
...🥀🥀🥀...
Claire yang sudah tiba dirumahnya beberapa jam yang lalu kini duduk dengan pikiran kosong di dekat anaknya yang masih tertidur. Raganya mungkin telah ada di Atana, tapi pikirannya masih tertinggal jauh di rumah Opa Edi.
Tentang bagaiman bisa kesemua keluarganya kompak memintanya untuk menjalin hubungan dengan Edwin.
" Kamu tahu Claire, aku bakal tetap nunggu kamu sampai kamu mau buka hati!"
Ia menatap wajah polos Neo saat kilasan ingatannya kembali pada perkataan Edwin beberapa saat yang lalu. Dibelainya rambut hitam anaknya lalu mengecup pipinya lembut.
" Maafkan Ibu nak. Semua ini karena Ibu. Membuatmu harus menanggung semua hal buruk ini!" Claire bergumam dengan sebulir air mata yang berjatuhan.
Apalagi, Neo benar-benar belum mau dekat dengan Edwin. Membuat segala sesuatunya tampak lebih sulit dari yang di bayangkan.
Tapi jika di pikir lagi, dengan ia menerima Edwin, semua stigma buruk yang melekat dalam dirinya pasti hilang. Selain itu, pria itu sebenernya sangat jantan dalam mengakui perasaannya.
Dan untuk Neo, semua hanyalah masalah waktu. Pun dengan Mama Edwin. Membuat dirinya tiba-tiba goyah.
" Soal Mama aku bakal meyakinkan beliau Claire!"
__ADS_1
Ia tak memiliki perasaan apapun kepada Edwin saat ini. Tidak kecuali hanya sebatas teman. Tapi desakan keluarganya terlebih wasiat Opa nyatanya membuat pikirannya jelas-jelas tak tenang.
"Mama hanya belum kenal sama kamu. Beliau sebenarnya sangat baik!"
" Ibu!" suara parau khas orang baru bangun tidur milik anaknya membuat Claire buru-buru menyeka air mata yang kini tak mau berhenti mengalir sebelum kepergok Neo.
" Ibu sudah datang?" seru Neo yang senang dan langsung memeluk tubuh Ibunya dengan sangat erat.
"Barusan sayang, Ibu baru aja sampai. Kamu pasti capek Ya? Tumben jam segini udah tidur?" tanya Claire dengan kasih sayang yang begitu tulus. Seolah ia tak ingin membuat Neo terluka.
Neo tersenyum. Andai Ibunya tahu jika hari-harinya kini terasa lebih menyenangkan sebab ada paman tampan.
Namun Claire tak menanggapi sebab Neo jika sudah suka dengan seseorang memang selalu begitu. Terus saja heboh.
" Saya tidak tahu Buk. Tapi den Neo lengket bareng sama orang itu. Memang ganteng sih buk orangnya."
Dan perkataan Juwi beberapa waktu yang lalu juga mendadak melintas di pikirannya.
" Ibu, kok malah melamun. Undangan makan malam disini Ya Bu?" rengek Neo yang malah mendapati ibunya sibuk melamun.
__ADS_1
" Iya nanti. Sekarang mandi dulu yuk. Habis ini makan, itu Ibu bawa oleh-oleh buat Neo. Ada titipan mainan juga dari Papa Deo dan Papa Demas!"
" Hah, beneran?"
Claire mengangguk yakin.
" Asyik! Mbak, mbak Juwi...aku mau mandi!" teriak Neo yang telah terhipnotis oleh perkataan ibunya.
Dan saat Claire hendak membereskan selimut anaknya, tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh saat ia menarik selimut Neo.
KLUTHAK!
" Apa ini?" gumam Claire meraih sebuah kartu yang cukup unik.
Ia membalikkan kartu itu lalu membacanya. Sebuah tulisan yang tak rapih, dengan aksen pewarnaan yang melebihi batas garis yang ada. Menegaskan jika tulisan itu adalah hasil karya putranya.
❤️Happy Father's day for Neo & Paman tampan ❤️
Membuat Claire seketika terharu. Siapa sebenarnya sosok paman tampan itu? Kenapa dunia Neo tiba-tiba teralihkan olehnya?
__ADS_1