My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 137. Sepotong rencana


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Sepeninggal Melodi yang pergi seraya berbincang dengan seseorang, Zara langsung membuka matanya. Ia rupanya tak benar-benar tidur. Gadis itu kini terlihat mendudukkan tubuhnya. Terpekur memandangi pintu yang baru saja tertutup.


Siapa yang Melodi telepon? Kenapa tidak di tempat itu saja di teleponnya? Dan kenapa intonasinya terdengar begitu serius?


Namun diluar dari itu semua, ia bisa melihat dengan jelas bila sebenarnya Melodi memang masih perduli terhadap kakaknya.


Zara tersenyum. Usahanya datang jauh-jauh tak sia-sia. Kini ia memilih menarik selimut lagi. Membiarkan waktu berjalan cepat agar ia bisa menyongsong kenyataan yang lebih baik.


...----------------...


Pagi ini Tanaphan membuka kamar putrinya yang masih berdiam diri tak mau makan. Gadis itu terlihat stress. Pria dewasa berambut putih itu menatap pilu keadaan anaknya yang semakin pucat karena kurang asupan makanan.


" Nak!" panggilnya dengan suara lembut.


Namum Olivia tetap terdiam. Bisu tak memiliki minat untuk sekedar menjawab panggilan sang Papa.


" Papa akan ke kantor dulu. Kau sebaiknya makan!"


Rupanya tujuan Tanaphan masuk ialah untuk berpamitan. Pria itu sepertinya hendak membereskan beberapa hal secepatnya. Kekecewaannya kepada Zayn yang menyebabkan kondisi sang anak seperti itu benar-benar membuatnya tega untuk tak menyisakan apapun bagi keluarga Zayn.


Gadis itu tetap tidak menjawab. Masih diam menatap nanar jendela yang terbuka dari kamarnya. Pikiran kosong, terlihat tak memiliki harapan.


Tanaphan pergi. Menatap dua orang maid yang di tugaskan mengawasi Olivia dengan tatapan penuh permohonan.


Namun tanpa pria itu ketahui, Olivia rupanya telah membayar dua orang mata-mata untuk memberikan kabar jika sewaktu-waktu Melodi datang kembali ke Atana.


Dan malam ini, tanpa siapapun ketahui, Olivia tengah menyusun rencana besar, sebab dia tahu bila Melodi sebentar lagi akan datang ke Atana.


" Jika aku tak bisa memilikinya. Kau pun sama wanita sialan!"


-


-


Hari berganti dengan cepat. Sada baru mendapat kabar jika pagi ini mertuanya akan datang bersama Pakde David dan Bude Jessika saat ia telah tiba di kantor.


Claire salah melihat jadwal. Ia terlalu tak fokus sebab ia beberapa hari ini mendadak kehilangan selera makannya.


Usai menelpon Nino untuk menyiapkan kamar sebaik mungkin, ia bergegas memerintahkan Janu dan Henry untuk turut membawa mobil menuju airport sebab ia yakin jika kepulangannya kali ini pasti akan membawakan banyak sekali barang. Maklum, orang tua kan memang suka rempong.


Dengan dalih untuk cucu, mereka semua pasti lupa daratan jika sudah berurusan dengan belanja.


" Suit - suit!" seru Henry manakala melihat gadis cantik yang melintas tepat di hadapan mereka. Berusaha membunuh kebosanan dengan jalan klasik. Menggoda wanita.

__ADS_1


PLAK!


" Aduh!"


Henry mengaduh manakala tangan Janu menggeplak kepalanya.


" Aku kirim juga ini ke Yuan nanti ya!" ancam Janu yang sebal karena rekannya itu sangatlah norak.


" CK, begitu saja langsung lapor. Gak bisa lihat orang seneng kamu ini!" gerutu Henry dengan wajah mendengkus.


Sada yang melihat dua anak buahnya selalu saja ricuh hanya bisa menghela napas. Semenjak di tinggal dollar kawin, dua orang itu memang sering ribut tak jelas.


" Oh iya bos, kenapa bos besar belum datang? Jangan-jangan...."


Sada langsung menengadah. Mencoba memindai sekeliling.


" Jangan-jangan apa. Kalian lihat coba kedalam!" titahnya menunjuk dengan dagu.


Mereka pun bergegas masuk. Dan rupanya memang ada delay penerbangan yang dikarenakan cuaca buruk di Hangxiang.


" Waduh bos. Sepertinya ada penundaan satu setengah jam!" terang Janu bermuka muram.


" Kok tidak ada informasi?" balas Sada mulai beraksi kesal.


Sada langsung melangkahkan kakinya menuju meja customer service untuk menanyakan perihal keterlambatan penerbangan mertuanya.


Sekali dayung. Dua, tiga pulau terlampaui. Begitu kurang lebih.


" Kenapa melihatku begitu?" tanya Melodi kepada Zara yang menatapnya tak lepas. Menjadi nyengir kuda sebab di todong pertanyaannya tak ramah.


" Kakak pakai baju apa aja cantik deh. Aku jadi iri. Padahal make up-nya gak tebel!"


Melodi hanya mencibir. Jika sudah memuji seperti itu, pasti ada maunya. Bahkan dalam satu hari saja Melodi sudah hapal kebiasaan gadis itu.


" Kenapa muji- muji? Curiga aku!" celetuknya menyindir.


Zara makin meringis. Benar-benar seperti dukun.


" Makan dulu yuk Kak. Belum boarding juga kan?"


Meski mendecak, tapi gadis itu akhirnya menuruti Zara yang ternyata lebih doyan makan darinya. Mereka makan di food court yang berada di sekitar ruang tunggu. Sengaja tak ingin jauh agar tak ketinggalan pesawat nanti.


Namun tanpa mereka sadari, seseorang telah memotret keduanya lalu mengirimkan foto mereka pada seseorang. Ya, orang itu tak lain adalah putri semata wayang Tanaphan, Olivia.


Gadis itu tersenyum licik. Ia benar-benar tak sabar untuk mengimplementasikan rencananya.

__ADS_1


Jelang pukul sepuluh siang waktu setempat Olivia terlihat lebih segar usai mandi. Membuat tuan Tanaphan yang hari itu tidak ke kantor terkejut dengan perubahan yang tiba-tiba terjadi.


" Nak?" tanya Tanaphan tak percaya akan apa yang dia lihat.


" Pa, aku ingin ke rumah Bety. Kami mau belanja bareng!" jawab sang anak manja seperti biasanya.


Tanaphan tersenyum. Ini luar biasa, anaknya sepertinya sudah jauh lebih baik.


" Mau Papa antar?" tawar sang Papa senang.


Olivia menggeleng, " Nope! Kami akan lama nanti. Pergi dulu ya Pa!"


Tanaphan mengangguk menyetujui. Pria itu senang karena anaknya telah berubah.


Olivia terlihat akan mengendarai mobilnya sendiri. Sejurus kemudian ia menyalakan mesin lalu melesat pergi dengan segurat senyum penuh misteri.


-


Karena keterlambatan itu, ada dua pesawat yang kini landing dalam jeda waktu yang sangat singkat. Satu pesawat dari Indonesia, terlihat holding di angkasa menunggu arahan dari air traffic control sebab pesawat delay dari Hangxiang terlihat hendak landing terlebih dahulu.


Tak berselang lama usai pesawat itu taxy menuju apron, pesawat plat merah dari Indonesia yang kini telah toucdown dan landing dengan selamat.


Singkat kata, meski Papa Leo sudah mengabari sang anak bungsu jika dirinya telah landing, namun pria itu tak tahu jika Melodi juga ada di sana di waktu yang sama.


Pun dengan Sadawira, pria yang tadi sempat ngomel-ngomel karena ketidakjelasan informasi terkait keterlambatan, juga tidak tahu jika adik iparnya juga akan datang.


Hingga saat pintu kedatangan di buka, ratusan penumpang yang berjubel memenuhi arrival station membuat Henry dan Janu kebingungan.


" Kenapa banyak sekali. Tumben begini!"


Namun saat ketiganya celingak-celinguk bingung, sebuah suara terdengar dan langsung menjadi petunjuk.


" Wira!" teriak Mama Jessika yang rupanya terlebih dahulu melihat menantu keponakannya itu tampak kebingungan.


" Mama!" teriak Sadawira sangat bahagia sembari melambaikan tangan.


" Tunggu ya, kami ambil bagasi dulu!" teriak Mama Jessika yang terlihat sangat senang.


Sada mengacungkan jempol sebagai pengganti jawaban setuju.


Namun saat hendak melangkah, ia dibuat terkejut demi menabrak seseorang yang sepertinya akan masuk ke pintu yang sama.


BRUK!


" Maaf!"

__ADS_1


" Zayn?"


" Sada?"


__ADS_2