerai berai. Mengumpulkan yang berserak. Dan membangun yang telah hancur.
-
-
Jelang pukul sebelas siang mereka akhirnya sampai di rumah Claire. Juwi terlihat membawa barang-barang Neo, sementara Sada dengan tangannya yang kekar berotot, tampak mengangkat tubuh anaknya yang terlelap usai diajak membeli mainan di mall besar kota Atana.
Usai menidurkan Neo ke kamarnya, Sada terlihat menerima telepon dari anak buahnya. Claire yang melihat pria tampan itu sangat serius manakala menerima telepon, memilih pergi ke belakang untuk menyiapkan makan siang.
" Ada masalah?" tanya Claire khawatir tatkala Sada telah kembali ke meja makan.
Sada menggeleng. " Si Dollar minta izin cuti!"
" Cuti?"
Kini Sada mengangguk seraya mengeluarkan senyuman tipis. " Sepertinya kita kalah start!"
" Kalah start?"
Sada mengangguk namun kali ini sembari berjalan mendekat ke arah Claire yang kebingungan.
__ADS_1
" Dia mau tunangan. Ingat sama partner kerjaku yang pernah aku ajak makan disini?"
Claire terlihat mengingat-ingat. " Yang aku kira pacarmu itu? Tapi bukannya dia kayaknya suka sama kamu dulu?"
Sada tergelak, " Buktinya dia kecantol tuh sama Dollar! Kenapa kamu juga pingin?"
" Issh, apaan sih!" Claire mencebik.
Sada tergelak. Wajah Claire benar-benar lucu jika begitu. Sedetik kemudian saat tawa keduanya lenyap, mereka terlihat diam dan menatap satu sama lain dari jarak dekat.
" Aku gak nyangka kita bisa ada di titik ini!" kata Sada menatap dalam dua netra coklat Claire.
" Aku juga!" balas Claire tak kalah lega.
" Aku akan meminta pengacaraku untuk mengurus semuanya. Aku barusan juga meminta Boni untuk mengatur jadwal. Aku ingin membersihkan namaku. Aku ingin Papa, maksudku Om Leo tak lagi malu memiliki menantu sepertiku!"
Claire tersenyum. Ia bangga. Memang selalu ada harga yang harus dibayar setiap Sese menginginkan sesuatu.
Claire terlihat mengecup bibi Sada cepat.Tapi tidak tahunya Juwi malah melihat. Oh no!
"Astaga, Emmm saya tidak lihat Bu, demi Tuhan saya tidak melihat!" teriak Juwi sembari ngacir ke belakang.
Mereka berdua kembali tergelak demi melihat tingkah Juwi yang begitu konyol. Sedetik kemudian, Sada ganti menarik dagu wanita di depan lalu mengecupnya dalam penuh rasa cinta.
Kala cinta kembali menyala.
__ADS_1