My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 9. Find a new friend


__ADS_3

...🌸🌸🌸...


Di sore yang melelahkan, Claire menghembuskan napas saat membaca surat resmi dari sekolah dimana di sekolah baru itu juga akan menggelar acara bertemakan hari ayah.


CK, yang benar saja!


Untung saja surat itu langsung diberikan kepada Claire. Ia kini pusing karena takut kalau-kalau kejadian serupa akan terulang dimana ia cemas bila akan ada lagi yang membuli anaknya.


Namun permasalahan utamanya bukan itu, tepat di hari dimana dia harus menemani Neo untuk menghadiri acara itu, sang Mama malah menelpon dan meminta Claire untuk datang ke Indonesia detik itu juga sebab kakek tiba-tiba kembali Anfal.


Membuatnya kini bingung sebingung- bingungnya.


" Neo gak mau ikut, Neo mau ke sekolah sama teman!"


Anak banteng itu malah mengamuk begitu mendengar suara sang Mama yang mengajaknya untuk terbang ke Indonesia.


" Aku mau sekolah, aku gak mau ke kakek buyut!"


Claire kembali menghela nafas panjang guna memupuk kesabaran. Bagiamana dia tidak bingung jika seperti ini, niat hati ingin mengajak Neo menemui kakek buyutnya tapi anak itu benar-benar keras kepala.


" Biar sama saja Bu, ibu tinggal saja menemui tuan besar. Nanti saya akan bujuk sepulang sekolah. Jika den Neo mau, saya bisa menyusul Ibu nanti pakai pesawat yang sore!"


Membuat Claire kini menatap Juwita seraya berpikir.


" Apa kau yakin Wi?" tanya Claire muram.


Perempuan itu mengangguk.


" Kasihan den Neo Bu. Lagipula, ini kali pertamanya den Neo mengikuti acara seperti itu. Sepertinya anak-anak di sekolah yang baru ini lebih ramah!"


Usai berpikir keras dan menimbang saran daei Juwi, ia akhirnya menyetujui ide Juwi meski berat. Bagiamanapun juga, kakeknya juga sangat penting.


" Ibu mau jenguk kakek buyut dulu kalau begitu ya? Kalau Neo nanti mau nyusul mama ke rumah kakek, nanti bisa sama mbak Juwi ya naik pesawatnya?"


Neo mengangguk mengerti. Lagipula selama ini ia juga sudah terbiasa di tinggalkan bekerja oleh Claire, jadi apa bedanya?


" Neo gak mau ikut Ma!" katanya penuh sesal saat mama Bella menelpon.


" Ya sudah kalau gak mau. Kalau kamu paksa nanti malah ada apa-apa di jalan. Sini biar Mama ngomong sama Juwi dulu!"


" Ya nyonya?"


" Titip cucu saya..."


-


-


Juwita menatap murung Claire dengan dada sesak usai telepon itu telah terpungkasi dengan wajar. Sepertinya tuan Edi benar-benar sedang kritis.

__ADS_1


Di depan sekolah.


" Mama pergi dulu ya sayang. Nanti sama mbak Juwi!" kata Claire yang sejenak ingin memberi pengertian Claire sebelum ia menuju bandara.


Neo mengangguk, " Mama jangan lupa nelpon Neo ya?"


Claire seketika memeluk tubuh Neo lalu menciumnya lama. Keadaan yang mendesak membuatnya harus meninggalkan anaknya sebab takut kalau-kalau terjadi sesuatu kepada kakek dan bakal membuatnya menyesal.


Di dalam sekolah.


Neo menatap takjub hiasan indah yang sengaja dibuat untuk memeriahkan acara bertajuk father day itu dengan perasaan gembira. Neo sudah cukup kenal dengan teman-teman barunya dan tampak membaur disana ceria dengan para teman-temannya.


Namun keceriaannya itu rupanya tak berlangsung lama. Neo tiba-tiba menjadi murung saat melihat para ayah dari teman-temannya datang satu demi satu.


" Mbak Juwi, kenapa semua duduk sama orang?"


Membuat Juwi kini panik.


" Den Neo sama mbak Juwi, kita bisa duduk di kursi paling depan!" ucap Juwi yang sebenarnya kini menahan perutnya yang tiba-tiba mulas.


" Gak mau, aku mau kayak mereka, huhuhu!"


Dan tangis Neo kini semakin membuat Juwi bertambah mulas.


" Biar sama saya saja mbak. Mbak Juwi sepertinya....!" kata Bu guru kepada Juwi yang tiba-tiba sakit perut.


" Benar Bu, saya sedang...."


Neo semakin menangis saat Juwi kini terbirit-birit menuju kamar mandi. Entah apa yang tadi di makan oleh wanita itu sehingga perutnya kini konslet.


Sejenak, Neo berhasil di tenangkan oleh gurunya itu.


Namun saat semua teman-temannya satu persatu di sapa oleh ayahnya yang mulai berdatangan dan memenuhi kursi, Neo celingak-celinguk demi mencari sosok mbak Juwi yang tak kunjung kembali.


Dan sialnya lagi, Bu guru yang tadi mengatakan akan menemani Neo tiba-tiba diminta kepala sekolah untuk menyambut tamu sebab rupanya rombongan Sadawira telah datang.


Membuat bocah itu pergi dan menepi sebab matanya terus basah. Neo iri dan malu karena duduk seorang diri di kursi dingin itu.


Neo kini menangis di balik pot besar yang membuatnya tak terlihat. Bocah itu sedih karena melihat teman-temannya yang lain tengah duduk bersama ayah mereka seraya tertawa.


Lihatlah, semua anak tertawa kecuali dirinya.


Namun beberapa waktu kemudian, Neo yang sibuk mengusap matanya yang berair tiba-tiba mendengar suara pria yang pernah dia dengar dan membuatnya terkejut.


" Lho, kok kamu sendiri lagi?" tanya seseorang yang membuat Neo bagai terciduk.


Ya, Sadawira yang hendak menuju ke kursi yang telah di sediakan oleh panitia, tiba-tiba merasa kandung kemihnya penuh.


Namun saat langkahnya sudah dekat dengan tempat tujuannya, ia menjadi terkejut saat lagi-lagi melihat bocah yang sama , dan kini terlihat duduk dengan wajah muram yang memilukan.

__ADS_1


So pitifull!


" Semua orang punya ayah, tapi aku tidak punya ayah!" jawab bocah itu dengan suara tak jelas sebab sambil menangis.


DEG!


Sadawira memang langsung terkejut saat anak itu angkat bicara. Tapi bukan kalimatnya yang membuat dirinya terkejut, melainkan raut wajah Neo yang kini membuatnya ingat akan foto dirinya yang di temukan oleh Nino tadi malam.


" Oh my....kenapa dia bisa mirip dengan diriku?"


Dan lebih gilanya lagi, ia kini menjadi sangat trenyuh sebab anak itu terus menangis tanpa ada guru yang mencarinya. Semua memang sedang sibuk mengurus ini itu dan tak bisa di salahkan.


"Memangnya ayahmu kemana nak, dan dimana Ibumu?" tanya Sadawira muram yang kini celingak-celinguk mencari seseorang di sekelilingnya namun yang nampak hanya keriuhan di dekat panggil.


Neo kini menggeleng murung, " Ibu hanya mengatakan jika aku ini anak Ibu!"


Sada menelan ludahnya cepat sebab tiba-tiba jalaran rasa iba bercampur sesuatu yang aneh kini berkecamuk di dalam hatinya.


" Aku tidak punya ayah Paman. Aku tidak ingin duduk disana!"


Membuat hati Sadawira bagai teriris sembilu tajam.


" Hey jangan sedih!" hibur Sada yang kini menangkup wajah penuh linangan air mata itu.


" Kau tahu, Paman juga tidak punya ayah!"


Membuat Neo sejenak menghentikan tangisnya sebab ada yang sama dengan dirinya.


" Bagaimana kalau kita setelah ini kesana bersama-sama!" tawar Sadawira tersenyum cerah.


" Apa paman juga murid?" balas Neo yang kini mulai bisa menghentikan tangisnya.


Sada menggeleng sambil tersenyum, " Paman bukan murid, tapi paman di undang!"


" Apakah Paman seorang ayah?"


Sada kembali menggeleng. A brave boy!


Tapi tunggu dulu, sepertinya dia memiliki ide yang bagus untuk membuat anak itu tersenyum kembali.


" Begini saja. Bagiamana jika Paman duduk di sampingmu saat di sana. Anggap saja paman ini ayahmu, setuju?"


Kini Neo tersenyum. Dia dan paman itu sama-sama tak memiliki ayah bukan? Hey, apakah itu artinya mereka sudah berteman?


" Paman mau jadi ayahku?" tanya Neo lagi yang kini memiliki pengharapan meksipun semu.


" Kenapa tidak? Aku juga tidak memiliki Ayah, kau juga kan? Kita bisa sama-sama duduk berdua dan menikmati coklat yang lezat sebagai teman!"


Maka mata Neo seketika berbinar sebab ia tak akan duduk sendiri lagi di depan sana. Membuat Sadawira merasakan kehangatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

__ADS_1


" Ayo paman, kalau begitu ayo kita kesana!"


__ADS_2