
...🥀🥀🥀...
Kenyataan yang di gadang-gadang akan menjadi lebih baik, nyatanya kini menjadi semakin runyam saja. Bagiamana tidak, berbagai desakan dari berbagai arah kini perlahan membuka hati Claire gelisah.
Opa sudah bisa tidur lebih tenang usai mengumpulkan anak cucunya. Mungkin karena kerinduan dirinya sebagai orangtua yang tak bisa selihai dulu karena keterbatasan usia lah yang menjadi alasannya.
Apapun itu, Claire akhirnya bisa bernapas lega sebab meski kini ganti dirinya yang mumet, namun kesehatan opanya nyatanya menjadi lebih baik.
" Opa sehat-sehat ya, nanti Claire bujuk Neo biar mau kesini!"
Pria tua yang wajahnya cerah itu tersenyum manakala si cucu berucap di dekatnya dengan tangan tak lepas mengelus lengan keriputnya.
" Bawa Edwin. Kakek ingin lihat kamu bahagia!"
Dan ucapan penuh nada pengharapan itu terbawa hingga Claire mendarat di Bandara Atana. Mengusik dan terus saja terngiang-ngiang dalam otaknya. Menjadikan satu beban yang jelas kini membuat segala sesuatunya semakin rumit.
" Mau aku jemput, aku kebetulan di Atana habis kasih kelas mahasiswa?"
Bahkan yang dibicarakan kini berkirim pesan terhadapnya. Apa lagi ini?
Claire menghembuskan napas pasrah. Dia sangat lelah jiwa dan raganya. Membuatnya memutuskan untuk menerima saja tawaran Edwin ketimbang mencari taksi sebab ia meninggalkan mobilnya dirumah.
" Sepertinya aku memang butuh tumpangan!" ia mengirimkan balasan itu lalu dengan langkah cepat pergi menuju ke tempat tunggu di luar lobi.
Ia kini menunggu Edwin di sebuah tempat tunggu sembari berbalas pesan dengan Juwi yang mengabarkan jika Neo telah tertidur usai menghabiskan semangkuk sereal.
Tak berselang lama, sebuah mobil mengkilat datang di place to drop off passengers.
" Sory lama, tadi ada tamu mendadak!" seru Edwin yang masih mengenakan jas dokternya di jam itu. Membuat Claire merasa tak enak hati.
__ADS_1
" Duh Win, ini aku ganggu kamu pasti ya?"
" Oh enggak, aku udah selesai ngisi materi kok. Kebetulan aja belum aku lepas soalnya buru-buru dan takut kamu nunggu lama!"
Claire tersenyum tak enak hati. Lihatlah, bahkan meskipun Edwin merupakan pria yang baik dan lembut, tapi tidak tahu kenapa ia masih saja tak bisa melangkah lebih selain daripada menjadi berteman.
Di dalam mobil.
" Mau makan dulu?" tawar Edwin yang masih fokus dengan sejumlah antrian kendaraan yang berdesakan ingin segera keluar dari tollgate bandara.
" Boleh!"
" Kita cari restoran yang dekat-dekat sini saja!"
Claire mengangguk sambil berbalas pesan dengan anak buahnya yang mengabarkan jika di Atana mereka memiliki pesaing yang kotor. Membuat kepalanya makin nyut-nyutan.
Edwin yang kini melirik Claire merasa bila wanita cantik di sampingnya itu seperti memiliki beban masalah.
Membuat Claire menoleh, " Sure, I'm fine. Memangnya kenapa?" balasnya dengan kening berkerut.
" Aku perhatikan, wajah kamu kok beda dari biasanya!" kini Edwin tersenyum manis.
" Damned!" Claire mendecak dalam hati manakala Edwin mengatakan hal itu. Jelas mengindikasikan jika dirinya tak pandai menyembunyikan kegelisahan hatinya.
Apakah dia tak becus untuk sekedar menyembunyikan masalah? Atau karena beban yang terlalu berat ini membuat air mukanya yang keruh semakin kentara?
Dan akhirnya Claire mengungkapkan segenap kegalauan, kegelisahan, juga persoalan yang kini menimpanya kepada Edwin. Sungguh, hatinya benar-benar diliputi oleh kegamangan.
Edwin adalah teman curhat yang baik, pria itu selain tekun mendengarkan saat dirinya berbicara, dia juga sering memberikan solusi yang jitu, tanpa mencampuradukkan perasaannya.
__ADS_1
" Jujur Win, aku benar-benar tidak ada pemikiran ke arah sana ( menikah)!" ucapnya lesu seraya mengaduk minimnya dengan wajah putus asa.
" Tapi Opa, Papa, bahkan semuanya mendesakku seolah-olah aku ini memiliki tanggungan kepada mereka!"pungkasnya dengan tersenyum kecut.
Membuat Edwin menghela napas karena prihatin.
" Selagi masih memiliki orangtua alangkah baiknya menurut. Sebab kalau mereka sudah tidak ada, penyesalan yang paling dalam sekalipun tidak akan ada gunanya!"
Claire menatap muram Edwin yang menjadi anak yatim sejak kecil.
" Sory, bukan maksud aku..."
" Oh bukan Claire. Bukan soal aku. Tapi... harusnya kamu lebih bisa meneropong jauh bila semua keluargamu itu sayang kepadamu!"
Claire menatap kasihan Edwin yang masih saja mau berlaku baik kepadanya walaupun ia pernah secara terang-terangan menolak niat baik Edwin. Ada banyak hal yang menjadi alasannya. Dan salah satu ialah karena ia tak ingin membuat hubungan Edwin dan mamanya renggang hanya gara-gara dirinya.
Meksipun Edwin pernah mengatakan untuk menerima dirinya berikut dengan Neo, namun ucapan mama Edwin jelas membuat dirinya semakin sadar jika dirinya benar-benar kotor.
" Saya tahu kamu ini pengusaha sukses. Kamu juga anak yang mandiri. Tapi maaf, anak saya tentu berhak mendapatkan wanita yang jauh lebih baik!"
Dan pernyataan Mama Edwin tersebut masih dia simpan dalam ingatannya. Sama sekali tak mau mengungkap apalagi menceritakan hal itu kepada Edwin. Ia tahu, putus hubungan dengan orang yang kita kasihi pasti bakal menyakitkan, seperti yang pernah dia alami. Berhubungan dengan orang yang salah.
" Claire!"
" Ya?"
Ia tersentak saat tangannya kini di genggam lembut oleh Edwin yang menatapnya lekat-lekat.
" Tolong buka hatimu untukku. Aku sayang sama kamu, sama Neo. Kita bisa menjadi satu keluarga yang utuh!"
__ADS_1
Membuat mata wanita itu seketika melebar.