My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 17. Jalaran rasa tentram


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Sadawira pasti sudah gila. Pria itu di jam sepagi ini meminta Dollar untuk membelokkan mobilnya ke sekolahan, dimana ia ingin memberikan buku-buku dan alat tulis yang barusaja ia beli.


Bahkan anehnya, Sada membeli barang itu saat tak ada momentum apapun. Sungguh sulit di percaya.


" Mampir beli itu dulu Di sebelum kita ke pabrik!"


" Buat apa Pak?"


" Buat anak-anak!"


Begitu kata Sadawira manakala melihat sebuah toko buku yang buka di jam sepagi itu. Sungguh membuat tanda tanya besar kini timbul di kepala pria kocak itu.


" Kenapa setiap hari harus membawa barang-barang seperti ini Pak? Bapak baik-baik saja kan?" tanya Dollar tanpa tedeng aling-aling yang keheranan dengan sikap bosnya, yang kini berubah total sejak memproklamirkan diri sebagai donatur di sekolah lawas itu.


Membuat yang di tanya langsung mendengus sebal saat Dollar lagi-lagi melempar pertanyaan yang mengindikasikan bibit-bibit si pembangkang.


" Bukannya bagus kalau setiap hari saya ngajak kamu kesini, kamu jadi bisa bertemu dengan dokter cantik itu kan?" sindir Sadawira yang sebenarnya ingin menjitak kepala pria muda bermulut kurang ajar itu.


Beraninya!


" Akhirnya anda mengakui jika Jenny adalah wanita yang cantik pak!" jawabnya terkekeh-kekeh sebab belingsatan.


" Kamu ini!" mendengus sebal sebab Dollar ini benar-benar definisi dari pegawai tak tahu diri. Tapi anehnya, Sadawira benar-benar tak bisa marah dan cenderung suka dengan kekonyolan Dollar.


Setibanya mereka di halaman sekolah, para guru lagi-lagi dibuat kalang kabut manakala melihat pria yang setiap datang selalu tampak bersinar itu datang menuju ke kantor guru.


" Pak Sada!" sapa ibu kepala sekolah yang kini menduga-duga, ada hal penting apa yang membuat pria itu kembali datang di jam sepagi ini.


" Saya cuman mau ngantar ini!" kata Sada menunjukkan buku-buku baru serta alat tulis yang kini di angkut Dollar secara bolak-balik.


Dan tentu saja, sikap Sadawira ini tak pelak membuat guru-guru itu keheranan.


" Untuk anak-anak. Bagikan saja!" kata Sadawira yang akhirnya memecahkan aura pucat para guru akibat kebingungan.


" Astaga Pak, terimakasih banyak sekali lagi. Sebenarnya... Pak Sada tidak perlu melakukan ini setiap hari Pak!" tutur Ibu kepala sekolah yang tak enak hati sebab Sadawira terlalu sering memberikan sesuatu kepada mereka.

__ADS_1


Dan saat ia masih memantau para guru yang tengah memasukkan buku-buku itu, tanpa di nyana suara familiar seorang bocah kini terdengar mampir ke telinganya.


" Paman tampan?" sapa Neo yang terlihat senang namun langsung di tegur oleh ibu guru sebab dinilai tidak sopan.


" Neo, jangan begitu Nak. Panggil beliau Pak donatur, kau mengerti!" kata guru yang langsung menasihati Neo sebab tentu saja merasa sangat takut. Mengingat Sadawira adalah orang penting dalam lingkup sekolah itu.


Neo langsung tertunduk takut sementara Sadawira hanya tersenyum maklum. Maklum kepada sang guru, juga maklum kepada Neo.


" Maafkan anak-anak Ya Pak?" kata ibu guru itu dengan wajah sungkan sebab Neo memanggilnya dengan sapaan yang dinilai kurang ajar.


" Tidak apa-apa. Saya memaklumi!" balas Sadawira kalem dan akhirnya membuat guru tersebut undur diri sebab sebentar lagi merupakan jadwal masuk.


" Maafkan saya Paman!" kata Neo tertunduk layu usai di tegur oleh Ibu guru. Mukanya langsung muram.


Namun tanpa di duga, Sadawira kini malah berjongkok guna menyamakan tingginya dengan posisi Neo. Membuat bocah bermata jernih itu kini menatap Paman tampan dengan wajah bingung.


" Kau bisa memanggilku sesuka hatimu dengan panggilan apapun. Tapi...kalau ibu guru tidak ada. Ini rahasia, bagiamana?" tawar Sadawira yang mengajak bocah itu berdiplomasi secara rahasia.


" Benarkah?" jawab Neo riang dan penuh ketertarikan.


Sadawira mengangguk dengan wajah meyakinkan. Membuat Neo tampak senang.


Bunyi bel pertanda masuk membuat percakapan keduanya harus terpungkasi dengan segera.


" Aku masuk dulu ya Paman!"


Pria tampan itu kembali mengangguk, " Belajar yang benar ya!" katanya sembari mengusap puncak kepala Neo.


Namun tanpa di duga, bocah itu tiba-tiba menghentikan langkahnya lalu berbalik.


" Emmm Paman?"


"Ya?"


" Apakah Paman setiap hari datang kesini?" tanya bocah itu yang mempertontonkan sebuah harapan.


" Apa kau ingin bertemu denganku?" tebak Sadawira tersenyum.

__ADS_1


" Apa boleh, kita masih teman kan?"


Maka hati Sadawira seketika menghangat manakala melihat senyum cerah yang terbit di wajah berisi itu.


" Tentu saja. Kita teman!"


Dan diluar dugaannya lagi, bocah berambut lurus itu seketika berlari dan memeluk Sadawira seraya tersenyum.


" Paman harus kenal Ibu. Biar Paman bisa main ke rumahku!"


Dan entah kenapa, saat melakukan hal seperti itu, hatinya tiba-tiba menjadi tentram, tenang dan damai.


"Neo!" panggil ibu guru yang ketar-ketir sebab merasa Neo sedikit merepotkan Sadawira.


" Sudah sana masuk. Kita jumpa lagi besok ya?"


Bocah itu mengangguk lalu berlari melesat menuju kelas, meninggalkan Sadawira yang masih bergumul dengan perasaan aneh.


" Itu bocah yang bikin saya repot kemarin Pak?" kata Dollar yang sekonyong-konyong tiba dari arah timur yang entah sejak kapan.


Membuat Sadawira seketika menatap kesal pegawainya yang limited edition itu.


" Repot apa?" tanya Sada dengan nada ketus cenderung kesal.


" Mak-maksud saya, yang kemarin kasih gambar bagus itu ke Pak Sada. Yang happy Father's day!" ucapnya kocak sembari menyuguhkan senyum konyol agar bosnya tak merajuk.


" Kamu ini!" masih mendengus.


" Eh Pak, tapi...kok kalau dilihat-lihat, wajah anak itu mirip sama foto yang di tunjukkan Nino kemarin ya?"


" Foto apa?"


" Itu..., saya lihat foto anak kecil yang di pajang Nino di ruang tengah rumah Pak Sada. Eh iya Pak, itu beneran mirip Lo. Apa jangan-jangan, anak itu perwujudan reinkarnasinya Pak Sada?" tebak Dollar asal.


" Ngawur aja kamu. Reinkarnasi... reinkarnasi, kamu pikir aku sudah mati!" Mendengus sebal dan membuat Dollar kembali meringis karena ia telah salah ngomong.


"Ya maaf Pak. Soalnya... mirip banget Pak. Bukan saudara bukan apa, tapi wajahnya bagai pinang di belah dua!"

__ADS_1


Membuat Sadawira tertegun demi mendengar ucapan Dollar barusan sebab sejatinya ia juga sangat heran akan hal itu.


__ADS_2