
...🥀🥀🥀...
Bagi Neo, menjadi anak tanpa sosok Ayah sejak kecil tidaklah mudah. Teka-teki tentang siapa sebenarnya sosok Ayah pelengkap Ibu, yang menjadi standar paling umum dalam sebuah keluarga juga masih menjadi misteri.
Tak seorangpun mau menyingkap tabir, apalagi memberitahunya. Semua serba misteri dan membuatnya tak bisa mengerti. Buntu.
Apalagi, semenjak Opa mengatakan jika Om Edwin akan menjadi Ayah sambung bagi dirinya, pikiran bocah itu makin di jubeli ketidakmengertian. Ayah sambung? Kenapa harus ayah sambung? Kenapa tidak ayah asli atau apalah namanya.
Bukankah komposisi atau pemicu adanya dirinya di alam semesta ini harus ada ayah dan Ibu? Emak dan Bapak? Mama dan Papa?
Dan saat sosok tinggi tegap paling memikat hati pagi jelang siang ini datang, seketika mampu meruntuhkan kesedihannya yang belakangan ini cukup mengganggu.
Ia tidak tahu pasti, kenapa rasa nyaman, rasa terlindungi, dan rasa terpuaskan bisa ada manakala ia bersama pria bernama Sadawira itu.
Dan saat Oma dan Opanya datang, dia menjadi heran karena kenapa Paman malah buru-buru pergi. Padahal ia ingin memperkenalkan mereka satu sama lain.
Namun ia tak berdaya saat Oma memintanya masuk. Namun Neo tetaplah Neo, bocah yang memiliki keingintahuan lebih itu malah kabur dan menjadi kepo manakala Opanya turut keluar dan mencegah langkah Paman tampan.
Ada apa disana, apa Opa sudah mengenal Paman tampan? Benarkah? Bahkan dia belum memperkenalkan.
Namun sebuah suara yang tiba-tiba mampir ke telinganya saat ia di teriaki Oma untuk kembali duduk membuat atensinya terpusatkan.
"Cepat atau lambat, Neo pasti akan tahu jika saya memang lah ayah kandungnya!"
Membuat jantung kecil itu berdetak lebih kencang dari biasanya.
" Apa? Paman bicara apa tadi? Ayah kandung?"
Ia tak sempat memperhatikan kedua wajah pucat pria dewasa yang kini kesulitan dalam menelan ludah mereka masing-masing, sewaktu ia ingin meminta klarifikasi atas pernyataan yang baru dia dengar.
" Paman Ayah Neo?" desak Neo kepada Sadawira yang lidahnya tiba-tiba kelu.
" Jawab Paman. Paman tadi bilang apa?"
Bocah itu semakin mendesak dan tak memperdulikan Omanya yang menariknya untuk kembali masuk.
__ADS_1
" Neo. Cepat masuk, kita harus segera pergi!"
" Tapi Oma, Paman barusa..."
" Neo! Jangan bandel! Ikut Opa. Kita harus segera pergi!"
Sada dan Neo saling menatap. Meski sangat dan ingin, namun Sada benar-benar kalah dengan keadaan yang ada. Siapapun yang memulai, sebesar apapun keinginannya untuk mengaku, nyatanya apa yang akan dia lakukan tak semudah seperti apa yang pernah ia pikirkan.
" Paman!"
" Jawab Paman, huhuhuhu!"
Ia bahkan hanya bisa diam manakala suara tangis anaknya perlahan menjauh bersama dua wajah yang menatapnya penuh kebencian.
Sada menyadari telah salah mengambil keputusan. Namun sejujurnya ia hanya kesal kepada Leo yang terus saja menyudutkannya dan tak berniat memproklamirkan diri.
" Opa, apa Paman tampan ayahku? Jawab Opa!"
"Opa" rengek Neo yang benar-benar tak tahu harus mengadu kepada siapa lagi.
Dada Sadawira semakin sesak terhimpit suara Neo yang terus saja menangis meminta penjelasan sang Opa. Entah sudah berapa kali Sadawira menyusut sudut matanya yang basah.
Sada merasa kerdil lantaran kemampuan yang dipunya hanya menahan dan menahan. Ia bukan tak berani, tapi tentu jika ia nekat meneruskan, maka bisa-bisa yang terjadi bukanlah diplomasi yang baik, namun malah perkelahiannya yang bakal terjadi.
Ia tak mau melihat anaknya terbiasa dengan hal itu. Mengalah bukan berarti kalau. Hanya sebuah haluan untuk mengatur strategi lain.
Di hari yang sama, Claire dan Edwin yang akhirnya memilih baju di sebuah butik khusus pernikahan, mendaratkan pilihannya pada rancangan baju yang sudah jadi lantaran mepetnya tanggal pernikahan.
Tidak ada sesuatu yang sulit jika kita memiliki uang bukan?
" Kau sangat cantik. Kita tinggal tunggu Neo untuk memfixkan!" kata Edwin tersenyum senang.
Claire pun tersenyum mesti entah isi hatinya bagaimana. Kedua orangtuanya barusaja mengabari jika mereka sudah izin untuk membawa pulang Neo terlebih dahulu. Membuat mereka harus menunggu sebentar.
" Apa kau suka?"
__ADS_1
Claire mengangguk, " Gaunnya sangat cantik!" serunya mencoba mengisi kecanggungan yang kian menyeruak. Tak ingin terang-terangan dalam menunjukkan kegusaran hatinya.
" Dan akan semakin cantik jika kau yang memakainya!" puji Edwin menoel hidung Claire gemas.
Claire hanya tersenyum lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Benar-benar tak bisa menahan diri untuk mengelak. Edwin yang melihat reaksi canggung Claire nampak terdiam untuk beberapa saat. Entah apa yang sedang di pikirkan oleh pria itu. Terlihat seperti memikirkan satu hal dengan wajah kecewa.
Tak berselang lama rombongan yang mereka tunggu datang. Melodi tak hadir karena harus kembali ke Indonesia untuk menyelesaikan beberapa hal penting, yang musti dia eksekusi sebelum kakaknya menikah.
Apalagi, kerjasama dengan perusahaan Zayn membuat produksi barang-barang di pabriknya makin melesat naik. Wanita mandiri yang menjadi harapan Leo Darmawan itu kini menjelma menjadi wanita yang super sibuk.
" Ibu!" seru Neo dengan suara tak biasa.
Claire menoleh dengan risau sebab Neo berlari sembari menangis.
" Papa, ada apa ini?" tanya Claire menatap ke arah Papa Leo dengan tatapan menuduh.
Neo kian menyembunyikan wajahnya di balik punggung sang Ibu saat mendengar Ibunya mengintrogasi sang Opa.
" Keparat itu diam-diam menemui Neo di sekolah. Apa kau juga membiarkannya selama ini?" hardik Papa Leo tak bisa me menahan kesabaran. Membuat beberapa pegawai sampai tak jadi mendekat.
Kini Edwin semakin tahu penyebab wajah Leo yang terlihat keruh saat masuk ke dalam butik. Tangannya terkepal sebab rupanya Sadawira lah yang menjadi biang keladinya.
" Neo mendengar ucapan Sadawira!" imbuh Mama Bella meragu.
Claire memejamkan matanya sejenak. Cukup sudah. Ia mungkin bisa di tatar dan di atur. Tapi Neo adalah anaknya.
" Kalian lanjut saja. Aku akan setuju apapun pilihan kalian. Edwin, aku pulang dulu. Neo tidak ada mau diam kalau dia tidak aku tenangkan!" pamit Claire yang kecewa kepada sang Papa karena tak bisa membedakan situasi. Apalagi, Neo hanyalah anak kecil.
Leo masih menoleh dengan wajah kesal dan tak menjawab ucapan Claire. Edwin yang entah memikirkan apa hanya bisa mengembuskan napas panjang. Dan Mama Bella yang merasa pusing dengan semua yang terjadi memilih untuk menyetujui keinginan sang putri.
Claire pergi tanpa ada satupun orang yang mencegah. Edwin melanjutkannya menemani calon mertuanya memilih pakaian terbaik di kota itu meski ia sebenarnya kecewa dengan keputusan Claire yang malah meninggalkan kegiatan penting untuk acara mereka.
Setibanya di rumah, Claire menidurkan anaknya. Ia berkali-kali menghapus air matanya.
" Maafkan Ibu! Maafkan Ibu yang tak becus membuatmu bahagia Neo!"
__ADS_1
" Maafkan Ibu yang harus membuat kamu dan ayah kamu seperti ini!"
Tanpa sadar, bocah kecil yang tak benar-benar tidur itu kini membuka matanya manakala Claire telah pergi. Pikirannya kini resah. Kenapa Ibu menangis dan meminta maaf? Apa jangan-jangan yang di katakan Paman tampan itu benar?