My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 98. Warna cerita anak manusia


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Tempat yang tak lebih dari sarang penyamun, yang semula damai itu seketika berubah menjadi tegang manakala ada seorang pria yang menghardik aksi menjijikkan para pria kurang ajar disana.


Melodi yang merasa memiliki kesempatan untuk melepaskan diri, kini menarik tangannya secepat mungkin, lalu menepi ke samping pria yang bertubuh tinggi itu guna mencari perlindungan.


" Bos!" balas pria yang tadi mencekal tangan Claire dengan begitu terkejut. "Ma- maf. Ka- kami hanya bermain-main!" terangnya takut.


What ? Bos?


Melodi mendelik. Jadi dia bosnya? Sama aja dong? Melodi lantas buru-buru menjauh dari pria yang di panggil 'boss' itu sebab ia kini juga menjadi takut.


" Pergi kalian!" usir pria itu hanya dengan satu perintah. Dan anehnya, kesemuanya terlihat langsung ketakutan.


Para cecunguk tak jelas itu seketika kocar-kacir manakala sang bos menitihkan mereka untuk enyah. Padahal, nada suara yang di ucapkan sangat landai. Sama sekali tak menunjukkan suatu ancaman. Jelas menegaskan bila pria itu memiliki andil yang tinggi.


Melodi yang kini menjadi benar-benar ketakutan, seketika tak berani menatap mata pria tampan yang juga menatapnya sambil tersenyum itu.


" Jangan takut. Aku bukan penjahat!" kata si pria dengan percaya diri.


Melodi mencebikkan bibinya. Bukan penjahat dia bilang? Jelas-jelas para kancrut tadi memanggilnya bos?


" Dari mana aku tahu kalau kau bukan penjahat?" balas Melodi yang selalu tak bisa tak to do point. Sama sekali tak ingin basa-basi dengan bos para penyamun tadi.


Pria itu terkekeh. " Aku Sakha. Arshaka!"


Melodi menatap tangan yang tergantung di depannya dengan tatapan tak mengerti. Ia lantas menatap wajah manis yang masih betah tersenyum itu dengan air muka kaku.


Pria manis yang kini menampilkan deretan giginya yang rapi itu, masih menggantungkan tangannya menunggu di jabat oleh Melodi. Tapi sayangnya, hingga tangannya pegal gadis di depannya itu masih terlolong.


" Kau sungguh tidak mau kenalan denganku?" seru pria itu mulai lelah.


Melodi tentu saja takut. Lagipula siapa juga yang menjamin kalau pria itu tidak jahat? Hih!


" Baiklah tidak perlu di khawatirkan. Sepertinya, kau bukan orang sini!" kata Sakha yang akhirnya menarik tangannya yang mulai pegal.


" Memangnya kalau bukan orang sini tidak boleh datang? Rasis banget!" tuding Melodi yang tak mau kalah.


Shaka kontan tergelak. Wanita di depannya ini benar-benar jenis macam betina. Benar-benar tak bisa diajak basa-basi sama sekali.


" Kenapa kau pergi sendirian di tempat ini?" tanya Sakha yang masih tertarik menginterogasi gadis yang sepertinya salah alamat itu.


" Memangnya apa urusanmu?" sungut Melodi yang mulai menyesal kenapa dia tak mencari tempat lain saja tadi.


" Aku yang memiliki tempat ini. Tentu aku berhak menanyakan hal itu kepada pelanggannya baruku!"


" Apa?" serunya spontan tanpa rem.


" Jadi dia yang punya tempat ini?"

__ADS_1


-


-


Kediaman Sadawira.


Nino yang sudah tertidur sampai harus memasang telinganya baik-baik karena merasa bel yang ada di depan sana sedang berbunyi.


Masih belum sepenuhnya hilang perkataan Sada beberapa hari lalu yang menegaskan jika Nino akan sendirian di rumah besar itu dalam waktu yang tak sebentar.


" Jaga rumah ini No. Aku pasti kembali tapi entah kapan. Mungkin lama. Lakukan saja apapun yang membuatmu senang. Gaji tetap akan aku transfer!"


Kini Nino ketakutan. Jangan-jangan itu adalah penjahat. Tapi bel yang berdentang tanpa jeda itu membuat Nino mau tak mau akhirnya keluar. Ia mengintip siapa yang datang melalui bulatan kecil di pintu.


"CK, kenapa tak kelihatan sih?" sungutnya kesal sebab pria itu rupanya menggunakan topi dan membuat intipannya guna mendeteksi wajah terhalau.


" Sialan, siapa sih?"


Nino lantas bersiap-siap membuka pintu dengan bekal sebuah alat pemukul bola kasti. Saat anak kunci telah terputar, ia kini jaga-jaga dan bersiap memukul jika orang itu adalah penjahat.


CEKLEK


" Mal..."


" Apa yang kau lakukan?" pekik Sada yang membuat pukulan Nino berhenti di udara. Oh Shiit!


" Bos?" pekik Nino kaget bukan main. Tapi bagaimana bisa?


Nino keranjingan, " Saya kira pencuri Bos!" jawabnya meringis kikuk. Membuat Sada mendengkus.


" Mana ada pencuri nekan bel apalagi ngetuk pintu!" semakin mendengkus kesal dengan muka bersungut-sungut.


Nino hanya meringis. " Ya maaf bos. Kan bos sendiri yang bilang kalau mau pergi lama. Bos juga gak ada kirim pesan ke saya!"


Sada menghela napas. Itu memang kesalahannya.


" Aku minta maaf. Tapi malam ini aku lelah sekali. Aku ingin tidur. Dan oh ya, besok jangan lupa bangunkan aku pagi-pagi sekali, oke!"


Padahal Nino ingin sekali menginterogasi bosnya yang pulang dan pergi secara mendadak itu. Tapi melihat wajah lelah sang bos, membuat keinginannya langsung lenyap ke udara.


Di dalam kamar, Sadawira tersenyum-senyum sendiri manakala membaca pesan dari Claire.


📱 Claire: " Sudah sampai apa belum? Kenapa nggak di balas-membalas sih? 😤"


Sada tergelak sembari melemparkan tubuhnya ke kasur pegas miliknya. Merasa sangat senang manakah ponselnya kini di serbu notifikasi dari pesan Claire. Beginikah rasanya terserang kasmaran untuk kedua kalinya? Oh sungguh membahagiakan.


📱 Sadawira : " Kenapa belum tidur. Aku baru sampai!"


Namun barusaja ia mengirimkan pesan, Claire tiba-tiba menghubunginya.

__ADS_1


" Kenapa baru di balas sih?" seru Claire dengan nada kesal, sekesal- kesalnya.


Ia tergelak sejenak. Merasa tak kuat untuk menahan tawa. Rasanya ia lebih senang jika Claire ngomel-ngomel begini.


" Taksinya nyasar tadi. Sempat ketiduran aku. Capek banget!"


"Lagian kamu disuruh bawa mobil enggak mau!"


Sada tersenyum, terdiam sejenak menikmati ocehan yang kini terdengar lebih nyaring daripada sebuah lagu cinta. " Udah ngomelnya? Kalau udah aku mau mandi!"


" Wira ihh!!!"


-


-


"Karena aku sudah menolongmu, jadi kau harus menemaniku minum!" ucap Sakha yang masih tak mau kalah.


Apa? Enak aja!


" Aku mau pulang!"


" Kalau kau pulang, aku bakal panggilan mereka lagi!" ancam Sakha sembari tersenyum penuh maksud.


" Papaku sakit sialan, aku harus pergi!" maki Melodi yang kesabarannya mulai habis.


Sakha tergelak, " Sakit? Kenapa bohongnya tanggung sekali? Kalau sakit kenapa anaknya malah masuk kemari? Kau anak durhaka ya?"


" Apa kau bilang?" mengeram kesal.


Tapi, benar juga. Hey, aku kan salah tempat. Lagipula kenapa tempat ini tak diberi tulisan translate inggris gitu yang bisa ngebikin orang gak salah tempat? Ah bodohnya!


" Beri aku dua!" pinta Sakha kepada pegawainya. Mengabaikan sesosok gadis yang speechless karena ucapannya.


" Mau apa kau, aku mau pulang!" seru Melodi yang kesal karena pria itu malah mengangsurkan sebuah gelas ke hadapannya.


" Hey, kau ini selain aneh, sepertinya kau juga tidak tahu berterimakasih!"


" Bodo amat!"


" Awh!" Melodi tiba-tiba terpelencok kakinya saat hendak kabur. Beruntung tangan kekar milik Sakha sigap menolong dan membuat mereka kini saling berdekatan.


Deg!


Dada Arshaka bergetar aneh manakala menatap manik mata Melodi.


Dan di waktu yang bersamaan, tampak Zayn datang bersama seorang wanita yang membuat Melodi seketika membulatkan matanya.


" Zayn!"

__ADS_1


Dapat dia lihat jika Zayn juga tampak begitu terkejut, sebab tubuhnya kini di rangkum oleh seorang pria seusianya.


" Siapa dia?" batin Zayn yang tiba-tiba tak senang dengan apa yang sedang dia lihat.


__ADS_2