My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 79. Arti sebenarnya dari sebuah pengorbanan


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Sekembalinya Claire dari menemui Sada, Melodi rupanya belum tidur. Neo sudah lelap bersama Papa Leo dan Mama Bella yang seharian ini lelah lahir batin.


" Darimana lu?"


Claire tersentak demi melihat adiknya yang memberi tatapan yang biasa saja namun cukup mengganggu.


" Jangan macem-macem lu. Papa ada di rumah!"


" Aku cuman mau mastiin!" kata Claire yang menekan rasa malu karena kepergok.


Lama mereka terdiam. Sibuk dengan prasangkanya masing-masing. Hingga sebuah pertanyaan yang tak lagi bisa Claire tahan membuat suasana kembali beriak.


" Kamu yang kasih tahu dia soal pernikahanku?"


" Keceplosan!"


Claire terdiam sejenak. Jelas adiknya lah biang keroknya.


" Kenapa bisa ketemu Zayn?"


Kedua tangan yang semula terlipat keatas dada Melodi kini ia turunkan. Claire memperhatikan gerik adiknya yang terlihat lelah.

__ADS_1


" Jangankan elu ya Clai. Aku aja juga terkejut saat lihat itu kantor isinya si kampret itu. Salahku juga ga baca detail soal CEO. Lagipula nama lengkapnya panjang, siapa yang ngira kalau CEO nya ternyata si kampret itu!"


Claire menghela napas. Mau bagaimana lagi. Sudah terlanjur. Nasi sudah menjadi bubur.


" Besok Mamanya Edwin mau kesini. Mau bahas teknis pernikahan kalian!"


Claire kembali menghembuskan napas. Kali ini lebih berat. Benarkah ini akhir dari segalanya? Benarkah jika jalan hidupnya memang harus berakhir seperti ini?


Apakah segenap perasaan yang menggelegak dalam hatinya harus redam dan luruh karena sebuah titah? Entahlah. Yang jelas ia hanya ingin Papanya berhenti mengincar Sadawira. Meski itu artinya, ia juga harus merelakan rasa yang beberapa waktu terakhir kembali membuatnya terusik.


"Aku gak tahu lagi Claire. Semua ini terlanjur rumit. Edwin sebenarnya baik. Tapi sikapnya akhir-akhir ini jadi bikin aku ragu dan kurang suka sama dia. Terkesan berlindung!" kata Melodi yang menatap murung kakaknya.


Suasana tampak hening. Suram. Menyedihkan.


Claire diam tak menjawab. Sebab memang itulah kenyataannya.


Melodi mendekat ke arah kakaknya yang mematung. Ini lebih berat dari yang dia duga. Sebuah pengorbanan yang menutupi pengorbanannya lain, melebihi arti cinta sebenarnya.


" Tapi saranku, jangan pernah batasin hubungan Neo sama bapaknya Clai. Anak lu itu, pelek ketiplek sama tuh laki. Pas bikin kayaknya dia deh yang napsu sama elu!"


Meski ia kini merasa terharu saat adiknya memeluk tubuhnya dengan erat, tapi bola mata Claire tak bisa tidak mendelik manakala mendengar kalimat Melodi bagian akhir.


Bisa-bisanya adiknya mengucapkan hal absurd dengan sangat enteng saat mereka sedang serius-seriusnya.

__ADS_1


Namun keresahan yang nyata akhirnya terjadi saat di jam 10 pagi, keluarga Edwin datang. Mama Siska yang sudah mengantongi penjelasan dari anaknya kini nampak serius mendengar penuturan Papa Leo.


" Demi kebaikan anak-anak. Maka niat baik sebaiknya segera di percepat!"


Claire yang berada di antara orang-orang yang saling melempar senyum itu terlihat menekuk muka sendiri. Tamat sudah. Tak ada lagi kesempatan untuk mengelak. Gelap.


Kenyataan yang ada kini tak berbanding lurus dengan perasaan Claire yang malah terus saja teringat dengan Sadawira.


" Jika begitu kenyataannya. Aku tidak bisa memaksamu Claire. Kau masih memiliki orangtua yang lengkap. Sudah selayaknya kau tidak menorehkan luka pada hati mereka dengan sikap durhaka!"


" Aku menyayangimu, mencintaimu!"


" Tapi kenyataannya, aku harus mengalah!"


Dan kesepakatan yang terbentuk tanpa sebuah perundingan yang adil, membuahkan sebuah hasil yang jelas membuat Neo mau tidak mau akan memiliki seorang Ayah sambung.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2