My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 34. Mood yang rusak


__ADS_3

...๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€...


Mama Bella bisa menganalisa bila mertuanya itu membutuhkan bantuan oksigen. Papa David terlihat mengemudi dengan kecepatan tinggi. Di jok belakang dua wanita itu duduk menjaga mertuanya yang lemas. Papa Leo terlihat serius menghubungi pihak rumah sakit guna mempersiapkan tempat.


Dan benar saja, setibanya mereka dirumah sakit, mereka langsung di sambut oleh tenaga medis yang sudah bersiaga.


" Awas pelan-pelan!" seru Papa Leo yang kini membatin papanya untuk pindah ke brankar.


Mama Jessika terlihat mengusap punggung Mama Bella yang tampak terpukul kala melihatnya Opa di geledek menuju ruang tindakan. Penurunan kesehatan mertuanya benar-benar membuat dirinya merasa sedih.


" Sudah, sebaiknya kita tenang dan mendoakan Papa. Kalian ikuti Papa dulu, aku akan coba hubungi anak-anak!" seru Papa David yang kini hendak menghuni Deo juga Demas.


Papa Leo mengangguk patuh dan kini terlihat merengkuh tubuh lemah istrinya lalu berjalan menuju ke arah ruangan dimana orang tuanya kini di rawat.


Mama Jessika menatap Papa Leo yang berjalan membawa istrinya menuju ke arah dalam. Entah mengapa ia merasa sangat tidak tenang kali ini.


Sejurus kemudian ia melihat suaminya yang terlihat berbincang serius menggunakan ponsel dari jarak beberapa meter darinya.


" Semoga kamu senantiasa diberikan kesabaran Mas!"


Beberapa saat kemudian, Mama Jessika menyongsong suaminya yang sepertinya sudah selesai menghubungi kedua anak mereka.


" Gimana mas?" tanyanya dengan wajah menunggu.


" Deo mau kesini, Bima dan adiknya udah tidur, jadi Arimbi gak bisa ikut!"


Mama Jessika mengangguk, " Demas?"


" Demas juga udah dalam perjalanan!"


Keduanya saling menatap resah. Perasaan yang sulit di definisikan. Semacam sedih, juga takut kehilangan kini menyeruak.


...----------------...


Pagi harinya.


Sadawira akan sibuk beberapa hari lagi, mengingat akan ada tamu dari Eropa yang bakal berkunjung ke pabriknya. Membuatnya berinisiatif untuk mendatangi Neo ke sekolah sebelum ia di telan kesibukan.


Hah, entahlah. Semakin ia tahu bila Neo adalah anak Claire, gejolak yang menggebu-gebu dalam dadanya semakin sulit diredam.


Namun harapannya yang semula berkobar mendadak redup manakala Ibu kepala sekolah mengatakan kalimat yang membuatnya bertanya-tanya.


" Maaf Pak Sada, tapi Ibunya Neo tadi malam menelpon dan meminta izin Neo untuk tidak masuk selama beberapa hari!"


Sadawira terkejut bukan main.


" Apa Ibunya bilang ada acara apa?" bertanya dengan tidak tahu malunya. Membuat Ibu kepala sekolah mengerutkan kening.


" Sebenarnya ada hubungan apa Pak Sada dengan Neo?"


" Maaf, tapi...kami kurang tahu pastinya. Beliau hanya mengatakan jika akan ada urusan penting ke Indonesia!" menjawab dengan ragu-ragu.


" Ke Indonesia?" pekik Sadawira dengan mata melebar.


Ibu kepala sekolah kontan mengangguk dengan wajah bingung demi keterkejutan yang tampak nyata di wajah Sadawira.


Ia kini kembali kedalam mobil dengan langkah gontai dan pikiran yang melayang entah kemana. Neo izin dalam waktu yang tidak diketahui berapa lamanya. Dan kenal harus ke Indonesia?


" Kenapa mendadak pergi? Apa Claire mau menghindariku lagi?" batin Sada semakin resah. Menduga-duga hal yang makin membuatnya tak tenang.


" Apa mereka akan pindah kesana?"

__ADS_1


Pertanyaan di pertanyaan yang kini mengusik otaknya semakin menjadikan insan fakir cinta itu sakit kepala.


Ia lantas melajukan mobilnya kembali ke kantor. Wajah kusutnya membuat beberapa karyawan enggan untuk menyapa. Bahkan, tak sedikit pegawai yang kini berkasak - kusuk manakala melihat Sadawira yang tampak melamun.


" Loh, Pak Sada sudah kembali? Katanya mau..."


" Bawa semua dokumen yang musti saya tanda tangani!" sahutnya membuat ucapan Dollar lenyap ke udara.


" Maaf Pak, tapi dok..."


" Bawa semua yang sudah selesai. Yang musti saya tanda tangani, saya akan sibuk beberapa hari ini!" Sada memekik.


Ucapan Dollar menguap bersama rasa takutnya manakala melihat wajah Sadawira yang kini semakin keruh. Menandakan jika suasana hati bosnya sedang not good.


" Aneh banget si bos. Tadi pagi aja masih cerah, kenapa bisa tiba-tiba mendung begitu?"


Dollar yang kini sudah berada di luar ruangan hanya bisa menggerutu sebab tak enak sekali jika suasananya hati bosnya runyam begitu.


" Ngomong-ngomong sendiri, udah tak waras kau agaknya ya?" cibir Henry yang kini harus mengalihkan pandangannya tatkala Dollar datang dengan bibir menggerutu.


Membuatnya tak bisa konsentrasi saja!


" Eh Hen, sejak anak bernama Neo itu ada di hidupnya pak Sada, mood atau suasana hati Pak Sada itu kayak aneh lo!" malah bergunjing sebab ia tak terima kena omel.


" Hidup terlalu banyak ngurusin orang lain gini nih!" sahut Henry seraya memutar bola matanya malas.


" Bukan ngurusin, coba deh kamu pikir-pikir lagi. Kalau mood bos baik, kerjaan kita juga enak. Sebaliknya..."


Namun belum juga ucapan Dollar terlontar dengan normal, pesawat ekstensi di meja Henry berbunyi. Membuat bibir mangap itu kini menjadi mendengus.


" Ya Pak?" jawab Henry begitu gagang telepon itu telah menempel ke daun telinganya.


" Ba- baik Pak, akan segera saya kirimkan!"


Henry menutup pesawat telepon itu dengan wajah manyun. Benar juga yang dikatakan Dollar.


" Bener kan, itu yang aku maksud!" seru Dollar kepada Henry yang kini paham dengan maksud rekannya itu.


Benar sekali, tidak enak betul rasanya jika bosnya itu menjadi ketus. Padahal, selama ini bosnya itu tak pernah menunjukkan wajah kusut.


-


-


Edwin yang diminta Claire untuk ikut ke Indonesia benar-benar sedikit terkejut. Beruntung visa kunjungnya masih aktif. Sebab sebagai dokter yang berkompeten, dia juga sering pergi ke negara lain untuk urusan dinas. Termasuk Indonesia.


" Sory ya Win, aku..."


" It's Ok aku malah senang kok. Aku udah bilang sama rekanku buat gantiin jadwal. Kebetulan aku memang mau cuti, jadi..."


Neo memperhatikan interaksi keduanya dengan wajah bingung. Ya, mereka kini sudah berada di bandara dan hendak masuk untuk melakukan check in.


Ibunya terlihat berkali-kali tersenyum kepada paman Edwin, tapi tak sekalipun tersenyum saat paman Sada datang. Membuatnya kesal saja!


TIT


Neo mendongak kaget saat tubuhnya yang kini melalui X-ray tiba-tiba berbunyi. Menegaskan jika ada benda dari logam yang masuk screening.


" Tolong masukkan robotnya ke dalam bagasi !" seru petugas di balik monitor X-ray kepada pemeriksa di pintu masuk.


Neo seketika murung. Jelas itu yang di maksud adalah robot dari paman Sada.

__ADS_1


" Ibu, apa ini tidak boleh dibawa?" tanya Neo muram. Namun Claire yang sibuk masuk tak menjawab sebab kesal dengan Neo yang ngeyel membawa benda itu.


" Boleh nak, tapi tidak boleh dibawa ke dalam pesawat, harus masuk bagasi!" jawab petugas wanita yang terlihat ramah.


Dan saat Paman Edwin sudah masuk ke area dalam, dia berbisik lirih kepada Neo. Bahkan wangi napas pria berkacamata itu, membuat Neo merinding.


"Robotnya boleh dibawa, tapi masuk koper nanti ya?"


" Kenapa tidak boleh aku bawa ke kabin?" tanya Neo yang kini muram. Takut kalau robot yang kini menjadi kesayangannya itu akan rusak.


" Karena..."


" Sudah Neo, menurut saja. Kita akan ketinggalan pesawat nanti. Lagian kamu udah Ibu bilang tidak usah membawa itu, tapi kamu susah di kasih tahu!"


Suara Ibu yang tiba-tiba menyambar bagai gelegar membuatnya tiba-tiba ingin menangis. Neo semakin cemberut. Membuat Edwin menghela napas.


" Jangan di marahi disini, kasihan Neo!" kata Edwin yang tak setuju sebab Claire nyaris saja kehilangan kontrol. Membuat beberapa penumpang lain turut menoleh.


Claire membasuh wajahnya resah. Sungguh, tak ada maksud untuk memarahi anaknya. Ia saat ini sedang stres sebab Mama mengabari jika Opa malah dirawat di RS.


Claire hanya kesal kepada anaknya sebab dirinya kini terus teringat dengan Sadawira jika melihat mainan berharga mahal itu.


Neo yang melihat Ibunya kini lebih sering memarahinya merasa sedih dan ingin menangis. Kenapa Ibunya menjadi mudah marah sekarang?


" Paman, aku ingin bertemu dengan paman!" batin Neo yang kini mengusap wajahnya berulang kali.


.


.


.


.


.


.


curhat dikit ya๐Ÿคญ


Sebelumnya, terimakasih sudah mau membaca ini.


Mommy cuman mau bilang buat para pembaca baru yang ' mungkin' memang baru membersamai kisah Sadawira dan Claire, atau bahkan baru nemuin Mommy di PF ini, mommy makasih banget udah di kasih krisan.


Namun, izinkan juga mommy memberikan bab perso nggeh . Mommy sejak awal nulis kisah di NT memang alurnya cenderung slow, dan banyak sekali pemerannya. Jadi, untuk yang terbiasa baca karya yang beralur cepat, mungkin agak merasa lain.


But it doesn't matter. Like and dislike itu udah biasa.


Akan tetapi, bukan berarti mommy sengaja membuat kisah yang bertele-tele sebab semua bab sengaja mommy buat detail agar runut. Dan semua penulis, pasti punya ciri khas tersendiri.


Ada beberapa novel yang sengaja mommy buat tidak sampai seratus bab tapi banyak yang pinginnya panjang. Well, ini jadi noted tersendiri buat penulis.


Sebenarnya, secara teknis misal cerita itu sudah tidak bisa di kembangkan, ya mommy stop disitu karena jujur, takut semakin gak jelas nantinya. Tapi untuk dua novel mommy yang pendek itu, sebenarnya masih bisa di kembangkan. Namun, kisah Tamat itu kan bervariasi, tidak melulu harus tuntas tas nggeh.


Tapi mommy percaya, dari ratusan pembaca, pasti ada yang bisa memahami apa yang mommy tulis, sebab meskipun jauh dari kata sempurna, tapi mommy menulis menggunakan hati. Apa yang tertuang, selalu mommy kaji berulang kali agar apa yang Mommy maksud bisa sampai ke pembacaan.


Sebab sejatinya keindahan literasi tak hanya soal cepatnya cerita, melainkan bahasa, serta keindahan kalimat yang mungkin bisa menjadi satu kesan yang bakal diingatkan oleh pembaca.


Selain itu, mommy ini adalah salah satu dari ratusan penulis yang juga berjuang di bawah naungan jumkat ( jumlah kata). Semoga bisa dimengerti ya๐Ÿ˜‡


Akhir kata, selamat menyambut hari raya Idul Fitri 1444H, mohon maaf lahir dan batin ๐Ÿ™๐Ÿ˜˜

__ADS_1


Tetap sehat, tetap cangar- cengir๐Ÿค—


__ADS_2