
...🥀🥀🥀...
"Lu gila Mel? Kenapa malah ngabarin dia?"
Demas berteriak tak percaya cenderung kesal sebab dari sekian banyak orang, kenapa Melodi malah memilih menghubungi Sadawira. Jika Om Leo tahu, urusannya bisa panjang.
" Gak usah banyak omong. Nomor orang rumah gak ada yang bisa aku hubungi! Aku enggak tahu rumah sakit terbaik di mana." sela Melodi yang kini panik demi melihat keponakannya yang tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir di bagian kening.
" Ya tapi gak usah dia juga kan. Kalau Papa kamu tahu gimana?"
" Tahu ya biarin. Di pukuli ya di rasakan, di omeli ya di dengarkanlah. Repot amat!" sahut Melodi yang ogah pusing hanya karena sebuah pelanggaran.
Demas yang akhirnya kalah debat kini memilih meredam kemarahan beberapa korban kecelakaan lain akibat menghindari Neo. Ia juga meminta maaf sebab akibat tingkah impulsif keponakannya itu, lalu lintas di jalanan itu menjadi semerawut. Tabrakan beruntun tak terelakkan. Semua menjadi kacau balau.
Namun sialnya, yang menabrak Neo justru kabur dan tak terkejar.
Dan saat mereka hendak membawa Neo masuk kedalam mobil untuk di larikan ke rumah sakit, sebuah suara berjenis bass yang terdengar familiar membuat keduanya terkejut.
" Astaga, Neo!" pekik Edwin terdengar panik saat melihat Neo yang kini bersimbah darah.
Pria itu membanting pintu mobilnya lalu berlari menuju ke arah Neo yang sudah di bopong oleh Demas.
" Astaga Tuhan, Neo mengalami benturan keras. Cepat kita bawa ke rumah sakit!"
Namun keduanya malah terlolong sebab pria yang masih mengenakan jas pengantin itu malah berada di sini. Ya, baik Melodi maupun Demas sama sekali tak menyangka jika Edwin menyusul mereka.
" Melodi!"
Meraka berdua sontak tergeragap saat Edwin berteriak. Membuat keduanya kini buru-buru membawa Neo pergi.
" Kita bawa kemana?"
" Ke rumah sakit Kasih Bunda. Aku kenal banyak orang di sana!"
Melodi terlihat mengetik sebuah pesan kepada seseorang sesaat sebelum mereka berangkat, yang kini dilihat oleh Demas. Pria itu memilih diam dan mengikuti laju mobil Edwin yang berjalan cepat.
Setibanya mereka di rumah sakit, beberapa petugas nampak sudah bersiap dan berjaga. Sepertinya Edwin telah mengakomodir segala sesuatunya agar lebih cepat dan mudah.
" Masih tidak bisa di hubungi?" tanya Melodi kepada Demas usai Edwin membawa Neo masuk kedalam ruangan. Dokter yang masih mengenakan pakaian pengantin itu terlihat di sambut oleh rekan sesama dokternya lalu membawa Neo masuk ke ruang tindakan.
" Eva baru membalas pesanku. Mereka sedang dalam perjalanan!" balas Demas cepat. Cenderung terburu-buru.
Namun saat hendak masuk. Melodi dan Demas dikejutkan dengan kehadiran seorang laki-laki yang wajahnya masih menyisakan lebam. Pria yang tampak pucat itu datang menemui Melodi yang sudah mau mengirimkan kabar untuknya.
" Dimana Neo?" tanya Sada yang tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya.
Membuat Demas tertegun. Apakah Pria ini diberitahu oleh Melodi?
" Tenang lah. Dia sudah di bawa Edwin masuk!" jawab Melodi cepat.
Absolutly. Sebagai ayah sambung dia memang harus melakukannya. Lihatlah, bahkan baru beberapa menit menyandang status sebagai ayah sambung Neo, pria itu benar-benar selangkah lebih maju ketimbang dirinya. Begitu pikir Sada.
__ADS_1
" Kita tunggu disini. Dokter sedang menangani Neo!"
Sada akhirnya tersenyum kecut menyetujui ucapan. Dari tempatnya berdiri, ia melihat Demas yang menatapnya tak lepas.
DRRRT DRRTT!
" Sebentar, aku angkat telepon dulu!" pamit Melodi yang ponselnya bergetar kepada dua pria di depannya.
Dua pria yang sempat adu jotos di masalalu itu kini saling melempar tatapan canggung. Semua hal yang tejadi di masalalu seolah terputar kembali dengan sendirinya.
Sada yang memilih duduk di kursi baja dengan gerakan menjahit bumi karena gugup. Sementara Demas memilih melipat kedua tangannya mengamati Sadawira yang penampilannya sedikit kacau akibat di hajar oleh Leo Darmawan.
" Sepertinya, Om Leo memang sengaja tak membiarkanmu mati!" seru Demas tersenyum penuh arti kepada Sadawira demi melihat langsung wajah babak belur.
Sada bergeming tak menjawab. Ia terlalu lelah untuk mendebat.
" Kau pasti sudah mendapat ganjaranmu!" timpal Demas kembali. Kali ini lebih serius sebab Sadawira tak mau membuka mulutnya.
" Aku memang pantas menerimanya!" jawab Sada tersenyum sumbang menyetujui ucapan." Bahkan harusnya lebih dari ini!" timpalnya tersenyum kecut meratapi kenyataan.
Membuat hati Demas trenyuh.
Melodi yang rupanya di hubungi oleh Claire kini cepat-cepat kembali karena takut duo adu jotos itu bakal kembali melakukan hal tak terduga.
Namun kekhawatirannya rupanya tak terbukti. Kedua pria itu hanya diam dengan gerik melempar tatapan satu sama lain.
" Papa dan Claire mau kesini. Kita kesana saja dulu!"
Dan beberapa waktu membuat, suara panik Edwin dari dalam sukses membuat mereka semua tegang.
" Neo membutuhkan transfusi darah. Dia kehilangan banyak darah. Setelah kita cek golongan darahnya O. Dan orang yang memiliki golongan darah O hanya bisa di transfusi oleh orang yang memiliki golongan darah yang sama!"
" Rumah sakit ini kebetulan kekurangan stok darah O!" tutur Edwin yang terlihat risau bercampur tegang.
Ya, meski golongan darah O merupakan pendonor universal, namun orang yang memiliki golongan darah O hanya bisa menerima donor dari golongan darah O saja.
" Kalau begitu ambil dar..."
" Aku bisa. Golongan darahku O!" suara Leo Darmawan membuat bibir Sada terkatup kembali bahkan sebelum menyelesaikan kalimatnya.
Sadawira menoleh saat suaranya terinterupsi. Pria itu sejurus kemudian menatap Claire yang juga masih mengenakan gaun pernikahan yang serasi dengan Edwin. Ia bisa melihat pancaran kekhawatiran yang menyala terang dari dua netra coklat Claire.
" Ambil saja darahku. Jangan biarkan orang lain ikut campur urusan keluarga kita!" Sindir Leo yang sejatinya masih kesal sebab pernikahan Claire gagal.
Sada sekonyong-konyong meminggirkan tubuhnya manakala Leo Darmawan berjalan angkuh di depannya. Menatap sinis seolah tak membiarkan Sadawira melakukan apapun.
Sada memilih menunduk. Membiarkan Claire, Mama Bella, serta Leo Darmawan melewati dirinya.
Namun kesombongan yang dibuat kini membuatnya malu sebab rupanya Leo tak bisa melakukan transfusi darah sebab tensinya terlalu tinggi.
"Jika tekanan darah lebih dari 180/100 mmHg, maka pendonor tidak diperbolehkan melakukan donor darah dikarenakan dapat membahayakan kondisi tubuh." terang rekan Edwin yang tak mau ambil resiko.
__ADS_1
Edwin menatap murung ke arah Leo. Sada yang mendengar hal itu spontan memberanikan diri untuk maju tanpa memperdulikan tatapan tajam Leo.
" Ambil darahku. Golongan darahku O, sama dengan Neo!" seru Sada dengan wajah serius dan tak memperdulikan tatapan tajam dari kedua orangtua Claire.
Kesemuanya menoleh kepada Sada yang menatap tajam Edwin. Claire bahkan seketika merasakan kesesakan. Lihatlah pria itu. Dia bahkan tak gentar demi menolong anaknya.
" Tidak perlu. Keluargaku tak perlu menerima bantuan orang asing!"
" Aku bukanlah orang asing!"
Suasana seketika menjadi tegang manakala Sada menyergah ucapan Papa Leo. Membuat Edwin langsung ambil sikap.
" Maaf. Tapi sebaiknya Om Leo jangan egois untuk saat ini. Neo benar-benar sedang membutuhkan darah secepatnya! Tolong redam ego kalian!" balas Edwin yang masih concern kepada kondisi Neo.
" Kumohon izinkan aku memberikan darahku. Aku berjanji tak akan mengganggu kalian lagi setelah ini. Kalian bisa pegang ucapanku!" seru Sada dengan mimik wajah paling serius.
Biar sudah ia mengatakan hal ini. Yang penting Leo tak mengusirnya saat ini.
" Tidak. Cari saja orang lain!"
" Papa!"
Cukup sudah. Claire jengah dengan sikap papanya. Ia yang kini menangis terlihat maju dan menengadahkan kepalanya menatap sang Papa.
" Neo adalah anak Wira. Apa Papa masih belum sadar karena keegoisanku papa lah Neo jadi begini. Apa Papa memang menginginkan Neo celaka?"
" Claire!"
" Kalau begitu setujui saja. Wir, selamatkan anak kita!" pinta Claire lirih dengan tatapan tak lepas menatap wajah marah sang Papa. Ia sudah lelah. Ia bahkan tak sanggup menatap wajah lebam itu demi keadaan sulit yang kini menderanya.
Edwin menatap resah wajah penuh lebam itu. Antara bersyukur, merasa malu, juga bingung harus mengatakan apa. Semua berjubel bertangkup satu nada.
Edwin lantas meminta Sada masuk. Kedua laki-laki itu tak mengucapkan apapun selama berjalan beriringan. Sadawira masuk ke ruang pemeriksaan. Usai menjalani serangkaian tes, pria itu akhirnya kini melakukan donor untuk sang anak.
" Cuma ini yang bisa Ayah lakukan Neo. Setalah ini Ayah akan pergi. Kau harus sembuh dan sehat bersama Ibumu!" membatin dengan perasaan paling pilu.
Usai menjalani donor darah, Sadawira yang membetulkan kemejanya yang semula tergulung tinggi, kini di datangi oleh Edwin.
" Terimakasih!" kata Edwin pada pria yang terlihat jantan itu.
" Tidak perlu berterimakasih. Ini untuk anakku!"
Edwin mengangguk.
" Aku dan Claire batal menikah!"
Apa?
Sada mendongak lalu menatap Edwin tak percaya.
" Dia masih mencintaimu!"
__ADS_1