
...🥀🥀🥀...
Namun rupanya Edwin melihat Zayn yang sedang berdiri di depan sana. Pria itu lantas melepaskan pelukannya perlahan-lahan. Membuat Olivia turut menoleh. Ia lantas meninggalkan Olivia yang kini kebingungan, melangkah yakin dan terlihat menuju ke arah pintu. Tempat dimana Zayn sedang berada.
" Zayn!" sapa Edwin ketika membukakan pintu.
Zayn yang canggung hanya bisa tersenyum. Membalas sapaan dokter muda itu. Ia lantas melangkah mendekati Edwin yang masih berdiri di ambang pintu. Menyongsong pria itu dengan segenap keyakinan. Yakin jika ia akan membereskan segala bentuk ketidakbaikan hari ini.
" Maaf mengganggumu. Tapi, kurasa aku harus berbicara dengannya!" kata Zayn sedikit ragu-ragu.
Namun alih-alih menolak, Edwin justru tersenyum seraya mengangguk. " Sure. Dia sudah lebih baik sekarang."
Zayn mengangguk. Usai mendapat izin, ia lantas melangkah masuk dan melihat Olivia yang juga menatapnya datar sewaktu berjalan mendekat. Edwin memilih keluar dan membiarkan dua orang itu membereskan masalahnya.
Zayn mengantongi dua tangannya ke saku celana. Menatap lurus gadis yang terlihat begitu merasa bersalah kepadanya itu.
" Hari ini aku tidak ingin membahas apapun selain meminta maaf!" kata Zayn terlihat iba manakala menatap gadis pucat di depannya. Sama sekali tak ingin membuat luka baru di batin Olivia.
Olivia tersenyum samar. Ia terlalu malu, minder dan merasa tak berdaya. Ternyata benar, emosi hanya akan menambah masalah baru. Kini ia sadar, bahwa keberadaan papanya teramat sangat penting.
" Apa yang terjadi antara kita semoga bisa membuatmu banyak belajar Olivia. Aku senang ada Edwin yang begitu perduli padamu. Dia...orang yang sangat baik!"
Olivia melirik Edwin yang terlihat sibuk menelpon di luar jendela kala Zayn membahas pria itu. Pria yang tak sengaja terseret dalam urusannya itu, memang sosok yang mampu membuat Olivia bisa melihat sudut pandang lain dari hidupnya.
" Kita bukanlah orang lain. Aku hanya ingin memperjelas semuanya!" timpal Zayn kembali.
Zayn awalnya begitu marah dan geram. Namun begitu tahu jika semua yang terjadi karena ketidakstabilan jiwa Olivia, ia balik menjadi iba. Pun dengan Melodi. Gadis itu bahkan memaksa Zayn untuk mempertemukan mereka jika dirinya telah pulih.
" Vi, mari kita saling memaafkan. Karena dendam hanya akan menyakiti diri!" pungkasnya dengan wajah tulus. Sama sekali tak ingin memperpanjang kesalahpahaman yang tak akan pernah bisa menjadi apa-apa itu.
Mata Olivia yang baru saja kering kini mendadak basah kembali. Ucapan Zayn terasa begitu menyesakkan dada. Inilah kenyataannya, ia dan Zayn tak bisa bersama. Dan Tuhan pasti memiliki alasan mengapa ia harus menerima kenyataan tersebut.
" Apa aku boleh memelukmu untuk terkahir kalinya?" tanya Olivia dengan penuh harap. Benar-benar tulus ingin merelakan apa yang semula membuatnya gila.
Zayn mengangguk mengabulkan. Ia lantas merentangkan tangannya manakala Olivia berjalan mendekat. Mereka akhirnya saling memeluk dan saling memaafkan satu sama lain. Melebur segala bentuk rasa sakit. Membentuk satu hubungan baru yang lebih wajar dalam situasi kekeluargaan.
Edwin yang masih sibuk menelpon tak sengaja melihat dua manusia yang kini saling memeluk. Pria itu tertegun beberapa saat. Menatap Olivia yang memejamkan mata dan seperti meresapi sebuah perpisahan.
Ia mendadak merasa dejavu. Teringat akan dirinya yang juga pernah mengalami nasib yang sama. Tapi beginilah hidup, perjalanannya selalu banyak dengan misteri dan kejutan.
__ADS_1
Sejurus kemudian, ia mematikan sambungan teleponnya lalu melempar tatapan kembali kepada dua manusia disana.
Harapan baru telah tiba.
...----------------...
Jika melodi dan Zayn telah mendapat lampu hijau perihal keseriusan hubungan mereka, Olivia dan Edwin pun terlihat memasuki fase lain dalam ketidaksengajaan pertemuan.
Namun berbeda dengan Sada yang kini makin tekun melakoni sisi lain kehidupannya sebagai CEO perusahaan Plywood terbesar. Menjadi suami dan seorang Ayah.
Namun rupanya, sesempurna apapun Sada di mata dunia, ia tetaplah manusia yang memiliki luput dan salah. Seperti malam ini misalnya, ia lupa mengantisipasi si bocil dengan memberikannya treatment terbaik sebab jika Neo demam, anak itu merengek-rengek minta tidur dengan sang Ibu.
Ya, pasca dari menjenguk Melodi kemarin lusa, anak itu mendadak badannya panas. Sada yang minim pengetahuan tentang kepengurusan anak rewel kini dibuat pusing sendiri. Sudah rewel, si Ibu yang semula doyan banget sama aneka makanan, kini malah sering mual dan muntah. Membuatnya makin panik saja.
Mama Jessika dan Papa David yang mendengar tangisan yang tak kunjung reda akhirnya turut terbangun. Nino dan Juwi pun sama. Dengan mata terkantuk-kantuk mereka berduyun-duyun menuju ke kamar sang majikan.
" Kenapa Wira?" tanya Mama Jessika sembari mengikat gaun malamnya yang semula terbuka.
" Claire muntah terus. Dan Neo gak mau aku gendong, dia demam!" jawab Sada muram. Wajahnya benar-benar kusut khas orang kurang tidur.
" Biar saya saja bos!"
Mama Jessika yang wajahnya resah langsung masuk ke dalam. Ia melihat Claire yang terus memuntahkan isi perutnya.
" Huek! Huek!"
Mama Jessika yang khawatir langsung meraih tubuh Neo.
" Kamu urus dulu istri kamu ya, Neo biar sama Bude!"
Sada mengangguk menyetujui. Ia langsung bergegas menuju ke tempat Claire muntah-muntah. Papa David dan Mama Jessika langsung membawa Neo ke kamar mereka sembari meminta Nino untuk menguapkan bawang merah. Resep orang tua selalu menjadi alternatif hingga sekarang.
" Biar saya buatkan jahe hangat Pak!" kata Juwi sembari melesat pergi. Semua orang gupuh dan panik. Bagaimanapun juga, kesehatan merupakan hal yang penting.
" Sayang, apa kita ke rumah sakit saja?" tawar Sada yang terlihat panik.
Claire menggeleng dengan wajah lemas. " Enggak mas. Orang hamil memang begini. Dulu waktu Neo juga begi...huek!"
Lihatlah, bahkan Claire tak sempat menyelesaikan kalimatnya.
__ADS_1
Sada merasa kasihan demi melihat penderitaan istrinya. Terlebih, ia dulu sama sekali tak mengetahui saat-saat Claire melalui trimester demi trimester manakala mengandung Neo.
Sebeginikah perjuangan seorang Ibu? Sada benar-benar malu pada dirinya sendiri.
Neo yang telah berada dikamar Mama Jessika terlihat layu dan malah meminta di pijat Papa David.
"Opa David aku boleh tidur di sini kan? Aku mau di pijat-pijat di sini!" kata Neo menunjuk ke arah punggungnya.
Mama Jessika menatap sang cucu dengan tersenyum penuh kasih sayang. " Sama Ibu gak pernah di pijat ya?"
Neo menggeleng. Apalagi semenjak hamil muda, mbak Juwi yang sering mengurusinya.
" Mana ada tukang pijat di sini ma!" sahut Papa David yang ingin tertawa.
" Ya emang ga ada, tapi kan ada massage untuk anak juga kan? Anak ini pasti kecapekan." dengus Mama Jessika yang sebal dengan suaminya.
Sada yang baru selesai mengganti baju Claire yang terkena muntahan, serta telah membaringkan istrinya yang sedang di minumi jahe hangat oleh Juwi, kini mengetuk kamar Papa David dengan ragu-ragu. Ingin memastikan keadaan putranya.
TOK TOK TOK!
Ia mengetuk dengan wajah sungkan.
CEKLEK!
Pintu terbuka. Menampilkan Papa David yang menempelkan jari telunjuknya ke bibir sebagai tanda bagi Sada untuk mengecilkan suaranya.
" Neo..."
" Dia sudah tidur. Mungkin dia kecapekan Wir. Kalau kamu sibuk, besok biar Pakde sama Bude yang bawa dia ke massage anak-anak. Mumpung belum kembali ke Indonesia!" kata papa David.
" Pakde mau cepet-cepet pulang?" bertanya dengan wajah murung.
" Papamu kan juga sudah sehat. Kami akan pulang. Kangen sama yang di sana juga lah. Bimasena, apalagi anak Demas yang kecil. Nanti kalau adiknya Neo lahir Pakde pasti kemari lagi!" terang Papa David agar Sada tak berkecil hati.
Membuat Sada menyeringai licik.
" Tapi, mungkin sebelum adik Neo lahir, Pakde bakal kemari lagi!" katanya tersenyum penuh arti. Membuat Papa David mengernyitkan keningnya.
" Memangnya kenapa?"
__ADS_1
" Ada deh. Besok juga bakal tahu!"