My Heartbreak Stop At You

My Heartbreak Stop At You
Bab 153. Broken heart metamorphosis


__ADS_3

...🥀🥀🥀...


Pasca acara siraman sekaligus lamaran tempo hari, para orangtua menyetujui jika acara pernikahan Melodi nanti akan di adakan bulan depan sebelum Claire melahirkan.


Niat baik harus segera di laksanakan. Begitu kata yang di ucapkan oleh Papa Leo. Ia hanya tak ingin ada aral melintang yang bakal terjadi, apabila pernikahan mereka tidak di segerakan.


" Namanya manusia. Jika memang sudah siap, langsung saja. Toh tidak ada halangan lain kan?"


Mereka ingin Claire bisa menyaksikan pernikahan adiknya sebelum anak keduanya lahir. Sebab masa pasca salin pasti akan sangat menyita waktu. Mama Bella dan Papa Leo ingin agar semuanya berjalan lancar. Ia ingin membersamai kedua anaknya di tiap-tiap momen penting tanpa harus meninggal salah satunya.


Zayn mau tidak mau harus sering bolak-balik Indo - Atana untuk mengurusi beberapa berkas pendukung. Seperti satu siang ini misalnya. Melodi meminta Zayn datang untuk mengukur gaun dan jas pernikahan mereka. Tak bisa di wakilkan sebab calong pengantin memang harus datang.


" Kenapa ngelihati aku begitu?" tanya Melodi seusai Zyan masuk kedalam mobilnya saat mereka berada di bandara.


Merasa sangat senang sebab akhirnya bisa bertemu.


" Kangen lah. Ngomong- ngomong kamu cantik banget kalau pakai dress begini!" puji Zayn yang memang perhatiannya menjadi fokus kepada Melodi.


Maka wajah Melodi langsung memerah. Rasa-rasanya, ia sudah seringkali di puji Zayn. Tapi, ini merupakan kali pertamanya ia di puji setelah Zayn resmi melamarnya. Dan ternyata rasanya beda. Semacam senang, malu dan bahagia. Entahlah.


" Mel!"


" Hem!"


" Aku masih gak nyangka kalau aku bakal jadi adik iparnya Sada!" kata Zayn yang bukannya menjalankan mobil, tapi malah larut dalam obrolan.


Melodi menggigit bibir atasnya menahan tawa. Kenapa jadi salah tingkah begini sih?


" Geli gak sih kalau kamu panggil Sada kakak ipar? Hahahah!" jawab melodi kocak.


Zayn menggeleng konyol, ya pasti geli lah.


" Harus sering-sering training sepertinya. Benar-benar sulit di pergunakan. Si anjing itu malah jadi kakak ipar!" tukasnya masih menggeleng tak habis pikir.


Keduanya kompak tergelak. Namun lambat laun melemah. Menjadi Hening, sunyi.


Zayn meraih jemari Melodi begitu romantis. Menggenggamnya lalu mengecupnya dalam. Seolah tak ada lagi yang kini ia tutupi dalam menunjukkan perasaan. Melodi yang di perlakukan seperti itu tentu saja sangat tersanjung. Ia bahagia.

__ADS_1


" Terimakasih sudah hadir dalam hidupku!" kata Zayn dengan tatapan penuh cinta. " Terimakasih sudah mau menerimaku yang penuh kekurangan ini!"


" Zayn ih!" balas Melodi yang matanya sudah berkaca-kaca. Ia selalu tak tahan jika masuk suasana serius seperti ini.


Melodi makin terharu. Pertemuan yang unik, konyol dan penuh dramatisasi. Membuat Melodi ingin tertawa sekaligus ingin menangis.


" Aku yang terimakasih sama kamu Zayn. Aku, ngerasa jadi orang yang spesial! Aku yang keras kepala, selalu kamu ngertiin. Kamu jangan bosen sama aku ya?"


Zayn tersenyum seraya mengusap lembut pipi Melodi. Tak mungkin dia akan bosan sebab Melodi merupakan sumber keceriaan. Namun saat keduanya mulai memejamkan mata karena hanyut dalam atmosfer sendu sarat cinta, interupsi lain mendasar muncul.


TOK TOK!


" Mas tolong pindahkan parkir mobilnya!"


Membuat keduanya tak jdi berciuman.


Damned!


-


-


" Dia menjadi sangat berbeda. Sehari-hari menghabiskan waktunya untuk kegiatan seperti itu. Bahkan teman-temannya di tolak!" kata Tanaphan di mulut pintu manakala pandangnya bertumbuk pada sosok yang sibuk di depan kuas dan kanvas.


Edwin terdiam. Matanya turut mengarah pada sosok yang kini lebih kurus.


" Apa dia masih sering menangis dan berteriak-teriak?" tanyanya kepada Tanaphan.


Tanaphan menggeleng. "Sudah tidak. Tapi aku seperti kehilangan anakku!"


Edwin akhirnya berjalan maju. Meninggalkan Tanaphan yang sebenarnya menaruh banyak harapan terhadap Edwin. Ia tahu, semua ini adalah salahnya.


" Autumn girl? (Gadis musim gugur?)" kata Edwin menebak lukisan dengan tiba-tiba, yang membuat Olivia mengentikan gerakan tangannya.


Gadis itu memutar tubuhnya, lalu menoleh sembari menatap Edwin dengan perasaan senang.


" Lier! ( dasar pembohong!)" balas Olivia sembari tersenyum. Ia menunjukkan sorot mata penuh kerinduan.

__ADS_1


Mengatakan jika Edwin pembohong sebab telah berbulan-bulan pria itu tak mengabarinya.


Edwin barusaja menyelesaikan pendidikan singkat guna memperdalam ilmu kedokterannya yang di tugaskan oleh rumah sakti tempat dimana ia bekerja.


Edwin tersenyum. Ia pun sebenernya juga mengkhawatirkan Olivia. Entah kenapa ia juga rindu untuk bertemu gadis malang itu.


" Sudah minum obatmu?" tanya Edwin. Mengabaikan sederet hal yang sebenarnya ingin dia tanyakan tentang mengapa Olivia menjadi lebih kurus.


Gadis itu mengangguk. Benar kata Tanaphan. Olivia benar-benar sangat irit bicara sekarang.


Edwin lantas meraih kuas di tangan Olivia tanpa berkata. Ia membetulkan sebuah kursi lalu membuka kembali lembaran kanvas, dan langsung menorehkan warna yang ia inginkan.


Olivia reflek memperhatikan gerak tangan Edwin yang begitu lihai. Tak menyangka jika pria itu bisa juga menggambar.


" Tak mahir. Tapi, pernah juara dua di pentas seni budaya di SMA dulu!" kata Edwin berjumawa.


Lengkungan tipis mendaday terbit dari bibir Olivia. Tanaphan yang melihat interaksi keduanya merasa terharu. Ia lantas memilih menutup pintu lalu membiarkan anaknya bersama Edwin.


Setelah beberapa saat berlalu, lukisan yang dibuat oleh Edwin terlihat sudah setengah jadi. Lukisan yang dibuat adalah kebalikan dari gambar yang dibuat Olivia. Ia membuat bunga sakura yang sedang bersemi dengan rumput hijau yang menyejukkan mata.


" Gugur dan semi adalah siklus pasti sebuah musim!" kata Edwin tiba-tiba berucap. " Yang di butuhkan untuk menghadirkan keduanya adalah waktu."


Olivia menata dia mata jernih di balik kacamata bening itu dengan pandangan lurus. Menunggu kalimat apalagi yang bakal terucap.


" Tak akan jatuh daun itu kecuali waktunya. Dan tak akan mekar bunga itu kecuali telah tiba masanya!"


Sedikit banyak Olivia tahu kemana arah pembicaraan Edwin. Ia yang mendengar bila Zayn dipastikan akan menikah dengan Melodi memang sedikit merasa nyeri. Wajar dan manusiawi.


" Win!" panggil Olivia yang merasa dirinya begitu tersentuh dengan kalimat sarat majas yang di dengungkan oleh dokter yang juga pernah patah hati itu.


" Ya?"


" Kau tidak malu berteman denganku?"


Edwin tersenyum sembari meletakkan kuas yang semula ia pegang.


" Bersiaplah. Aku ingin makan sesuatu di luar bersama gadis cantik. Apa kau setuju?"

__ADS_1


Olivia terharu dan langsung mengangguk dengan mata basah. Secepat ini kah Tuhan memberikan hikmah dari suatu hal yang semula dia anggap buruk?


" Kalau begitu dandanlah yang cantik. Aku ingin dunia tahu, bahwa kita yang patah hati juga bisa membuat keburukan menjadi satu keindahan!"


__ADS_2