
...🥀🥀🥀...
Sadawira meresapi lirik itu dalam-dalam. Tatapannya kini meneropong jauh, dimana masa kecilnya benar-benar sangat mirip dengan apa yang tertuang dalam lirik lagu yang kerap di aransemen oleh penyanyi-penyanyi terkenal itu. Membuatnya merasakan kembali, aroma kerinduan yang entah ia tujukan kepada siapa.
Apalagi, bocah bernama Neo itu sungguh sangat lucu manakala melafalkan lirik yang sebenarnya cukup sulit itu. Menjadi takjub sebab di usianya yang masih kecil, Neo sudah fasih melantun bahasa Inggris.
Pasti ibunya mendidik Neo dengan sangat baik.
Tapi....tunggu dulu, ngomong-ngomong soal Ibu, ia bahkan lupa tak menanyakan soal Ibunya kepada Neo. Keanehan yang mendera pria itu manakala menatap wajah polos Neo benar-benar membuatnya lupa segalanya.
Ia baru tersadar dari khayalannya, saat bocah kecil yang baru unjuk kebolehan itu datang menghampirinya kembali, dengan membawa sebuah kartu yang di tulis sendiri lengkap aksen gambar crayon yang membuat kartu ucapan itu semakin meriah.
...Happy Father's day...
" Ini untuk paman?" tanya Sadawira menatap dua mata jernih milik Neo yang kini memancarkan senyuman, dengan tatapan haru.
Bocah itu kontan mengangguk, " Paman kan sudah jadi ayahku satu hari. Jadi...ini untuk paman!" jawab Neo mantap seolah bangga dengan gambarannya.
Oh ya ampun, lihatlah betapa manisnya anak itu!
Sadawira seumur-umur mana pernah bercengkrama dengan anak-anak seperti saat ini. Hidup dan waktunya sudah habis ia gunakan untuk membangun kerajaan bisnis juga beradu dengan hidup yang tak mudah.
Definisi dari anak kecil yang dipaksa memecahkan karang kehidupan.
" Oh iya Neo, Paman mau tanya sesuatu kalau begitu"
" Tanya apa paman?"
"Paman tadi lupa nanya sama kamu, memangnya... ibu kamu kemana?"
...----------------...
Claire mendarat usai menikmati flying time selama enam jam karena harus transit dulu di bandara kota J. Ia yang di jam siang ini telah di jemput oleh pegawai Deo tampak menghela napas berulang kali sebab berada di kota ini sudah seperti mengenang masa pahit secara instan.
" Ibu Claire?" sapa seorang petugas berambut rapih dengan ID card bernama Hizkia.
" Ya saya!"
"Saya Hizkia Bu, di tugaskan Pak Deo untuk meng-escort Ibu. Silahkan ikut saya Bu. Bapak sudah menunggu di ruangan. Nanti bagasinya biar anak buah saya bawakan!"
__ADS_1
Claire mengangguk senang. Ia nyaris saja lupa jika kakak sepupunya itu adalah orang nomor satu di tubuh ground handling yang ada di bandara tersebut. Membuatnya tak perlu susah-susah untuk antre bagasi di conveyor.
Alasan kenapa ia landing di kota B adalah karena kakeknya yang semula berada bersama kedua orangtuanya di kota S, kini keukeuh meminta kembali ke kota asalnya dan membuat Leo dan Bella tak bisa menahannya lagi.
Orang tua memang selalu begitu, selalu berbeda keinginan. Apalagi, Leo dan Bella yang sejak dulu memang tinggal di kota S yang berjauhan dengan David juga Jessika.
Telah enam tahun semenjak kejadian itu, tapi saat menjejak kakinya kembali di kota ini, Claire selalu merasa khawatir dan takut serta trauma jika bertemu dengan Wira.
Oh lihatlah, bahkan ia masih ingat betul dengan nama jantan itu.
"Welcome back Mommy Neo!" sapa sang kakak ipar manakala ia telah tiba di sebuah ruangan bersuhu dingin yang terlihat begitu nyaman.
Claire terkejut sebab Deo berteriak saat pikirannya masih bersambut dengan rekaman masalalu yang kurang menyenangkan itu.
"Apa kabar Deo?" ucap Claire yang kini membalas pelukan Deo yang juga sangat merindukan Claire. Membuatnya Hizkia pamit mundur sebab tak enak saja berada di antara para petinggi kerajaan.
" Aku baik. Kau bagiamana? Neo?"
" Seperti yang kau lihat! Neo juga sehat, hanya saja di tidak mau aku ajak!" menjawab muram.
" Aku sudah dengar dari Tante Bella dan Mama tadi. Biarkan saja, Juwi bisa di pergunakan kan?"
" Tapi...jika dilihat-lihat, kau semakin cantik dan glowing!" kata Deo yang membuat keduanya tergelak bersama-sama.
" Kau juga, jadi Papa dua anak malah awet muda!"
" Siapa dulu dong istrinya!"
Claire hanya mencibir sepupu itu. Tapi betul juga sih, Arimbi memang tipikal orang yang cak cek ( cekatan) dalam melakukan Apapun.
" Aku menyesal Neo tak ikut!" imbuhnya lagi yang sebenarnya ingin mengajak Neo bertemu dengan Opa mereka.
" Tidak apa-apa, kita bisa menemui Opa dulu setelah ini. Melodi juga baru datang!"
" Demas?" tanya Claire dengan alis berkerut.
" Dia pasti sedang membantu Eva, kau tau sendiri kalau dia sekarang sudah menjadi bapak tiga anak!"
Dan membicarakan Demas terang membuat Claire teringat dengan seseorang. Seseorang yang entah kini berada di mana.
__ADS_1
...----------------...
" Terimakasih ya Paman, hari ini aku tidak jadi sedih karena ada paman!" kata Neo yang rupanya sudah di jemput oleh Juwi sebab acara itu telah selesai.
" Sama-sama boy!" jawab Sadawira seraya mengusap rambut hitam milik Neo yang lebat.
Juwi yang sedari tadi menyimak interaksi keduanya, kini malah terheran-heran sendiri sebab bagiamana bisa Neo akrab dengan pria yang notabene merupakan donatur tetap sekolah itu, dan lebih herannya lagi bagaiman bisa wajah pria itu seiras dengan wajah Neo?
"Ya sudah, Paman pergi dulu kalau begitu. Sampaikan salam paman pada ibumu jika sudah kembali!"
Neo mengangkat dua jempolnya, " Oke paman!"
Membuat Sadawira terkekeh senang.
" Terimakasih banyak tuan untuk batuannya, kami juga permisi. Ayo Neo!" tukas Juwi yang kini menggandeng tangan Neo lalu pergi meninggalkan Sadawira yang terus menatap punggung Neo tak jemu.
Membuat Dollar yang kini sekonyong-konyong nongol di depan sana, langsung menatap wajah bosnya itu dengan tatapan aneh.
" Bos?"
Kini Sadawira menoleh manakala mendengar suara anak buah bengalnya itu.
" Dari mana saja kau, ngilang terus tahu-tahu muncul!" Sada mendengus manakala melihat Dollar yang meringis ke arahnya.
Membuat pria ia bujangan itu kontan meringis, " Masak Pak Sada tidak tahu sih. Saya sedang berupaya menguasai medan Pak" jawabnya kocak.
Membuat Sadawira semakin mencibir.
" Ya sudah, ayo kita kembali. Oh iya, tolong jaga ini, buatkan bingkai yang bagus!" ucap Sadawira lalu sejurus kemudian melenggang pergi tanpa menatap Dollar lagi.
Dollar menjadi terbengong-bengong demi melihat sebuah kartu anak-anak yang meriah, lengkap dengan coretan dari crayon yang tak rapi dan bertuliskan Happy Father's day.
" Yang benar saja, kartu kayak gini suruh buatin figura?" gumam Dollar yang tak percaya dengan gambar yang menurutnya amburadul itu.
Namun pria yang sudah lebih dulu masuk kedalam mobilnya itu menjadi semakin kesal manakala Dollar malah menghabiskan waktunya untuk memikirkan kartu itu.
" Lima detik lagi kau tak masuk, aku tinggal kau Do!"
Membuat Dollar seketika terbirit-birit.
__ADS_1