My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 49. Bila waktu telah terhenti


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


" Woy, kenapa bengong?" senggol Zayn kepada Sadawira yang kini terpaku saat menatap Melodi yang semakin menjauh dari pandangannya.


" Dia juga membeli coklat?" tanya Sada memastikan kepada sahabatnya.


Zayn mengangguk, " Semoga dia gemuk setelah makan coklat itu. Kalau ada Andrew disini, bisa habis berdebat dia. Sayangnya aku dilahirkan tidak untuk mendebat orang lain!"


Sada hanya mencibir. Bilang saja tidak punya skill adu mulut. Begitu saja kok repot.


" Sudah berikan ini pada Neo. Aku tunggu kau di mobil. Pusing aku lama-lama karena wanita itu!"


Sada langsung terkekeh. Zayn terlihat lucu jika menggerutu soal perempuan. Hah, andai Andrew ada di sini.


Sada langsung kembali menuju ke arah depan untuk menyerahkan barang itu kepada Neo, sementara Zayn bergegas menuju basement.


Setibanya Sada di mejanya kembali, Neo tak henti menatap paper bag yang kini berada di tangan Sada.


" Katanya dari toilet. Kok bawa..."


Sada langsung tersenyum. Benar-benar anak yang super aktif.


" Ini untuk Neo. Maaf ya, tidak dapat coklat yang seperti biasanya! Tapi, paman jamin rasanya gak kalah juara!" seru Sada sembari menyeruak cokelat dengan hadiah mainan kelas sultan itu.


Membuat Neo terperanjat bahagia.


" Ini untuk Neo semua?"


Sada mengangguk tersenyum. Turut merasakan jalaran kebahagiaan kala melihat wajah sumringah Neo.


" Asikkk!!! Yee!!!"


" Ibu, paman baik sekali sama Neo Bu. Terimakasih ya Paman!"


Claire sejatinya merasakan nyeri pada hatinya saat melihat Neo sangat dekat dengan Sadawira, meski bocah itu belum tahu satu fakta besar.


Tapi keadaan selalu punya kenyataan bukan?Terlebih lagi, antara dirinya juga Edwin kini semakin terikat hubungan yang sangat serius karena dorongan orang tuanya.


Claire berpisah dan tak berani untuk pergi kemana-mana lagi. Sedari tadi ia sibuk berbalas pesan dengan Mamanya yang mengatakan jika barusaja Opa mengerang dan mengeluhkan sakit di bagian kepala dan dadanya.


Membuatnya sangat tidak tenang.


Setibanya dia rumah Opa, Claire terkejut karena adiknya tiba-tiba membukakan pintu untuknya dengan wajah tersenyum.


" Surprise!" seru Melodi merentangkan tangannya.


" Mel, kapan kamu datang? Katanya masih dini hari nanti?"


" Baru aja! Kelamaan nunggu besok. Aku bawa mobil sendiri!"


" Gila kamu. Papa bisa marah tahu!"


" Aman!"

__ADS_1


" Aunty!" teriak Neo yang melihat melodi baru selesai memeluk Ibunya. Membuat gadis tomboy yang sedikit demi sedikit memperbaiki penampilannya itu menoleh senang.


" Duh cayangnya aunty udah besar!" seru Melodi seraya menyongsong keponakannya dengan tangan terbuka. Ia memeluk lalu mencium pipi Neo penuh kasih sayang juga kerinduan yang membuncah.


" Keponakan aunty sehat-sehat kan?" tanya Melodi sesaat setelah ia melepaskan pelukannya, lalu beralih menatap Neo lekat-lekat.


Neo mengangguk, " Neo sehat. Mana oleh-olehnya ty?"


Melodi langsung tersenyum. Benar kan? Neo pasti langsung menanyakan oleh-oleh kepadanya. Untung saja dia tadi menang debat di mall.


" Oleh-oleh ada dong Aunty bawa coklat favorit kamu nih!" menunjukkan satu buah paper bag berisikan sekotak coklat besar.


" Wah ibu, aku punya dua coklat. Satu dari paman tampan, satu dari aunty, hihihi!" sorak Neo riang gembira karena mendapat hadiah coklat double.


" Paman tampan?" tanya Melodi tak mengerti.


Neo mengangguk, " Ini coklatnya!"


Melodi mengerutkan keningnya saat Neo menunjukkan paper bag yang sama dengan yang dia miliki.


" Kok paper bag nya sama?"


Membuatnya teringat akan kejadian beberapa waktu lalu, dimana dia terlibat perdebatan sengit dengan pria aneh tadi.


" Maaf ya cuman satu. Habisnya tinggal ini. Aunty belinya di mall Pakde tadi!" serunya lagi memberi penjelasan kepada Neo.


Membuat Claire membulatkan matanya karena terkejut setengah mati.


" Apa?" Claire langsung memekik.


" Ahhh aunty kangen banget. Kita buka coklatnya di kamar yuk!"


" Ayuk!"


Claire tertegun saat adik dan anaknya kini meninggalkan dirinya dalam kebisuan. Ia kini menjadi khawatir dan takut jika ia tak bisa menyembunyikan hal ini lebih lama lagi.


Apalagi, selain Sadawira yang kerap nekat mendekati Neo secara terang-terangan, Neo juga sering membahas soal Paman tampan yang jelas membuatnya semakin gelisah.


Claire berniat akan menuju ke kamar Opa untuk menengok kondisi Opanya. Keadaan yang fluktuatif benar-benar membuat semuanya kerap bergantian dalam berjaga.


Namun saat ia hendak membuka handel pintu kamar Opa Edi, suara teriakan Mamanya yang begitu merasa berhasil membuat jantungnya berdegup kencang.


" Papa!"


DEG!


Membuat seluruh penghuni rumah itu seketika keluar dan lari menuju ke kamar Opa. Bahkan Melodi yang baru sampai di kamarnya bersama Neo, kini kembali keluar demi mendengar teriakan Mamanya.


" Ada apa Ma?"


Claire seketika membuka pintu itu dengan keras. Matanya langsung mendelik demi menatap Mamanya yang menangis di sebelah Mama Jessika yang tampak sangat terpukul.


Papa Leo dan Papa David yang sepertinya barusaja berisitirahat kini tampak berlarian dengan wajah pucat karena kaget.

__ADS_1


" Ada apa ini?" tanya Papa David yang sudah sangat tegang.


" Papa mas, Papa..."


Mata Claire membulat demi melihat Opa yang wajahnya pucat dan tak bangun meski tubuhnya bolak-balik di guncang oleh Mama Jessika.


Mama Jessika terlihat menggeleng lemah dengan air mata yang bercucuran saat menatap ke arah suaminya. Menegaskan jika sesuatu yang berbau duka telah terjadi.


Claire spontan menutup mulutnya dengan mata yang mendadak mengabur. Ia semakin hanyut dalam dada yang pilu manakala melihat Papa Leo menubruk seraut pucat, yang sebagian tubuhnya mulai berubah dingin itu.


" Papa!!"


-


-


Sadawira menutup pintu mobilnya dan membuat Zayn kini melajukan mobilnya dengan tenang.


" Kemana?" tanya pria tampan itu sembari memasang seat belt.


" Kita pulang saja. Sepertinya kau butuh istirahat!" seru Sada sembari terkekeh.


Zayn mengangguk setuju. Ia masih sangat kesal akibat perdebatannya tadi. Dan saat Sada mengatakan jika ingin pulang, tentu membuatnya sangat senang.


Beberapa jam kemudian.


Sada barusaja melempar punggungnya ke sandaran sofa sembari menyalakan remote televisi manakala ponselnya tiba-tiba meraung-raung.


Ia bahkan tak sempat mengganti Chanel musik Indonesia yang malam itu tayang di televisi religi.


" Boni? Ada apa lagi?" bergumam sebab ia tak menugaskan apapun kepada Boni malam ini.


" Ya Bon, ada apa?" tanya Sada saat teleponnya telah tersambung.


" Bos, apa anda sudah mendengar kabar?"


" Kabar apa Bon?" kembali bertanya sebab suara Boni terdengar tegang.


" Tuan Edi Darmawan meninggal dunia!" kata Boni dengan napas yang terdengar menggebu-gebu.


Suasana seketika hening. Sada langsung menatap nanar ke arah foto kakaknya yang sudah meninggal dengan mata yang tiba-tiba mengembun, bersamaan dengan bunyi reffrein lagu di dalam televisi yang kini mengalun merdu.


🎶


" Bila waktu telah terhenti, teman sejati tinggallah sepi...."©


.


.


.


.

__ADS_1


Keterangan :


© : Diambil dari lirik lagu Opick Bila waktu telah memanggil.


__ADS_2