
...🥀🥀🥀...
" Bersiaplah, aku akan bertemu dengan anak istriku. Aku akan mengajakmu turut serta!"
Sada tergelak geli saat menyebut anak istri manakala berkata. Dia pasti sudah gila, euforia kebahagiaan yang benar-benar merasuk dalam hatinya itu benar-benar tak bisa ia bendung.
Hah, padahal ia bertemu dengan cara memaksa, tapi kenapa rasanya sebahagia ini ya?
" Anak istri? Kau gila!" Zayn mendengus sebab bisa-bisanya Sada halu seperti itu.
" Kenapa? Neo memang anakku kan? Hah, salah satu bukti bila aku ini perkasa!"
Zayn hanya mencibir. Padahal sahabatnya itu sedang mumet, tapi kenapa masih bisa bercanda?
" Cepat ganti bajumu!"
" Apa kau serius? Sebaiknya aku tidak perlu ikut!"
Zayn yang mendengar penuturan Sada bila pria itu telah meminta Claire untuk menemuinya merasa sungkan. Jelas ini urusan krusial bukan?
" Tidak bisa, kau harus ikut! Setidaknya kalau ada keluarga Darmawan yang memergoki dan menembak kepalaku, masih ada kau di sana yang menjadi saksi!"
" CK!" Zayn mendecak kesal sebab Sadawira benar-benar ngawur saat berbicara.
" Bisa jadi obat nyamuk aku disana nanti!" masih berusaha berkelit.
" Ikutlah, siapa tahu ada perempuan Indonesia yang berhasil membuat pria homo sepertimu kembali normal!" cibir Sada seraya tergelak.
" Sialan! Aku masih normal ya!"
Di lain pihak, Neo yang sedari tadi senang karena mendapat sepatu dari Paman tampan tak henti-hentinya berceloteh.
" Paman kok bisa tahu ukuran sepatuku ya Bu? Apa ibu yang memberitahu?"
" Sssttt, sudah pakai saja, jangan bilang-bilang kepada yang lain Neo!" seru Claire sembari meletakkan ujung telunjuknya ke depan bibir dengan wajah gelisah. Mencoba mendoktrin anaknya untuk tidak gembar-gembor soal sepatu yang bakal memicu urusan runyam.
Hah, sungguh membuatnya pusing.
" Kenapa tidak boleh, aku kan pingin kasih tau Oma sama Opa?" tanya Neo dengan cemberut. Membuat Claire mendecah.
" Paman yang melarang!" sahut Claire yang kini menyelesaikan simpul tali sepatu berwarna putih milik Neo.
" Paman bilang kita tidak boleh pamer!" pungkas Claire yang akhirnya menemukan ide brilian agar anaknya berhenti mengoceh.
" Benarkah?" tanya Neo yang takjub sebab rupanya Paman sangat perhatian dengannya. "Baiklah kalau begitu. Tapi, kita mau kemana sekarang Bu?"
Neo akhirnya menuruti ucapan dari Ibunya. Toh itu karena paman tampan kan yang menyuruh?
"Sudah ikut saja!"
Neo terheran-heran sebab biasanya saat Ibu mengajaknya pergi, wajahnya pasti akan berseri-seri. Tapi kenapa kali ini tidak?
Neo sungguh jeli dalam memperhatikan segala sesuatu.
Opa sedang istirahat begitu juga dengan para orang tua. Membuat Claire bisa leluasa untuk pergi.Malam ini melodi juga dikabarkan akan datang.
Ya, semenjak putri bungsu Leo Prawira itu di ajari mengelola perusahaan, Papa Leo bisa lebih leluasa dalam menemani orangtuanya. Hanya sesekali membantu memonitor Melodi yang kesulitan. Benar-benar satu keadaan yang menguntungkan.
Lebih-lebih, Claire sudah meminta Deo untuk tak mengantarnya. Tentu saja ia tak ingin ambil resiko soal pertemuannya dengan Sada kali ini.
Claire : " Aku akan pergi sendiri. Kamu temani Arimbi saja, lagipula aku tidak pergi jauh-jauh!"
__ADS_1
begitulah pesan yang ia kirim kepada Deo. Berharap sepupunya itu mau mengerti.
Deo : " Baiklah, kalau ada apa-apa telpon aku!"
Arimbi menghela napas penuh kelegaan. Ia sudah berbohong sebanyak dua kali dalam waktu bersamaan.
Neo terlihat biasa saja saat mobil Claire di belokkan ke sebuah mall yang memiliki tempat makan bagus. Sengaja memilih tempat itu sebab Claire tak mau jauh-jauh.
" Apakah ini punya Pakde?" tanya Neo tak habis-habisnya.
Claire mengangguk. Setidaknya ia harus mencari tempat yang aman bukan? Dan di jam seperti ini, ia yakin jika Demas pasti sibuk menembus bayi kecilnya bersama Eva.
Namun tanpa Claire duga, Rupanya Sadawira sudah datang dan membuatnya terkejut bukan main. " Padahal aku sudah berangkat lebih awal, tapi kenapa keduluan dia?"
Da sialnya, tampilan pria itu selalu saja sukses membuat Claire terpana. Wajah yang semakin tampan, bentuk tubuh yang semakin bagus membuat kuduk wanita itu meremang tanpa sebab.
" Loh, Paman? Kok Paman ada di sini? Ibu, lihat itu ada Paman!"
Claire diam saja saat Neo bersorak seolah-olah ia menjadi informan ulung perihal keberadaan Sadawira. Sungguh anak yang benar-benar mirip dengan si pembawa bibir.
"Lho Neo? Neo disini juga?" sapa Sadawira yang memulai aktingnya sembari mencuri pandang kepada Claire.
" Paman apa kabar? Ibu, ayo cepat sapa Paman!"
Namun yang di tarik tangannya hanya bisa mematung sebab ini benar-benar terasa canggung.
" Apa kabar?" kata Sadawira mengulurkan tangannya seolah-olah mereka baru bertemu.
Padahal, Sada telah berhasil membuat lipstik Claire berantakan beberapa waktu yang lalu karena perbuatannya yang sarat dengan pemaksaan.
Claire mencoba menepikan Sadawira yang sedari tadi menatapnya penuh arti, meski ia kini mau menjabat tangan ayah Neo itu.
Neo yang melihat Ibunya menjabat tangan Paman tampan tentu sangat merasa senang.
Neo mengangguk senang. Bocah polos itu benar-benar mengira jika pertemuan mereka merupakan satu keberuntungan yang tidak di sengaja.
" Tapi, kenapa paman bisa kirim Neo sepatu kesini?"
BOOM!
Membuat keduanya gugup dan kompak menelan ludah.
" Emmm, kemarin assiten Paman datang se sekolah Neo. Pas mau ngasih ini, ternyata kata Bu guru Neo pergi ke Indonesia lama. Ya sudah Paman minta untuk mengirimkan saja!"
"Jadi begitu. Makasih ya Paman!" balas Neo memeluk setengah badan Sada dengan spontan. Membuat hati Sada langsung menghangat manakala Neo memeluknya dengan erat.
Namun Claire langsung mengalihkan pandangannya manakala Sadawira tersenyum saat Neo masih asik memeluknya.
" See, dia memanglah anakku!"
Sejurus kemudian Sadawira tampak menggendong Neo menggunakan satu tangan, dan membuat Claire membulatkan mata.
" Neo mau makan dulu apa jalan-jalan?" tanya Sadawira yang meninggalkan Claire yang kini mematung.
" Emmmm, apa boleh makan dulu? Tadi aku dirumah Opa buyut Neo belum makan!"
" Baiklah, Neo yang pesan ya?"
Claire semakin gugup. Kenapa Neo benar-benar bisa se akrab itu kepada ayahnya meski sejatinya dia belum tahu satu kebenaran.
" Ibu, cepat kemari!" teriak Neo yang membuat Claire tersentak dari lamunannya. Oh ya ampun.
__ADS_1
Neo duduk di pangkuan Sada yang sibuk memilih menu, sementara Claire duduk di depan mereka dengan perasaan canggung. Sembari menunggu kehebohan Neo yang tak habisnya berbicara dengan pelayanan yang mencatat pesanan, Claire terlihat mengedarkan pandangannya guna memastikan keadaan.
Dan saat ia sibuk memindai lokasi, dua pasang mata jernihnya malah tak sengaja menangkap sesosok pria yang sangat familiar.
" Itu kan?" batin Claire saat melihat pria beralis tebal yang kemarin ia lihat di lorong rumah sakit.
Zayn mengangguk seraya tersenyum kepada Claire yang terkejut bukan main. Itu bukannya orang yang kemarin minta password WiFi kan?
" Bu, maaf apa makannya mau di samakan dengan suaminya, atau..."
" Bu- kan sua..."
"Kamu mau yang mana? Maaf, soalnya dari tadi mbaknya manggil kamu, tapi kamu..."
Ah sial, gara-gara melihat pria itu ia bahkan sampai menjadi bloon. Claire mendecak saat Sada malah dengan santai meladeni ucapan polos sang pramusaji.
" Ya sudah samakan saja!" pungkas Claire yang tak mau ribet.
Neo tersenyum menatap Ibunya, " Ibu kenapa Mbak tadi berkata sama dengan suaminya?"
Claire benar-benar menjadi pusing seketika. Bak simalakama. Diajak pasti memusingkan, tidak di ajak dia yang akan semakin mumet sebab Sada pasti akan membuat onar.
Sembari menunggu pesanan datang, Neo yang tergiur untuk bermain game di ponsel milik Sadawira terlihat mengabaikan dua manusia beda gender itu. Claire yang selalu membuang pandangannya langsung terkejut saat Sada tiba-tiba mengucapkan satu hal.
" Terimakasih karena sudah mau menuruti keinginanku!" ucap Sada tersenyum dan membuat Claire semakin canggung.
" Bukan menuruti, tapi karena terpaksa!"
Tentu saja dia hanya berani membatin. Bingung dengan hidupnya sendiri yang semakin rumit.
" Tolong jangan sering-sering memberikan ancaman!" balas Claire dengan wajah serius. Tapi Sada terkekeh.
" Karena sepertinya kau lebih menurut jika di ancam!"
" Aku akan menikah!" tutur Claire lebih serius dan tak tertarik untuk bergabung dengan tawa Sada.
Membuat tawa Sada langsung berhenti dengan rahang yang tiba-tiba mengetat.
" Aku akan memberitahu Neo soal kamu. Tapi tolong beri aku waktu..." kata Claire kembali kali ini lebih serius.
" Ye, menang!" Neo yang berteriak manakala ia memenangkan permainan itu membuat keduanya diam dalam saling menatap.
" Apa ada cara agar aku bisa kembali? Menempati posisi yang semestinya aku duduki sedari dulu?" lirih Sada menatap lurus wanita cantik yang masih ia harapkan meski aral jelang menghadang.
Claire menggeleng. Orangtuanya bahkan sangat membenci Sadawira. " Sebaiknya jangan pernah memikirkan hal itu!"
" Paman mana makannya aku lapar!" sela Neo yang kini mulai rewel.
Sada kini kembali fokus kepada anaknya." Itu sudah mau datang, mau makan sendiri?"
Neo mengangguk, " Ibu, aku makan sendiri ya?"
Claire juga mengangguk. Ia heran, setiap ada Sada, kenapa sikap Neo selalu manis dan menurut?
" Dengar Claire, tujuanku kemari adalah aku ingin mengatakan sesuatu yang harus kau dengar langsung!"
Membuat Claire seketika meneguk ludahnya demi melihat wajah tegang Sada.
" Aku akan menemui Papamu dan membuat satu negosiasi!"
"Jangan!" potong Claire cepat dengan wajah yang benar-benar khawatir.
__ADS_1
Neo sampai terkaget saat Ibunya berkata dengan intonasi keras. Bahkan Zayn sampai bisa mendengar teriakan itu.
Tapi Sada tersenyum tipis, penolakan Claire jelas menegaskan jika sejatinya wanita itu masih sangat menghawatirkan dirinya.