My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 159. Kasih itu memaafkan


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Dian menyusut hidungnya yang berlendir sampai berbunyi sruutttt! panjang sekali. Wisnu yang melihat langsung hal tersebut hanya tampak melirik dengan wajah nyaris tanpa ekspresi. Membatin dalam hatinya kenapa bisa ada makhluk unik begitu di antara dirinya.


Sementara mama Eka yang sedari dulu sudah klop banget dengan Dian, terlihat menepuk-nepuk pundak manusia langka itu memberi kekuatan. Macam panci yang bertemu dengan tutupnya. Saling melengkapi.


" Satu lagi bestie aku akhirnya udah sold out! Aku bahagia banget lihat mereka bahagia Tan!" kata Dian yang menangis penuh haru.


Mama Eka mengangguk. Sangat setuju dengan ucapan Dian. Si produsen ingus yang kerap bergonta-ganti warna rambut sesuai suasana hatinya.


Alih-alih turut larut dalam keharuan, Wisnu yang duduk di sebelah mamamya malah menjadi heran. Kenapa mamanya bisa se akrab itu dengan Dian? Kapan mereka bertemu?


Di sisi lain, awalnya Olivia memang tak mau datang. Tapi Edwin yang tak lelah berupaya, mampu meyakinkan jika kita terus bersembunyi, maka kita tidak akan bisa melihat sekaligus mendapatkan peluang. Peluang untuk sembuh, peluang untuk mendapatkan ganti, peluang untuk memperoleh hidup yang lebih baik.


Gadis itu akhirnya mau mengikuti saran Edwin. Pria yang semakin hari semakin membuatnya mengerti akan kehidupan dalam arti sebenarnya.


" Mau duduk di sebelah sana? Seperti makanan enak-enak!" tawar Edwin yang mengajak Olivia untuk menuju ke arah meja makanan daripada hanyut dalam kecanggungan.


Acara saat ini tengah di isi oleh sesi foto bersama keluarga secara bergantian. Mereka berdua dapat melihat jika saat ini Zayn dan Melodi sedang berfoto dengan para orang tua mereka.


Ada banyak sekali keluarga berusia paruh baya yang kini mendapat giliran terlebih dahulu untuk berfoto. Ucapan selamat tak hentinya mengalir untuk kedua mempelai.


Dan sesi selanjutnya, di isi dengan berfoto dengan para sepupu mereka lengkap dengan anak-anaknya. Deo dan Arimbi, Demas dan Eva, Claire dan Sada, Erik dan Wiwit, serta semua keluarga yang hadir.


Para sahabat, saudara bahkan rombongan Nino and friends semua kebagian sesi pemotretan. Mereka berdua memilih menepi di meja agak belakang agar tak terlalu terlihat. Namun rupanya Sadawira malah melihat mereka.


Claire yang melihat suaminya hendak pergi menuju meja yang penghuninya merupakan orang yang ia kenal seketika cemas. Takut kalau-kalau sesuatu yang tak di inginkan akan terjadi.


" Mas!" ucap Claire mencoba menahan suaminya. Ia tahu, antara suaminya dan Edwin masihlah belum seratus persen akur.


Tapi Sada malah melempar senyum paling menawan.


" Tenang saja. Aku tidak akan melakukan apapun!" jawab sang suami yang mengerti keresahan di mata istrinya.


Claire yang masih harap-harap cemas akhirnya membiarkan suaminya melangkah, sementara dirinya menunggu diatas kursi roda.


" Mau ngapain sih dia?"


-


-


Zara yang sudah selesai berfoto memilih menuju meja makan bersama para saudaranya karena perutnya sudah sangat lapar. Namun saat hendak mencomot sebuah cake incarannya, tak sengaja pilihannya itu malah sama dengan pilihan seseorang.


Zara menoleh. Dan membelalak lah matanya demi melihat seorang pria yang tadi ia jumpai mengetuk pintu kamarnya dan pergi dengan cara tidak sopan.


Oh ya ampun!


" Kamu! Ngapain di sini? " pekik Zara yang kesal dengan wajah tak ramah.


Pria itu memilih tak menjawab dan langsung mengindari Zara dengan cara memilih hidangan lain. Tapi sialnya, pilihan selanjutnya malah kembali sama.


Damned!


Membuat petugas yang ada di sana bingung.

__ADS_1


" Masalah mu ke aku apa sih? Kayak sengaja banget ya?" dengus Zara mulai kesal dengan tingkah pria kaku di depannya.


Tapi lagi-lagi, Wisnu memilih pergi menuju meja lain yang ada di sebelahnya.


" Heh sialan! Bukannya minta maaf malah pergi. Dasar tentara gadungan kurang ajar!" teriak Zara meneriaki Wisnu dan membuat Erik yang kebetulan melintas seketika shock.


" Eh eh eh, ada apa ini?" ucap Erik yang melihat perdebatan sengit antara adiknya dan gadis yang terlihat bersungut-sungut.


Bersamaan dengan itu, Deo dan Demas yang juga sedang menuju ke tempat makanan memicingkan matanya demi memerhatikan sosok gadis yang wajahnya kini berengut.


Namun Zara tak menjawab Erik. Gadis yang terlampau kesal terhadap pria bisu yang sibuk memiliki makanan itu langsung ngeloyor maju dan terlihat seperti merencanakan sesuatu


Sejurus kemudian,


" Minggir!" Zara yang kesal langsung menabrakkan pundaknya ke pundak kekar Wisnu. Membuatnya kesemuanya saling menatap.


" Hey Wis, ada masalah apa kamu sama adik iparnya Melodi?" tanya Deo yang menjadi sangat penasaran.


" Jadi dia adik iparnya mbak Melodi? Pantas saja wajahnya bukan seperti orang sini. Tapi dia lancar bahasa Indonesia." batin Wisnu yang malah tercenung usia mendengar ucapan Deo.


" Heh, malah diam!" gerutu sang kakak kepada sang adik yang malah melamun kala di tanyai mantan bosnya.


" Tidak tahu mas, biasa wanita!" jawab Wisnu tak mau ambil pusing. Laki-laki itu memilih meneruskan perjalanannya dalam mencicipi menu-menu lezat sebab perutnya sangat lapar.


" Emang ya. Yang satu Tante Eka banget, yang satu om Tomy banget!" seru Demas terkekeh. Mengomentari Wisnu yang kini pergi dengan wajah santai seolah tak terjadi apa-apa.


Erik hanya menyebikkan bibirnya. " Tapi anaknya Mama sepertinya bukan aku!" katanya nestapa.


"Lah, kok bisa?" balas Deo mulai tidak dong.


" Tuh! Lihat aja di sana! Udah nempel kayak pulut nangka aja. " tunjuk Erik ke arah Dian yang masih dekat dengan mama Eka yang heboh menggunakan dagunya.


Di lain pihak, Sada yang kini menemui Edwin terlihat benar-benar tak ingin membuat hubungan yang kacau. Pria itu malah menarik kursi di sebelah Edwin dan membuat pria itu sedikit terperanjat.


" Naiklah. Semua orang berfoto. Kau dan Olivia juga tamu penting disini!" kata Sadawira yang mematahkan segenap rasa ragu Edwin.


Olivia yang sedikit banyak sudah tahu tentang permasalahan Edwin dan Sadawira di masalalu kini menjadi ketar-ketir. Takut kalau-kalau keduanya bakal adu jotos.


" Tidak usah. Kami bisa di sini saja!" tolak Edwin dengan nada suara normal.


" No No, kalian sudah jauh-jauh datang. Semua harus ada dalam kenangan. Henry!" panggil Sadawira kepada anak buahnya yang bertugas menjadi groomsmaid.


" Ya Pak?" balas Henry sigap.


" Antar Pak Edwin bersama Bu Olivia ke pelaminan!"


Meski terkejut, tapi Henry langsung menyanggupi tanpa mendebat.


" Siap Pak!"


" Sada, ini tidak perlu. Kami..."


" Sudah lanjut saja. Kita bisa mengobrol setelah ini!" eyel Sadawira yang ingin membuktikan Edwin paham bila dirinya sudah melupakan segenap permasalahan yang pernah terjadi.


Di detik itu, Edwin yang untuk pertama kalinya melihat Sada mau tersenyum tulus kepadanya terlihat lega. Ia menoleh ke arah Olivia yang masih canggung.

__ADS_1


Tapi Henry buru-buru mempersilahkan mereka. Membuat Edwin akhirnya mau pergi menuju ketempat Zayn dan Melodi.


Sada tersenyum menatap ke arah dua orang yang terlihat semakin cocok itu. Merasa jika sepertinya takdir akan mempersatukan mereka.


" Aku kira mas tadi..."


" Mau nonjok dia?" sahut Sada sembari melempar senyum ke arah sang istri yang masih saja khawatir.


Claire mengangguk. Memang itulah kebenarannya.


" Kamu masih khawatir aja sama dia! Jangan-jangan kamu .."


" Mas!" pekik Claire yang tak setuju atas pramugari suaminya yang mulai tidak-tidak.


Sada sontak terkekeh saat istrinya terlihat mulai merajuk. Pria itu lantas mengecup kening sang istri penuh kasih. Sada ingin hidupnya kini hanya di isi oleh kabaikan dan kebahagiaan saja. Sama sekali tak mengizinkan segala bentuk penyakit hati tinggal apalagi bersarang di dalam dadanya.


Dan dengan memaafkan semua yang pernah bersalah kepadanya, ia yakin jika itu merupakan langkah awal untuk hidup bahagia.


Zayn dan Melodi yang melihat Olivia dan Edwin datang ke arah mereka mendadak mematung. Tapi Edwin segera menguasai situasi. Membuat suasana langsung mencair.


" Selamat Zayn. Semoga kalian selalu bahagia!"


Zayn menjabat erat tangan Edwin dengan senang hati. Merasa tersanjung sebab akhirnya mereka mau datang. Tanda jika hawa- hawa perdamaian mulai terjadi.


Edwin kemudian menjabat tangan Melodi dengan tatapan penuh kebahagiaan. Gadis itu juga turut tersenyum penuh rasa terimakasih.


" Terima kasih banyak sudah mau datang kak!" balas Melodi terlihat tulus.


Edwin mengangguk.


Kini tiba giliran Olivia menjabat tangan Zayn. Ternyata tak seperti yang dia takutkan sebelumnya.


Edwin yang tahu jika Olivia grogi, tiba-tiba meraih tangannya lalu menggenggamnya erat tangan kiri Olivia yang menganggur. Membuat segenap rasa keberanian untuk berucap akhirnya mau muncul.


" Selamat Zayn.Semoga kalian berdua selalu bahagia!" ucap Olivia terdengar bergetar.


Zayn berusaha menguasai diri. Ia tahu jika Olivia sudah banyak berubah.


" Terimakasih banyak Vi. Semoga kau dan Edwin segera menyusul kami!" balasnya sengaja menyinggung soal Edwin.


Tapi Olivia langsung tersipu malu. Membuat Melodi akhirnya paham. Sepertinya mereka berdua memang memiliki hubungan yang lebih serius.


Hingga, tibalah Olivia kini menjabat tangan Melodi secara langsung. Ini adalah kali pertamanya mereka bertemu dengan keadaan waras pasca insiden tempo hari.


" Mel. Maafkan aku!" kata Olivia yang malah memilih kalimat itu untuk membuka ucapan.


Tak masalah. Itu justru membuat Melodi merasa terharu.


Melodi yang di peluk seketika merasa dadanya sesak. Mata dan hidungnya kompak memanas demi mendengar getaran suara Olivia yang terdengar pilu.


" Semoga kau selalu bahagia bersama Zayn! Niskala kita sekarang berteman?" tanya Olivia yang merasakan kelegaan usai mengatakan hal itu.


Melodi kontan mengangguk. Merasa tak memiliki alasan untuk tidak memaafkan. Apalagi, ia pun sebenernya turut merasakan kelegaan yang luar biasa usai mendengar Olivia mengatakan hal sedih seperti itu tadi.


" Terimakasih banyak Vi kamu udah mau datang ke pestaku. Aku juga doakan kamu bisa segera nyusul ya, terus ganti ngundang kita!" kata Melodi tersenyum lepas. Menjadi penanda gugurnya benteng permusuhan yang selama ini tinggi menjulang.

__ADS_1


Olivia mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Ternyata bener yang dikatakan Edwin. Kasih itu memaafkan. Jika kita mau hidup dipenuhi kasih, maka kita harus memulai belajar untuk memaafkan.


Mereka berempat akhirnya berfoto bersama. Membuat siapa saja yang melihatnya tampak terkejut. Rival yang semula begitu mengancam, kini berubah malah menjadi kawan.


__ADS_2