
...🥀🥀🥀...
Dan celoteh renyah dari bibir Neo, jelas membuat Claire makin kesulitan menelan ludahnya. Beruntung Edwin yang belum menaruh kecurigaan, bisa mengimbangi kecerewetan Neo.
" Ayo Neo, minta paman Sada untuk makan yang banyak!" tukas Edwin tersenyum.
Namun jangankan makan banyak, mulut Sadawira detik itu juga makin terasa pahit manakala menyaksikan betapa Edwin sangat dekat dengan Claire.
" Ayo Paman makan yang banyak, paman harus coba makanan ini Oh ya...Paman, bibi ini siapa?" tanya Neo kepada Sadawira yang duduk dekat dengan Diva. Tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.
Membuat Claire turut menunggu bibir Sadawira terbuka.
" Teman Paman! Namanya bibi Diva!" jawab Sadawira tampak tenang. Mencoba menghalau buncahan rasa tak enak dalam hati, demi Neo.
" Salam kenal bibi Diva!" sapa Neo dengan polosnya.
" Salam kenal juga anak manis!"
Claire yang menyadari jika Sadawira tak henti-hentinya menatap ke arahnya, kini merasa kehilangan selera makannya. Ia tahu, dua pasang mata tajam itu sedari tadi mengincar dirinya.
" Benarkah hanya teman? Tapi maaf, saya kira... kira tadi anda ini istrinya Pak Sada. Habisnya serasi!" cetus Edwin terkekeh dan membuat Diva tersipu malu tapi tidak dengan Sadawira.
Dan tanpa di duga, Sadawira yang tampak mulai tak menyukai situasi ini terlihat ingin membalas Edwin.
" Lalu...apa anda ini adalah suami ibunya Neo. Setahu saya Neo...."
" Uhuk- uhuk!"
Maka Claire seketika terbatuk-batuk demi mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut Sadawira yang mungkin saja berniat mencari tahu keberadaan ayah Neo.
Jelas itu sangat tak nyaman untuknya.
" Hati-hati, minum ini!" ucap Edwin yang terlihat panik seraya menyodorkan segelas air putih kepada Claire.
" Ibu pelan-pelan, ih" kata Neo yang kini justru terkekeh-kekeh karena mengira itu hal yang lucu.
Dan saat Claire hendak meraih gelas di depannya, tangannya yang mendadak gemetar itu malah menumpahkan air dalam gelas itu keatas pakaiannya.
Menegaskan jika Claire sedang grogi.
" Oh ya ampun, kenapa denganku? Kenapa aku menjadi gemetar begini?"
Dan hal itu, sukses membuatnya semakin gelisah karena kini Sadawira menatapnya dengan tatapan yang begitu tajam.
" Sorry, this my bad. Aku akan ke dalam dulu!" pamit Claire kepada semua orang dengan terburu-buru
__ADS_1
Edwin mengangguk. Pun dengan Diva yang tersenyum ke arah Claire.
" Ibu memang suka begitu. Sering buru-buru!"
" Bibi, aku mau sayur yang itu!"
Dalam sekejap, Diva bisa akrab dengan bocah itu. Tapi keadaan yang terlihat baik-baik saja, malah dirasakan sebaliknya oleh Sadawira. Ia tak tahan jika terus begini. Ia ingin menemui wanita itu.
Dan tak berselang lama, " Emmm maaf, apa saya bisa ke toilet?" tanya Sadawira kepada Edwin.
" Oh tentu saja, Juwi!" panggil Edwin kepada assiten rumah tangga Claire.
" Ya Pak!"
" Antar Pak donatur ke belakang!" titah Edwin dengan nada ramah.
" Oh mari Pak!" Juwi mengangguk penuh hormat manakala berucap kepada Sadawira.
" Di sebelah sini saja Pak!"
" Terimakasih!"
Juwi mengangguk lalu undur diri menuju ke arah belakang. Sadawira terlihat mengedarkan pandangannya dan mencari dimana Claire. Terlihat sangat nekat tapi ia benar-benar tak bisa menahan diri lagi.
Sejurus kemudian, ia yang hendak berjalan menuju ke toilet melihat Claire berjalan ke arah depan dan terlihat telah mengganti bajunya. Dan tanpa menunggu lagi, saat situasi dinilai aman, Sada langsung menarik lengan wanita yang selama ini mengusik hati, batin, juga pikirnya itu kedalaman ruangan yang entah itu ruangan apa.
" Claire!"
Membuat wanita itu seketika pucat.
" Apa yang kau lakukan, keluarkan aku dari sini!" teriak Claire yang kini wajahnya mulai panik juga resah.
Namun alih-alih menjawab, Sadawira justru bergeming dan menatap lama-lama wajah yang ia rindukan itu dengan mata berkaca-kaca. Mengabaikan seberkas sinar penuh kecemasan yang nampak di wajah Claire.
" Apa kau tuli! Cepat buka pintunya!" pekik Claire yang terlihat benci dengan pria di depannya itu.
Namun lagi-lagi, Sadawira tak mempedulikan tatapan sengit dari Claire. Ia ingin menanyakan suatu hal.
" Apakah Neo benar-benar anakmu? Dan ada hubungan apa kau dengan laki-laki tadi?"
Membuat Claire semakin berang.
" Berikan kuncinya. Jangan kurang ajar kau. Kau adalah tamu dirumah ini, aku bisa teriak!" ancam Claire yang marah dengan kenekatan Sadawira.
" Teriak saja. Teriak agar semua orang tahu jika kita bukanlah sepasang orang asing!"
__ADS_1
DUAR!
Bagai tersambar petir meski tanpa hujan apalagi mendung. Claire menggeleng dengan wajah kecut saat menatap Sadawira yang kini juga terlihat marah.
Bagaimana bisa, orang yang selama ini ia hindari, kini malah berada telat di depannya.
Untuk sejenak Claire hanya bisa membeku dengan air mata tertahan. Bayangan saat mereka yang melakukan hubungan terlarang itu tiba-tiba terputar kembali di dalam otaknya.
Membakar dan membuat dirinya tak berdaya.
" Apa kau juga masih merindukanku?"
PLAK!
Tanpa di nyana, Claire spontan menampar wajah Sadawira demi teringat jika pria itulah yang membuat Demas dulu celaka. Pria yang pernah hadir di masalalu nya itu, tak lebih dari seroang penjahat yang tega menyerang keluarganya.
" Seharusnya kau membusuk di penjara!"
Sadawira seketika terlolong manakala menatap Claire yang kini berkata dengan penuh kebencian dan emosi yang tertahan. Mengabaikan rasa pipinya yang panas usai di tampar.
" Claire!"
" Aku membencimu Wira, aku membencimu!" teriak Claire dengan emosi yang meledak-ledak. Telah susah payah ia menghindari pria itu, tapi kenapa Tuhan malah mempermudah dirinya dengan Wira.
" Ibu!"
Teriakan Neo dari luar seketika membuat Claire panik.
" Aku ingin bicara!" seru Sadawira yang tak mempedulikan sayup-sayup suara Neo yang semakin mendekat.
" Lepas! Apa kau tuli?" eyel Claire mendorong tubuh Sadawira sebab ia ingin pergi.
"Ibu!"
Suara bocah tengil itu terdengar semakin jelas, menegaskan jika Neo berjalan semakin mendekat.
Claire semakin panik, tapi kunci pintu itu masih di bawa oleh Sadawira.
" Berikan kuncinya brengsek!"
" Katakan, apa Neo adalah anakku?"
.
.
__ADS_1
.