My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 144. Hal tak terduga


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Zayn mendadak merasa lehernya kaku. Ini merupakan kali pertamanya dia bertemu langsung dengan orangtua Melodi terutama Mamanya. Wanita cantik yang jelas turut andil dalam pembentukan wajah jelita kedua putrinya. Tak diragukan lagi.


" Kamu yang namanya Zayn tadi kan? Ayo masuk, itu Melodi di dalam lagi di suapin Papanya. Tante mau ke ruangan dokter dulu, mau ketemu kawan lama!" kata Mama Bella yang anehnya terlihat begitu akrab kepada Zayn.


Tidak berbahaya kah?


Ia hanya mengangguk-angguk tanpa bisa menjawab. Terlalu malu dan terlalu minder sebab ia kini bukanlah siapa-siapa. Membuat senyum sumbang tiba-tiba muncul tanpa ia undang.


Ia lantas memberanikan diri untuk masuk manakala Mama Bella telah pergi menuju ruangan dokter. Ia menarik napasnya dalam-dalam. Mendadak menjadi ciut nyali. Lagipula, apa alasannya untuk datang di jam semalam itu? Astaga, kenapa malah menjadi kikuk begini sih?


Apakah dia bisa membantu hal lain termasuk biaya rumah sakit? Jelas itu tak mungkin. Mengingat Melodi kini sudah punya segalanya. Sangat berbeda dengan dirinya.


Tapi dorongan ingin melihat langsung bagaimana kondisi terbaru gadis itu, membuat sederet rimbunan keraguan perlahan ia terjang.


TOK TOK TOK


Etika kesopanan masih ia jalankan dengan sangat baik. Mengetuk pintu sebelum masuk merupakan salah satu ajaran mendiang Papanya yang masih ia implementasikan hingga sekarang.


Dan tak perlu menunggu lama, pintu itu akhirnya ia buka. Saat pintu telah terbuka, menampilkan dua orang manusia yang sedikit terkejut karena kehadirannya.


" Zayn!" sapa Papa Leo yang langsung meletakkan piring berisikan makanan untuk Melodi dan sibuk menyongsongnya.


Melodi yang melihat Zayn datang seketika menyembunyikan senyuman tipisnya. Terlalu gengsi untuk menunjukkan meski ia kini sedikit lega juga.


" Maaf Om saya..."


" Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Ayo duduklah. Melodi dari tadi mencarimu!" kata Papa Leo yang menarik Zayn untuk duduk di kursi dekat ranjang Melodi.


Melodi langsung mencicit kesal tak setuju sebab Papanya terlalu blak-blakan. Bikin malu saja.


" Kata dokter dia harus dirawat dulu. Ya, kami setuju saja. Lagipula saya besok harus ke kantor polisi sama pengacara Melodi buat ngurus ini itu." kata Papa Leo seolah menjadi informan ulung untuk Zayn.


Tapi alih-alih mengobrol dengan wajar, Zayn hanya mampu mengangguk sembari tersenyum dengan rasa canggung. Kalau sudah begini, ternyata lebih enak bersama Sada ketimbang bersama orangtua Melodi. Meski baik, karib dan ramah. Tapi grogi yang semakin menebal malah enggan enyah dari dirinya.


" Kamu masih lama kan? Mumpung kamu disini, saya titip Melodi dulu ya. Saya mau telpon assiten saya dulu di Indonesia buat kirim Beberapa berkas penting!"


" Tapi Om..."


" Udah bentar saja. Halo...halo iya-iya sebentar..."


Zayn langsung menghela napas. Papa Leo langsung pergi dengan ponsel yang melekat di cuping telinganya sebab sepertinya urusannya memang sedikit urgent.


Yasudah lah!


Sejurus kemudian, kecanggungan semakin menyeruak. Ia mencoba merangkai kalimat penjelasan paling ampuh, namun kesulitan.


Mulutnya mendadak kaku dan kemampuan menyusun kata-katanya lenyap tak berbekas. Membuat dua manusia itu saling berdiam diri. Bahkan Zayn mendadak tak bernyali menegur.


Sedetik.


Dua detik.


Tiga detik.


Hingga akhirnya,


" Aku!"

__ADS_1


" Aku!"


Malah berucap berbarengan.


Zayn hanya bisa tersenyum malu, menggeleng lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal sebab entah kenapa ia mendadak menjadi payah.


Jakun laki-laki itu juga naik turun demi rasa gugup yang semakin membeludak. Kemana hilangnya keberanian yang dulu sering frontal kala menjegal omongan gadis cerewet itu? Dan, kemana sirnanya rasa biasa aja manakala mendebat si gadis?


" Aku senang kau selamat!" kata Zyan akhirnya dengan lancar. Sengaja memilih kosakata yang paling aman dan tidak garing sebab terus terang ia kini benar-benar payah.


Namun terlepas dari semua itu, Zayn merasa begitu lega sebab ia bisa melihat Melodi yang kini membuka matanya dengan kondisi yang bisa dibilang lebih baik.


" Aku..."


" Keluarga Olivia sudah dapat hukuman yang setimpal!"


Melodi yang ucapannya menguap karena di potong oleh Zayn kini menatap pria itu lekat-lekat. Ia bisa melihat sorot mata penuh keresahan yang terpancar dari dua netra Zayn.


" Kenapa dengannya? Tak biasanya begitu?"


" Apa dia baik-baik saja? Kata Papa..." tanya Melodi mengenai Olivia dengan sedikit ragu-ragu.


Zayn mengangguk meyakinkan, " Edwin yang menolongnya! Seperti yang selama ini terjadi. Kejiwaannya kurang stabil!"


" Apa dia gila?"


Zayn menggeleng, " Belum gila. Hanya, sedikit terganggu secar emosionalnya. Banyak aspek yang memperbaharui. Salah satunya pengalaman hidup dari orang-orang terdekat!"


" Jadi benar Edwin terlibat?" ulang Melodi yang baru tahu mengenai Edwin.


Zayn mengangguk kembali lalu menceritakan secara detail tentang apa yang sebenarnya terjadi. Membuat Melodi langsung tertegun.


" Aku sendiri tidak tahu, mau takdir itu apa. Sebentar membuat kita berharap dan percaya, tapi sebentar membuatnya kita kecewa!" kata Zayn masih menunjukkan senyuman kecut. Merasa jika hidup kini benar-benar tak memiliki arti apa-apa.


Zayn tiba-tiba tak tahan dan ingin pergi. Ia merasa menjadi kecil, kerdil dan tak memiliki apapun yang bisa ia banggakan saat ini. Membuat secuil pemikiran untuk pergi tiba-tiba muncul.


" Emmm, aku tak bisa berlama-lama Mel. Tadi aku seharian ninggalin Mama."


" Aku...harus pergi!"


" Tunggu!"


Zayn yang telah berdiri sampai menatap tangan melodi yang kini telah menangkap tangannya. Membuat laki-laki itu meneguk ludahnya.


" Kenapa kau mengatakan hal itu?"


Keduanya saling menatap selama beberapa detik. Melodi yang tak ingin di tinggalkan, dan Zayn yang benar-benar merasa tak berdaya.


" Aku sudah melihat kondisimu yang sudah jauh lebih baik Mel. Itu sudah lebih dari cukup!"


" Kenapa harus pergi cepat-cepat?"" tanya Melodi mulai kesal. Membuat pria itu bingung.


"Aku..., Mel! Kau tahu sendiri sekarang kenyataannya aku ini hanyalah..."


Namun belum juga Zayn menyelesaikan kalimatnya, melodi yang berbaring setengah duduk di brankar yang sedikit di tegakkan, langsung menarik tangan Zayn sehingga membuat pria itu menunduk, dan langsung mengecup bibir pria itu dengan penuh kesadaran.


Oh God!


Membuat Zayn kontan membelalakkan matanya demi keterkejutannya yang semakin menggila.

__ADS_1


Ia bisa melihat Melodi yang memejamkan matanya dari jarak yang benar-benar begitu dekat. Bulu mata lentik, serta wajah berbintik tipis yang terlihat cantik. Tanpa ia sadari, ia yang terlena dengan luma*tan manis itu akhirnya turut memejamkan mata dan mengimbangi ciuman Melodi yang membuat dadanya bergetar.


Beberapa saat kemudian, Zayn yang sadar jika mereka masih dirumah sakit langsung melepas ciumannya dan menatap murung Melodi.


" Kita masih di rumah sakit Mel!" kata Zayn yang wajahnya memerah.


" Kenapa? Aku sayang sama kamu Zayn, jangan pergi!"


Deg!


Apa ini? Apa gadis cerewet yang sejak awal perjumpaan menjadi musuh bebuyutannya itu kini menjelma menjadi wanita yang lemah lembut?


Tapi tunggu sebentar, bukankah dia barusan mengeluarkan pernyataan? Oh ya ampun.


" Apa kau bilang?" tanya Zayn memastikan dengan wajah sangat terkejut.


Membuat Mata Melodi berkaca-kaca. Ini memang cinta. Bukan yang lainnya.


" Aku tidak tahu Zayn. Sejak awal kita bertemu..." Melodi tercekat. " Kita sering salah paham, bertengkar. Tapi...."


Zayn mendadak merasa mata dan hidungnya panas dalam waktu yang bersamaan. Apa ini benar-benar sebuah pernyataan cinta?


" Mel, kita mungkin memiliki perasaan yang sama. Tapi saat ini, aku tak lebih dari seorang pecundang yang tak memiliki apapun untuk di banggakan!"


" Aku.."


Melodi menatap Zayn tak mengerti.


" Apa yang kau bicarakan?"


Zayn menghela nafas mengumpulkan keberanian.


" Perusahaanku telah berpindah tangan. Dan aku benci harus membahas ini di depanmu!" katanya tersenyum getir.


" Aku bukan siapa-siapa Mel."


Sedetik berikutnya, Melodi mengusap pipi Zayn yang tubuhnya mengeluarkan keharuman khas pria jantan dengan wajah trenyuh.


" Jika itu masalahnya, maka seharusnya kau tak lagi menuding hal itu!" kata Melodi dengan senyum yang bersambut dengan tangis.


" Apa maksudmu?" kernyit Zayn semakin tak mengerti.


CEKLEK!


Zayn menoleh saat pintu tiba-tiba terjeblak manakala ia masih dalam posisi yang begitu dekat dengan Melodi.


" Om?" tukas Sada terkejut demi melihat Papa Leo yang masuk.


" Selesai. Besok kita bisa temui Tanaphan untuk pengembalian perusahaanmu!" kata Papa Leo dengan senyum yang terkembang jelas.


Membuat Zayn melongo tak percaya. Apa maksudnya semua ini?


" Zayn, Sada sudah menceritakan semuanya kepada Om. Om sangat setuju jika kamu bersama Melodi. Om benar-benar lebih tenang mendengarnya. Tanaphan juga telah mengakui kesalahannya. Dia dengan sadar akan mengembalikan semua yang dia kudeta darimu. Edwin sepertinya telah berhasil membuat pria itu tersadar!"


Apa? Mustahil. Ini benar-benar tidak mungkin.


Zayn menatap Melodi yang tersenyum penuh arti. Jadi semua ini benar?


" Benar Zayn. Papa yang telah membuat perusahaanmu kembali!" kata Melodi dengan mata berkaca-kaca saking terharunya.

__ADS_1


" Apa kau bilang?"


Ya Tuhan terimakasih, terimakasih untuk semua hal tak terduga yang membuatnya kini banyak belajar.


__ADS_2