
...🥀🥀🥀...
POV Edwin
Aku menyukai wanita itu sejak pertemuan pertama. Meski sempat berpikir buruk di awal, namun dari kisah yang didengar rupanya menegaskan bahwa dia tak lebih dari sekedar wanita nestapa.
Probabilitas pertemanan yang akhirnya terjalin nyatanya mendatangkan satu perasaan yang sulit di tepis. Aku jatuh cinta padanya dan segala kekurangannya.
Tapi meyakinkan seorang Claire rupanya tak mudah. Aku bahkan menunggu bertahun-tahun dan itupun karena satu bantuan. Dari keluarga.
Kami berhubungan baik. Meski sinyal kuberikan tak kunjung mendapatkan respon. Wanita berhati mulia itu pernah mengutarakan jika dia malu dengan kondisinya. Itu juga yang menjadi alasan dirinya memiliki pergi dan tinggal di luar negaranya.
Semula aku memberanikan diri untuk nekat. Walau memang sejak awal aku memang mencium bau ketidakmauan dari sikap Claire. Tapi cintaku yang menggebu-gebu mensugesti alam bawah sadarku untuk terus maju.
Bahkan tanpa aku nyana, dorongan kuat dari keluarga Claire seolah membuatku terbang. Aku merasa tiketku menjadi menantu di keluarga itu terbuka luas. Om Leo dan Opa menyetujui.
Namun sayangnya, asa yang menggelegak tak berbanding lurus dengan kenyataan yang ada. Tak pernah aku sangka bila pria tampan yang menjadi favorit Neo yang di kabarkan merupakan seorang Donatur sekolah bocah itu ,tak lain merupakan orang yang menghamili Claire.
Dadaku sesak di himpit kenyataan. Hatiku nyeri tak terperi demi mengingat bila malam dimana Claire mendapatkan teror, mereka habiskan berdua.
Lebih-lebih, keesokan harinya aku mendengar dengan telinga ku sendiri, bila pria bernama Sada itu merupakan pria yang menghamili Claire. Satu kebodohan yang selama ini tak aku sadari, membuat semuanya tampak lain.
__ADS_1
Dan dari pengakuan paling mengejutkan itu, aku bahkan merasa di curangi. Apakah Claire sengaja menyembunyikan hal ini karena masih mencintai pria itu?
Tidak, aku tidak boleh membiarkannya hal itu. Aku makin mendekatkan diri kepada Om Leo dan keluarganya. Berharap semua yang aku harapkan terwujud sebab aku pikir seiring berjalannya waktu, Claire bisa dan dapat meneropong jauh masa depan yang beriringan dengan permintaan sang Papa.
Tapi ternyata, sebuah kenyataan akhirnya menghimpit dadaku hingga kembali sesak. Claire semakin sering menunjukkan gelagat yang kian parah.
Ciuman penolakan sebanyak dua kali sebenernya belum menjadi ancaman untukku. Tapi di malam di mana aku mendengar sendiri permintaan menyakitkan dari mulut Claire, di situlah muncul satu rasa aneh. Aku goyah. Bimbang. Ragu.
Dan aku meyakini hal itu pasti menjadi cikal bakal pertengkaran di keluarga mereka. Aku lantas meminta orang untuk mencari informasi terbaik mengenai Sadawira.
Malamnya aku kembali kerumah. Menatap wajah Mama yang lelap. Pernikahan ada di depan mata, tapi kebimbangan makin menyerang. Tidak, mungkin aku hanya merasakan dampak langsung akibat mendengar pertengkaran itu.
Namun hingga jelang dini hari, kantuk tak juga menyerangku. Tak apa, mungkin cinta harus mulai dari paksaan dulu. Lagipula, bukankah ada pepatah yang mengatakan bisa cinta karena terbiasa?
Tapi hingga saat aku duduk di kursi jelang pengambil sumpah pernikahan, aku bisa melihat kilatan ketidaknyamanan yang di tujukkan Claire kepadaku. Menyakitkan dan membuat segerombol keraguan kian menggoyahkan aku.
Aku panik, risau, cemas dan dirundung ketidaktenangan.
Bayangan penolakan Claire terhadap ciumanku tiba-tiba menari-nari diatas kepalaku. Pertengkaran semalam juga seolah membuatku tak dapat membuka mulut. Dan pesan dari seseorang yang ku tugaskan semalam, yang pagi ini mengirimkan satu bukti benar-benar tak bisa aku tepiskan.
" Mereka pernah bertemu di satu tempat. Bersama anak kecil!"
__ADS_1
Brengsek!
Jelas selama ini dia hanya memburu fatamorgana.
Bagiamana ini? Apakah masih bisa aku lanjutkan? Kenapa tiba-tiba serentetan hal itu berjubel di otak dan membuatku marah?
Mulutku terkatup, dan lidahku tercekat. Sama sekali tak bis menikmati keadaan seperti para orangtua yang nampak berseri-seri. Bahkan saat aku memuji kecantikan Claire, wanita itu kerap memalingkan wajahnya.
Aku ternyata tak sekuat yang aku pikir.
Aku lantas mengeluarkan kalimat yang berisikan pembatal. Ya, aku membatalkan pernikahan yang sudah ada di depan mata. Padahal hal ini adalah hal yang sudah aku tunggu-tunggu.
Aku tak sanggup. Aku meragu.
Dan entah mendapat keberanian dari mana, aku bahkan membantah ucapan seorang Leo Darmawan yang terlihat berang bukan main.
Ya, aku tak menyangka bila aku akan seberani itu pada sosok yang selama ini aku hormati. Aku hanya ingi semua orang tahu, bila aku juga manusia yang juga ingin di hargai perasaan serta keberadaannya.
Dan sikap Claire padaku yang parah, jelas menegaskan jika wanita itu tak memberikan keduanya.
Bahkan di saat pernikahan telah di batalkan, aku masih melihat kilatan ketidaksetujuan dari mata Claire. Dia memang bukan untukku.
__ADS_1