
...🥀🥀🥀...
Sejak bertemu dengan bocah bermata jernih itu, Sadawira kini merasa hidupnya makin di penuhi oleh energi positif yang telah lama hilang darinya.
Rasa-rasanya, ia seperti musafir yang menemukannya oase di padang gersang.
Sungguh satu keajaiban yang nyata.
" Kenapa senyum-senyum begitu? Kau pasti baru memenangkan tender ya?" tanya Andrew yang kini sengaja mengajak sahabatnya itu untuk makan siang bersama Zayn.
" Ada hal lain yang membuat hatiku senang!" sahut Sadawira dengan sorot mata penuh arti.
Maka Zayn yang semula serius dengan ponselnya, kini seketika menatap serius Sadawira demi membunuh rasa penasarannya.
" Woman?" tebak Zayn dengan sebelah alis yang telah terangkat. Mencoba memecahkan teka-teki yang teramat menarik itu.
Sada menggeleng, " Nope!"
" So?" tanya Andrew yang semakin penasaran.
" A brave boy!" jawab Sadawira dengan wajah sumringah yang berhasil menularkan energi kegembiraan kepada kedua sahabatnya.
" What?" seru kedua pria manis itu dengan kompaknya. Membuat Sadawira terkekeh.
" Aku bertemu seorang anak yang benar-benar membuatku merasakan sesuatu yang unik. Seperti sensasi bertemu dengan seseorang yang kita rindukan!" katanya dengan sorot mata yang memancarkan kebahagiaan.
Namun alih-alih paham, Zayn dan Andrew malah semakin tak mengerti dengan ucapan sahabatnya yang tiba-tiba saja aneh itu. Apakah Sadawira sudah tidak waras? Sejak kapan anak kecil bisa memberikan sensasi melegakan dari kerinduan? Anak asing pula.
" Siapa yang kau bicarakan ini sebenernya. Seorang anak pemberani? Memangnya anak siapa?" kata Andrew semakin tak habis pikir.
__ADS_1
Lagi-lagi, kini Sadawira malah tergelak manakala melihat raut wajah bingung dua sahabatnya yang kini tampak semakin bloon.
" Namanya Neo. Aku bertemu dengannya saat acara di sekolah. Kalian tahu, kemungkinan dia adalah anak yatim. Dan tidak tahu kenapa, saat aku menggandeng tangannya, hatiku merasa tenang!"
Membuat dua pria yang kini terlolong itu semakin tak mengerti dibuatnya. Bagiamana bisa seorang Sadawira yang terhadap wanita saja dia no way, kini malah membicarakan bocah dari antah berantah. Sungguh sulit dipercaya.
" Jadi kamu benar-benar menjadi donatur di sekolah itu?" tanya Andrew belum jera. Sama sekali tak menduga jika Sadawira kini menjadi donatur di sekolah swasta itu.
Sadawira tentu saja langsung mengangguk.
" Aku juga tidak tahu, kenapa di setiap bersama anak itu ada hal aneh yang aku rasakan. Semacam senang dan...tak ingin cepat-cepat berlalu!"
Andrew dan Zayn kembali bertukar pandang demi melihat wajah Sadawira yang kini berseri-seri, benar-benar lain dari biasanya.
" Mungkin karena selama ini kau sangat kesepian. Jadi kau merasa seperti ini. Kau tau kan, usia-usia seperti kita ini di beberapa negara di Asia memang sudah selayaknya memiliki anak. Jadi...mungkin kau butuh penyegaran!" kata Zayn yang mengira jika Sadawira mungkin saja tengah stres sehingga saat bersama anak-anak merasa bahagia.
Andrew turut mengangguk demi menyetujui prediksi sahabatnya yang belum bisa di pertanggungjawaban kebenarannya itu.
Namun alih-alih setuju, Sadawira malah mencibir ide konyol yang tak masuk dalam jajaran cita-citanya itu.
" No Woman no cry!" sahut Sadawira ketus dan masih mendengungkan motto seperti biasanya. Memberikan Andrew langsung memutar bola matanya malas.
" Emang susah kalau berurusan sama orang yang kena kutukan patah hati!"
Dan saat mereka bertiga masih asyik mengobrol dan berkelakar, seorang wanita cantik tiba-tiba datang menyapa dengan penuh keakraban.
" Sadawira?" teriak Diva dan membuat nama yang di sebut langsung mendongak. Pun dengan dua pria tampan yang kini menoleh seraya memicingkan mata.
" Weitsss, siapa tuh? Depan belakang oke banget lagi..." desis Andrew yang salah fokus dengan baju berbelahan dada yang mengundang burung-burung untuk berdiri.
__ADS_1
Maka Zayn langsung menggeleng seraya menghembuskan napas panjang. Dasar Andrew cabul, gak bisa lihat barang bening sedikit.
" Boleh gabung?" tanya Diva kepada tiga pria tampan yang satu diantaranya ia kenali dengan wajah ramah.
" Yes, of course!" sahut Andrew yang terlihat paling ramah diantara teman-temannya, kepada wanita bergaya hedon itu.
" Sada, apa kabar?" tanya Diva tersenyum. Terlihat sangat senang sebab tak sengaja bertemu dengan Sadawira.
" Pssst, kok bisa kenal?" bisik Andrew yang mencondongkan tubuhnya ke sisi Sadawira, namun bisa di dengar oleh Diva.
Diva terkekeh demi melihat keterkejutan Andrew yang terang-terangan akan dirinya. Membuat wanita itu merasa tersanjung.
" Kami ini relasi. Sadawira ini rekan bisnisku, bukan begitu?"
Namun yang di sapa hanya tersenyum sekilas. Sama sekali tak berminat untuk ngobrol lebih dalam.
" Wah, kenapa kau tidak bilang kalau kenal dengan wanita cantik ini Da! Jahat banget kamu!"
Diva tersenyum malu-malu sementara Sadawira malah sibuk membakar batang rokoknya dan tampak tidak mau ambil pusing. Wanita secantik dan semolek apapun benar-benar bukan menjadi prioritasnya saat ini, sebab nama yang terpatri dalam hatinya itu, tak akan pernah bisa di gantikan oleh siapapun.
" Aku pergi dulu. Lupa kalau sore ini musti ngantar Nino belanja!" kelit Sadawira yang sebenarnya sengaja menghindari Diva.
Diva langsung menatap resah Sadawira yang terkesan mengindari nya. Begitu kentara sekali pria itu.
" Div, maaf ya aku ada kepentingan habis ini. Kita bisa ngobrol lain waktu !" ucap Sadawira tersenyum sekilas lalu bangkit sembari mengenakan kacamata nya.
Diva mengangguk meski sebenarnya dia kesal.
" Udah gak usah dipikirin. Si Sada emang agak aneh. Dibilang homo tidak mau, tapi sama perempuan juga seperti tidak punya selera. Kadang aku yang jadi sahabatnya juga ngeri sendiri!" Tukas Andrew yang kini tekrikik-kikik.
__ADS_1
" Kenapa kamu susah sekali didekati Wir?"