
...🥀🥀🥀...
Edwin sontak menjadi cemas, kenapa ponsel Claire tiba-tiba dimatikan bahkan kini tak bisa lagi ia hubungi?
Belum pernah sebelumnya hal ini terjadi. Terlebih, nada suara yang terpotong makin menegaskan jika hal itu, seperti diluar kuasa Claire.
" Kenapa tiba-tiba mati?" gumamnya dengan perasaan yang tiba-tiba tak tenang.
Pria yang barusaja selesai menjalankan pekerjaannya itu, kini terlihat melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Kini selain ia rindu dengan Claire, ia benar-benar mencemaskan tunangannya itu.
Namun saat baru saja ia kembali fokus berpacu pada perjalanan, ponselnya tiba-tiba berdering.
"Om Leo?" kata Edwin tak percaya saat melihat ponsel yang berkedip disebelahnya. Ada apa ini? Tumben sekali Om Leo menghubunginya secara langsung.
Tanpa menunggu lama, pria berkacamata itu langsung menekan earphone yang telah terpasang di telinganya.
" Halo Om?" kata Edwin begitu telepon itu teramat.
" Halo Edwin, apa kau sedang bersama Claire? Ponselnya tak bisa aku hubungi. Melodi juga!"
Edwin tertegun. Apa jangan-jangan calon mertuanya itu juga barusaja menghubungi Claire?
" Saya sedang dalam perjalanan menuju ke rumah Claire Om. Saya sebenarnya barusaja menghubunginya, tapi tiba-tiba ponselnya mati!"
" Om hanya ingin menanyakan keadaannya. Tantemu semalam mimpi buruk, kami hanya ingin memastikan kalau Claire dan Melodi baik-baik saja!"
Edwin kembali terdiam. Pas sekali dengan aduan yang di sampaikan oleh tunangannya tadi.
" Om tenang saja. Edwin sedang dalam perjalanan menuju kerumah Claire dan Melodi, semua pasti baik-baik saja. Nanti saya kabari lagi ya?"
Usai sambungan telepon itu terpungkasi dengan wajar, Edwin langsung terlihat resah. Kenapa mimpi Tante Bella bisa tembus ke realita yang ada, begitu pikirnya resah.
Meski belum tahu secara rinci masalah apa yang saat ini tengah menimpa Claire, tapi mendengar calon istrinya dalam bahaya tentu membuatnya khawatir.
-
-
" Kembalikan ponselku!" ucap Claire yang terlihat Kurang setuju dengan tindakan semena-mena Sada.
Suguhan wajah tak mau tahu dari pria itu, makin menegaskan bila Sada tak main-main dengan ketidaksukaannya. Sepertinya Claire tidak tahu, bila makhluk pencemburu itu sudah pernah mewanti-wanti nya soal Edwin. Bahkan Sada memang terang-terangan dalam menunjukkan ketidaksukaannya kepada pria yang dijodohkan oleh Leo Darmawan itu.
" Aku sudah mengatakannya. Aku tidak suka melihatmu berbicara dengan laki-laki itu, apalagi di hadapanku!"
Seketika Claire menatap wajah Sada muram. Apakah memang seperti itu cara kerja dunia? Semakin ia mengikuti kata hati, semakin besar pula tekanannya?
Claire memilih diam. Ia tahu bila Sada memanglah orang yang suka berterus-terang. Lagipula, ia hanya tak ingin bila Neo sampai mendengar mereka bertengkar.
__ADS_1
Zayn yang merasa tugasnya sudah selesai, memilih untuk undur diri saja ketimbang hanyut dalam rasa canggung yang makin menjadi-jadi.
" Aku harus ke kantor. Aku ada acara penting hari ini!"
Sada mengangguk sekilas, kemudian beralih kepada Claire yang terlihat tak enak hati. " Terimakasih banyak Zayn! Aku akan mengabarimu nanti!"
Pria yang memiliki keturunan darah Arabian itu kembali mengangguk. Meski ia sempat mencuri pandang ke arah belakang, guna mencari sosok yang sering bertengkar dengannya belakangan ini.
" Saya, pamit dulu!" kata Zayn kepada Claire yang bingung harus memanggilnya dengan sebutan apa.
" Terimakasih banyak atas bantuannya " ucap Claire sembari tersenyum setulus hati.
Sada sedikit kesal, lantaran Claire bisa-bisanya tersenyum hangat kepada Zayn, tapi terhadapnya selalu bermuka masam.
Namun beberapa waktu kemudian, suara dari dalam berhasil mengalihkan kekesalannya.
" Paman!" teriak Neo dengan bersukaria.
" Wah, Neo sudah tampan!" puji Sada yang senang dengan kemunculan anaknya yang tampak segar di pagi itu.
" Seperti Paman. Pagi-pagi sudah tampan, hihihi! Ibu, ibu tidak perlu mengantarku, aku akan berangkat bersama Paman!"
Melihat Ibunya terdiam, Neo kini mengguncang tubuh Ibunya menuntut jawaban, " Ibu, boleh kan Bu?"
Dan tatapan lekat dari Sada yang kini tersuguh, bagai sebuah intimidasi yang membuatnya tak bisa mengatakan 'tidak'.
...----------------...
Ya, selepas kepergian anaknya tadi, ia lupa mengabari Edwin soal teleponnya yang terputus karena pengacaranya tiba-tiba meminta beberapa dokumen penting yang musti di sertakan dalam laporannya.
Pria itu langsung memeluk tubuh Claire yang mematung di depan pintu, saat ia telah mengetahui semuanya dari Melodi.
" Maafkan aku. Aku tak bisa ada di dekatmu saat dalam situasi sulit!"
Claire terdiam, merasa bersalah dan merasa canggung dalam waktu bersamaan.
" Kudengar pak donatur itu lah yang menolongmu. Aku harus mengucapkan terimakasih kepadanya!"
Wanita itu masih membeku dengan perasaan yang beranekaragam. Sibuk dengan kemungkinan-kemungkinan yang semakin lama semakin membuatnya tak tenang.
Namun tanpa di duga, yang di bicarakan ternyata berada di depan pintu dengan menggandeng tangan Neo. Di detik itu juga, dapat Claire lihat kilatan kecemburuan dan kemarahan di mata Sadawira.
" Ibu!" sapa Neo ceria dan ingin memamerkannya jika hari ini sepertinya Paman tampan mencurahkan segenap waktunya, untuk dirinya seorang.
Edwin lantas menoleh saat suara Neo terdengar memanggil. Ia tersenyum begitu melihat Sada yang rupanya turut datang bersama Neo.
Pria itu masih bisa tersenyum, meski sebenarnya hatinya sedikit merasa lain kala mengingat cerita Melodi bila mereka berdua sempat terjebak dalam ruangan berdua.
__ADS_1
" Ah pak Donatur, sepertinya anda panjang umur. Kami barusaja membahas soal anda." kata Edwin menatap Sada yang wajahnya datar.
Sada tak menjawab. Ia cenderung membidik Claire yang juga bingung harus bersikap bagaimana. Dapat Claire rasakan jika atmosfer di sana mulai memanas.
Dua laki-laki di depannya itu merupakan dua orang yang sama-sama memiliki perasaan terhadapnya. Namun berbeda dengan Edwin yang sudah bisa terang-terangan dalam menjalin kedekatan, Sada harus merelakan diri untuk diam lantaran terbentur restu akibat perbuatan celanya dulu.
Tapi hari itu sepertinya merupakan hari terakhir Sada dalam mengamalkan teori kesabaran. Di hadapan Claire juga Edwin yang masih menunjukkan senyuman tak lekang, Sada terlihat berjongkok guna menyamakan tingginya dengan Neo.
Entah apa yang akan di lakukan oleh pria itu.
" Masuk dulu ya. Ganti bajumu bersama mbak Juwi dan kita akan pergi setelah ini!" kata Sada lembut sembari mengusap puncak kepala anaknya.
Neo mengangguk tanpa banyak bertanya. Bocah itu terus saja menunjukkan wajah sukarianya sewaktu melintasi Claire juga Edwin.
Sada menatap dua orang berbeda gender itu dengan wajah misterius. Membuat Claire merasa curiga dengan sikap Sada yang tiba-tiba terlihat lain.
Dan sejurus kemudian.
Bug!
Mata Claire seketika membelalak dengan tubuh yang tiba-tiba menegang, demi melihat Sada yang memukul wajah Edwin hingga membuat pria itu beringsut kebelakang.
" Wira, apa yang kau lakukan?" ia memekik saking terkejutnya.
Cukup sudah, Sada tak tahan lagi melihat semua ini. Ia akan menunjukkan semuanya meski ia harus berdarah-darah. Demi cintanya, demi keluarganya.
" Tuan donatur apa maksud anda?" pekik Edwin menatap tak mengerti kenapa Sadawira tiba-tiba memukulnya.
" Berhenti memanggilku tuan donatur. Panggil aku Ayah Neo!" pekiknya dengan penuh kemarahan.
" Apa?" Edwin tentu saja tertawa tak mengerti.
Tubuh Claire semakin gemetar, sekujur tubuhnya juga kian menegang. Kenapa Sada malah mengatakan hal itu sekarang?
Edwin tertawa. Omong kosong macam apa ini? Kenapa hanya soal pemanggilan nama dia harus kena tempeleng dari Sada?
" Tuan, saya tahu anda merupakan orang yang menyukai anak-anak. Tapi kenapa anda harus memukul saya jika anda hanya ingin di panggil Ayah oleh Neo?"
" Karena aku memanglah Ayah dari Neo. Ayah kandung. Pria yang menghamili Claire! Jelas?" jawab Sada dengan penuh penekanan.
DUAR!
Maka di detik itu juga, petir dan guntur bagai menyambar tubuh Edwin meski tak ada hujan apalagi mendung.
.
.
__ADS_1
.
.