
...🥀🥀🥀...
Hari berganti hari, seolah waktu akan berlari... Kejar sesal di hati...
Seandainya ku dapat mawas diri...
Kini ku tak kan menyesali...
( Diambil dari lirik lagu Tersanjung ~ Retno. S)
-
-
Malam ketiga Neo berada di rumah sakit situasinya makin menyesakkan dada. Bocah yang masih lemah itu benar-benar marah dengan Claire yang tak bisa menghadirkan Paman tampan.
Meski telah berkali-kali di jelaskan bila Claire tak jadi menikah dengan Edwin, namun bocah itu masih saja merajuk. Ia hanya ingin bertemu Paman tampan, kenapa semua orang sulit mengabulkannya?
Papa Leo kini bahkan harus menelan buah dari keegoisannya, sebab Sadawira benar-benar seolah lenyap dari peradaban. Hilang di telan bumi.
Malam itu, Deo dan Arimbi datang untuk kesekian kalinya setelah Demas bersama istri pulang. Mereka bergantian dalam menemani Claire. Kedua pasutri itu juga sepakat tak membawa anak-anak ke rumah sakit dan membiarkan mereka bersama kakek dan neneknya.
Masalah yang di hadapi Claire tak pelak membuat satu keluarga itu stay lebih lama di Atana. Apa mau di kata, mereka mulai merasa jika Papa Leo terlalu keras kepada Claire.
Semula saat mereka tak menyaksikan betapa Neo membutuhkan laki-laki itu, mereka tak terlalu memusingkan apa yang menjadi alasan kediktatoran Papa Leo. Namun semua itu berubah manakala Neo yang kini harus menderita karena keegoisan sang Opa.
" Kau terlihat makin kurus. Kau harus makan Claire. Ayolah, makan walau hanya sedikit!" seru Arimbi yang menatap iba sang adik.
Claire menggeleng. Selera makannya telah menguap bersama kabar menghilangnya Sadawira secara misterius. Dan rumitnya, Neo yang sudah siuman terus saja mencari sosok Sadawira.
" Aku tak selera makan kakak ipar. Bagiamana aku bisa makan sedangkan Neo bahkan tak mau menoleh kepadaku!"
Kini dia tak hanya bingung. Namun sekarang, mereka semua seakan menemui jalan buntu karena jiwa Neo rupanya benar-benar terguncang.
Deo menatap muram adiknya. Ia sebenarnya diam-diam juga meminta orang untuk mencari Sada. Bahkan semalaman ia gencar membujuk Om Leo namun segala upayanya belum membuahkan hasil.
__ADS_1
Kesemua orang yang ada di sana utamanya Claire, sama sekali tak menduga jika reaksi yang di tunjukkan oleh Neo kini membuat semua orang yang masih ada di sana panik dan kalang kabut.
Claire juga sudah berusaha menelpon nomor pria itu namun sepertinya sang empunya sudah mengganti nomor ponselnya. Claire juga sudah berkali-kali mendatangi kantor Sada namun jawaban yang dia dapat sama.
" Pak Sada sudah tak ada di kantor Bu!"
" Beliau tidak ada Bu!"
" Pak Sada tidak masuk Bu!"
Dan jawaban yang ada sepertinya sudah di rencanakan. Claire makin frustasi karena sang anak lagi-lagi harus di selang karena sama sekali tak mau makan. Keadaan menjadi makin kacau balau.
" Lakukan saja yang terbaik dokter. Jangan memberi saran yang aneh-aneh!" gertak Papa Leo yang sebenernya juga sudah mulai ketakutan.
Lagi-lagi, semua orang hanya bisa diam melihat kekeraskepalaan Papa Leo.
Dan di hari keempat ini, kesemua orang kembali berkumpul sebab kondisi Neo makin buruk. Bocah itu benar-benar tak mau diajak kompromi. Neo terus saja menangis dan mencari Sadawira dengan tubuh yang berangsur-angsur kurus.
" Maaf tuan. Tanpa mengurangi segala rasa hormat, tapi segala upaya medis akan semakin optimal apabila di dukung dengan upaya lain dari keluarganya pasien. Saran saya datangkan saja orang yang di cari anak tersebut. Hal itu akan baik bagi psikologi anak!"
Leo langsung mendecak demi mendengar penuturan dokter senior di rumah sakit itu. Jika begini kasusnya, ia yang justru akan menelan ludahnya sendiri. Tapi menatap sang cucu yang tergolek lemah, jela bukankah hal yang dia inginkan.
Papa David bersama Mama Jessika yang geram akhirnya memanggil Papa Leo berserta sang istri ke dalam ruangan.
" Apa kau puas? Sekarang kau bisa lihat sendiri Leo!" seru Papa David yang batas kesabaran nyaris habis.
" Apa maksudmu bang?"
" Sedari dulu aku mengingatmu. Tapi kau sama sekali tak merespon ucapanku. Fine, Claire adalah anakmu. Kau yang lebih berhak mengaturnya. Aku diam karena masih bisa menahan dan tahu batasan. Tapi melihat Neo seperti itu, rasa di dalam dadaku benar-benar sakit Leo. Sekarang kau harus memilih, kredibilitas perusahaanmu, atau nyawa cucumu!"
Deg!
-
-
__ADS_1
Melodi yang tak tahan dengan semua yang terjadi, akhirnya memilih pergi tanpa pamit. Ia harus bisa mencari keberadaan Sadawira bagiamanapun caranya, harus.
Dan tentu saja, pilihan pertama yang dia tuju adalah, Zayn.
" Apa kau gila? Aku benar-benar tidak tahu!" sergah Zayn yang tak menduga Melodi akan seberani itu untuk datang ke kantornya dan memaksanya memberikan informasi dengan cara seronok soal keberadaan Sadawira.
Melodi tersenyum smirk demi melihat Zayn yang beringsut mundur karena ketakutan.
" Aku tidak mau basa-basi. Aku bisa memberimu sekarang, tapi cepat katakan dimana Wira berada!" seru Melodi dengan nada erotis yang membuat kuduk Zayn berdiri.
Zayn terus beringsut mundur dengan wajah ketar-ketir demi melihat Melodi yang sudah membuka tiga kancing kemejanya, dengan keadaan buah dada menyembul yang membuat Zayn berkali-kali meneguk ludahnya.
Damned!
" Sudah ku bilang. Sejak empat hari yang lalu, dia tak lagi menghubungiku!" eyel Zayn kali ini dengan fokus yang buruk. Pria itu benar-benar tak bisa berkonsentrasi sebab sesuatu di bawah sana justru terkandung untuk menjawab.
" Benarkah?" seru Melodi kali ini menekan tubuhnya ke atas tubuh Zayn yang sudah mentok ke sofa dengan sensasional. Yeah!
Entahlah, Melodi benar-benar sudah kehabisan cara untuk bisa membuat Zayn membuka mulutnya. Meski sebenarnya Melodi jijik dengan dirinya sendiri, tapi demi Neo apapun akan dia lakukan. Termasuk mendramatisir keadaan sesempurna ini.
" Atau...kau benar-benar ingin aku..."
Zayn memaki dalam hati. Menyesali joninya yang kini malah bangkit karena melihat sembulan buah dada yang ranum dan padat berisi milik Melodi.
Sial!
Dan saat Melodi sudah akan mencengkeram kejantanan milik Zayn, pria yang sudah ketakutan setengah mati itu akhirnya menyerah.
" B- baiklah. Ta- tpi tolong turunlah dulu!" menjawab bahkan sampai tergagap-gagap sebab ia takut jika Melodi akan tahu bila di bawah sana sudah ada yang berdiri tegak, tapi bukan keadilan.
Melodi tersenyum licik. Sepertinya dia berhasil. Tak sia-sia dia melakukan tindakan yang paling menggelikan ini.
" Kalau begitu cepat katakan!"
Zayn menelan ludah. Lagi-lagi fokusnya kembali pada buah dada yang mendayu-dayu minta di sentuh itu. Oh sial, kenapa dia justru kalah dengan makhluk agresif sih?
__ADS_1
" Dia ada di..."