
...🥀🥀🥀...
Selama beberapa hari ini, Nick bekerja dengan penuh ketelitian dalam menangani tes DNA yang dilakukan oleh teman baiknya, Sadawira.
Dan puncaknya, siang ini ia telah merampungkan apa yang di amanatkan oleh temannya itu dengan sangat baik. Ia bahkan concern pada hal ini sebab ia tahu bila Sadawira memang sedang menunggu.
Ia paham bagaimana perasaan Sadawira. Pria berkulit bersih itu juga merasa kasihan dengan Sadawira yang ternyata memiliki kisah masalalu yang sangat complicated.
Nick memilih metode paling cepat dengan turut mengambil DNA rambut beserta akarnya milik Sada guna pencocokan. Pria itu juga berkolaborasi dengan team ahli guna mempercepat proses identifikasi.
Hal itu dipilih karena setiap individu memiliki DNA yang unik sebagai penentu karakteristik fisik, serta membawa sifat yang diturunkan dari ayah maupun ibu.
Selain itu DNA tidak berubah selama kehidupan.Jadi apapun hasilnya, maka itulah yang sebenar-benarnya terjadi. Mutlak dan tak bisa lagi di bantah.
Zayn bersama Andrew kebetulan sudah datang terlebih dahulu. Mereka tak menanyakan apapun kepada Nick sampai Sadawira datang. Mereka paham, bahwa meski mereka sangat ingin tahu, tapi Sadawira lah yang berhak membuka amplop itu terlebih dahulu.
Hingga, saat ketiganya yang baru saja selesai memesan makanan dan minuman, di kejutkan dengan kemunculan Sadawira yang pasti melakukan perjalanan dengan ngebut.
" Nick!" sapa Sadawira dengan suara yang begitu ngos-ngosan.Terlihat sangat tidak sabaran.
" Duduklah dulu. Astaga kau ini sudah seperti di kejar setan!" tukas Andrew yang masih terkejut.
Tapi Sada tak menggubris ocehan Andrew. Ia langsung menatap Nick seolah ingin segera meminta jawaban.
" Apa hasilnya?" tanya Sadawira semakin tak sabar. Membuat Nick langsung menyerahkan sebuah amplop berisikan dokumen penting itu.
" Bukalah. Kau sendiri yang harus membacakannya untuk kami!" jawab Nick dengan sorot mata yang tak terbaca.
Maka tangan kekar itu dengan cepat meraih lalu membuka amplop putih, guna mengambil secarik kertas penting yang ada di dalamnya.
Mr. Sadawira....
Sada meneguk ludahnya manakala membaca baris demi baris kata-kata yang terdiri dari hasil presentasi genetik yang tercetak runtun pada lembaran A4, dengan dada berdebar.
Menerangkan jika...
Mata tajam itu semakin tak melepaskan kata demi kata yang kini semakin mendebarkan.
Sesuai dengan hasil pemeriksaan, bahwa Neo...
Zayn dan Andrew serta Nick turut menggigit bibirnya demi melihat mata Sada yang kini telah basah.
" Terimakasih Tuhan!" ucap Sadawira dengan suara yang teramat bergetar. Membuat ketiga laki-laki itu menatap wajah Sadawira dengan penuh rasa haru.
-
-
Neo yang di siang ini baru bangun dari tidurnya merasa terkejut. Ia tidak tahu kemana Ibu dan semua orang pergi. Kenapa dia hanya berada di ruangan Opa sendirian.
" Opa buyut, dimana Ibu?" tanya Neo dengan suara parau dan wajah yang sudah ingin menangis.
Opa Edi yang sedari tadi terjaga seraya menatap wajah polos Neo sedikit tergeragap. Tak menyangka jika Neo akan bangun secepat itu.
__ADS_1
" Kau sudah bangun nak? Ibumu sedang ke bandara mengantar om Edwin!"
Neo langsung cemberut, kenapa selama di Indonesia Neo malah sering di tinggali Ibunya sih?
" Opa kapan pulang? Kenapa tidur di sini terus? Neo bosan!" rajuk Neo yang tak bisa menyembunyikan perasaannya yang memang jenuh.
Pria tua itu tersenyum menatap bocah berambut hitam yang menunjukkan wajah kesalnya.
" Opa akan pulang sebentar lagi!"
" Opa akan pulang!"
Namun Neo malah memilih diam, ia masih sangat kesal pada semuanya. Meski saudara sepupunya sudah datang setiap hari, tapi dia rindu dengan seseorang. Orang yang selalu tak boleh di sebut oleh Ibunya.
Opa Edi yang melihat Neo selalu membawa sebuah robot itu kemana-mana, kini iseng bertanya.
" Mainannya bagus, siapa yang belikan? Pasti om Edwin ya?" tebak Opa Edi dengan wajah pucatnya.
Neo langsung tersenyum saat Opa buyut mau membahas mainan superheronya. Meski, tebakannya salah.
" Keren kan Opa, ini namanya Thor. Ini bukan dari Om Edwin. Tapi dari paman tampan!"
" Paman tampan?" tanya Opa Edi dengan kedua alis yang sudah menyatu. Penasaran dengan sosok yang di ucapkan oleh cicitnya itu.
Neo mengangguk bangga, " Iya paman tampan. Paman tampan yang katanya wajahnya mirip banget sama aku, hihihi. Aku berarti tampan kan Opa buyut?"
" Oh ya, memangnya siapa dia?"
CEKLEK!
" Loh cucu Oma ternyata sudah bangun. Kenapa cepat sekali?"
Ucapan Neo menguap bersamaan saat Mama Bella membuka pintu. Opa Edi turut melempar senyum saat menantunya datang.
" Oma, kenapa Ibu mengantar pergi Om Edwin?" Neo bertanya sebab kenapa harus Ibunya yang mengantar. Kenapa tidak Pakde Deo, atau Pakde Demas?
Mama Bella duduk seraya mengusap punggung mungil Neo.
" Kamu pasti akan senang setelah ini!" jawab Mama Bella dengan lembut.
Membuat Neo bingung.
" Senang kenapa Oma?"
" Om Edwin bakal jadi ayah kamu sebentar lagi!"
DEG
Neo tercengang. Menjadi Ayah? Bagiamana bisa? Kenapa tiba-tiba? Kenapa Ibu tidak memberitahunya?
" Ayah?" ulang Neo memastikan dengan wajah kecewa.
Mama Bella mengangguk sembari tersenyum.
__ADS_1
" Om Edwin orang yang sangat baik. Dia pasti juga akan menjadi Ayah yang baik buat Neo!"
Tapi Neo mendadak merasa tak senang dengan apa yang dia dengar.
" Bagaimana caranya Om Edwin bisa jadi ayahku Oma? Aku kan..."
" Om akan menikah dengan Ibumu!"
...----------------...
Hati Sadawira sepanjang perjalanan diliputi oleh kebahagiaan. 100% hasil pemeriksaan itu benar menerangkan jika ia merupakan ayah biologis dari anak bernama Neo.
Uhuy! Benar-benar kabar yang patut di rayakan.
Ia bahkan kembali ke kantor dengan wajah dan aura yang begitu cerah. Membuat atmosfer di seluruh penjuru kantor terasa lebih tenang.
" Si bos baru dapat jackpot kayaknya. Tuh lihat, jadi ikutan senyam-senyum nih!" kata Janu yang senang saat melihat bosnya kembali ceria.
Namun belum juga Sada masuk dan menduduki singgasananya, ponsel yang berada dalam kantongnya tiba-tiba bergetar.
Rupanya Boni. Pas sekali pikirnya.
" Ya Bon?" jawabnya senang sebab hatinya masih diliputi oleh kebahagian.
" Gawat bos!" jawab Boni ragu-ragu. Membuat air muka Sadawira yang semula ceria kini berubah menjadi sangat serius.
" Gawat kenapa?" tanyanya sembari mulai membuka pintu ruangannya.
" Perawat yang menjadi mata-mata kita baru mengatakan jika nona Claire dan pria itu baru melangsungkan pertunangan di hadapan tuan Edi!"
" Apa?" pekik Sadawira penuh keterkejutan.
Rahang yang terlihat kokoh itu mendadak mengeras bersamaan dengan rasa dada yang tiba-tiba bergemuruh. Apa-apaan ini?
Ia barusaja mendapat fakta dan bukti otentik soal siapa Neo sesungguhnya. Tapi berita yang barusaja di sampaikan oleh Boni, benar-benar menyulut kemarahannya.
" Dollar!"
" Dollar!" teriak Sadawira dengan deru napas yang mendadak tidak stabil.
Yang di panggil seketika tergopoh-gopoh. Baru saja mereka berlega hati sebab suasana bosnya seperti sedang baik, tapi sepertinya kelegaan mereka bersifat tak kekal.
" Ya bos ada apa?" tanya Dollar dengan wajah yang sedikit ketar-ketir.
" Siapkan aku tiket ke Indonesia. Cari penerbangan yang paling cepat!"
Dollar mendelik. Ke Indonesia? Kenapa bosnya tiba-tiba memintanya untuk menyiapkan tiket menuju negara yang selama ini paling Sadawira hindari?
.
.
.
__ADS_1