
...🥀🥀🥀...
Sadawira lari dan mengabaikan teriakan dua pegawainya itu. Ia bahkan berkali-kali mendapat omelan bernada kesal dari orang-orang yang tertabrak olehnya.
Ia melakukan hal itu, karena melihat seseorang mencurigakan yang berjalan tergesa-gesa dengan kepada ya di tudungi hoodie hitam. Membuat instingya bekerja lebih cepat.
Teriakan Janu dan Henry yang turut menyita banyak perhatian dari pengunjung dan calon penumpang bahkan ia abaikan. Tak peduli akan hal itu. Ia hanya ingin mengejar satu orang yang mulai sulit ia kenali, sebab di depan sana ada gerumbulan group anak-anak muda yang tengah melakukan study tour.
Olivia yang sadar dirinya sedang di ikuti oleh seseorang, terlihat berlari sedikit tergesa-gesa. Ia harus menyelamatkan dirinya.
" Sial, bagiamana bisa dia tahu!" ia terus bergumam resah sembari mencari hal yang barangkali bisa menyelamatkan dirinya.
Pucuk dicinta ulam tiba, ia yang memang sedang membutuhkannya pelarian atau tempat bernaung sementara, merasa begitu senang manakala melihat seseorang yang berdiri di samping pintu mobil yang sedang terbuka.
Sepertinya, pria itu hendak masuk kedalam mobil dengan posisi yang masih sibuk menelpon seseorang. Ia berlari kembang-kempis dan langsung masuk kedalam mobil hitam itu dan membuat si empunya sontak terlolong kaget.
" Hey, siapa kau?" pekik sang pemilik mobil yang terkejut setengah mati.
" Sssttt, tolong aku. Aku di kejar-kejar orang tak waras! Please!" balas si perempuan dengan wajah ketakutan, serta tubuh yang sengaja di benamkan diantara jok dan dasbor.
Pria itu kontan mengerutkan keningnya heran. Sejurus kemudian ia menoleh ke belakang namun ia bertambah kaget bukan main, sebab yang tampak rupanya adalah pria yang membuatnya sakit hati beberapa bulan yang lalu.
" Sadawira?" ucap Edwin dalam hati sebab tak menyangka akan bertemu laki-laki itu.
Detik berikutnya ia kembali menatap seorang gadis yang terlihat ketakutan, tengah bersembunyi di jok depan mobilnya dengan tubuh yang semakin di sembunyikan.
" Kumohon, bawa aku pergi dari sini. Pria itu akan menyakitiku!" kata si perempuan dengan suara yang begitu lirih. Nyaris tak terdengar.
Edwin yang di tatap oleh Sada terlihat buang muka dan acuh tak acuh. Terlihat ingin melindungi sang gadis itu dengan bertingkah biasa saja, seolah tak terjadi apa-apa.
Ya, memang sangat manusiawi sekali jika pria itu masih menyimpan rasa kesal terhadap mantan rivalnya.
Tanpa menyapa, dan tanpa menoleh, Edwin langsung masuk kedalam mobil dan terus pura-pura tak terjadi sesuatu. Meski jauh di dalam hatinya, ada banyak sekali pertanyaan terkait siapa wanita berhoodie yang kini tampak resah di dalam mobilnya. Juga kenapa Sadawira yang mengejar perempuan itu.
" Siapa kau sebenarnya. Dan, kau mau kemana?" tanya Edwin saat mobil itu mulai berjalan menuju tolgate exit airport.
" Jalan saja dulu, nanti aku beritahu!" balasnya dengan keringat yang semakin banyak.
__ADS_1
Wanita aneh. Kenapa dia kelihatan ketakutan sekali? Apa hubungannya dengan Sadawira? Pertanyaan-pertanyaan itu makin membuat Edwin ingin tahu. Ia sangat penasaran.
" Ada urusan apa kau dengan Sadawira?"
Deg!
Olivia sontak menoleh ke arah Edwin yang kini fokus ke jalan raya. Meneguk ludahnya ketar-ketir sebab takut kalau-kalau pria di sampingnya itu merupakan rekan, teman, atau bahkan sahabat Sadawira.
" Kau mengenalnya?" tanya si gadis pias.
Kini ganti Edwin yang menatapnya heran. Kenapa malah bertambah terkejut seperti itu?
" Sedikit!" balasnya singkat.
Olivia tertegun. Terlihat seperti berpikir, tapi sepertinya gadis itu terlihat semakin resah.
" Apa kau dan pria tadi mengenal baik?"
Edwin tak menjawab dan terus saja melajukan mobilnya. Namun karena semakin tidak jelas, Edwin lantas menghentikan mobilnya di tempat yang ia nilai sudah aman.
" Eh wanita aneh, udah cukup ya kita muter-muter gak jelas begini. Kita udah setengah jam muter-muter tanpa tujuan nggak jelas. Kamu sebenarnya mau turun dimana sih, biar aku antar!" sungut Edwin mulai kesal. Sebab gadis aneh itu benar-benar membuatnya jengkel.
Edwin yang muak karena menunggu jawaban Olivia, lebih memilih membuka ponselnya dulu. Ia hanya sebentar berada di Atana sebab ada kegiatan mengenai kesehatan di beberapa kampus di kota itu.
Namun saat Edwin selesai membalas pesan rekannya, sebuah portal media langganannya mengeluarkan notifikasi terkait berita baru. Berita itu memposting sebuah video yang di dalamnya berisikan video kejahatan, yang jika di amati pemain dalam film itu mirip dengan wanita asing di depannya.
Deg!
Edwin yang tertarik sampai memutar ulang video berdurasi satu menit, dimana video itu suaranya sengaja ia mute kala si gadis sibuk menelpon seseorang.
Bagai di sambar petir, video hasil unduhan CCTV itu jelas menunjukkan aksi kriminalitas yang dilakukan oleh gadis itu sampingnya.
Damned!
" Astaga, jadi Sada tadi berlari karena..."
KLIK!
__ADS_1
Edwin langsung menekan tombol indikator lock sebab ia kini tiba-tiba menjadi tegang. Membuat si gadis menoleh.
" Siapa kau sebenarnya?" tanya Edwin kali ini dengan nada yang begitu serius.
Olivia yang langsung menoleh seketika menjadi takut kala melihat sorot mata tak ramah dari pria tampan di sampingnya.
" Jadi, kau bersembunyi di mobilku karena kabur usai menusuk orang?" tuding Edwin dengan mata tajam yang berhasil menguliti keberanian Olivia.
Celaka, tahu darimana dia ?
Olivia mendelik. Darimana orang itu tahu bila ia memang sedang kabur karena kini benar-benar bingung harus kemana. Tindakan impulsif nya yang menusuk Melodi menggunakan tangannya sendiri, ternyata menimbulkan sensasi ketakutan yang luar biasa.
Olivia yang tak tahu jika pintu mobil sudah di kunci oleh Edwin kini panik saat menarik benda itu namun tak kunjung bisa.
" Kenapa, kau mau kabur?" tukas Edwin mulai terlihat geram.
" Buka pintunya!" teriak Melodi yang mulai panik sebab pintu itu tak bisa ia buka.
" Apa kau pikir aku akan tinggal diam setelah kau melukai seseorang, hah?" teriak Edwin menangkap tangan Olivia sembari mencengkramnya kuat.
Namun tanpa di duga, gadis itu berontak dan melawan Edwin.
PLAK!
Edwin seketika terkejut manakala tiba-tiba wajahnya di tampar dengan begitu keras oleh Olivia.
" Laporkan saja. Ayo laporkan! Yang penting aku sudah puas karena bisa menyingkirkan orang yang merebut laki-laki ku!"
Edwin tercengang saat melihat Olivia yang tertawa sambil menangis dan terlihat jelas jika jiwa wanita itu tampak tidak sehat.
" Mati lah kau Melodi, hahaha!" teriak Olivia yang tampak begitu menakutkan.
" Mati kau wanita sialan!"
" Apa kau bilang, Melodi?" Edwin berteriak sebab gadis di hadapannya itu menyebutkan sebuah nama yang benar-benar familiar di telinganya.
" Ja- jadi, gadis yang di tusuk tadi adalah Melodi? " batin Edwin yang speechless demi menyadari jika korban penusukan itu adalah adik dari Claire.
__ADS_1
-