My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 129. Zara


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Sada dan Andrew terlihat tak lelah membantu Zayn menerima tamu hingga waktu yang lumayan larut. Usai menerima laporan dari Juwi bahwa Neo barusaja tidur, Claire berniat menemui suaminya yang masih ngobrol bersama beberapa orang yang masih ada di sana.


" Kita pulang jam berapa ?" bisiknya lirih ke telinga sang suami yang kebetulan tengah menjeda obrolannya.


Sada melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Sudah agak lama, tapi kenapa adik iparnya belum juga nongol?


" Apa Melodi sudah kembali?" tanya Sada khawatir.


" Aku sejak tadi belum melihat dia."


" Ada apa?" sahut Andrew yang sepertinya mencium bau-bau keresahan dari dua suami istri di depannya.


" Apa kau melihat Melodi?" Sada bertanya kepada Andrew, barangkali pria itu melihat adiknya.


" Tenang saja, paling-paling lagi sama Zayn. Tunggulah sebentar lagi!"


Mereka berdua terdiam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sada dan Claire pikir Melodi sedang bersama Zayn seperti yang barusaja di katakan oleh Andrew.


Tapi rupanya gadis itu kini sedang berada di belakang rumah bersama Olivia yang sengaja menunggu Melodi untuk berbicara empat mata.


" Kuharap kau cukup pintar untuk paham apa yang barusan aku katakan gadis sialan!" seru Olivia yang sepertinya tak mau basa-basi lagi kepada Melodi.


" Apa memangnya masalahmu? Aku bahkan kemari karena memang di ajak oleh kakak dan kakak ipar ku!"


Tapi Olivia terlihat semakin berani. " Kau pikir kau sudah hebat, hah?"


Melodi menepis tangan Olivia yang mencengkeram kuat lengannya. Terlihat melawan.


" Aku tidak ada waktu buatmu!"


Tapi yang dilawan justru semakin tak pantang mundur. "Kuperingati kau sekali lagi. Tinggalkan Zayn atau kau akan aku buat menyesal!"

__ADS_1


Melodi menggeleng tak percaya. Ada apa dengan gadis di depannya itu, kenapa picik sekali pikirannya?


" Memangnya apa yang akan kau lakukan kepadaku, hah? Lagipula, kenapa kau begitu takut? Jika Zayn benar-benar menyukaimu, seharusnya kau tidak perlu susah-susah memperingatiku seperti ini bukan?"


" Kurang ajar!"


Dan saat tangan bercat kuku merah itu hendak melayangkan tamparan ke wajah Melodi, dengan cepat ia menangkis lalu melempar tangan kurang ajar itu dengan keras.


" Aku tidak pernah mengajar Zayn. Tapi Zayn lah yang mengejarku, gadis sialan!"


Olivia yang barusaja di katai oleh Melodi yang berhasil ngeloyor pergi, hanya bisa menghentak kakinya kesal.


" Beraninya dia!"


-


-


Malam harinya, saat semua orang telah pergi. Zayn mendatangi kamar sang Mama yang ternyata telah tertidur bersama adiknya Zara dengan muka kelelahan.


Namun isakan kecil dari bibir kala dirinya tak kuasa menahan segala kesesakan yang menyerang dada, rupanya berhasil membuat sang adik terbangun.


" Kak!" kata Zara dengan suara parau.


Zayn buru-buru menyeka wajahnya karena takut terpergok adiknya. Namun terlambat, gadis berambut cokelat itu telah melihat kakaknya yang menangis.


Kakak beradik itu akhirnya duduk diatas balkon kamar mereka di jam dua dinihari, dengan sayup-sayup suara binatang malam yang merobek kesunyian.


Sepi, pilu dan gelap.


" Kenapa kakak belum tidur?" tanya sang adik dengan tatapan tak lepas. Mereka berdua terlihat begitu menyedihkan.


Zayn menghela napas perlahan. Ia tak mampu memikirkan apapun selain rasa bersalah yang teramat. Tenggelam dalam keresahan yang semakin menjadi, sebab harus dengan apa dia akan melewati semua ini.

__ADS_1


" Maafkan aku Ra. Waktumu selama ini tak cukup untuk bertemu Papa. Tapi saat kau pulang, kau malah..."


Zara mengusap lengan kekar sang kakak yang suaranya lekas bergetar. Ia tahu, kakaknya pasti sedang dirundung rasa bersalah yang mendalam.


" Aku sudah dengar semua dari Mama. Soal perusahaan kita juga. Aku enggak apa-apa kak. Kau bakal bantu kakak cari jalan keluar!"


" No, itu udah jadi urusan kakak. Kamu harus tetap melanjutkan pendidikan!"


Zara menggeleng sembari tersenyum kecut saat menatap mata basah kakaknya. "Aku serius dengan ucapanku kak. Aku merasa sedih. Apalagi, ngelihat Mama seperti itu. Rasanya, aku tak ingin ninggalin Mama."


Zayn balik tersenyum ironi menatap adiknya yang memiliki kebesaran hati luar biasa itu.


" Tapi memangnya kita bisa apa? Kita hanya pelakon takdir. Takdir yang pasti akan melintasi garis hidup yang sudah di tentukan!"


Zayn semakin menatap lekat wajah adiknya yang juga nampak begitu terpukul. Merasa semakin sedih lantaran menjadi penyebab utama semua kekalutan yang terjadi.


" Menurutku, kakak udah ngelakuin yang bener. Aku kenal siapa Kak Oliv. Gadis ambisius yang keras kepala!"


Zayn tercenung. Darimana dia tahu semua ini?


" Apa Mama bercerita?" tanya Zayn lirih.


Zara mengangguk, " Mama masih berharap kakak mau sama kak Oliv biar perusahaan kita gak jadi bermasalah. Tapi seorang laki-laki itu ibarat nakhoda kapal yang jika sekali berlayar, maka dia harus pantang mundur. Karena jika layar sudah di tegakkan, ia tak boleh memutar haluan walau ada badai yang datang menghantam sekalipun!"


Zayn tersenyum haru kala melihat adiknya yang ternyata memiliki pola pikir yang begitu menakjubkan. Seorang anak bungsu yang benar-benar bisa memberikan semangat yang selama ini tak ia dapat dari siapapun.


" Terimakasih Ra. Kakak merasa memiliki sekutu selain Neo!" ucapnya dengan tangis yg bercampur tawa.


" Neo?" tanya Zara tak mengerti.


Zayn mengangguk menahan tangis. Tak mampu berkata lagi sebab hatinya begitu haru.


" Apa aku boleh menebak?" cetus Zara dengan wajah sumringah.

__ADS_1


" Apa?"


" Apa kakak cantik di bawah tadi yang kak Zayn taksir?"


__ADS_2