My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 23. Siapa dia?


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Senja mulai terbenam dan digantikan oleh udara malam yang menentramkan. Sepasang tangan mulus itu tengah sibuk menata beberapa piring, sendok, juga hasil masakan Juwi saat suara deru mobil mulai terdengar.


Itu pasti Edwin.


Ya, Claire sengaja mengundang Edwin untuk datang sebab ia ingin Neo mulai terbiasa dengan pria itu. Karena jujur, apa yang dikatakan oleh mamanya beberapa waktu yang lalu sangat mengusik pikirannya.


" Neo belum terbiasa saja. Semua itu hanya masalah waktu. Kalau Edwin ok, berarti masalahnya tinggal di kamu!"


" Neo akan mengerti seiiring dia beranjak dewasa nanti!"


" Soal Mamanya Edwin, beliau belum tahu saja siapa keluargamu nak. Mama sama papa bisa bantu jelaskan nanti!"


Hatinya meragu, ibarat cawan yang tak terisi apapun. Ia harus mengakui jika dirinya sama sekali tak memiliki perasaan kepada Edwin.Tapi jika di pikir lagi, apa iya masih ada orang yang mau menerima dirinya dengan segala kepahitan masalalu nya selain Edwin?


Terlebih, Edwin juga merupakan orang yang mau mengutamakan Neo meski anaknya itu masih sangat sulit menerimanya.


TING TONG


" Biar aku buka Bu!" seru Neo tampak tak sabar.


Claire mengangguk.


CEKLEK!


Namun sepasang mata penuh harap itu tiba-tiba meredup manakala apa yang di harapkan bukan sesuai ekspektasi.


" Yah...aku kira paman tampan yang datang!" gumam Neo dengan bibir manyun. Membuat Edwin langsung mengerutkan keningnya manakala melihat wajah kecewa Neo.


Kenapa memangnya?


" Bu, ada om Edwin!" teriak Neo melapor sembari kembali ke dalam dengan wajah kusut. Membuat Claire menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Hy!" sapa Edwin yang kini menuju ke ruang tengah.


" Hy!" balas Claire tersenyum.


" Neo kenapa, kok kelihatan kecewa pas aku datang?"


Claire menghembuskan napasnya. Dia akhirnya menceritakan apa yang beberapa waktu ini cukup menjadi perhatian Neo. Tentang kenapa juga ia harus mengundang Edwin.


" Siapa memangnya donatur baru itu?" tanya Edwin sembari mencomot rolade daging yang teksturnya lembut dan kres.


Claire hanya mengendikkan bahunya jujur, " Aku lupa nanya ke guru tadi siapa nama donatur itu. Ya sudahlah, kamu gak keberatan kan kita makan bareng?"


" Oh tentu tidak. Jadi...apa yang bisa aku bantu?" jawab Edwin yang kini mencomot potongan kedua.


" Ini enak!"


" Kamu suka?"


" Mamaku pasti suka kalau tahu kamu bisa buat rolade seenak ini!"


Sementara itu di lain pihak, Sadawira yang kini turun ke bawah dengan tampilan yang rapih namun casual, membuat Nino terlolong. Mau kemana bosnya itu rapih di jam malam ini?


Lebih-lebih, pria yang tak mencukur bulu-bulu di sepanjang rahangnya itu terlihat membawa paper bag yang lumayan besar. Apa isinya?


" Bos mau kemana?" tanya Nino yang memindai tampilan kece bosnya.


" Aku tidak makan malam dirumah No. Kamu makan saja dulu!"

__ADS_1


" Bos mau makan malam di luar?" tebak Nino dengan alis berkerut.


Sada mengangguk, " Dapat undangan spesial!"


" Dari?" semakin membidik dengan tatapan penuh selidik.


" Neo!"


Nino langsung membelalakkan matanya. Jadi undangan itu dari seorang bocah yang sering di gembar-gemborkan Sadawira saat sarapan? Apakah bos-nya memang sefrustasi itu sehingga ia kini lebih meladeni anak-anak ketimbang wanita cantik?


" Bos akan pergi kerumah janda itu. Mak- maksud saya, ibunya Neo tinggal hanya dengan Neo saja kan bos? Sebaik-baiknya bawa teman, takutnya...."


Sadawira tertegun saat melihat Nino menahan kalimatnya, benar juga apa yang di sampaikanlah oleh Nino. Sungguh tak enak jika dia datang sendiri. Meski ia yakin jika Neo adalah anak yatim, tapi mendatangi rumah janda seorang diri memang kurang pas.


TING TONG!


Dentang bel membuat dua orang itu seketika menoleh ke sumber suara secara bersamaan. Dan tanpa menunggu di perintah, Nino kini melesat keluar guna membuka pintu.


Dan saat pintu itu telah terbuka, mendelik lah Nino tatkala mendapati sosok Diva telah berdiri di depan pintu dengan tampilan cantik.


" Apa Sada ada?"


Alih-alih menjawab, Nino malah meneguk ludahnya cepat sebab terus terang saja, ia kurang suka dengan Diva.


Namun sahutan dari dalam menjadi jawaban paling menyenangkan yang bisa di dengarkan Lang oleh Diva.


" Siapa No?" seru Sadawira yang menyusul Nino.


Sada seketika tertegun saat melihat Diva berdiri dihadapan Nino yang tampak canggung.


" Nona Diva bos!"


-


-


Sada diam manakala Diva sedari tadi ngoceh karena kegirangan. Ia mengajak Diva karena selain tak enak menolak tamu, ia juga membutuhkan teman seperti yang di sarankan Nino tadi.


Dan Diva merupakan wanita yang pasti tahu hal-hal krusial macam itu.


" Apa kau sudah membawakan hadiah untuk anak itu? Kita bisa membelinya dulu!"


" No need, aku udah meletakkannya di belakang!"


Diva merasa sangat beruntung karena malam ini akhirnya ia bisa duduk satu mobil dengan Sadawira. Padahal, niatnya datang kesana adalah karena ingin membicarakan soal teknis kedatangan client dari Eropa yang beberapa hari lagi akan datang.


" Apa kau sudah pernah berkunjung?"


Sadawira menggeleng, Ia kini mengingat petunjuk yang diberikan Andrew soal alamat yang dituliskan Neo pada undangannya.


" Itu merupakan unit rumah baru di kantorku yang kapan hari laku Da. Kau pernah ikut denganku kesana kan?"


Sungguh kebetulan sekali, rupanya orang tua Neo bukanlah orang sembarangan. Buktinya, bisa membeli rumah mewah yang di desain oleh sahabatnya itu.


Dan usai memastikan ia telah berada di unit yang benar, Sadawira terlihat membelokkan mobilnya sebab nomor rumah yang ada di pagar terbuka itu benar.


" Murid di sekolahmu itu kelihatannya bukan orang biasa!" kata Diva yang sejatinya juga mewakili isi hati Sada. Tak mengira jika rumah Neo sebesar ini.


Tapi kenapa Neo sering bersedih? Apa ibunya merupakan janda kaya yang selalu sibuk bekerjasama sehingga lupa mengurus anak?


Namun saat hendak melangkah masuk, ponsel Diva bergetar.

__ADS_1


" Ada apa?" tanya Sadawira menatap Diva.


" Aku akan menyusul setelah ini, ada telepon penting!"


Sadawira mengangguk, Diva memang wanita karir dalam arti sebenarnya.


Tanpa ragu, ia kini berjalan maju lalu menekan tombol di depan itu dengan hati tak sabar. Ia penasaran dengan reaksi Neo saat mendapatkan hadiah darinya.


Wajah penuh sukai itu selalu menjadi candu bagi Sadawira. Oh andai Zayn tahu jika dia kini sedang berdiri menunggu pintu di buka di depan rumah anak kecil itu, bisa habis di maki dia.


Ok, here we go!


Entahlah, Neo benar-benar bisa mengalihkan dunianya. Bahkan membuatnya kembali sadar jika di tengah-tengah kepahitan hidupnya saat ini, tenyata ada sosok yang membuatnya merasa di perlukan dan di akui.


Neo!


Bahkan meski keduanya hanya mengenal dalam waktu singkat, tapi tidak tahu kenapa batinnya seolah terikat dengan anak itu.


CEKLEK!


Daun pintu lebar itu terbuka dan tampaklah wanita yang beberapa hari yang lalu ia jumpai mengantar Neo.


" Pak donatur? Mari pak masuk, astaga maaf agak lama membukakan pintu, tadi masih bantu ibuk, mari masuk pak!"


Sadawira tersenyum, " Tapi, masih ada teman saya diluar!"


" Baik pak, setelah ini akan saya jemput, mari silahkan masuk dulu!"


Saat melangkahkan kakinya, Sada menghirup satu aroma yang mendadak membuatnya teringat dengan seseorang. Seruak parfum yang benar-benar familiar itu, membuat degup jantungnya tak beres.


" Parfum ini!" bergumam sambil terus mengendus.


Ia tahu, parfum ini merupakan wangi ekslusif yang hanya di produksi dalam jumlah tak banyak. Hanya ada beberapa saja di dunia. Dan dia tahu siapa yang pernah memakai parfum ini.


Tapi ya sudahlah, orang tua Neo kan orang berada, tentu bukan perkara sulit untuk urusan parfum semahal itu.


" Bu, Pak donatur sudah datang!" seru Juwi melapor.


" Paman sudah datang mbak?" sayup-sayup teriakan Neo berhasil membuat wajahnya bergerak dan menyunggingkan senyum. Dia benar-benar telah di tunggu.


Ia menjadi tersenyum sendiri saat wanita itu berteriak dan memproklamirkan kabar jika dirinya telah datang. Dan sebutan Pak donatur ia rasa cukup membuatnya ingin tertawa. Sungguh menggelikan.


Namun tawa yang semula tampak menghiasi wajah Sadawira seketika lenyap, manakala kedua matanya kini menangkap sosok yang tiba-tiba membuat hatinya bergetar hebat.


Bagai di sambar petir, Sadawira dengan mata kepalanya sendiri kini melihat sosok Claire berdiri tepat di jarak yang tak lebih dari dua meter.


Apa-apaan ini? Apakah dia bermimpi?


PRYAANG!


Bahkan gelas dan nampan yang dibawa wanita itu kini jatuh sebab rupanya Claire sama terkejutnya dengan Sadawira.


Oh my!


Dan bukan hanya itu, saat kedua matanya masih mendelik dengan tubuh yang mendadak bagai tak berjejak demi melihat sosok yang selama ini ia cari kini sibuk dengan pecahan gelas dan nampan, muncullah seorang pria yang mungkin berusia sama dengan dirinya, yang dengan sigap berjongkok di dekat wanita itu.


Terlihat begitu akrab.


" Apa yang tejadi, kau tidak apa-apa?" tanya pria itu yang menunjukkan sorot penuh kekhawatiran yang mendalam seraya meraih tangan Claire dengan wajah cemas.


Membuat dunianya bagai berhenti detik itu juga.

__ADS_1


" Siapa dia?"


__ADS_2