
...🥀🥀🥀...
Mama Zayn yang juga sudah melakukan persiapan terlihat tak henti-hentinya mengangkat telepon silih berganti. Para anggota keluarga yang namanya bakal menjadi daftar penumpang pesawat unsched yang bakal membawa mereka ke Indonesia juga sudah selesai di draft.
Zara terlihat lincah dalam membantu sang Mama untuk menyusun beberapa daftar yang bakal berguna buat mereka nanti.
"Akhirnya kak Zayn nikah juga!" seru Zara bersukaria.
" Benar. Tinggal kamu!"
Zara langsung cemberut. "Masih lama. Aku pingin kerja kayak kak Melodi dulu. Keren pasti kalau cewek jadi CEO!"
" Amin. Mama doakan kamu bisa seperti kakak kamu nak!"
" Tapi,kak Zayn nanti pasti...." wajah Zara berubah murung saat teringat dengan kakaknya yang pasti setelah ini bakal jarang pulang kerumah.
Namun Mama Zayn terlihat tenang. Ia sama sekali tak mempermasalahkan bila Zayn harus sering bolak-balik nantinya. Calon menantunya ini merupakan orang yang independen. Dan dia menyadari akan hal itu.
" Kamu udah siapin kado belum?" tanya sang Mama mengalihkan obrolan.
" Udah dong. Dijamin bagus!"
" Mana coba lihat!"
" Jangan lah. Mama gak boleh lihat!" balas Zara malu-malu. Sepertinya dia sedang menyembunyikan sesuatu yang heboh.
" Lah kenapa?"
" Ya ga apa-apa. Nanti tanya aja sama kak Melodi kalau pingin tahu!" mereka berdua tergelak. Merasa begitu bahagia.
Dan saat keduanya sedang heboh membuka beberapa barang belanjaan, Zayn turun dan langsung membelalakkan matanya.
" Apa ini Ra? Banyak banget kamu belanja?" kejut Zayn dengan terkaget-kaget.
" Kan kakak mau nikah!" balas Zara enteng.
" Iya, tapi gak perlu sebanyak ini juga." balas Zayn yang mumet demi melihat belanjaan yang menggunung.
" Gak bisa Zayn. Kamu akan menikah, dan Mama ingin semua saudaraku kita yang ikut itu tampil all out!"
__ADS_1
Zayn menggeleng seraya mengembuskan napas pasrah. Mamanya memang asli orang Indonesia. Jadi sedikit banyak tahu apa saja yang sering terjadi di pesta-pesta pernikahan.
-
-
Sepekan jelang hari H, mama Jessika dan papa David terlihat sudah terbang dulu menuju kita S. Mendahului dua anaknya Deo dan Demas yang bakal datang dua hari jelang pernikahan.
Mereka orangtua. Wajar jika penuh persiapan. Meski mendapatkan protes dari Mama Eka, tapi ia malah tertawa. Rupanya sahabatnya itu masih saja tak berubah. Menjadi makin tak sabar untuk reuni di pernikahan Melodi nanti.
Ia juga masih menunggu jawaban dari Arin. Menjadi istri seorang tentara yang kini memiliki jabatan tinggi, membuat wanita yang menjadi sahabatnya itu harus tinggal jauh.
Mama Jessika juga sangat menyayangi keponakannya. Ia yang tak memiliki anak perempuan sejak dulu memang telah mengaggap Claire dan Melodi sebagai anak kandungnya.
Seperti malam ini misalnya, ia sudah mewanti-wanti Melodi untuk tidak keluar agar tak tejadi sesuatu hal yang tidak di inginkan. Hal yang sebenarnya sudah jarang di terapkan di masa ini.
" Lah terus meetingnya gimana Pa?" protes Melodi yang sebenarnya masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan penting.
" Itu urusan nanti. Pakai sekretaris kamu. Atau pakai zoom meeting kan juga bisa. Yang penting kamu gak boleh kemana-mana dulu. Kalau Opa kamu masih ada. Dia pasti yang borgol kamu dirumah!" seru Papa Leo yang turut setuju dengan persyaratan Mama Jessika.
Melodi menurut. Ia lantas masuk ke kamar untuk mengirim email kepada jajaran direksinya. Ia yang kangen dengan Zayn akhirnya melakukan panggilan video.
" Sama. Zara aja juga ikut-ikutan rempong tuh!" balas si pria.
" Hah, yang bener?"
"Aku jadi pusing. Kemarin udah belanja. Sekarang udah belanja lagi. Yang menikah sebenarnya siapa sih?"
Mereka semua tergelak. Namun lambat laun berubah menjadi diam. Lama Zayn menatap wajah Melodi yang jika di rumah selalu tanpa riasan.
" Aku gak sabar!"
" Gak sabar buat apa hayo!" sahut Zara yang tiba-tiba nongol dan membuat Zyan terkejut.
" Ish anak kecil. Nguping pembicaraannya orang tua aja. Sama hus! hus!"
Melodi ngakak sampai perutnya kaku saat melihat Zayn dan Zara saling mengusir. Seru sekali pikirnya.
" Kamu selalu gitu? Aku dulu kalau sama Claire malah gak pernah ngobrol!" kata Melodi.
__ADS_1
" Biasanya juga enggak. Kalau sama kamu jadi gitu dia! Sebelah dua belas lah dia sama kamu!"
Lama keduanya kembali saling diam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Ada banyak sekali beberapa pernyataan yang sungkan Melodi ajukan. Tapi Zayn yang tahu seraut penuh beban akhirnya bertanya.
" Kamu kenapa kok diam, ada masalah?" tanya Zayn membaca mimik wajah.
Melodi menghela napas. "Aku takut kalau gak bisa jadi istri yang baik buat kamu Zayn!"
" Don't say that!"
" Aku harus ngelajutin perusahaan, dan kamu.."
" Jangan terlalu kamu pikirkan. Itu sudah menjadi tugasku nanti. Kita tidak perlu memaksakan diri untuk menjadi sama dengan yang lain karena pada dasarnya perbedaan itu indah!"
Melodi tersenyum. Kenapa selalu saja bisa menenangkan sih? Aku akan jadi baper.
" Aku hanya...kalau kita punya anak nanti..."
Zayn tersenyum licik kala melihat Melodi berkata dengan wajah ragu-ragu. Cenderung malu.
" Memangnya sudah siap?"
Melodi langsung tertunduk malu dengan wajah memerah. Kenapa malah jadi bahas ini sih?
" Aku hanya ingin kebahagiaan kita ini bisa membawa kebahagiaan lain." jawab Melodi akhirnya serius.
Zayn mengangguk. " Kamu benar-benar berbeda dari yang ku kenal awal dulu. Galak jutek!"
"Zayn!"
" Aku kangen. Cium dong!
" Zayn ih!"
Namun tanpa mereka duga, saat kedua manusia itu saling cap cup cap cup dan emuach- emuach lewat ponsel, si Zara malah memergoki.
" Mama, kak Zayn emuach-emuach sama kak Melodi! Hahaha!"
" Zara!!!!!" pekik kedua manusia itu dan membuat si biang onar seketika terbirit-birit kabur.
__ADS_1