
...🥀🥀🥀...
Zayn pasti sudah gila, sebab apa yang selama ini hanya mengusik dan menganggu pikirnya, malah terceplos begitu saja dalam situasi yang sebenarnya kurang pas pula.
Tapi begitulah Zayn, pria tampan yang cenderung tak bisa berbasa-basi. Ia bukanlah Sada yang pandai menahan diri. Ia juga bukan Andrew yang mahir dalam mengungkapkan kalimat mendayu. Ia terlalu spontan. Dadakan dan apa adanya.
" Apa yang kau bicarakan?" kali ini Melodi yang kesulitannya meneguk ludah. Bahkan tatapan mendalam dari pria di depannya itu jelas memilih arti yang sangat dalam juga.
" Aku sendiri juga tidak tahu. Entah kau percaya atau tidak. Tapi aku benar-benar lega akhirnya bisa mengungkapkan semua ini. Bertemu denganmu itu suatu keunikan. Aku bahkan masih ingat saat kita bertengkar. Memperebutkan coklat yang ternyata ujung-ujungnya malah bermuara pada anak yang sama!"
Tanpa sadar Melodi bahkan menyetujui ucapan Zayn. Itu memang benar. Dan sialnya, kenapa jantungnya sekarang menjadi tak beres begini? Oh ya ampun. Siapapun tolong aku!
" Dan ciuman tak sengaja dua kali...!" ucap Zayn ragu-ragu sembari melirik Melodi semakin menunduk.
" Itu salahmu!" cetus Melodi dengan wajah sewot. Bukan sewot sebenarnya, ia hanya mendadak merasakan ketidakberesan dalam dirinya. Dia grogi.
Zayn mengangguk, tak ingin menyela apalagi mengelak. " Itu memang salahku. Tapi, tidakkah kau merasakan apapun juga Mel?"
" Apa? Kenapa dia malah tanya begitu sih? Aku harus jawab apa sekarang?"
" Bersamamu beberapa bulan ini benar-benar membuatku sedikit paham. Jika saat kutanyai kau hanya diam, berarti itu benar kan?" goda Zayn tersenyum-senyum.
" Apaan sih, gak jelas!"
Zayn terkekeh. Bahkan wajah Melodi sudah sangat memerah. Ia tahu, gadis di depannya itu memang keras kepala dan lumayan gengsi.
" Tidak apa tidak menjawab sekarang gadis tukang marah. Kemarilah, biar aku olesi obat lukamu!"
" Apa dia bilang? Enak aja gadis tukang marah!" membatin kesal dengan wajah yang semakin cemberut.
" Gak perlu, aku bisa sendiri!" menjawab dengan kesewotan yang tak jua memudar. Sebab entah mengapa ia kini menjadi malu menatap wajah Zayn.
" Yang benar saja!"
Zayn tahu jika Melodi pasti malu. Itu sangatlah normal. Ia lebih memilih ke belakang menemui Neo yang pasti shock.
" Itu tadi siapa Paman? Kenapa Aunty di pukuli begitu?" Wajah muram yang sangat ingin tahu itu membuat Zayn menghela napas, seharusnya anak sekecil Neo memang tak boleh melihat hal itu.
" Apa Neo sekarang takut?" tanyanya guna mencari tahu seberapa jauh Neo merasakan dampaknya.
Bocah itu mengangguk. Jelas kejadian tadi menimbulkan rasa traumatis pada bocah sekecil Neo. " Apa Aunty baik-baik saja Paman?"
Zayn ganti mengangguk, " Sudah Paman obati.Yang tadi itu orang gila. Makanya Aunty di pukul."
" Kok Paman bisa kenal orang gila?"
" Hah sial, kenapa kau malah ngomong begitu tadi?"
__ADS_1
"Ehem!" berdehem sejenak menetralisir rasa canggung. "Paman tidak kenal. Karena mau bantu aunty, makanya tadi Paman melerai juga kena kena pukul."
Neo sepertinya mudah menangkap penjelasan dengan sangat baik.
" Sekarang bisa bantu paman?" bertanya sembari menangkup wajah bulat si bocah.
" Bantu apa Paman?"
" Paman akan pergi ke kantor. Apa Neo bisa jaga Aunty? Nanti lapor pada Paman kalau ada apa-apa, hm?"
" Aku jadi superhero?" bertanya antusias sebab mendapatkan bagian menjadi sekutu.
Pria itu mengangguk dengan senyaman lebar.
" Sekarang kita berteman baik kawan!" ucap Zayn menggantungkan jari kelingking.
" Siap paman!" balas Neo sembari menyambut kelingking besar seukuran dua ibu jarinya sebagai bukti jika mereka berdua telah resmi menjadi sekutu. Yeah!
Menurut Zayn, trauma Neo ternyata tidak terlalu parah. Membuatnya bisa pergi dengan hati lega sebab kini ada banyak PR yang harus ia bereskan.
Namun alih-alih mendapatkan pembelaan. Setibanya ia di kantor, Sada justru mengomelinya manakala dengan polosnya dia mengatakan berita terbaru itu.
" Kau ini bagaimana Zayn, kenapa malah jadi ribut seperti itu? Anakku bagaimana? Kau ini benar-benar!"
Zayn menggaruk kepalanya mendengarkan ocehan yang lumayan membuatnya merasa bersalah itu. " Ya mana aku tahu kalau ternyata Olivia sampai nyari rumah kamu Da!"
Ia bisa mendengarkan jika Sada mendecak. Pria itu pasti sekarang sedang kesal dengannya.
" Dia baik-baik saja. Tapi tidak tau dengan hatinya." menjawab ngawur.
" Apa maksudmu sialan?"
Namun yang di marahi justru tergelak demi reaksi seorang sahabat yang cukup menggelitik.
" Sepertinya aku benar-benar kena kutukan darimu. Kau benar, aku sekarang terjebak cinta adik iparmu!"
" Oh Shiit, are you kidding me?" pekiknya dengan tawa sebab tak percaya.
Bahkan Zayn turut tergelak saat mendengar suara Sada yang terdengar bahagia dari seberang.
Membuat Claire yang barusaja selesai berdandan mengerutkan keningnya sebab sang suami yang sibuk bertelepon, kini tampak bahagia.
" Ada apa, bahagia banget?"
Sada yang mendengar suara istrinya langsung menoleh dan menyongsong wanita itu penuh keterkejutan.
" Sayang, kau cantik sekali?"
__ADS_1
" Malah bahas lain. Kamu kenapa senyam-senyum begitu?" ketus sang istri yang kesal sebab suaminya tak menjawab pertanyaannya dan malah membahas hal lain.
Tapi pria itu malah meraup bibir semerah delima itu penuh minat. Ia tergiur dengan penampilan istrinya yang benar-benar cantik.
" Mas Sada ihh!" kesal Claire mendorong suaminya yang terus saja nyosor.
Sada menjadi terkekeh saat mendengar suara istrinya yang kesal, sebab dirinya malah meremas bagian lain yang membuat Claire terkejut.
" Zayn bakal jadi future brother in law kamu!" katanya dengan wajah paling konyol.
Maka dua netra jernih itu kontan membulat demi mendengar suara sang suami.
" Melodi?" tebak sang istri tak percaya.
Sada mengangguk. " Hah, semoga Papa merestui. Sepertinya perjalanan mereka lebih mulus dari pada kita!"
Tapi tebakan Sada rupanya keliru. Pria yang sedang menikmati masa bahagianya itu, pasti tak mengerti bila saat ini Zayn sedang berhadapan dengan sang Papa yang berang sebab perusahaannya sedang dalam masalah yang rawan dengan kebangkrutan.
PLAK!
Wajah Zayn terlempar keras hingga terasa pedih kala malam itu ia muncul di hadapan Darius yang naik pitam.
" Dimana otakmu? Apa kau sudah merasa mampu sendiri, hah?" pekik sang Papa yang tak habis pikir dengan keputusan sang anak yang membuat anak Tanaphan menangis akibat sakit hati.
Bahkan sang istri terlihat tak berdaya dan menangis manakala menyaksikan anaknya di hajar oleh suami.
" Meskipun Papa pukul Zayn hingga mati, Zayn tetap tidak mau kembali ke Olivia pa. Zayn punya orang lain yang Zayn cinta..."
PLAK!
" Omong kosong! Kau benar-benar anak tidak tahu diri Zayn. Papa sudah berharap banyak sama kamu tapi lihatlah kelakuanmu sialan!"
Pria bernama Darius itu sudah benar-benar kehilangan kesabarannya. Hidup dan reputasinya benar-benar telah berada di ujung tanduk akibat kebodohan sang anak.
Dalam ketidakberdayaan, Zayn berusaha bangkit dengan sudut bibir yang berkedut perih. Seperih hatinya yang selama ini tak mendapat kebebasan.
" Zayn lebih memilih hidup miskin daripada terus di bayang-bayangi oleh keluarga Tanaphan!"
" Kau!!!"
" Argggh!"
" Papa!" Mama Zayn sontak menjerit manakala suaminya mencengkram dadanya dengan mata melotot seperti di hujam kesakitan yang luar biasa.
Oh tidak!
Kini tak hanya panik, Zayn bahkan seketika bingung harus melakukan apa demi melihat papa yang sepertinya terkena serangan jantung.
__ADS_1
"Cepat siapkan mobil Zayn! Papamu harus cepat di tolong. Cepat!"
Maka pria itu seketika merasa dunianya mendadak runtuh dalam sekejap.