
...🥀🥀🥀...
Sada terdiam. Sementara Melodi menotolkan cairan antiseptik ke beberapa titik luka ke wajah bonyok yang parah. Zayn memandangi Sada penuh ketidakpercayaan, dan Melodi memilih fokus pada luka-luka yang membuat laki-laki itu babak belur tak karuan.
" Jadi orangtuanya Claire sudah ada disini?" tanya Zayn yang terkejut bukan main. Masalah semakin runyam dan kompleks.
Sada hanya menjawab dengan anggukan samar sebab Melodi tenyata galak juga dalam mengobati, jika pasiennya tak mau diam.
" Lagian, kenapa gak melawan sih?" seru Melodi kesal yang kini mengipasi wajah Sada agar cairan itu cepat mengering sebelum mengoleskan salep.
" Kamu gila ya, itu kan Papa kamu?"
Zayn dan Melodi lagi-lagi malah bertengkar. Sada terlihat ingin tertawa demi melihat kesamaan dua orang di depannya. Sama-sama menjadi bodoh saat situasi tegang.
" Hey, ambilin minum dong!"
Zayn langsung tergeragap karena sebuah perintah yang relevan itu. Merutuki kebodohannya sampai tidak menyuguhi Sada dengan minuman sebab masih shock.
" Begitu aja pakai di ingetin!" cibir Melodi yang malah justru mengomel tiada henti.
Entahlah, melihat wajah Sadawira seperti ini rasa-rasanya ia tidak tega. Ia memang tak suka dengan pria di depannya ini, namun tak adil juga jika dia tak peduli dengan orang yang terkena musibah. Ralat, lebih tepatnya azab.
Dan di sela-sela kesakitan yang tengah di dera oleh Sada, Melodi malah mengemukakan satu kenyataan yang tiba-tiba melintas di otaknya tanpa berpikir panjang.
" Pasti karena mau cepat-cepat membahas mekanisme pernikahan Edwin dan Claire Minggu depan!"
" Apa?"
Yang menjerit memang Zayn, tapi pria bonyok di depannya terlihat tak kalah terkejutnya dengan Zayn yang bahkan mematung saat hendak membuka seal botol.
" CK, biasa aja kali. Sini botolnya!" desis Melodi tak sabar sembari menyambar botol minuman itu.
Hari ini dada Sada bergetar. Hatinya mengerang pilu. Ia merasa tersiksa setiap mendengar pembahasan soal pernikahan yang begitu menyakiti hatinya itu.
" Bukannya pernikahannya di tangguhkan setahun?" sergah Zayn yang sejurus kemudian menutup mulutnya yang keceplosan.
" Kok kamu tahu?" sengit Melodi menatap Zayn curiga.
" Ya, ya tau aja..." elak Zayn keranjingan yang tak memiliki kosakata yang cukup tepat. Sial!
Namun sepeninggal Melodi yang terpaksa memungkasi pertemuannya bersama Zayn dengan buru-buru, pikiran Sada tak bisa tenang barang sejenak. Otaknya kini di jubeli dengan berbagai kesulitan juga kesemrawutan.
Bagiamana jika Claire benar-benar akan menikah dalam waktu dekat?
Kenapa pria itu getol membencinya setelah semua fakta dia kemukakan?
Dan bagaimana dengan dirinya?
Pikiran-pikiran itu bahkan sampai terbawa hingga kerumah. Sada masih diliputi ketidaktenangan saat ia tiba dirumah setelah menghabiskan waktu seharian untuk tidur demi meredam pikiran yang ruwet.
__ADS_1
Nino yang semakin panik saat melihat bosnya pulang dalam keadaan babak belur mengakui jika ia benar-benar tidak tenang. Namun Sada malah mengunci diri dan diam di kamar dalam waktu yang tak sebentar. Melimpahkan semua urusan pekerjaan pada trio kocak yang kini turut kebingungan sebab bosnya alpa dalam waktu yang cukup lama.
Namun dentang bel yang berbunyi di jam delapan lebih itu, berhasil membuat langkah Nino terhenti. Ia bergegas membuka pintu. Takut kalau-kalau itu adalah Zayn atau anak buah Sada yang kerap bertandang ke rumah itu.
Namun sosok perempuan cantik bermuka sembab, dengan wajah ragu-ragu melempar tatapan penuh permohonan.
" Apakah Wira ada?"
-
-
Usai mengumpat berkali-kali karena Nino menggedor-gedor pintu kamarnya. Sada mengucek matanya berkali-kali kala melihatnya sosok cantik yang kini menjadi biang kesemrawutan hidupnya, datang dan duduk di dalam rumahnya.
Wanita yang menjadi satu-satunya alasan hari ini dia babak belur hingga nyaris mati, kini duduk dengan cantik menatap seraut bonyok yang membiru di sana-sini dengan raut muram.
Apakah dia bermimpi?
Tidak, ini kenyataan. Claire memang benar-benar ada di dalam rumahnya.
" Tolong maafkan Papa!" kata Claire yang memberanikan diri mendatangi rumah Sadawira usai berhasil mengendap-endap lalu memesan taksi.
Sepanjang hari ini ia telah adu mulut, bertengkar, juga menangis tiada henti usai kejadian pemukulan Sadawira tadi. Perasaan khawatir, cemas, juga takut, sukar dia tepiskan begitu saja. Sensasi asing yang beberapa waktu terakhir kerap mengusik hatinya. Membuat satu kenekatan mendorong dirinya yang ragu-ragu.
" Apa sakit?" menjadi pertanyaan kedua setelah Sada mengangguk sebagai jawaban atas pernyataan pertama.
Yes, I have got you!
" Awalnya. Setalah lihat kamu enggak!"
" Ihh!"
Sada tergelak menahan nyeri demi melihat Claire yang kesal karena gombalannya.
" Tahu rumah dari mana?" memilih pertanyaan umum sebab sebenarnya hatinya sedang begitu bahagia.
" Googling lah. Pengusaha Plywood Numero Uno mana mungkin ga ada di gugel!"
Sada makin terkekeh-kekeh. Namun lambat laun, ia terdiam menatap dalam manik cokelat dengan tatapan hampa. Ingatannya kembali kepada ucapan Melodi tadi siang. Ucapan yang menghujam hatinya hingga nyeri.
" Tanggal berapa?"
" Apanya?"
" Your wedding date!"
Claire sedikit terkejut namun buru-buru menelan ludah saat seorang pria tadi membawakan minuman.
" Silahkan!" kata Nino yang menghidangkan dua cangkir teh kepada tamu spesial bosnya.
__ADS_1
" Terimakasih!"
Nino tersenyum. Ia masih ingat jika wanita itu adalah wanita yang selama ini di ceritakan oleh bosnya. Nino lantas pergi usai melempar sebuah senyum kepada Claire.
" Apa kau mencintainya?" tanya Sada to do point begitu Nino telah enyah dari hadapan mereka berdua.
Claire bergeming tak menjawab. Lidahnya mendadak kelu. Ada apa ini? Ia semacam tak rela cenderung tak senang manakala membahas orang lain saat ia sedang berdua.
" Sebaiknya pikirkan dirimu. Aku tidak bisa melihatmu babak belur lagi karena Papa!"
" Apa ini termasuk bentuk perhatian?"
" CK!" Claire mendecak sebab Sadawira sedari tadi selalu bercanda. Setiap yang dia bahas tak di tanggapi serius.
Kini tak seorangpun angkat bicara. Sibuk dengan pikiran masing-masing sembari menatap dua cangkir teh yang perlahan-lahan mulai dingin.
" Kenapa Papamu begitu membenciku?"
Claire tak bisa lagi membendung air matanya. Alasan yang juga baru ia sadari. Tak mungkin lagi bisa ia terobos apalagi di terjang.
" Selain karena Papa sangat kecewa karena aku hamil diluar nikah. Papa mengatakan jika tak mungkin memilih menantu yang telah di ketahui banyak orang sebagai tersangka, dan adik dari seorang penjahat. Namamu mungkin bersih di sini Wira. Tapi di sana..."
Deg!
"Bagaimana bisa Papaku hidup dalam cemoohan orang-orang karena menikahkan anaknya dengan penjahat sepertimu. Itu kata beliau!"
Jadi itu alasannya?
Betapa bodohnya dia selama ini terlalu percaya diri jika dia pantas bersama Claire.
" Kau tahu sendiri, seberapa usaha Opa membuatku menjauh darimu. Itu karena beliau ingin kau dan aku menjalani hidup masing-masing tanpa dibebani masalah lama. Maafkan aku karena aku juga baru mengetahui hal ini Wira!"
Kini Sadawira menyadari sepenuhnya bila tindakkan yang lahir dari sebuah amarah benar-benar membuat dirinya merugi banyaknya. Kehilangan saudara, kehilangan orang yang di cintai, juga kehilangan kepercayaan.
Dan yang lebih parah, ia bahkan kehilangan sebuah kesempatan.
Ya, itu benar. Rekam jejaknya di Indonesia memang telah tercitra buruk. Terpahat dan terpatri pada setiap orang yang mendengar dan mengendus kasus. Ia mengakui dan tak membantah akan hal itu.
Yang membuat kini malu, kenapa dia sedari dulu bodoh dan begitu percaya diri jika ia masih pantas bersanding dengan putri orang terhormat seperti keluarga Darmawan.
Sada berpindah merangkum bahu yang mulai bergetar di sertai isakan yang mulai menggema itu. Batin Sada perih. Ia kini tahu kenapa Leo sama sekali tak membiarkan dirinya masuk ke dalam keluarganya. Tapi ia juga tahu, bila wanita yang menangis pilu di depannya masihlah memilih rasa yang sama dengannya.
Kini mereka hanya bisa saling memeluk. Meleburkan kerinduan barang sejenak yang mungkin tak akan pernah lagi bisa mereka lakukan.
Batin Nino turut tersayat perih manakala menyaksikan dua anak manusia yang nampak pilu di bawah cahaya lampu terang.
" Aku cuma gak ingin Papa buat kamu kayak gini Wira. Tolong Wira!" pinta Claire dengan suara yang telah tergulung derasnya air mata.
Wira merekatkan pelukannya meski batinnya kini bergejolak. Apakah ia memang harus menyerah demi membuat Claire tak mencemaskannya?
__ADS_1