
...🥀🥀🥀...
Halaman rumah keluarga Darmawan yang semula sepi, kini riuh dengan pelayat juga orang-orang yang sengaja ingin memberikan penghormatan terakhir kepada pria baik itu.
Bahkan karangan bunga dari beberapa CEO seperti dari Delta Group, keluarga Abimanyu Aryasatya, CEO Kendra Arion, Raka Chandrakanta, Keluarga Jodhistira Mavendra, Artis dan pembisnis muda Alsaki dan Adisti serta dari banyak kalangan pebisnis lainnya yang menjalin kerjasama dengan perusahaan manufaktur itu juga terlihat berjajar rapih.
Bahkan para pegawai perkebunan cabai, karyawan Bandara, serta jajaran direksi di Grup Darmawan langsung hadir guna memberikan rasa dukacita yang sedalam-dalamnya atas kepergian pendiri Darmawan group yang selama ini menjadi tempat mereka mengais rezeki.
Mama Bella yang sudah terlihat lebih tenang tampak sibuk menyalami para tamu meski matanya tampak bengkak. Wanita itu bersama cucunya, Neo kini duduk di ruang depan dan terlihat menemui para tamu. Pun dengan Mama Jessika yang juga melakukan hal yang sama.
Wanita yang menjadi tuan rumah duka itu terlihat berkali-kali menerima pelukan penuh kasih dari orang-orang juga kerabat yang malam itu datang kerumah duka.
Sadawira yang memberanikan diri hadir di sana tak berani mendekat. Ia hanya bisa menatap murung Claire yang sedari tadi menunjukkan tatapan kosong dari balik masker hitamnya.
" Ingin sekali aku memelukmu, merasakan duka yang kau alami. Tapi jelas itu sangat tidak mungkin!" batin Sada nyeri demi melihat wajah Claire yang sangat terpukul.
Ia tak perduli meski dalam jari manis wanita itu tersemat sebentuk cincin dari Edwin. Pria yang kini harus ia hadapi. Benar kata Zayn, ia masih memiliki kesempatan untuk fight.
Mengingat jika dia adalah pria pertama yang memasuki Claire, dan kini tahu jika Neo adalah anaknya membuat Sadawira tentu tak bisa berleha-leha. Ia harus berusaha mendapatkan cinta Claire kembali berikut dengan kepercayaan keluarganya.
" Bos, kudengar pemakamannya baru akan dilaksanakan besok pagi!" seru Boni yang rupanya menyelinap menggunakan masker diantara riuh rendah para pelayat. Membuat keluarga Darmawan tak menyadari kehadirannya.
Sadawira kini tertegun. Mungkin ada seseorang yang di tunggu oleh keluarga di dalam.
" Lebih baik kita pulang dulu Da. Jika sampai mereka tahu kita ada di sini, kita bisa habis!" ucap Zayn yang tak berani melepas maskernya karena jelas mereka kalah jumlah.
Datang melayat namun yang terasa malah seperti seorang penyusup.
Sada mengangguk. Ia hanya tak ingin menambah permasalahan Claire jika sampai Papa Leo tahu dia ada disana.
Zayn dan Boni akhirnya berjalan menuju mobil terlebih dahulu mendahului Sadawira yang sebenarnya berat untuk meninggalkan tempat itu.
Namun saat Sadawira yang kini melintas di seberang kamar Melodi yang jendelanya terbuka, ia mendadak terkejut saat maskernya tiba-tiba putus.
" CK, putus sih?"
Membuat Melodi akhirnya tak sengaja melihat wajah Sadawira.
" Dia seperti..." Melodi yang masih setengah terkejut terlihat berlari mendekat ke arah jendela guna memastikan pengelihatannya, namun sayangnya pria itu sudah tidak ada.
Melodi menjambak rambutnya frustasi. Mungkin dia benar-benar stres sampai-sampai merasa melihat Sadawira di sekitar rumah Opanya.
__ADS_1
-
-
Edwin yang menerima kabar duka langsung bertolak menuju Indonesia. Beruntung masih ada satu seat ekonomi di penerbangan malam itu.
Mama Edwin sebenarnya risau dengan hal ini. Apalagi, permintaan Papa Leo yang mengatakan untuk Edwin menikahi Claire nanti di samping jenazah Opa jelas membuatnya keberatan.
Keluarga Edwin yang juga berkewarganegaraan Indonesia khususnya bersuku jawa sedikit banyak tahu akan hal itu.
" Edwin akan lihat sikonya nanti. Mudah-mudahan Claire mau!" jawab Edwin berusaha melegakan sang Mama.
Edwin menelpon Claire namun tak ada satupun dari panggilannya yang di jawab oleh tunangannya itu. Ia kemudian berkirim pesan kepada Claire.
" Aku turut berdukacita. Aku sedang dalam perjalanan. See you !"
Ia berkirim pesan sesaat sebelum ia take off. Ia bahkan memaksa temannya untuk bertukar jam kerja demi urusan mendadak.
Sementara itu, Deo yang memastikan anak-anak telah tidur bersama Arimbi, Eva beserta bayi mereka kini menutup pintu itu secara perlahan.
Dari tempatnya berdiri, ia melihat Papa Leo, Papa David, om Tomy sedang berbincang di dekat jenazah Opa. Terlihat sangat serius.
Ia juga melihat Demas dan Erik yang sibuk mengatur karangan bunga yang semakin malam semakin penuh saja. Menegaskan jika banyak sekali orang yang turut merasa kehilangan atas kepergiannya Opa mereka.
" Kenapa masih terjaga. Ini hampir dinihari!" seru Deo yang berjalan mendekat ke arah jendela yang terbuka lebar.
Claire menoleh sekilas dan kini kembali menatap ke luar jendela. Deo langsung menutup jendela itu lalu menutup gordennya lalu menyalakan AC dengan suhu standar.
" Aku merasa belum berhasil membahagiakan Opa tapi beliau sudah pergi!"
Deo menghela napas saat mendengar suara pilu sepupunya. Ia lantas duduk dan menyandarkan kepala Claire ke bahu kokohnya. Berharap bisa mengurangi kesedihan yang mendera.
" Ini yang terbaik. Meskipun perih, tapi kita harus percaya jika ini yang terbaik!"
" Aku, Demas, kau, Melodi, bahkan semuanya juga merasakan yang sama!"
Padahal mereka sudah pernah di kumpulkan oleh Opa. Namun rupanya kehilangan sosok yang sangat dia cintai benar-benar menyakitkan.
Claire akhirnya bisa menangis setelah Deo merengkuhnya kedalam pelukan. Ia sedari tadi seperti tercekat dan tak bisa menangis.
" Aku gagal membuat keluarga kita bangga Deo!"
__ADS_1
" Opa bahkan masih mencemaskan aku di detik-detik sebelum dia meninggal!"
Tangis Claire semakin pecah. Membuat dada Deo turut terasa sesak. Sebab sebenarnya tak hanya Opa, ia bahkan juga memikirkan nasib Claire yang belum jelas.
" Jangan katakan itu lagi. Kau dan Edwin sudah bertunangan. Itu pasti membuat opa tenang!" hibur Deo sebisa mungkin.
Tapi perkataan Deo malah membuat Claire merasa bersalah. Apalagi, beberapa jam yang lalu ia malah bertemu dengan Sadawira tanpa sepengetahuan siapapun.
Dan saat mereka masih menguatkan satu sama lain, Papa dan Papa David datang.
" Claire!" sapa Papa Leo yang datang bersama Papa David.
Membuat Claire mendongak.
" Ada apa Pa?" jawabnya mengusap air mata yang tak mau berhenti mengalir.
" Papa mau bicara serius sama kamu!"
Kini Deo turut memasang wajah serius. Ada apa sebenarnya?
" Tentang?" tanya Claire yang terlihat sangat penasaran.
Papa Leo terlihat menghela napas panjang sesaat sebelum ia membuka mulutnya. " Papa sudah memberitahu Edwin soal kepergian Opa."
Kening Claire mengerut, semakin ingin tahu kalimat apa yang akan di ucapkan Papa Leo selanjutnya.
"Dia sedang dalam perjalanan. Dan...menurut sesepuh disini, agar keluarga kita terhindar dari hal yang tidak kita inginkan, kalian bisa melakukan pernikahan secara agama ( siri) di depan jenazah Opa!"
" Apa? Apa maksud Papa?" pekik Claire yang tentu saja terkejut dengan penutup sang Papa yang terbilang tabu.
" Kau jangan marah dulu Claire. Semua ini harus kita lakukan sebab jika tidak kau dan Edwin tidak melakukannya di hadapan jenazah Papa, kalian harus menunggu satu tahun lagi!"
Membuat Deo meneguk ludahnya sebab rumit jug urusannya jika begini.
" Papa, apa Papa sadar dengan yang Papa katakan? Kita ini sedang berduka Pa!" sela Claire yang tak sepemikiran dengan Papanya. Membuat aura ketegangan mendadak mendominasi.
Papa David hanya bisa diam. Sejatinya ia sudah mengingatkan adiknya tadi. Tapi Papa Leo yang takut jika dalam setahun itu akan terjadi banyak godaan, membuatnya memilih jalan seperti ini.
" Semua demi Opa juga nak!"
" Aku tidak mau. Jangankan memikirkan menikah, untuk makan saja aku bahkan tidak berselera Pa!"
__ADS_1
Deo menatap Papanya yang sama resahnya. Alih-alih berunding kini mereka malah hanyut dalam situasi menegangkan.
Bagaimana ini?