My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 37. Terpaksa


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


" Eh, ini...." Mama Bella yang baru menyadari jika ada orang lain yang turut hadir disana seketika meringis ke arah Edwin.


Astaga, keberadaan Neo benar-benar mampu menghipnotis kesadaran Mama Bella ya?


Edwin langsung tersenyum begitu wanita berumur yang wajahnya sangat cantik itu notice kepadanya. Ya, dia adalah orang yang melahirkan wanita cantik di sampingnya, Claire.


" Apa kabar Tante, masih ingat saya kan?" balas Edwin seraya meraih tangan putih Mama Bella untuk di jabat.


" Tante baik, kamu makin fresh aja Win. Keluarga sehat?"


" Sehat Tante!"


Kini Leo turut menoleh. Ia turut tersenyum saat melihat Mama Bella yang terlihat akrab.


" Om, apa kabar?" sapa Edwin kini beralih kepada Papa Leo, Mama Jessika, serta Papa David secara bergantian.


Melihat jika atmosfer disana mulai serius, Deo dan Arimbi seketika mengambil alih urusan Neo. Meraka tahu, pasti sebentar lagi kedua orang tua Claire akan membicarakan masalah krusial.


" Neo pasti haus, ayo ikut Pakde.Di depan ada minimarket, kita beli sesuatu yuk?" tawar Deo yang langsung mengangkat tubuh keponakannya lalu ia panggul. Tangan kekarnya mengetat manakala menaikkan tubuh Neo keatas bahunya.


" Ye asyikk. Emmm pakde ambil mainanku dulu di bagasi Ibu ya?" sorak Neo yang benar-benar senang. Selama ini dia tak pernah ada yang memperlakukan seperti itu.


Ternyata berada bersama Pakde menyenangkan juga ya?


" Mainan?" tanya Deo bingung.


Claire tiba-tiba gugup, karena setiap mainan itu di sebut rasa-rasanya ia di ikuti oleh sadawira. Takut kalau-kalau kedua orangtuanya tahu perihal Sadawira.


Namun nasib baik masih menaungi Claire. Usai membuka lalu mengambil benda warna maroon dan gold itu, Neo langsung melesat riang bersama Arimbi juga Deo, tanpa bercerita siapa yang memberi mainan mahalnya itu.


Dan kepergian mereka, menyisakan Demas yang kini masih berada di antara para orang tua yang menatap Edwin juga Claire.


" Kita masuk ke dalam ya!" seru Papa Leo dengan suara beratnya.


Claire mengangguk, dari nada suara yang terdengar, ia yakin jika Papanya pasti sudah ingin berbicara serius.


Ruangan yang kini di huni oleh Opa Edi merupakan ruangan yang luas, mereka sengaja menggunakan kamar terbaik agar bisa leluasa untuk digunakan beramai-ramai.


Ruangan itu ada dua tempat, yang satu digunakan untuk Opa Edi, dan yang satu merupakan ruangan besar berisikan sofa serta tempat istirahat untuk si penunggu. Lega dan begitu nyaman. Bukti nyata bila uang memang selalu bisa memuluskan apapun.


Namun di balik itu semua, Edwin tidak tahu bila hari ini akan menjadi hari paling membahagiakanmu untuknya.

__ADS_1


" Jadi, kamu sudah tahu kan tujuan kami meminta kamu datang kemari?" tanya Papa David sesaat setelah mereka mendudukkan tubuhnya di atas sofa lembut itu.


Ya, sebagai anak tertua di garis keturunan Darmawan, Papa David membuka percakapan siang itu.


Edwin menoleh ke arah Claire yang kini risau, sebab tak mengatakan apapun. Hanya mengatakan jika ia ingin mengajak Edwin untuk menjenguk Opanya dan stay di Indonesia beberapa hari.


" Maaf Om, tapi ..."


" Jadi Claire belum memberi tahu kamu? Claire!"


Papa Leo segera memotong kalimat Edwin saat ia menatap sorot mata bingung yang di tunjukkan oleh Edwin. Jelas anaknya belum memberitahu hal penting ini kepada Edwin.


Yang di panggil langsung menoleh dengan terkejut. Bagaimana ini? Oh ya ampun, ia benar-benar tak bisa mengatakan secara langsung kepada Edwin karena jelas itu berlawanan dengan isi hatinya.


" Ma- maaf Pa. Tadi..."


" Ya sudah, kalau gitu biar Papa yang mengatakan!" pungkas Leo tak mau berlarut-larut. Ia tahu Claire memang tak bisa di harapkan.


Wajah Claire menunduk dengan tangan yang tak henti memutar ujung bajunya. Menegaskan bila ia tengah gugup.


Demas yang masih ada di sana bersama Mama Jessika dan Papa David, terlihat membidik saudari sepupunya itu dengan tatapan lekat. Membaca setiap reaksi yang bisa ia jadikan untuk menyimpulkan apa yang sebenarnya terjadi.


Sementara Edwin yang mencium bau-bau hal serius, kini tak hentinya meneguk ludah. Dan sebagai orang dewasa, ia tahu bila di hadapkan dengan orang tua dalam formasi lengkap seperti ini, jelas itu merupakan keadaan yang sangat serius.


" Kami ingin kalian bertunangan di hadapan Opa setelah ini!"


Edwin terperanjat, tapi Claire semakin menekuk wajahnya gelisah.


Ya, kedua manusia itu kompak dalam keterkejutan meski reaksinya berbeda. Edwin yang terlihat senang, dan Claire yang cenderung shock.


Dan sialnya, Papa Leo tak fokus ke arah anak sulungnya melainkan fokus kepada Edwin yang akhirnya bisa tersenyum lega. Benar-benar sulit untuk di tentang.


" Saya tahu ini mendadak. Tapi sebagai orang tua, saya harus segera mengatakan hal ini kepada kamu!" seru Papa Leo menatap lekat ke arah Edwin, man to man.


"Kamu orang yang tahu sejarah Claire sejak awal. Dengan segala kekurangan yang ada, kamu juga sudah tau. Selain itu, kamu juga orang yang telah membantu saya mendapatkan rumah sakit terbaik di sana saat cucuku di lahirkan!"


Kini Claire semakin kesulitan meneguk ludahnya. Ingin rasanya ia menyela. Namun luka dan aib yang pernah ia torehkan ke hati orangtuanya, jelas membuatnya kali ini tak bisa melawan.


" Opa sangat ingin melihat Claire menikah dengan orang pilihan beliau. Dan orang itu adalah kau!"


Hati Edwin semakin terhujani oleh bunga-bunga yang berjatuhan. Ia begitu bahagia.


"Tapi aku juga sadar diri akan terlalu egois jika mempercepat tanpa berunding lebih lanjut. Oleh karena itu, aku ingin Opa bisa menyaksikan kalian bertunangan terlebih dahulu, apa kalian keberatan?"

__ADS_1


Maka Claire seketika menunjukkan wajah muram. Tapi sayang seribu sayang, baik Papa Leo maupun Mama Bella tak menatap ke arah putrinya, mereka fokus kepadaku Edwin dan seolah hanya Edwin lah yang mereka tunggu jawabannya sebab mereka sadar diri bila anak mereka adalah wanita kotor.


Edwin tentu saja senang. Sedari dulu ia memang menyukai Claire dan tak mempedulikan status wanita itu. Namun tidak tahu kenapa, hati Claire bak terkunci. Ia sebenarnya patah hati dan enggan mengenal pria lebih jauh semenjak kejadian itu.


Dan mendapat desakan untuk menikah dengan pria yang tak ia cintai, seolah membuat kiamat nya semakin dekat saja.


" Edwin?" panggil Mama Bella yang ingin mendengar jawaban dari pria mapan itu.


" Terus terang saya terkejut, tapi jujur juga saya sangat bahagia Om, Tante." Edwin menatap Mama Bella, Papa Leo, Mama Jessika, Papa David secara bergantian. "Saya memang menyukai Claire sejak kami sering bertemu. Dan soal Neo, saya bisa menerima Neo seperti anak saya sendiri!"


" Saya sangat berterimakasih karena sebelum saya mengemukakan niat baik saya, keluarga disini sudah menyambut saya dengan baik!"


Demas yang sedari tadi menyilangkan tangannya ke dada, terus menatap kedua manusia yang kini seperti sedang di interogasi itu dengan tatapan penuh arti.


Demas merasa jika Claire tak merespon seperti yang di lakukan oleh Edwin.


" Claire?" tanya Papa Leo yang kini ingin mendengar jawaban dari anaknya.


Ya, Papa Leo tak ingin berbasa-basi sebab ia tak ingin menyesali diri karena lamban mewujudkan niat Opa Edi.


" A- Aku..." Claire terbata-bata sebab hatinya benar-benar tak menginginkan hal ini.


Mama Jessika yang melihat keponakannya tergagap-gagap kini menjadi gelisah. Sebab sejak awal, dia sudah menyadari jika Claire sebenarnya menyimpan suatu hal dalam hatinya.


" Apa kau setuju dengan semua ini? Opa sudah menanyakan kalian sejak kemarin." tukas Papa Leo yang menatap tajam putrinya.


Ini bukanlah keputusan yang sepele. Meski keluarganya sangat mendukung, tapi entah mengapa hatinya malah merasa tidak srek.


" Aku..."


Kening kesemua orang disana tampak mengerut sebab tegang manakala menunggu mulut Claire terbuka. Claire menghirup napas dalam-dalam sebab merasa sangat bimbang.


"Claire!" hardik Papa Leo yang semakin tak sabar. Ia tentu tak ingin mendengar jawaban tidak. Siapa lagi yang mau menerima wanita dengan kondisi seperti Claire?


Membuat anak sulungnya itu seketika berjingkat akibat tergeragap.


" Aku akan mengikuti apa yang Opa mau!" balas Claire yang tanpa berpikir panjang sebab takut dengan Papanya.


Kesemuanya langsung terlihat tersenyum lega , pun dengan Edwin. Namun diantara senyuman yang tersuguh di tiap-tiap wajah orang di sana, Mama Jessika dan Demas kini malah salah fokus dan menatap murung ke arah Claire yang tampak penuh beban.


.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2