
...🥀🥀🥀...
Dalam waktu sepersekian detik, Melodi berusaha mengingat sekaligus memastikan apakah dia kenal dengan pria berambut wet look yang terlihat akrab menyapanya itu.
" Emmm, maaf kamu?" tanyanya meragu sebab rupanya ingatannya soal lelaki di depannya tak cukup bagus.
" Yang di bar dulu. Sakha!" balas si pria penuh percaya diri. " Aku Arshaka, ingat?"
Oh my God! Pria di depannya itu bahkan bisa berubah menjadi lain hanya dengan merubah sedikit potongan rambutnya. Sulit di percaya.
" Oh.. iya-iya" Melodi yang ingatannya langsung kembali ke kejadian beberapa waktu yang lalu, akhirnya tertawa canggung.
" Boleh aku gabung?" tanya Sakha tampak antusias.
" Sil..."
"Terimakasih!" potong Sakha cepat bahkan sebelum Melodi menyelesaikan jawabannya. Membuat Melodi terdiam.
Kril Kril Krik!
Zayn menatap pria di depannya yang terlihat tidak tahu malu itu, dengan wajah datar cenderung bodo amat. Membuat Melodi benar-benar kikuk.
" Aku benar-benar gak nyangka kita bertemu lagi. Kok bisa ada di sini?"
Seketika obrolan menjadi di dominasi oleh pria dengan tindik di telinga itu. Bahkan, Zayn semakin nampak ogah-ogahan membalas apalagi mendengar.
" Aku... lagi mau ada pertemuan!" menjawab nyengir dengan gestur tak nyaman sebab seorang pria lain wajahnya langsung terlihat keruh.
" Oh begitu. Dengan tuan ini pastinya!" seru Sakha kembali kali ini dengan menebak Zayn.
Namun yang di sebut malah terlihat acuh tak acuh. Semacam tak peduli. Ia bahkan langsung menyedot sisa minumannya tanpa berkomentar apapun.
Dan melihat kebisuan Zayn, Melodi segera mengambil alih guna menyamarkan suasana yang benar-benar canggung itu.
" Ini kenapa si Zayn jadi nyeremin begini sih?"
" Ya benar, aku...mau ada pertemuan sama dia. Kamu, kenapa bisa disini?" tanya Melodi yang sesekali masih melirik seraut datar penuh misteri di sampingnya itu.
" Aku sedang menjadi tutor enterpreneur khusus beverage buat anak-anak muda. Ini sudah sangat lama sejak aku kecil dulu aku tak datang kemari. Oh ya, boleh aku minta nomor teleponmu?"
Anehnya Melodi tak langsung menjawab, ia kembali mendongak saat pria kaku di sampingnya malah berdiri tanpa aba-aba.
" Kalau sudah selesai aku tunggu di mobil. Kita akan terlambat!"
Lihatlah, bahkan pria itu kini pergi dengan kekesalan yang entah di tunjukkan kepada siapa.
-
-
Di dalam mobil.
Melodi menjadi takut sendiri sebab pria yang semula gacor itu kini menjadi tak bersuara. Senyap. Hening. Bisu.
Apalagi, semenjak Zayn mengatakan akan menunggu di mobil, aura yang terpancar semakin mengerikan.
__ADS_1
" Kau ini sebenarnya kenapa sih? Tiba-tiba diam begitu?" tukas Melodi yang tak tahan dengan kebisuan yang tercipta.
" Tidak ada!"
" Kalau tidak ada kenapa jadi senyap begitu?" cecar Melodi tak puas dengan jawaban Zayn.
" Sepertinya kau sangat senang dengan laki-laki tadi. Kau bahkan terlihat sangat akrab!"
Apa? Jadi itu alasannya? Tapi kenapa?
Melodi kontan terlolong. Vonis ngawur dari mana itu? Dan tunggu dulu, kenapa Zayn sekesal itu kepadanya?
" Memangnya kenapa, masalah buat kamu?" jawab Melodi yang sengaja ingin berkata ketus.
Namun Zayn tak menjawab. Ia tiba-tiba mengemudikan mobil Melodi dengan sangat cepat. Membuat gadis itu takut.
" Apa yang kau lakukan Zayn? Kau jangan gila!" teriak Melodi yang kini ketakutan sebab laju mobil itu benar-benar begitu cepat.
" Zayn! Turunkan kecepatanmu!"
" Kita sudah membuang waktu setengah jam lebih. Orang baru dan keterlambatan bukan sebuah pertunjukan yang baik!"
Apa? Sudah gila ya?
" Kau sendiri kan yang... Astaga Zayn!"
Melodi sampai takut sendiri sebab Zyan benar-benar ugal-ugalan di jalan.
"Dia ini sebenarnya kenapa sih?"
-
-
Zayn tak memperdulikan partner pentingnya yang kini menggerutu tiada henti. Ia sendiri juga tidak tahu, kenapa dia bisa sekesal itu. Yang jelas, ia tak suka.
Hari ini jika sesuai rencana, usai dari rapat guna membahas hal tentang produk yang akan di pasarkan, Zayn dan Melodi yang di temani beberapa manager terkait akan meluncur menuju pabrik.
Melodi tak menyangka jika pria yang berkali-kali membuatnya kesal itu sangat pandai berdiplomasi dengan bahasa lugas dan gaya yang berwibawa.
Bahkan, beberapa anak buahnya menyukai keramahan Zayn. Membuat Melodi tak hentinya menatap Zayn yang gencar melakukan sambutan di depan sana.
Menjelang siang, mereka terlihat semakin kooperatif dan kolaboratif. Bahkan Zayn langsung menyetujui rancangan packaging produk yang akan ia pasarkan di Atana.
"Hah, aku tidak menyangka jika gadis sepertimu bisa memimpin ratusan karyawan sehebat ini!" gumamannya saat hendak menuju ke basement kembali.
" Gadis sepertiku bagiamana maksudnya?" teriaknya tak terima.
" Ya gadis sepertimu!"
" Bisa nggak sih gak usah bikin orang kesel!"
" Nggak bisa!"
" Zayn!"
__ADS_1
Zayn kembali terkekeh-kekeh jika sudah mendengar Melodi mengoceh. Tapi tunggu dulu, apakah dia sudah tidak sekesal pagi tadi?
" Aku sudah memutuskan tak akan check in di hotel. Aku ingin menginap di rumahmu. Bukankah kau sekarang sendiri?"
" Apa? Jangan gila kau!"
Kali ini bukan hanya berteriak, tapi Melodi benar-benar terlihat shock dengan apa yang barusaja ia dengar.
" Aku sangat bosan. Lagipula, bagiamana jika seseorang menculikku?"
"Menculik bagaimana maksudmu. Wajahmu saja mirip penculik! Tidak mau, enak saja kau!" tolak Melodi dengan muka bersungut-sungut. Kesal bukan main.
" Ya sudah. Kalau begitu kita batalkan saja kerja sama ini!"
" Kau..."
" Apa?" balas Zayn melipat kedua tangannya dengan wajah menyebalkan.
" Ini masih siang. Kita membatalkan kerjasama ini jika kau mau!"
Sungguh sial. Jika begini menyesal sekali dia tadi sempat memuji Zayn.
Melodi akhirnya kalah. Ia mau tidak mau akhirnya menyetujui ide gila pria itu sebab proyek ini penting untuk dirinya. Apalagi, ia ingin membuktikan kepada sang Papa jika dirinya bisa menguasai pasar asing.
Membuatnya langsung merogoh saku untuk menghubungi seseorang.
" Halo mbak Yuyun?"
" Ya mbak?"
" Mbak tolong bersihin kamar tamu Ya?"
" Siap mbak, mau ada siapa?"
" Ada tamu. Tapi, tolong jangan bilang ke Mama sama Papa ya? Nanti aku ceritain!"
" Baik mbak!"
TUT!
Melodi melempar tatapan kesal kepada manusia yang kini senyam-senyum menatapnya.
" Puas lo, partner tidak tahu diri!" oceh Melodi sembari ngeloyor pergi.
Zayn masih saja berdiri sembari tersenyum-senyum penuh arti. Bersyukur karena Melodi mau menerimanya menginap sebab sebenarnya ia sedang menghindari satu hal.
Mbak Yuyun yang barusaja di telepon oleh Melodi kini tertegun. Membuat Pak Har merasa penasaran.
" Kenapa diam begitu. Kayak orang kesambet?"
"Pak Har, masa Mbak Mel mau bawa tamu tapi gak boleh bilang ke Ibuk sama Bapak!"
Namun alih-alih turut khawatir, pak Har malah terlihat antusias.
" Jangan-jangan itu pacarnya. Wah, bagus Yun!" serunya sumringah.
__ADS_1
" Pak Har ini gimana sih, masa bawa pacar nginep malah bagus!" balas mbak Yuyun mendengkus kesal.
" Maksudnya ,bagus kalau Mbak Melodi udah mau suka sama lawan jenis!"