My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 96. Satu isyarat


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


"Paman kenapa menangis?" tanya Neo yang tentu saja bingung dengan apa yang tejadi saat ini.


Paman memang memeluknya erat seperti yang sering dilakukan tiap kali bertemu. Tapi isakan yang keras jelas membuatnya ingin tahu. Apalagi mbak Juwi dan Ibunya juga melakukan hal yang sama.


Sada melepas pelukannya lalu membingkai wajah pucat anaknya dengan sangat bahagia. Mengabaikan tampilan wajah yang mungkin saja tak bagus.


" Panggil aku Ayah nak, aku adalah Ayahmu. Ayah yang selama ini kau cari!"


Deg!


Neo tentu saja bingung. Anak? Apakah Paman tampan bercanda? Kenapa baru bilang sekarang?


Tidak, Paman pasti sedang berusaha menghibur sebab dirinya sedang sakit. Tapi saat Ibunya tiba-tiba datang dan melingkupinya dengan pelukan, ia kian tergugu.


Kenapa Ibu sekarang mau memeluk Paman?


" Maafkan Ibu Nak. Kau terlalu kecil untuk bisa memahami hal ini. Tapi, yang di katakan Paman Sada adalah benar. Dia adalah Ayahmu!"


Wow mom, are you kidding me?


" Maafkan Ibu Neo. Maafkan Ibu!" seru Claire tiada terdaya. Ia hanya bisa menangis dan menangis.


Pemandangan paling mengharukan itu sukses membuat Juwita tak berhenti membasuh wajahnya menggunakan ujung kaosnya. Merasa benar-benar terharu akan apa yang kini terjadi.


Dan entah mengapa, hati Neo juga langsung merasakan banyak sekali perasaan. Ia bingung, senang sekaligus ingin marah. Kenapa orang-orang dewasa selalu keterlaluan jika bercanda?


" Maafkan Ayah juga Nak. Ayah janji setelah ini akan menjaga kalian berdua. Ayah janji!"


Sada merangkum Neo juga Claire kedalam pelukannya. Ia ingin menikmati betul-betul rasa kebahagiaan yang harus dia bayar dengan harga mahal ini.


Perjuangannya tak sia-sia, walau hingga kini ia masih harus bersiap untuk menghadapi Leo Darmawan. Namun yang jelas, apapun akan dia lakukan demi niatnya yang ingin kembali bersatu bersama keluarganya, menjadi satu keluarga yang utuh.


Hati Neo tiba-tiba juga merasakan kegembiraan yang begitu meluap - luap. Ia tidak tahu menahun kenapa segalanya sesuatunya menjadi sangat sulit untuk di pahami. Tapi mendengar kata-kata indah dari bibir paman tampan, jelas membuat Neo merasa sangat bahagia.


" Paman tampan Ayah Neo?" tanya Neo yang membuat Sada kini melonggarkan pelukannya.


Sada mengangguk penuh kelegaan. Air matanya bahkan tak mau berhenti mengalir.

__ADS_1


" Maafkan Ayah yang terlambat mengatakan hal ini Nak. Tapi Paman memanglah Ayah kandungmu!"


" Hore!!!" Mbak Juwi, lihat mbak Juwi, Neo sekarang punya Ayah. Ayo kita katakan pada Brandon kalau aku ternyata benar-benar punya Ayah. Semuanya aku punya Ayah!"


Maka detik itu juga, air mata Juwi seketika menganak sungai karena merasakan kebahagian yang begitu membuncah.


-


-


Papa Leo sedang menulis sebuah surat ketika pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dengan sendirinya. Siapa itu, kenapa tak mengetuk dulu saat mau masuk?


" Sayang?" ia memanggil Mama Bella guna memastikan apakah orang yang melakukan hal itu adalah Mama Bella. Namun hingga panggilan ke tiga, sosok yang di curigai tak kunjung menjawab. Membuatnya makin terserang rasa heran.


Ia lantas beranjak guna mengecek ke depan. Namun ternyata tak ada siapa- siapa di depan sana.


" Aneh sekali, kenapa pintu ini bisa terbuka?" gumamnya agak kesal sembari menutup pintunya.


Dan saat hendak berbalik usai menutup pintu yang semula terbuka dengan sendirinya, ia menjadi terkejut setengah mati demi melihat Papanya berdiri nyata di depannya.


" Papa?"


Papa Leo bolak-balik mengucek matanya demi memastikan jika yang dilihat itu merupakan kenyataan. Namun sosok yang tak pergi dari hadapannya itu, jelas menegaskan jika ini adalah kenyataan.


" Papa?" Kali kedua ia berucap masih tak ada tanda-tanda Papanya itu hendak menjawab. Opa Edi terlihat aneh. Kenapa tak mau menjawab?


Namun sejurus kemudian Opa Edi malah berjalan menuju meja kerjanya, lalu membuka laci dan mengambil sesuatu dari sana.


Apa itu? Kenapa bisa ada benda disana?


Mata seorang Leo Darmawan melebar demi melihat sang Papa menyerahkan sebuah bingkai foto, yang entah kenapa bisa berada di sana.


Sebuah foto yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Ini terlalu ajaib, bagaimana di dalam lacinya ternyata ada sebuah foto dimana foto itu berisikan Claire, Neo dan seorang pria yang membuatnya terkejut bukan main, Sadawira.


Papa yang biasanya geram manakala membahas sadawira, kini justru tersenyum manakala menyerahkan benda itu. Apa-apaan ini?


" Apa ini Pa?" ucapnya tak mengerti.


Namun lagi-lagi, pria itu tak menjawab. Opa Edi malah menunjukkan senyum lebar dengan rona wajah yang begitu cerah. Ia kontan menjadi begitu bingung dan heran, di tatapnya foto berbingkai yang berisikan tiga orang yang sedang tersenyum itu dalam keadaan bingung bukan main.

__ADS_1


Dan saat dirinya mendongak kembali untuk mempertanyakan maksud dari sang Papa, pria yang sedari tadi tak mau membuka suara itu malah lenyap dari hadapannya. Membuat Papa Leo makin dilanda keyakinan.


" Papa!" teriak Papa Leo mencari-cari Papanya.


" Papa!"


" Papa!!!"


Melodi yang barusaja menghabiskan makanan sampai nyaris tersedak manakala mendengarkan papanya mengerang dan terlihat menggeliatkan.


Membuat Melodi yang panik langsung menekan tombol guna memanggil dokter.


" Papa? Papa sudah sadar Pa? Ini Melodi Pa!" Melodi berseru dengan panik sebab sang Papa masih terus menggoyangkan tubuhnya tanpa bisa berucap.


Ia semakin dibuat takut manakala Papanya terus melotot miring orang kejang.


" Astaga Papa, Papa kenapa Pa? Papa!"


Melodi bertambah panik sebab kenapa Papannya menjadi seperti itu? Padahal sedari pagi ia menunggu papannya siuman, tapi kenapa setelah bangun malah jadi seperti ini?


Tak berselang lama seorang dokter dan perawat yang mendapat panggilan darurat terlihat masuk kedalam ruangan Papa Leo dengan muka tegang. Mereka terlihat memeriksa pasien yang baru saja siuman itu dengan detail.


" Dok, apa yang sebenarnya tejadi? Kenapa Papa saya tidak bisa menjawab saya dok?"


Dokter terlihat serius manakala memeriksa Papa Leo. Serangkaian prosedur medis kini mereka lakukan sampai tak sempat menjawab pertanyaan Melodi yang panik bukan kepalang.


Dan jawaban berikutnya langsung membuat Melodi bagai tersambar petir meski tanpa hujan apalagi mendung.


" Sepertinya pasien mengalami stroke!"


" Apa?"


-


-


.


.

__ADS_1


__ADS_2